
Tubuh Mahawiku Nuraga melayang turun dengan cepat bersama dengan Puguh yang masih memegang gagang pedang yang bilahnya menancap di dada Mahawiku Nuraga.
Saat tubuh Mahawiku Nuraga meluncur turun, dari tubuhnya keluar sinar putih sebesar telapak tangan manusia dewasa. Sinar putih itu perlahan melayang ke atas.
Sesaat kemudian, tubuh Mahawiku Nuraga terhempas ke tanah.
Dbaaammm !
Bersamaan dengan itu, saat tubuh Mahawiku Nuraga dan Puguh meluncur turun, Ki Dwijo dan Resi Wismaya segera melesat naik sambil kedua tangan mereka melakukan gerakan gerakan dengan pola tertentu.
Kemudian, saat dari tubuh Mahawiku Nuraga keluar sebutir sinar putih kemerahan sebesar kepalan tangan orang dewasa, Ki Dwijo dan Resi Nuraga segera membentuk jaring dari tenaga dalamnya, kemudian menangkap sinar putih kemerahan itu dengan jaring mereka.
Namun, Ki Dwijo dan Resi Wismaya ikut terseret melayang atas, walau mereka sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalam mereka. Untungnya Iswara Dhatu menyusul melesat ke atas dan ikut mengalir kan tenaga dalamnya untuk membuat jaring, hingga akhirnya sinar putih kemerahan itu berhasil mereka tangkap, kemudian mereka mengurungnya dengan gabungan tenaga dalam mereka bertiga.
Kemudian secara perlahan mereka turun kembali ke tanah, di dekat Puguh yang sudah berdiri di dekat jasad Mahawiku Nuraga.
"Ngger Puguh, bawalah kekuatan jiwa dari siluman serigala mata biru ini. Berikanlah pada Rengganis dan bantulah cara untuk menyatukannya dengan kekuatan Rengganis !" kata Ki Dwijo.
"Terimakasih guru," jawab Puguh yang kemudian membentuk jaring dari tenaga dalamnya, lalu menerima kekuatan jiwa siluman serigala mata biru dan memasukkannya ke dalam jaringnya.
"Bukankah tadi adik Rengganis berada di sini guru ?" tanya Puguh.
Sesaat Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Iswara Dhatu terkejut. Mereka bertiga terlalu fokus pada pertarungan, sehingga mereka tidak memperhatikan keadaan Rengganis.
"Sepertinya Rengganis di bawa pergi oleh Bantala Yaksa. Karena Bantala Yaksa juga tidak ada disini !" jawab Iswara Dhatu.
Sesaat, Puguh dan ketiga tokoh senior dunia persilatan itu memperhatikan sekelilingnya. Mereka melihat, pertarungan yang melibatkan banyak pendekar, juga sudah selesai. Terlihat Dewi Laksita, Putri Cinde Puspita dan Kartika Dhatu masih berdiri di tengah tengah medan pertarungan.
Beberapa anggota inti Trah Keluarga Asmara Dhatu terlihat sibuk menolong saudara saudara mereka yang terluka. Beberapa lagi, terlihat ada yang mengurus jasad saudara mereka yang harus tewas dalam pertarungan itu.
Hampir seluruh permukaan halaman tengah Padepokan Wukir Candrasa dipenuhi oleh jasad jasad dan tubuh tubuh yang terluka dalam pertarungan itu.
Namun Puguh segera teringat pada Rengganis. Maka Puguh berpamitan untuk mencari Rengganis. Karena Puguh teringat, ada bangunan khusus di ujung halaman belakang yang dulu menjadi tempat pribadi Ki Dahana Yaksa untuk berlatih.
__ADS_1
Puguh segera melesat ke atas ke arah halaman belakang Padepokan Wukir Candrasa. Sesampai di halaman belakang, Puguh segera memasuk bangunan yang pernah dia lihat saat menjadi tamu di Padepokan Wukir Candrasa ini.
Begitu membuka pintu bangunan itu, Puguh terkejut saat melihat, Rengganis berdiri ditengah tengah ruangan. Seluruh tubuh dan pakaiannya berlepotan darah. Tangan kanannya menggenggam sebuah gumpalan yang baru saja dia oleskan ke seluruh tubuh dan pakaiannya. Sementara itu di depan Rengganis, tergeletak tubuh Bantala Yaksa yang sudah tewas dengan dada berlubang dan bersimbah darah.
"Adik Rengganis !" panggil Puguh pelan.
Seperti orang terkejut, Rengganis mengangkat mukanya dengan cepat, kemudian melangkah mundur hingga punggungnya menempel ke dinding.
"Kakang Pu ... Guh ?" kata Rengganis pelan.
Mendengar jawaban Rengganis, Puguh merasa gembira.
"Adik Rengganis sudah pulih ?" tanya Puguh sambil melangkah maju.
"Berhenti ! Kakang Puguh berhenti ! Jangan dekati aku !" teriak Rengganis.
"Kenapa adik Rengganis ? Bukankah kita sudah lama saling kenal ?" tanya Puguh dengan perasaan heran.
"Adik Rengganis, apa yang bisa kakang Puguh lakukan, untuk membantu adik Rengganis ?" tanya Puguh pelan sambil melangkah mendekati Rengganis.
"Kakang Puguh berhenti ! Kakang Puguh sudah seharusnya tidak mendekati Rengganis ! Rengganis sudah kotor ! Rengganis sudah tidak layak berdekatan dengan kakang Puguh !" jawab Rengganis.
Puguh baru saja akan menanyakan maksud ucapan Rengganis, saat tiba tiba di luar pintu masuk di belakang Puguh, dirasakan ada gerakan beberapa orang mendekati pintu masuk.
Saat Puguh menoleh, Puguh melihat Ki Dwijo, Resi Wismaya, Iswara Dhatu, Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita dan Kartika Dhatu sudah berdiri di depan pintu.
Tanpa disadari oleh Puguh, saat Puguh menoleh, Rengganis melesat pergi melalui pintu belakang sambil membuang gumpalan yang tadi dia genggam di tangan kanannya, yang ternyata sebuah jantung manusia.
"Puguh, siapa dia ?" tanya Dewi Laksita dengan heran.
Mendengar pertanyaan Dewi Laksita, Puguh kembali menghadap ke depan.
Namun, betapa Puguh kembali merasa terkejut, saat dilihat, Rengganis sudah tidak berada di depannya.
__ADS_1
"Adik Rengganis ?" ucap Puguh setengah berteriak sambil melesat memasuki pintu belakang, hingga akhirnya tiba di luar bangunan rumah itu.
"Adik Rengganis !" teriak Puguh.
Sesaat kemudian, Puguh kembali masuk ke dalam bangunan rumah itu.
"Guru, Puguh titip disimpankan kekuatan jiwa siluman serigala mata biru ini. Puguh hendak mengejar adik Rengganis yang baru saja keluar dan pergi dari tempat ini," kata Puguh sambil mengangsurkan kekuatan jiwa siluman serigala mata biru yang dikurung dalam kurungan yang terbentuk dari tenaga dalamnya kepada Ki Dwijo.
"Puguh, kalau boleh aku menyarankan, titipkan kekuatan jiwa siluman serigala mata biru itu pada Putri Cinde Puspita atau pada Kartika Dhatu. Kekuatan tenaga dalam mereka berdua sudah di atas kekuatan kami semua, tentunya akan sangat mampu untuk menyimpan kekuatan jiwa siluman serigala mata biru !" kata Iswara Dhatu.
"Terimaksih bibi atas sarannya, terserah nanti guru hendak menitipkan pada siapa, mohon maaf telah merepotkan dan membuat susah guru dan semuanya. Terpaksa Puguh pergi dahulu !" kata Puguh sambil menjura dan kemudian melesat pergi melalui pintu belakang.
Sesampai di luar bangunan rumah itu, Puguh segera melesat ke atas, terbang untuk melihat ke arah mana Rengganis pergi.
Namun, hingga beberapa waktu Puguh mencoba melihat ke berbagai arah dan mencoba merasakan getaran kekuatan milik Rengganis, Puguh tidak melihat dan tidak bisa merasakan keberadaan Rengganis.
Maka, setelah memperhitungkan beberapa hal, Puguh memutuskan mengambil arah ke wilayah Kerajaan Kisma Pura yang berbatasan dengan lautan luas.
Kemudian, Puguh melesat turun dan melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melonpat dari satu pohon ke pohon berikutnya.
Sementara itu di dalam bangunan rumah pribadi Ki Dahana Yaksa yang telah tewas, begitu menerima kekuatan jiwa siluman serigala mata biru, Ki Dwijo merasa sedikit kebingungan, hendak menitipkannya pada siapa.
Melihat kebingungan Ki Dwijo, Resi Wismaya segera mendahului berbicara.
"Dewi Laksita, karena masing masing dari kita tidak akan mampu membawa kekuatan jiwa siluman serigala mata biru, maka kami titipkan pada muridmu !" kata Resi Wismaya.
Mendengar perkataan Resi Wismaya, Ki Dwijo segera menyerahkan kekuatan jiwa siluman serigala mata biru itu pada Putri Cinde Puspita.
Melihat hal itu, Dewi Laksita segera menyuruh muridnya untuk menyimpan kekuatan jiwa siluman serigala mata biru ke dalam senjata dwisula miliknya.
Kemudian, mereka semua kembali turun menuju ke ruangan tengah. Sesampai di ruangan tengah, mereka menyuruh para anak murid padepokan Wukir Candrasa untuk membereskan semua tempat yang tadi menjadi ajang pertarungan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1