Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Penjahat Penculik Perawan


__ADS_3

Ketika Puguh telah jauh dari pohon kayu hitam raksasa dan kera raksasa penunggunya, terjadi hal aneh pada kera dan pohon itu.


"Tugas yang kau berikan kepadaku untuk menunggu dan menjaga pohon ini, apakah sudah selesai, guru ?" kera raksasa itu bergumam dengan tatapan mata yang jauh.


"Sudah selesai, muridku. Musnahkan pohon itu," kata suara yang hanya bisa didengar oleh kera raksasa itu, "Tugasmu berikutlah, ikutilah anak itu."


"Baik guru," jawab kera raksasa itu.


Kemudian kera raksasa itu memegang batang pohon kayu hitam raksasa itu dengan telapak tangan kanannya. Tiba tiba pohon raksasa itu hancur menjadi debu hitam yang kemudian menyebar di tanah. Lalu dari tempat bekas pohon kayu hitam raksasa itu, tubuh sebatang pohon kayu hitam. Pohon yang baru tumbuh itu, normal. Batang pohon yang berwarna coklat kehitaman dengan daun daun yang hijau segar.


Tumbuhnya pohon baru itu diikuti oleh berubahnya keadaan pohon pohon kayu hitam di sekelilingnya. Pohon pohon yang tadinya hanya ada batang dan cabang dengan warna kayu yang hitam legam, sekarang perlahan berubah menjadi pohon yang normal. Batang kayunya menjadi berwarna coklat kehitaman dan mulai ditumbuhi daun daun yang hijau segar.


Setelah semuanya berubah menjadi kembali normal, tubuh kera raksasa itu perlahan lahan menyusut hingga akhirnya menjadi seukuran manusia biasa.


Kemudian, tepat di dada kera itu muncul seberkas sinar putih sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Munculnya seberkas sinar itu, diikuti dengan semakin transparannya tubuh kera itu, hingga akhirnya lenyaplah tubuh kera itu dan hanya meninggalkan seberkas sinar putih, yang kemudian, seberkas sinar putih itu melesat dengan sangat cepatnya, menuju ke arah perginya Puguh tadi.


-----*-----


Ki Dwijo bersama dengan Rengganis, melakukan perjalanan untuk mencari Puguh dengan perlahan. Mereka berdua keluar masuk hutan dan keluar masuk kampung, untuk mencari perbekalan dan sekalian untuk membantu penduduk bilamana ada yang membutuhkan.


Pada suatu hari, mereka singgah di suatu kampung. Ki Dwijo dan Rengganis berniat untuk menambah stok perbekalan mereka.


Sesampai di suatu jalan yang cukup sepi, tiba tiba mereka dikejutkan dengan munculnya banyak orang laki laki yang membawa berbagai jenis senjata. Kelihatannya mereka adalah penduduk kampung itu.


Mereka muncul dari persembunyian mereka di tepi jalan. Kemudian mereka mengepung Ki Dwijo dan Rengganis yang masih belum paham apa yang terjadi. Mereka semua mengepung sambil berteriak teriak, dipimpin oleh seorang laki laki muda yang sepertinya seorang pendekar.


"Tangkap penjahat itu !"


"Itu yang menculik anak anak perawan kampung kita !"


"Bunuh mereka !"


"Semuanya diam dulu !" kata pendekar muda itu, sambil tangan kirinya diangkat ke atas. Setelah para penduduk itu terdiam, pendekar muda itupun menatap ke arah Ki Dwijo.

__ADS_1


"Kakek tua, katakan siapa dirimu dan siapa perempuan muda yang bersamamu itu !" tanya pendekar muda itu.


"Aku hanyalah seorang pengembara. Dan dia adalah muridku," jawab Ki Dwijo.


Mendengar jawaban Ki Dwijo, para penduduk kampung itu berteriak bersahut sahutan, tidak percaya dengan jawaban Ki Dwijo.


"Semuanya diam dulu. Kalau kalian meminta bantuanku, kalian harus percaya padaku !" teriak pendekar muda itu.


Mendengar teriakan pendekar muda itu, seketika para penduduk kampung itu terdiam.


"Kakek tua. Mohon maklumnya. para penduduk kampung ini sedang dibuat resah, adanya penjahat yang menculik gadis gadis muda di kampung ini," kata pendekar muda itu.


"Apakah kami tampak seperti seorang penjahat, anak muda ?" tanya Ki Dwijo.


Mendengar pertanyaan Ki Dwijo, pendekar muda itu terlihat bingung. Bahkan para penduduk pun juga terlihat bingung.


Mereka melihat, yang mereka kepung hanyalah seorang kakek dan gadis muda. Namun, satu satunya orang asing di kampung ini hanyalah mereka berdua. Sehingga para penduduk langsung mencurigai mereka berdua.


Tetapi, karena luapan emosi yang tidak tertahankan dari sebagian penduduk yang ada di tempat itu, membuat keadaan tidak bisa dikendalikan lagi. Para penduduk kampung itu berebut untuk menyerang Ki Dwijo dan Rengganis.


Melihat hal itu, Rengganis bergerak cepat, tubuhnya berkelebatan merebut semua senjata yang dibawa oleh penduduk kampung itu.


Para penduduk kampung itu terkejut dan langsung ketakutan saat menyadari tahu tahu senjata mereka terlepas dari genggaman mereka tanpa mengetahui kapan dan siapa yang merebutnya.


"Kalian semua dengarkanlah ! Kalau aku berniat jahat pada kalian semua, sudah sejak tadi kalian sudah kehilangan nyawa !" teriak Rengganis pada para penduduk, "Sekarang kalian pulang ke rumah masing masing, untuk mencari penjahat itu, biar diurus oleh pendekar muda itu dan akan kami bantu !"


Mendengar hal itu, segera saja mengambil senjatanya dan segera beranjak pulang ke rumah mereka.


Kemudian, setelah Rengganis mendengar cerita dari pendekar muda itu, mereka merencanakan untuk memancing datangnya penjahat itu.


----- * -----


Ki Dwijo dan Rengganis tinggal di gubug kecil milik salah satu penduduk kampung. Sementara itu para penduduk menyebarkan berita kalau cucu Ki Dwijo sangat cantik. Tujuannya agar penjahat itu tertarik dengan berita itu dan mendatangi Rengganis.

__ADS_1


Setelah beberapa hari tidak terjadi apa apa, pada pagi hari berikutnya ada seorang laki laki muda yang cukup tampan wajahnya, berjalan di jalan menuju ke gubug yang dihuni oleh Rengganis.


Dari dalam gubug itu, Rengganis bisa merasakan getaran energi yang tinggi mendekati tempatnya.


Begitu getaran energi itu sampai di halaman rumah, Rengganis segera keluar dari dalam rumah untuk sengaja memancing orang tersebut.


Begitu melihat Rengganis, laki laki muda itu sejenak terpaku, terpesona dengan kecantikan Rengganis.


"Gadis cantik, siapakah namamu ? Kenapa aku tidak tahu kalau di kampung ini ada gadis yang sangat cantik ?" kata laki laki muda tersebut sambil tersenyum senyum.


Sebenarnya Rengganis sudah sangat muak dan jengkel dengan perlakuan laki laki muda di depannya itu, yang seolah melecehkannya. Namun, demi berjalannya rencana, Rengganis harus tampil semanis mungkin dengan menahan rasa marah.


"Siapa aku, itu tidak penting bagimu !" jawab Rengganis pendek.


"Sayang sekali, gadis cantik seperti dirimu, hidup di kampung yang sepi dan kotor ini. Kau harus ikut denganku dan tinggal di kota, agar kecantikanmu semakin memancar," kata laki laki muda itu sambil mendekat ke arah Rengganis.


Laki laki itu mencoba meraih dagu Rengganis. Namun dengan cepat Rengganis menepis tangan laki laki muda itu, hingga membuat tubuhnya terdorong ke belakang.


Plaaakkk !!!


Laki laki muda itu meringis karena terkejut. Sejenak dia merasakan tangannya terasa kebas.


"Hehhh he he he .... Bagus bagus bagus ! Aku suka dengan gadis gadis yang berani melawan !" kata laki laki muda itu sambil kembali mendekati Rengganis.


"Ayo gadis cantik, tunjukkan perlawananmu !" kata laki laki muda itu, sambil kemudian tubuhnya melesat ke arah Rengganis dengan tangan kiri seperti hendak meraih pinggang Rengganis.


Melihat laki laki muda di depannya ini sudah sangat kurang ajar padanya, Rengganis sudah tidak bisa lagi berpura pura. Luapan amarahnya dia timpakan pada laki laki muda yang melesat ke arahnya. Benturan pukulan dan tendangan pun tidak terelakkan lagi.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Plak plak plak !


Dalam benturan yang bertubi tubi itu, laki laki muda itu merasa terkejut. Semua bagian tubuh yang berbenturan dengan gadis itu terasa kebas.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2