
Sementara itu Kalayaksa, melihat kedua rekannya tewas, segera memberondong Ki Dwijo dengan serangan bertubi tubi. Kemudian, begitu ada kesempatan, Kalayaksa segera melesat pergi melarikan diri.
Rengganis yang melihat Kalayaksa melarikan diri, baru saja hendak mengejar. Namun langkahnya terhenti saat terdengar suara Ki Dwijo yang melarangnya untuk mengejarnya.
"Tidak usah mengejar nduk. Lawan yang sudah melarikan diri, biarkan pergi," kata Ki Dwijo.
Rengganis sejenak terdiam. Namun sebentar kemudian, dia teringat pada Puguh.
"Kakang Puguh !" teriak Rengganis sambil berlari mendekati Puguh. Secara tidak sadar, Rengganis setengah meloncat dan memeluk Puguh. Samar terdengar suara Rengganis menahan tangis.
Puguh membiarkan sementara waktu. Kemudian, dengan perlahan, dibelainya kepala Rengganis dengan lembut.
"Adik Rengganis tidak malu di lihat guru ?" kata Puguh pelan.
Rengganis tersentak, namun kemudian perlahan dilepaskannya pelukannya pada Puguh dan kemudian berdiri di samping Puguh.
Dengan diikuti Rengganis, Puguh mendekat ke arah Ki Dwijo.
"Kakek," kata Puguh sambil menghormat ke arah Ki Dwijo.
"Ngger, ini pedangmu yang dulu kau titipkan pada Rengganis," kata Ki Dwijo sambil menyodorkan sebuah senjata pedang pada Puguh.
"Terimakasih kakek," jawab Puguh.
Kemudian, mereka bertiga berjalan menuju ke Kadipaten Randu Beteng. Selama dalam perjalanan, mereka saling menceritakan semua kejadian yang telah mereka alami.
----- * -----
Di Kadipaten Randu Beteng sedang terjadi kesibukan yang luar biasa, karena kedatangan Pangeran Panji dan istrinya Dewi Kinara serta rombongan pengawalnya yang merupakan pendekar pendekar yang masuk pada tingkatan sangat tinggi.
Sebenarnya kedatangan mereka ke Kadipaten Randu Beteng suatu hal yang tidak disengaja.
Pangeran Panji, selain putra seorang raja, juga seorang pendekar dengan tingkat ilmu dan tenaga dalam yang sangat tinggi. Sedangkan istrinya, Dewi Kinara, juga bisa ilmu bela diri walaupun hanya tingkat menengah.
__ADS_1
Pangeran Panji adalah putra dari seorang raja Kerajaan Banjaran Pura, Prabu Lingga Kawiswara dari seorang selir.
Pada suatu hari, Pangeran Panji yang sangat gemar berburu, mengajak istrinya untuk berburu di sebuah hutan yang berdekatan dengan Kadipaten Randu Beteng.
Pada acara berburu itu, Dewi Kinara terkena duri beracun dari suatu tanaman perdu yang sudah langka.
Saat Dewi Kinara terjatuh karena efek racun tanaman itu, kembali Dewi Kinara digigit oleh ular weling yang secara tidak sengaja, terinjak olehnya. Masuknya dua jenis racun yang berbeda jenis itu membuat Dewi Kinara mengalami koma.
Mengetahui hal itu, atas saran dari para pengawalnya, Pangeran Panji membawa Dewi Kinara ke Kadipaten Randu Beteng untuk mencari tabib yang bisa mengobati Dewi Kinara.
Begitu khawatirnya Pangeran Panji dengan keadaan Dewi Kinara istrinya, Pangeran Panji memerintahkan pada para pengawalnya, untuk memanggil siapapun, dari daerah manapun, yang bisa mengobati istrinya.
Pada suatu waktu, sambil melakukan perjalanan untuk mencari Puguh yang pergi dalam dalam keadaan menderita sakit, Ki Bhanujiwo dan Den Roro sampai di wilayah Kadipaten Randu Beteng.
Selama perjalanan itu, Ki Bhanujiwo dan Den Roro sering sekali membantu mengobati para warga kampung yang dilewatinya yang sedang menderita sakit.
Sehingga sepanjang perjalanannya, Ki Bhanujiwo dan Den Roro terkenal sebagai orang pintar yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Banyak orang yang sudah ditolongnya, memberikan nama pada mereka, Dewa Obat dan Dewi Obat.
Pada suatu hari, saat Ki Bhanujiwo dan Den Roro sampai di luar benteng kota Kadipaten Randu Beteng, mereka berdua didatangi oleh dua orang laki laki muda yang berpakaian seperti seorang prajurit.
"Orang orang itu terlalu melebih lebihkan dalam memanggil kami," jawab Ki Bhanujiwo merendah.
"Pangeran Panji hendak meminta tolong pada kalian berdua untuk mengobati istrinya sekarang juga. Kami harap kalian mau mengikuti kami," kata salah satu laki laki muda berpakaian prajurit itu.
Kemudian, tanpa meminta persetujuan Ki Bhanujiwo dan Den Roro, kedua laki laki muda berpakaian prajurit itu segera melesat pergi ke arah gedung Kadipaten Randu Beteng.
Mengalami situasi begitu, akhirnya mau tidak mau Ki Bhanujiwo dan Den Roro segera menyusul mereka. Sesaat kemudian, Ki Bhanujiwo dan Den Roro melesat ke arah gedung Kadipaten Randu Beteng.
Tidak memakan waktu lama, Ki Bhanujiwo dan Den Roro segera tiba di pendopo Kadipaten Randu Beteng.
Di pendopo itu, terlihat seorang laki laki gagah, tampan dan berkulit bersih duduk di kursi. Dialah pangeran Panji.
Di depan Pangeran Panji, duduk bersila dua orang laki laki muda yang berpakaian prajurit, yang tadi menemui Ki Bhanujiwo dan Den Roro.
__ADS_1
Ki Bhanujiwo dan Den Roro segera duduk di samping kedua laki laki muda yang berpakaian prajurit.
Sejenak suasana menjadi hening. Kemudian terdengar suara Pangeran Panji.
"Paman, benarkah paman dan cucumu itu yang terkenal dengan julukan Dewa Obat dan Dewi Obat ?" tanya Pangeran Panji dengan suara yang lembut namun berwibawa.
"Maaf Pangeran. Mereka terlalu berlebihan, memanggil kami dengan julukan itu," jawab Ki Bhanujiwo.
"Baiklah paman. Aku ingin minta tolong kepadamu, untuk mengobati istriku," kata Pangeran Panji lagi.
Kemudian Pangeran Panji menceritakan pada Ki Bhanujiwo tentang keadaan yang dialami oleh istrinya. Kemudian Pangeran Panji juga menceritakan, betapa sudah banyak tabib dan ahli pengobatan yang mencoba untuk mengobati istrinya namun tidak ada yang berhasil.
Setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Pangeran Panji, Ki Bhanujiwo dan Den Roro akan berusaha menolong dan mengobati Dewi Kinara semaksimal kemampuan mereka.
"Kami akan berusaha, Pangeran. Namun kami tidak bisa menjanjikan keberhasilannya," jawab Ki Bhanujiwo.
Saat itu juga, Ki Bhanujiwo dan Den Roro minta diantarkan untuk melihat kondisi Dewi Kinara.
Dengan sangat teliti, Ki Bhanujiwo dan Den Roro memeriksa bekas luka yang terkena duri dan gigitan ular weling hingga detak jantung dan tingkat tenaga dalam yang masih dimiliki oleh Dewi Kinara.
Setelah melihat penyebab sakitnya Dewi Kinara dan kondisi tubuh Dewi Kinara, Ki Bhanujiwo mengajak Den Roro untuk membuat beberapa ramuan obat.
Dengan meramu beberapa daun dan akar tumbuhan yang dibutuhkan, Den Roro membuat dua obat yang digunakan untuk dibalurkan pada tempat yang terkena duri dan gigitan ular. Tujuannya, selain untuk mencegah pembengkakan di sekitar luka, juga untuk menghambat menjalarnya racun yang masih tertinggal di sekitar luka.
Kemudian, Den Roro menyalurkan tenaga dalamnya untuk memperbaiki susunan syaraf dan aliran darah Dewi Kinara, yang sempat kacau karena terjadinya pertarungan kedua jenis racun dan juga dengan tenaga dalam Dewi Kinara yang secara reflek melakukan pertahanan diri.
Sementara itu, Ki Bhanujiwo menyiapkan bahan bahan untuk membuat ramuan obat yang nantinya untuk diminumkan pada Dewi Kinara.
Setelah Den Roro selesai mengalirkan mengalirkan tenaga dalamnya pada Dewi Kinara, Ki Bhanujiwo meminta ijin pada Pangeran Panji untuk mencari beberapa bahan ramuan obat di hutan perbatasan bersama sama dengan Den Roro.
Pangeran Panji mengijinkan Ki Bhanujiwo dan Den Roro untuk mencari bahan ramuan obat dan meminta pada mereka berdua untuk secepatnya bisa menemukan dan membuat obat untuk istrinya.
Bahkan, Pangeran Panji menyuruh dua orang laki laki muda yang berpakaian prajurit itu untuk mengantar dan menemani serta menjaga Ki Bhanujiwo selama mencari bahan bahan untuk membuat ramuan obat.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_