
Di tempat yang jauh dari Kerajaan Banjaran Pura. Puguh dan Rengganis mengikuti arah lari pengemis yang tadi ikut bertarung.
Namun, baru saja sampai di pinggiran kota, dekat benteng kota, mereka kembali disusul dan dikepung oleh pendekar pendekar yang mengejarnya.
Akhirnya kembali lagi terjadi pertarungan di dekat benteng kota. Puguh dan Rengganis kembali dikeroyok oleh para pendekar yang tingkat kemampuan dan tenaga dalamnya sangat tinggi.
Dalam pertarungan yang berlangsung sampai malam itu, Puguh dan Rengganis yang dibantu oleh pengemis, mampu membunuh beberapa pendekar yang mengeroyoknya. Hingga akhirnya, menjelang tengah malam, Puguh dan Rengganis, dan dibantu oleh pengemis itu, begitu ada kesempatan, segera meninggalkan pertarungan, sekedar untuk melepaskan diri dari kepungan untuk sementara.
Hari demi hari, minggu demi minggu dilalui Puguh dan Rengganis dengan pertarungan. Sudah banyak pendekar yang mereka jatuhkan bahkan mereka bunuh. Namun, jumlah pendekar yang mengejar dan mengeroyok mereka seolah tidak pernah berkurang. Karena setiap ada beberapa yang tewas, selalu berdatangan pendekar pendekar lainnya yang bergabung mengejar dan mengeroyok Puguh dan Rengganis.
Tanpa terasa sudah lebih dari tiga bulan, Puguh dan Rengganis selalu berpindah pindah tempat untuk menghindari keroyokan. Tidak hanya berpindah pindah tempat pedesaan ataupun perkotaan, bahkan hingga berpindah pindah menyeberang ke negeri negeri yang lain, selalu saja ada pendekar yang menemukannya, mengejarnya dan mengeroyoknya. Apalagi setelah Puguh dan Rengganis terpisah dari pengemis yang sering membantunya, membuat setiap pertarungan yang mereka jalani terasa semakin berat.
Selain itu, pertarungan yang dilakukan hampir setiap hari, membuat Puguh dan Rengganis merasa bosan. Namun, karena lawan yang tiada hentinya mengejar, membuat mereka berdua seperti kehabisan cara, apa yang harus dilakukannya lagi.
Hingga pada suatu siang, sehari setelah mereka berdua berlari hingga memasuki wilayah Kerajaan Kisma Pura, Puguh dan Rengganis duduk di bawah sebuah pohon yang cukup besar, sambil beristirahat. Mereka berusaha untuk bisa memulihkan kekuatan secepat mungkin.
Namun, baru beberapa saat mereka mengatur pernafasan, tiba tiba Puguh dan Rengganis merasakan banyak sekali getaran kekuatan dalam tingkat sangat tinggi, melesat dengan sangat cepat ke arah mereka.
Saat mereka baru saja berdiri, tiba di depan mereka sekitar dua puluh pendekar dengan tingkat kekuatan yang sanga tinggi, dan langsung mengepung Puguh dan Rengganis.
Diantara para pendekar yang datang dan mengepung Puguh dan Rengganis, ada Nyi Riwut Parijatha serta beberapa petinggi dari Padepokan Wukir Candrasa, Wiku Polobogo dan pendekar pendekar yang memiliki tingkat kekuatan yang sangat tinggi yang jarang muncul sebelumnya.
"Anak muda ! Kau tidak terus berlari menghindar untuk selamanya ! Saatnya kita buat perhitungan ! Aku menagih hutang nyawa ! Dan sebagai bonusnya, aku mendapatkan senjata pusaka itu !" kata Nyi Riwut Parijatha sambil tangan kanannya menggenggam erat senjata tongkat kecilnya.
"Haahhh ha ha ha ha ! Nyi Riwut ! Jangan kau merasa paling berhak untuk mendapatkan senjata itu ! Siapapun yang bisa mengambilnya dari anak itu, dia berhak memilikinya !" sahut Wiku Polobogo sambil memutar tongkatnya.
Mendengar perkataan Wiku Polobogo, Nyi Riwut Parijatha hanya mendengus. Sesaat kemudian, terasa luapan getaran kekuatan yang sangat besar, saat Nyi Riwut Parijatha mengalirkan sebagian besar tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Senjata tongkatnya sedikit bergetar saat terkena aliran tenaga dalam tingkat sangat tinggi. Ujung tongkatnya yang berwarna merah, terlihat semakin menyala merah.
Tiba tiba tubuhnya menghilang, saat terdengar suaranya memberi perintah.
"Bunuh mereka berdua !" kata Nyi Riwut Parijatha yang tubuhnya sudah melesat ke arah Puguh.
Melesatnya Nyi Riwut Parijatha, diikuti oleh Wiku Polobogo dan yang lainnya.
Sementara itu, mendengar perkataan Nyi Riwut Parijatha, Puguh seperti menyadari sesuatu.
"Betul kata nenek tua itu. Aku tidak mungkin terus berlari menghindar. Akan aku selesaikan semuanya di sini. Walau nyawaku yang jadi taruhannya !" kata Puguh dalam hati.
Kemudian, sambil mencabut pedang dari sarungnya, Puguh mengeluarkan tenaga dalamnya hingga jumlah yang cukup besar. Bilah pedang di tangan kanannya seketika mengeluarkan pendaran sinar hijau terang yang segera memenuhi tempat itu. Kesiuran angin tipis terlihat bergerak mengelilingi tubuhnya.
Sambil memasang kuda kuda bertahan, Puguh berkata pada Rengganis, "Hati hati adik Rengganis ! Sepertinya mereka tidak akan memberi kesempatan pada kita untuk melepaskan diri !"
"Mungkin saatnya kita menghabisi mereka semua kakang !" jawab Rengganis yang juga sudah bersiap sejak tadi. Matanya menatap tajam lawan yang ada di depannya. Semua inderanya bekerja mengawasi semua lawan yang mengepung mereka berdua.
"Aku akan menghadapi mereka yang menyerang dari belakang kakang !" teriak Rengganis.
Sesaat kemudian, pertarungan tak terhindarkan lagi.
Puguh dan Rengganis memutar pedangnya dengan sangat cepat, menghalau semua senjata yang mengarah ke tubuh mereka.
Terdengar suara dentangan benturan senjata berkali kali, seperti mengiringi gerakan mereka semua yang bertarung.
Tang tang ! Traaannnggg !
__ADS_1
Trang trang !
Selama beberapa puluh jurus, Puguh dan Rengganis mencoba untuk bertarung dengan posisi saling memunggungi. Namun, karena lawan lawan mereka semua memiliki kemampuan dan tenaga dalam tingkat sangat tinggi, membuat Puguh dan Rengganis tidak cukup dengan bertahan di satu tempat.
Situasi pertarungan yang berlangsung dengan sangat cepat dan semuanya menggunakan tenaga dalam tingkat sangat tinggi, memaksa Puguh dan Rengganis harus bergerak leluasa hingga akhirnya mereka harus terpisah dan bertarung sendiri sendiri.
Dalam pertarungan yang sudah berjalan sekitar seratus jurus, Puguh dan Rengganis sudah menjatuhkan beberapa lawannya. Namun, seperti yang sudah terjadi berulang ulang, jumlah lawan yang mengeroyok mereka berdua seakan tidak pernah berkurang.
Dalam pertarungan kali ini, Rengganis melawan sekaligus enam pendekar berkekuatan sangat tinggi yang salah satunya adalah Wiku Polobogo. Sedangkan Puguh harus menghadapi lebih dari lima belas lawan, termasuk Nyi Riwut Parijatha dan petinggi Padepokan Wukir Candrasa.
Mengalami kejadian itu lagi, bahkan dalam situasi yang lebih sulit dan membahayakan, karena lawan lawan yang dihadapinya lebih banyak dan memiliki tingkat kekuatan yang sangat tinggi, dan juga mengkhawatirkan keselamatan Rengganis, Puguh pun akhirnya harus mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya.
Tubuh Puguh yang seluruhnya dikelilingi hembusan angin yang cukup kencang, perlahan melayang. Pedang di tangan kanannya bergetar dan mengeluarkan suara berdengung. Kemudian, tubuhnya melesat ke arah Nyi Riwut Parijatha yang dia anggap paling kuat.
Bersamaan dengan itu, saat melihat Puguh mengeluarkan sebagian besar kekuatannya hingga membuat tubuhnya melayang, Nyi Riwut Parijatha dan yang lainnya juga segera mengeluarkan hampir seluruh kekuatannya. Kemudian mereka melenting dan melayang ke arah datangnya serangan Puguh.
Puguh belum melancarkan serangan ke arah Nyi Riwut Parijatha, ketika empat bayangan lawan yang semuanya bersenjatakan golok, melesat menghadang gerakannya. Dengan tebasan pedang secara melintang beberapa kali, Puguh berusaha menghalau empat golok yang menyasar ke tubuhnya.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Empat pendekar bersenjata golok itu adalah para petinggi Padepokan Wukir Candrasa, yang menjadi wakil wakil Ki Dahana Yaksa yang telah tewas. Ilmu kesaktian masing masing dari mereka hanya sedikit di bawah Ki Dahana Yaksa. Hal itu membuat Puguh harus mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Tubuh Puguh melayang kesana kemari menggempur setiap lawan yang mendekat. Pedangnya hanya terlihat seperti kilatan sinar hijau karena begitu cepatnya Puguh memainkan jurus jurus pedang warisan Pendekar Pengendara Elang.
Namun kali ini, lawan Puguh adalah Nyi Riwut Parijatha dan para petinggi Padepokan Wukir Candrasa, sehingga mereka bisa bekerja sama dengan baik, membuat Puguh harus membagi dengan baik antara pertahanan dan serangannya. Belum lagi ditambah dengan serangan serangan dari pendekar pendekar lainnya yang ikut menyerangnya.
Tanpa dirasa, pertarungan itu sudah berjalan seratus jurus lebih. Senjata pedang Puguh yang mengeluarkan sinar hijau sangat terang, sudah memakan puluhan korban, yang karena lukanya, tidak bisa melanjut pertarungan lagi.
__ADS_1
Namun, beberapa luka tebasan golok juga sudah menghiasi tubuhnya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_