
Di rumah bercat hijau yang jadi markas cabang Perkumpulan Jaladara Langking di Kadipaten Randu Beteng. Markas cabang itu dikendalikan oleh Putri Mahatariti dan yang berkuasa atas kendali perintah adalah Putri Mahatariti.
Di luar pintu ruang pengobatan, terlihat Putri Mahatariti sedang berbincang serius dengan kedua orangtuanya yaitu Dharma Shankara dan Muka Pucat. Mereka bertiga sedang membicarakan Puguh yang menjadi tahanan mereka.
Puguh ditahan oleh Putri Mahatariti di ruang pengobatan yang disulap menjadi ruang tahanan untuk menahan Puguh.
Dharma Shankara dan Muka Pucat akan kembali ke markas pusat. Namun sebelumnya, mereka berdua menyempatkan diri mendatangi tempat Puguh ditahan. Karena mereka ingin memastikan, anak mereka, Putri Mahatariti aman dan tidak ada yang mengancam keselamatannya. Sedangkan mereka, kedua orangtua Putri Mahatariti, memandang, Puguh adalah ancaman serius yang bisa membahayakan Putri Mahatariti anaknya. Maka mereka berdua mendatangi tempat Puguh ditahan dan meminta bahkan memaksa agar Puguh dibunuh saja.
Namun Putri Mahatariti bersikeras tidak mau membunuh Puguh. Dia ingin membujuk Puguh perlahan lahan.
Mendengar penolakan anaknya, Dharma Shankara dan Muka Pucat mempertanyakan alasan Putri Mahatariti yang bersikeras melindungi Puguh.
Karena dicecar terus oleh kedua orangtuanya tentang alasan menahan Puguh, orang yang bisa menjadi ancaman bagi Perkumpulan Jaladara Langking, akhirnya Putri Mahatariti berterus terang.
"Ayah, ibu, aku suka padanya, sejak aku bertemu dengannya pertama kali," kata Putri Mahatariti dengan muka yang merona merah.
Mendengar perkataan Putri Mahatariti, putri kesayangannya, Dharma Shankara seketika terdiam. Demikian juga dengan istrinya.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Namun kemudian Muka Pucat melangkah mendekat ke arah anaknya.
"Anakku, Putri Mahatariti, benarkah yang kau katakan itu ? Apakah kaunyakin dengan perasaanmu ? Atau mungkin hanya rasa kekagumanmu pada pemuda itu ? Ingat, kita belum tahu siapa dia dan di pihak mana dia !" kata Muka Pucat sambil memegang kedua tangan anaknya.
Bagaimanapun, Muka Pucat adalah perempuan. Dia segera bisa paham perasaan yang dirasakan anak perempuannya.
"Aku sangat yakin dengan perasaanku, ibu," jawab Putri Mahatariti.
"Baiklah, kami bisa memahami perasaanmu," kata Muka Pucat.
Baru saja Muka Pucat hendak melanjutkan ucapannya, tiba tiba Dharma Shankara mengajaknya segera pergi.
"Istriku, kita harus segera ke markas pusat !" kata Dharma Shankara dengan pelan, yang kemudian langsung melesat terbang meninggalkan markas.
Melihat suaminya pergi, Muka Pucat pun segera menyusulnya setelah sebelumnya berpesan pada Putri Mahatariti anaknya untuk berhati hati.
__ADS_1
----- * -----
Setelah kedua orangtuanya meninggalkan markas cabang yang dipimpinnya, setiap hari Putri Mahatariti menemui Puguh.
Di dalam ruangan tempat Puguh ditahan, Putri Mahatariti berterus terang pada Puguh, kalau dirinya suka pada Puguh dan ingin Puguh bersedia menjadi suaminya.
"Putri Mahatariti, kita baru saja bertemu. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan," jawab Puguh saat ditanya Putri Mahatariti.
"Yang penting kamu bersedia dulu. Perasaan akan muncul seiring waktu," kata Putri Mahatariti.
Puguh tersenyum getir mendengar perkataan Putri Mahatariti.
"Putri, apa kau yakin, dengan cara begini, dengan menahanku begini, perasaan itu akan tumbuh !" jawab Puguh lagi.
"Apakah kalau kau kubebaskan, kau bersedia menerima permintaanku, Puguh ?" tanya Putri Mahatariti.
"Aku juga tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Putri," jawab Puguh.
"Kenapa Puguh ?" desak Putri Mahatariti, "Apakah aku kurang cantik ?"
"Apakah kau sudah mempunyai perempuan yang kau cintai ? Apakah temanmu yang kemaren lusa itu ?" tanya Putri Mahatariti lagi.
Kali ini Puguh diam saja. Dia tidak menjawab. Matanya memandang tajam Putri Mahatariti.
"Kuharap kau memikirkan dan mempertimbangkan tawaranku," kata Putri Mahatariti yang kemudian keluar dari ruangan tempat Puguh ditahan.
----- * -----
Lima hari setelah kepulangan Dharma Shankara dan Muka Pucat ke markas pusat, markas cabang di Kadipaten Randu Beteng yang dipimpin oleh Putri Mahatariti, kedatangan seorang tokoh pendekar sakti bernama Nyi Chandra Praya.
Nyi Chandra Praya adalah seorang perempuan tua seangkatan dengan Dharma Shankara. Dia sangat ahli dalam ilmu racun dan ilmu sihir.
Nyi Chandra Praya datang ke markas cabang Perkumpulan Jaladara Langking di Kadipaten Randu Beteng, diam diam disuruh oleh Dharma Shankara untuk membantu Putri Mahatariti untuk menaklukkan hati Puguh.
__ADS_1
Walaupun terlihat diam saja dan seolah tidak menanggapi perkataan Putri Mahatariti anaknya, sebenarnya Dhadma Shankara sangat sayang pada anak perempuannya itu. Begitu besar rasa sayangnya, hingga Dharma Shankara menyuruh Nyi Chandra Praya untuk membantu Putri Mahatariti menaklukkan hati Puguh.
Dengan senang hati, Nyi Chandra Praya segera menuju ke Kadipaten Randu Beteng.
Dalam perjalanannya ke Kadipaten Randu Beteng, Nyi Chandra Praya seringkali membuat onar dengan menyebarkan racun racunnya, yang mencelakakan dan membuat resah kampung kampung yang dia lewati. Terkadang ada pendekar yang berusaha mencegah perbuatannya, namun mereka semua kalah bahkan tewas ataupun terluka terkena racun milik Nyi Chandra Praya.
Sesampainya di markas cabang yang dipimpin oleh Putri Mahatariti, diam diam tanpa sepengetahuan Putri Mahatariti, Nyi Chandra Praya sering masuk ke ruangan tempat Puguh ditahan.
Karena kondisi tubuh Puguh yang ditotok di beberapa tempat, membuat Puguh tidak bisa dengan leluasa mengeluarkan tenaga dalamnya. Sehingga dengan mudah, Nyi Chandra Praya memasukkan berbagai macam ramuan ke dalam tubuh Puguh.
Terkadang Puguh dipaksa menelan ramuan ramuan yang dibuatnya. Terkadang dibuatnya Puguh menghirup asap dari bahan bahan yang dibakar di depannya.
Namun dengan ketahanan tubuhnya yang sudah terlatih, membuat Puguh masih bisa mempertahankan kesadarannya.
Mati matian Puguh berusaha menjaga hati dan pikirannya tetap jernih, walaupun terkadang, dalam sesaat efek dari ramuan ramuan yang masuk ke tubuhnya mulai muncul.
Dalam posisi berdiri dengan pergelangan tangan dan kaki dirantai, setiap saat Puguh berusaha mengatur pernafasannya agar bisa tenggelam dalam semedi.
Namun semakin bertambah hari, ketahanan Puguh semakin berkurang. Tubuhnya pun semakin lemah.
Setelah berlangsung sekitar sepuluh hari, badannya mulai terlihat agak kurus. Kulit wajahnya memerah dengan mata yang menyalang. Rambutnya yang tidak pernah disisir tampak awut awutan.
Namun, walaupun setiap hari menemui Puguh, Putri Mahatariti belum mengetahui kalau ada yang tidak beres dengan tubuh Puguh, karena setiap diajak berbicara, Puguh selalu tampak biasa saja.
Hingga pada suatu sore menjelang malam, Nyi Chandra Praya masuk ke ruang tempat Puguh ditahan dengan membawa ramuan yang dibuatnya.
"Heehhh he he he ..... Anak muda. Aku akui, ketahanan tubuh dan kesadaranmu memang luar biasa. Sampai sepuluh hari, kau masih bisa bersikap biasa saja, sedangkan jika pendekar lain yang terkena ramuanku, hanya butuh dua hari untuk menguasai hati dan tubuhnya !" kata Nyi Chandra Praya.
"Heeehhh he he he .... Tetapi jangan kau merasa hebat dulu ! Aku bawa ramuan yang terakhir. Belum pernah ada yang tetap bertahan, jika terkena ramuanku ini !" sambung Nyi Chandra Praya.
"Sekarang rasakan ini !" kata Nyi Chandra Praya sambil tangan kirinya menekan kedua pipi Puguh dari bawah rahang bawah, sehingga mulut Puguh sedikit terbuka.
Dengan sisa sisa tenaganya, Puguh berusaha menolak dan melawan apa yang dilakukan Nyi Chandra Praya.
__ADS_1
Puguh berusaha menutup erat rahangnya agar Nyi Chandra Praya tidak bisa memasukkan ramuan miliknya ke dalam mulutnya.
__________ ◇ __________