Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Keluar Dari Goa


__ADS_3

Di pagi yang cerah. Angin berhembus sangat pelan. Namun itu sudah cukup membuat pepohonan menampakkan keanggunannya, memperlihatkan berjuta kerlipan di seluruh permukaan daunnya. Yang apabila dilihat dari kejauhan, tampak seperti bongkahan permata.


Demi menampakkan kilauannya, embun pagi rela musnah, terbakar sinar matahari secara perlahan. Bahkan rela menggulirkan tubuhnya hingga jatuh dalam dekapan bumi.


Pagi itu, di pinggiran hutan Wanapura, sebuah hutan yang sangat luas di punggung sebuah gunung, terlihat ada dua orang yang sedang berjalan kaki dengan cukup pelan. Mereka berdua melihat ke depan, ke kiri dan ke kanan dengan bibir yang selalu terpasang senyuman.


Tampak mereka sangat menikmati suasana pagi ini. Sesekali mereka menunjuk suatu arah sambil mulutnya mengungkapkan kekaguman.


Kedua orang itu, walaupun berbeda generasi, namun nampak kalau mereka sangat akrab.


Yang satu adalah seorang kakek tua. Rambutnya yang sudah memutih semua, agak panjang hingga sampai di bawah bahu, tergerai tidak teratur. Giginya hanya menyisakan beberapa biji. Kulit muka dan kulit seluruh tubuhnya yang sudah keriput, sedikit kering membungkus tubuhnya yang kurus. Namun, kurusnya tubuh tua itu tidak bisa menutupi, kalau tubuh itu adalah tubuh yang sangat terlatih.


Sementara itu, yang satunya lagi sangat bertolak belakang dengan kakek tua itu. Seorang remaja yang badannya tegap dan gagah. Terlihat tampan dengan kulit yang tidak terlalu putih, namun bersih walaupun dibalut pakaiannyang sangat sederhana dan terlihat sudah lama. Mulutnya selalu menyunggingkan senyum, membuat siapapun yang berada dekat dengannya merasakan kenyamanan.


"Sekarang, arah mana yang hendak kita tuju ngger ?" tanya kakek tua itu.


"Belum tahu, guru," jawab anak remaja itu.


"Ngger Puguh, tidakkah kamu rindu dengan kampung halamanmu ?" tanya kakek tua itu.


Sesaat anak remaja yang dipanggil dengan nama Puguh itu terdiam walau sambil tetap berjalan. Namun sesaat kemudian, tarikan senyuman sudah menghiasi bibirnya lagi.


"Puguh sangat rindu, guru. Namun Puguh tetap mengikuti, kemanapun guru mengajak Puguh," jawab Puguh.


"Baiklah ngger. Kita ke Kademangan Pandan Ireng," kata kakek tua itu lagi.


Mereka berdua adalah Ki Dwijo dan Puguh muridnya.


Setelah hampir setahun lagi Puguh berlatih untuk menyempurnakan ilmu pedang yang dia dapatkan, akhirnya mereka berdua keluar dari goa, dari dasar jurang yang mereka huni selama ini. Sebelumnya, selama di dalam goa di dasar jurang, selain berlatih untuk menyempurnakan ilmu yang dia pelajari, semua simpul syaraf, otot dan pembuluh darah, semua dibuka oleh Ki Dwijo. Hal itu membuat tubuh Puguh mampu menyimpan tenaga dalam dalam jumlah yang besar.

__ADS_1


Puguh, walaupun masih berusia sekitar lima belas tahun, namun kemampuannya sudah di atas gurunya, kecepatannya pun sudah bisa mengimbangi gurunya, walaupun tenaga dalamnya masih sedikit di bawah gurunya. Hal ini dikarenakan ilmu ilmu yang dikuasai Puguh, lebih tinggi tingkatnya.


Mereka berdua melakukan perjalanan dengan tidak tergesa gesa. Mereka ingin menikmati keindahan yang selama ini tidak mereka rasakan.


Pada suatu siang, mereka tiba di dusun yang terdekat dengan hutan Wanapura. Perjalanan mereka mulai melewati persawahan dan mulai menjumpai beberapa orang petani yang sudah melakukan pekerjaannya.


Di dusun itu, Ki Dwijo mengajak Puguh untuk membeli pakaian sebagai ganti pakaian mereka yang sudah lusuh dan usang.


----- * -----


Beberapa tahun terakhir ini, terjadi banyak perubahan dalam pemerintahan. Baik itu di Kadipaten Langitan ataupun di Kademangan Kademangan yang berada di dalam wilayah kekuasaan Kadipaten Langitan. Bisa dikatakan, seluruh pemerintahan sudah dikendalikan oleh Perkumpulan Jaladara Langking.


Walaupun tidak merebut kekuasaan karena kedudukan Demang dan Adipati tetap dipegang oleh orang yang berhak, namun orang orang dari Perkumpulan Jaladara Langking mengendalikan pemerintahan dengan cara menanamkan pengaruh dan tekanan pada pada penguasa itu. Sehingga para penguasa itu hanya seperti boneka yang dikendalikan sekehendak hati oleh pemiliknya.


Hal itu juga terjadi pada Kademangan Pandan Ireng. Ki Demang Pandan Ireng ditekan dan dipaksa oleh Perkumpulan Jaladara Langking untuk memimpin dan memerintah Kademangan Pandan Ireng sesuai dengan kepentingan Perkumpulan Jaladara Langking.


Sebenarnya yang mendapat tugas untuk mengawasi Kademangan Pandan Ireng adalah Ki Bajraseta. Namun, karena Ki Bajraseta tidak mau turut campur urusan perkumpulan, digantikan oleh orang yang setingkat dengan Ki Bajraseta ataupun Ki Bayuseta, yaitu orang yang bernama Ki Kapiraga.


Ki Kapiraga, salah satu tokoh sakti di Perkumpulan Jaladara Langking. Ahli kanuragan yang mengandalkan tangan kosong. Namun pada saat terdesak atau melawan berilmu tinggi, dia menggunakan senjata 'Iket', ikat kepala dari kain hitam berbentuk segitiga sama kaki dan menggabungkan tenaga dalam dengan ilmu yang memanfaatkan kekuatan siluman.


----- * -----


Setelah melakukan perjalanan dengan jalan kaki biasa selama tiga hari, Puguh dan Ki Dwijo sampai di jalan yang mengarah ke Kademangan Pandan Ireng.


Selama tiga hari perjalanan itu, mereka berdua mendengar kabar berita tentang seputar sepak terjang Perkumpulan Jaladara Langking para kaum pedagang yang selalu bepergian dari satu kademangan ke kademangan yang lain, ataupun juga dari para tokoh persilatan yang kebetulan bertemu di warung makan ataupun di jalan. Namun cerita yang mereka berdua dengar itu, hanya sedikit sekali. Membuat Ki Dwijo dan Puguh masih sulit untuk menyimpulkan.


Agar kedatangan mereka tidak membuat kecurigaan dan untuk memudahkan mereka melakukan penyelidikan dan mencari informasi, mereka berdua berpisah. Untuk itu Ki Dwijo mengambil jalan lain yang menuju Kademangan Pandan Ireng, sedangkan Puguh tetap mengambil jalan utama.


Setelah beberapa lama Puguh melakukan perjalanan seorang diri, tibalah dia di daerah persawahan yang dulu sering dia lewati.

__ADS_1


Pada saat ini sedang masa panen padi, sehingga daerah persawahan itu ramai oleh petani.


Namun ada hal yang berbeda pada masa panen sekarang ini, dibanding masa panen saat dia masih tinggal di Kademangan Pandan Ireng.


Sekarang, para petani melakukan panen, diawasi oleh para prajurit atau pendekar. Dan para petani itu tidak berhak mengelola panenan tanaman yang mereka tanam sendiri, di tanah pertanian milik mereka sendiri.


Saat Puguh melewati jalan yang di kanan dan kiri jalan itu semuanya area persawahan, dari kejauhan terlihat banyak orang sedang mengikat dan mengusung padi yang telah mereka panen untuk dimasukkan ke dalam kereta pengangkut barang.


Tiba tiba terdengar suara cemeti disusul suara erangan kesakitan beberapa orang petani.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


Adduuuhhh !!!


Ampuuunnn !!!


"Hai kamu ! Kenapa kamu mencambuk mereka ?" teriak seorang gadis yang ikut berada di tengah sawah.


"Ha ha ha haaa .... Biar mereka tidak berani lagi mencuri milik Perkumpulan !" jawab seorang pendekar yang menjaga panenan.


"Mereka tidak mencuri ! Kalian yang merampok hak kami !" jawab gadis muda itu sambil mendekat ke arah para petani yang terluka. Gadis itu segera memberikan obat luka pada para petani yang terluka.


"Ha ha ha haaa .... Kau jangan coba coba melindungi para petani pencuri itu ! Atau kau akan tahu akibatnya pada keluarga Kademangan !" kata pendekar itu sambil memegang gagang golok besarnya.


Mendengar kata kata itu, gadis muda itu gemetar seluruh badannya. Bukannkarena takut. Namun gemetar karena menahan amarah yang sudah menumpuk.


Rasanya ingin sekali menghajar para pendekar penjaga itu, namun dia masih mengingat kedudukan ayahnya yang menjadi seorang Demang di Kademangan Pandan Wangi.


Gadis muda itu adalah Den Roro Nastiti, anak Ki Demang Pandan Ireng.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2