Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menyelamatkan Ki Demang Pandan Ireng


__ADS_3

Ki Kapiraga terkejut, saat melihat tongkat yang dia lemparkan, balik meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang lebih lagi. Dan lebih terkejut lagi saat menangkap tongkatnya, tubuhnya terdorong mundur hingga kuda kudanya berubah.


"Siapa kau berani mencampuri urusanku !" bentak Ki Kapiraga.


"Tidak usah banyak tanya. Kau harus bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan pada kampung ini !" kata orang yang tadi membalikkan luncuran tongkatnya, sambil terus merangsek hingga membuat Ki Kapiraga terpontang panting.


Begitu Ki Kapiraga tersurut mundur, orang itu langsung menghampiri Ki Demang Pandan Ireng yang tubuhnya terjatuh ke tanah.


Dengan cepat, orang itu melakukan totokan totokan di beberapa tempat di dada, perut dan lehernya. Setelah nafas Ki Demang Pandan Ireng agak longgar, segera didudukkan dan dilakukan penyembuhan dengan menyalurkan tenaga dalamnya.


Keadaan itu dimanfaatkan oleh Ki Kapiraga untuk melakukan serangan. Kedua tangannya memutar senjata tongkatnya sambil mulutnya komat kamit mengucapkan mantera.


Kemudian, tanpa menimbulkan suara, tongkat Ki Kapiraga melesat ke arah Ki Demang Pandan Ireng.


Saat luncuran tongkat sudah dekat, tiba tiba orang yang mengobati Ki Demang Pandan Ireng berdiri dan dengan cepat menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan tertentu. Kemudian kedua tangannya dengan cepat membuat gerakan mendorong ke arah datangnya luncuran tongkat.


Seketika tongkat itu meluncur kembali ke arah Ki Kapiraga dengan lebih cepat lagi.


Melihat luncuran tongkatnya sendiri ke arahnya, Ki Kapiraga menyapok datangnya tongkat dengan kedua tangannya.


Tongkat itu tertangkap dengan kedua tangannya.


Paaaccckkk !!!


Namun tubuhnya kembali ikut terdorong kebelakang beberapa langkah.


Belum juga langkah kakinya berhenti, sebuah bayangan tubuh telah mendekat dan memberikan serangan pukulan beberapa kali.


Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !


Setelah berusaha menangkis datangnya pukulan dengan tongkatnya, akhirnya sebuah pukulan tepat mengenai dadanya.


Buuuggghhh !!!


Kembali tubuh Ki Kapiraga terdorong ke belakang. Kali ini bahkan tubuhnya terjengkang hingga bergulingan.


Ki Kapiraga segera bangkit dalam posisi berlutut. Tangan kanannya masih memegang tongkatnya sedangkan tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa sesak. Terlihat kedua sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.

__ADS_1


Sambil mulutnya yang penuh darah komat kamit, Ki Kapiraga perlahan lahan berdiri dari posisi berlututnya. Begitu bisa berdiri, tongkatnya di sorongkan agak ke depan dada. Tiba tiba, dari bilah tongkat itu terjadi empat kali ledakan kecil.


Daaabbb ! Daaabbb ! Daaabbb ! Daaabbb !


Bersamaan dengan suara ledakan itu, terbentuk empat gumpalan asap hitam sebesar kepala orang dewasa. Dengan cepat, keempat gumpalan asap hitam itu berubah menjadi wujud empat babi hutan dengan taringnya yang panjang panjang.


Kemudian, diiringi suara mendesis, Ki Kapiraga menghentakkan tongkatnya ke depan. Seketika, keempat babi hutan itu melesat ke arah orang yang memukulnya tadi.


Melihat tongkat Ki Kapiraga berubah menjadi empat ekor babi hutan, orang yang menolong Ki Demang Pandan Ireng segera mengepalkan kedua tangannya. Kemudian, dengan sekali loncat, tubuhnya sudah berada dekat dengan keempat ekor babi hutan. Kedua kepalan tangannya bergantian melakukan hantaman ke arah babi hutan.


Buuuggghhh ! Buuuggghhh ! Buuuggghhh ! Buuuggghhh !


Begitu terkena pukulan, babi hutan itu terlempar hingga terbanting di tanah. Namun seperti tidak terjadi apa apa, babi hutan itu bangkit kembali.


Melihat kejadian itu, orang yang menolong Ki Demang Pandan Ireng menambah aliran tenaga dalamnya. Hasilnya, setiap terhantam, babi hutan itu tidak hanya terbanting di tanah, namun langsung meledak. Hingga dalam beberapa kali serangan, babi hutan itu lenyap dan hanya meninggalkan tongkat yang terjatuh ke tanah.


Saat tongkatnya terjatuh ke tanah, tiba tiba orang itu sudah berkelebat di depan Ki Kapiraga dan melayangkan dua kali pukulan yang tidak bisa ditangkis oleh Ki Kapiraga.


Buuuggghhh ! Buuuggghhh !


Melihat lawannya sudah tidak berkutik, orang itu segera melesat dan menyambar tubuh Ki Demang Pandan Ireng dan dibawa ke pendapa besar. Di pendapa itu, Ki Demang Pandan Ireng didudukkan kembali dan dari punggungnya, dialirkan tenaga dalamnya. Tubuh Ki Demang Pandan Ireng terlihat bergetar hebat. Dari luka luka bekas terkena pukulan di dada dan perutnya mengeluarkan asap yang membuat Ki Demang Pandan Ireng mengerang dan berteriak kesakitan. Saat rasa sakit itu sudah tidak tertahankan dan sudah mencapai puncaknya, Ki Demang Pandan Ireng memuntahkan darah hitam pekat beberapa kali.


Setelah berhenti memuntahkan darah hitam, Ki Demang Pandan Ireng tidak sadarkan diri beberapa saat. Namun orang itu menotok beberapa titik di pelipis, tengkuk dan dada Ki Demang Pandan Ireng. Sesaat kemudian, Ki Demang Pandan Ireng tersadar.


"Ki Demang tetap duduk beristirahat dulu memulihkan tenaga. Biar aku yang menjaga Ki Demang," kata orang itu.


Tanpa menjawab, Ki Demang Pandan Ireng segera melakukan semedi sambil beristirahat.


Orang itu pun mengambil tempat di luar lantai pendopo, duduk bersila dan sesaat kemudian orang itu juga sudah masuk dalam alam semedi.


----- * -----


Tanpa terasa pagi menjelang. Namun di pagi hari yang cerah itu, sudah terjadi keributan di pendapa Kademangan Pandan Ireng.


Terdengar, Den Roro sudah berteriak teriak memaki maki seseorang sambil menangis.


"Puguh, lihat ! Hasil dari ulahmu ! Bopo Demang mengalami luka hingga memuntahkan darah ! Kau memang patut dihajar !" teriak Den Roro sambil melayangkan pukulannya.

__ADS_1


Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk !


Puguh tetap terdiam dan menerima semua pukulan itu. Sambil terisak, Den Roro kembali mendekati Puguh dan melayangkan tamparannya.


Namun, tangan kanan Den Roro yang sudah dekat dengan muka Puguh, tiba tiba terhenti dan ada yang menariknya.


"Nduk anakku, semua ini bukan karena kesalahannya. Semua ini karena Bopo yang lemah, yang tidak bisa membela diri, yang tidak mampu melindungi kalian semua ! Hentikan amarahmu ! Dialah yang sudah menyelamatkan nyawa bopo !" kata Ki Demang Pandan Ireng.


"Sekarang, pergilah ke belakang," sambung Ki Demang Pandan Ireng.


Tanpa berkata apa apa lagi, Den Roro beranjak pergi dari sini.


Setelah tinggal mereka berdua, Ki Demang Pandan Ireng mengajak Puguh mendekat.


"Anak muda, benarkah namamu Puguh ! Kamukah Puguh yang dulu selalu ikut kemanapun Ki Poyo pergi ?" tanya Ki Demang Pandan Ireng.


"Benar sekali Ki. Namaku Puguh !" jawab Puguh.


"Maafkan atas semua kekacauan di Kademangan ini Ki Demang," Lanjut Puguh lagi, "Aku siap bertanggung jawab, Ki Demang. Akan aku tunggu, siapapun yang akan datang ke sini untuk membalas dendam !"


"Ha ha ha ha .... aku percaya padamu, anak muda. Terimakasih telah menolongku," kata Ki Demang Pandan Ireng.


"Terimakasih Ki Demang," jawab Ki Demang Pandan Ireng.


Kemudian, untuk menghilangkan rasa jenuh sekaligus mengenang masa kecilnya di tempat itu, Puguh berjalan berkeliling di sekitar rumah Kademangan.


Sejenak langkahnya terhenti saat dirinya sampai di deretan bangunan belakang. Dilihatnya, kamar tempat dia dan simboknya tinggal, masih tetap seperti dulu. Tidak berubah.


Tanpa terasa, kedua mata Puguh menjadi panas. Puguh teringat simboknya.


Kedua pelupuk matanya hampir penuh dengan air, saat tiba tiba terdengar suara Den Roro di belakangnya.


"Aku yang meminta pada Bopo Demang, agar kamar itu tidak dirubah dan dibiarkan tetap seperti itu. Karena aku yakin, suatu saat kamu akan kembali ke sini," kata Den Roro.


__________ ◇ __________


.

__ADS_1


__ADS_2