
Sementara itu di bawah, Puguh yang baru saja menyelesaikan pertarungannya, segera mendongak untuk menyaksikan pertarungan Pangeran Indra Prana.
Setelah mendengar suara ledakan yang cukup keras, Puguh melihat, Pangeran Indra Prana dan lawannya sama sama terdorong ke belakang.
Segera saja Puguh melesat ke atas mendekati Pangeran Indra Prana. Saat tiba di samping Pangeran Indra Prana, Puguh menyaksikan, Pangeran Indra Prana terengah engah dan tubuh sedikit bergetar.
"Pangeran, terluka ?" tanya Puguh.
Tetapi Pangeran Indra Prana belum sempat menjawab, tatkala tiba tiba, Panglima Perang Anggaraksa melesat mendekat dengan cepat dan kemudian menyerang dengan tebasan pedang.
Merasakan ada getaran kekuatan yang sangat besar mendekat ke arahnya dan merasakan ada bahaya, Puguh segera membalikkan badannya kemudian melakukan tangkisan dengan pedangnya.
Trang !
Dalam benturan senjata itu, Panglima Perang Anggaraksa sangat terkejut, karena tubuhnya kembali terdorong ke belakang dengan lebih kuat lagi oleh seorang anak muda.
Maka, dengan mengalirkan tenaga dalam hingga tingkat yang paling tinggi, Panglima Perang Anggaraksa kembali melesat ke arah Puguh dan kemudian melakukan serangan. Pedangnya berkesiutan memberikan tebasan ke arah leher Puguh.
Sementara itu, melihat ada yang melesat ke arahnya dengan mengeluarkan tenaga dalam tingkat sangat tinggi yang sangat besar, Puguh pun segera meningkatkan jumlah tenaga dalam yang dikeluarkannya dan kemudian memutar pedangnya untuk menghadang datangnya serangan Panglima Perang Anggaraksa.
"Aku harus segera menghentikan Panglima Perang ini, sebelum mereka semua berubah pikiran dan pasukan perangnya bergerak !" kata Puguh dalam hati.
Dalam beberapa saat, dua senjata pedang saling berbenturan beberapa kali.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Sebelum akhirnya, satu benturan pedang yang sangat kuat membuat tubuh Panglima Perang Anggaraksa terpental ke belakang dan pedang terlepas dari genggamannya. Disusul kemudian satu tebasan pedang Puguh, berhasil membuat luka memanjang di perut Panglima Perang Anggaraksa.
Traaannnggg !
Sraaattt !
Dan akhirnya, satu pukulan keras dari tangan kiri Puguh yang mengenai dada Panglima Perang Anggaraksa, mengakhiri hidup Panglima Perang Anggaraksa.
Duuuaaakkk !
Tubuh Panglima Anggaraksa melayang turun ke bumi menyusul senjata pedangnya yang sudah lebih dahulu jatuh. Nyawanya sudah melayang, sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
__ADS_1
----- * -----
Bersamaan dengan itu, di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat Puguh bertarung. Terjadi tiga pertarungan yang sama sama sengitnya.
Panglima Perang Hapsari dikerubut oleh empat orang pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang sudah berada pada tingkat sangat tinggi.
Walaupun dikeroyok empat orang, Panglima Perang Hapsari terlihat menguasai keadaan. Cambuknya berkelebatan bagaikan ular berbisa yang mematuk matuk mangsanya. Setiap sambaran ujung cambuk, juga menimbulkan suara ledakan yang memekakkan telinga.
Ctarrr ! Ctarrr ! Ctarrr ! Ctaaarrr !
Sementara itu, dalam keadaan masih terluka karena pertarungan di hari kemaren, Ki Dwijo dan Resi Wismaya harus menghadapi dua Panglima Perang yang di hari kemaren belum terlihat ikut bertempur.
Pada pertarungan hari ini, Ki Dwijo mendapatkan lawan yang seusia dengannya dan sangat tinggi tingkat kesaktian dan tenaga dalamnya.
Panglima Perang yang menjadi lawan Ki Dwijo adalah dulunya seorang pendekar bernama Ki Sada Padsa. Setelah menjadi panglima perang, dipanggil dengan Panglima Perang Sada.
"Aahhh kisanak, sebenarnya aku lebih senang bertarung melawan pendekar, seperti saat ini. Kuharap kau bisa membuatku puas !" kata Panglima Perang Sada.
"Heehhh he he he he ! Terserah apa yang kau inginkan ! Tetapi yang jelas, kau tidak bisa pulang dalam keadaan hidup, karena kau telah mengusik ketenteraman Tanah Jawadwipa ini !" jawab Ki Dwijo.
Ketika pertarungan baru berjalan sekitar dua puluh jurus, Ki Sada Padsa atau Panglima Perang Sada terkejut melihat jurus jurus yang digunakan oleh Ki Dwijo.
"Kisanak, apakah kau yang berjuluk Pendekar Tangan Seribu ?" tanya Panglima Perang Sada.
"Heehhh he he he he ! Baguslah kau sudah tahu. Jadi aku tidak usah repot repot mengenalkan diri !" jawab Ki Dwijo.
Tanpa terasa, benturan pukulan dan tendangan yang terjadi berkali kali, sudah berlangsung lima puluh jurus. Ki Dwijo dan Panglima Perang Sada sudah berkali kali mendaratkan pukulan ataupun tendangan ke tubuh lawannya. Namun, Panglima Perang Sada merasakan, ada yang janggal dalam serangan serangan Ki Dwijo. Di setiap akhir serangan atau puncak serangan Ki Dwijo, seperti tumpul atau kehilangan kekuatannya.
"Sepertinya, Pendekar Tangan Seribu, sedang dalam keadaan terluka ! Tapi, sebagai Panglima Perang, aku tetap harus segera melenyapkan setiap musuh !" kata Panglima Perang Sada.
"Aahhh kisanak ! Sayangnya, pendekar yang akan aku kalahkan, ternyata sedang keadaan terluka !" kata Panglima Perang Sada.
"Heehhh he he he he ! Jangan hiraukan keadaanku ini ! Akupun tidak peduli dengan luka luka ini !" jawab Ki Dwijo.
Selama beberapa saat, mereka berdua masih saling bertukar pukulan dan tendangan. Hingga satu benturan pukulan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi membuat tubuh Ki Dwijo dan Panglima Perang Sada terdorong mundur beberapa langkah.
Blaaannnggg !
__ADS_1
"Kisah kehebatan Pendekar Tangan Seribu memang bukan omong kosong belaka ! Dalam keadaan terluka pun masih mampu mengimbangiku ! Aku harus memakai senjata, untuk segera menjatuhkannya !" kata Panglima Perang Sada dalam hati sambil meloloskan senjata tongkatnya dan mengalirkan tenaga dalam dengan tehnik simpanannya yang jarang sekali dia gunakan.
Seketika, tongkatnya terlihat berkilatan seperti baja dan seluruh permukaannya mengeluarkan percikan kilat kecil seperti petir.
Kemudian, Panglima Perang Sada kembali melesat ke arah Ki Dwijo, dengan ujung tongkat menghadap ke depan dan siap untuk menotok.
Sementara itu bersamaan dengan itu, sambil menata kembali kuda kudanya, tanpa sepengetahuan Panglima Perang Sada, dalam benturan pukulan tadi, Ki Dwijo merasakan dadanya sesak dan nafasnya agak berat.
"Panglima Perang tua ini, memiliki kesaktian dan tenaga dalam setingkat dengan Panglima Perang yang kemaren aku lawan !" kata Ki Dwijo dalam hati, sambil berusaha menata membali pernafasannya.
Kemudian, melihat Panglima Perang Sada mulai mengeluarkan senjatanya, Ki Dwijo pun mengeluarkan tongkatnya, sambil mengalirkan lebih banyak lagi tenaga dalamnya.
Saat Panglima Perang Sada meluncur ke arahnya, dengan ujung senjata tongkatnya yang bersiutan meluncur dengan sangat cepat ke arah kepalanya, Ki Dwijo segera memutar senjata tongkatnya ke atas kepalanya, untuk menepis serangan totokan dari Panglima Perang Sada.
Seketika, terdengar suara dentangan yang cukup keras, saat dua senjata tongkat berbenturan.
Klaaannnggg !
Dalam benturan dua senjata tongkat itu, tubuh Ki Dwijo terhentak dan terlempar ke belakang. Kedua tangannya yang memegang tongkat terlihat bergetar hebat.
"Tehnik Tongkat Baja ? Apakah badannya juga sekeras baja ?" gumam pelan Ki Dwijo.
Saat tubuh Ko Dwijo masih melayang mundur, tiba tiba Panglima Perang Sada muncul dan mendekat di sampling kanan Ki Dwijo dan langsung memberikan tendangan ke arah perut.
Paaaccckkk !
Terkena tendangan yang sangat kuat, tubuh Ki Dwijo terlempar lebih jauh lagi, kemudian jatuh ke tanah dalam posisi duduk bertumpu pada satu lutut.
Baru saja Ki Dwijo hendak berdiri, datang lagi serangan Panglima Perang Sada. Senjata tongkat Panglima Perang Sada yang berkilatan, meluncur cepat berkesiutan kembali mengarah ke kepala Ki Dwijo.
Tetapi, saat tongkat itu baru separuh jalan, tiba tiba ada senjata pedang hitam legam yang meluncur dan menangkis tongkat Panglima Perang Sada.
Klaaannnggg !
Tangkisan itu membuat tongkat Panglima Perang Sada terpental ke belakang dengan kerasnya. Sedangkan pedang hitam legam itu kembali meluncur ke pemiliknya.
---------- ◇ ----------
__ADS_1