Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan di Tepi Sungai (III)


__ADS_3

Sementara itu di dalam Istana Kerajaan Kaling Pura. Panglima Perang Jaladri terkejut mendengar laporan dari prajurit penjaga yang melihat bola api di angkasa, tanda dari pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang meminta bantuan.


"Hhmmm ! Dua panglima perang yang aku suruh memimpin dua ratus pasukan perang dan dibantu oleh beberapa panglima perang bawahannya, tidak ada yang kembali ke sini untuk melaporkan ! Tidak mungkin mereka memiliki pasukan perang yang mampu mengalahkan dua orang panglima perang yang aku kirim. Ini artinya, mereka dibantu oleh banyak pendekar dan ada yang memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi !" gumam Panglima Perang Jaladri di depan enam orang panglima perang wakilnya.


"Bagaimana kalau dikirim lagi pasukan dengan jumlah yang pebih banyak, Panglima Jaladri ?" kata salah satu panglima perang yang menjadi wakil dari Panglima Perang Jaladri.


"Dua wakilku, yang ilmu kesaktiannya setingkat dengan kalian berenam, sampai sekarang tidak kembali, yang artinya kemungkinan besar mereka berdua sudah tewas. Coba kalian bayangkan, seberapa tinggi kesaktian orang atau pendekar yang mampu membunuh mereka berdua !" jawab Panglima Perang Jaladri sambil kemudian berdiri dari duduknya.


"Aku tidak ingin kejadian itu terulang ! Aku tidak ingin menambah korban di pihak kita ! Siapkan seribu pasukan dan kalian tiga orang ikut denganku ! Besok pagi pagi kita tumpas mereka ! Aku sendiri yang akan memimpin penyerangan !" kata Panglima Perang Jaladri dengan berapi api.


----- * -----


Di atas tebing yang berdiri tepat di samping sungai, yang dijadikan markas sementara oleh Puguh dan Pangeran Kanaya Wijaya. Mereka semua sedang membahas tentang kekuatan paaukqn perang Kerajaan Menara Langit.


"Kalau berdasarkan cerita yang Pangeran Kanaya Wijaya sampaikan, selain Panglima Perang Jaladri yang merupakan Panglima Armada, masih ada enam orang panglima perang yang menjadi bawahannya dengan pasukan yang masih sekitar seribu delapan ratus prajurit. Itu masih kekuatan yang sangat besar untuk kita hadapi. Dengan kekuatan kita saat ini, kita tidak mungkin menghadapi mereka dengan perang terbuka. Kita harus melakukan taktik seperti kemarin !" kata Puguh.


Memang, pada pertarungan di hari kemaren, taktik yang digagas dan diatur oleh Roro Nastiti, terbukti berhasil. Walaupun kehilangan dua pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha dan puluhan prajurit, namun mereka berhasil menghabisi dua ratus prajurit dan dua panglima perang yang menjadi wakil dari Panglima Perang Jaladri.


Akhirnya, setelah kedatangan tiga puluh pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang ilmu silatnya sudah berada pada tingkat tinggi hingga sangat tinggi, mereka bisa menyusun rencana.


Besok, mereka tidak akan melakukan penyerangan. Mereka akan menunggu, bilamana pihak pasukan Kerajaan Menara Langit melakukan penyerangan.


Pada kesempatan itu, Puguh berpesan. Andaikata Panglima Perang Jaladri sendiri yang memimpin penyerangan, Puguh yang akan menghadapinya. Satu panglima perang wakilnya akan dihadapi oleh Roro Nastiti yang bekerja sama dengan Pangeran Kanaya Wijaya. Satu panglima perang wakilnya lagi akan dihadapi oleh dua senopati Kerajaan Kaling Pura. Empat panglima perang yang menjadi wakil Panglima Perang Jaladri, masing masing akan dihadapi tiga sampai empat pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha. Para pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha lainnya, bertugas untuk secepatnya menghabisi para prajurit angkatan perang Kerajaan Menara Langit. Sedangkan lima ratus prajurit, sisa dari pasukan perang Kerajaan Kaling Pura, belum akan diturunkan.

__ADS_1


----- * -----


Pada hari berikutnya, dipagi hari, Pangeran Kanaya Wijaya menerima laporan tentang diberangkatkannya pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang berjumlah sekitar lima ratus prajurit. Pasukan perang itu, dipimpin sendiri oleh Panglima Perang Jaladri dengan tiga orang wakilnya.


Hingga diwaktu menjelang siang, pasukan perang itu mulai mendekati arah masuk ke jalan di tepi sungai.


Kemudian, Panglima Perang Jaladri mengajak dua orang panglima perang wakilnya untuk melesat terbang, melihat medan pertarungan dari atas. Sedangkan satu panglima perang wakilnya lagi, memimpin prajurit pasukan perang, memasuki jalan yang mengarah ke tepi sungai.


Di pertengahan jalan di tepi sungai itu, sudah menunggu sekitar sepuluh orang pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha. Sedangkan anggota yang lainnya masih bersembunyi untuk melakukan penyerangan.


"Habisi para pengacau itu !" teriak panglima perang wakil dari Panglima Perang Jaladri itu, yang kemudian melesat menerjang sambil menghunus senjata pedangnya.


Melihat panglima perang itu menyerang, tiga orang pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha segera menyambutnya dengan serangan senjata tongkatnya. Sedangkan tujuh orang pendekar lainnya segera menerjang ke arah pasukan perang yang berada di barisan paling depan. Disusul dengan, bermunculannya para pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha lainnya yang tadinya bersembunyi di sepanjang pinggiran sungai.


Di sisi lain, memanfaatkan medan pertarungan yang sempit, para pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha bergerak cepat melakukan serangan dengan senjata tongkatnya.


Mereka berusaha dengan cepat menjatuhkan lawan lawannya, karena telah dipesan untuk mengurangi sebanyak mungkin jumlah pasukan perang lawan.


----- * -----


Bersamaan dengan itu di atas tebing, Panglima Perang Jaladri yang melesat terbang disertai oleh dua orang panglima perang yang menjadi wakilnya, segera mendarat di atas tebing, setelah melihat, di atas tebing ada beberapa pendekar yang memiliki getaran kekuatan yang sangat tinggi.


"Pantas saja dua wakilku tidak pernah kembali ke istana. Kemungkinan sudah kalah dan tewas di tangan mereka !" kata Panglima Perang Jaladri.

__ADS_1


Sementara itu, Puguh sedikit terkejut, saat melihat wajah Panglima Perang Jaladri.


"Aahhh ! Wajah panglima perang ini sangat mirip dengan wajah Panglima Perang Jaladra yang sempat bertarung denganku. Apakah mungkin mereka saudara kembar ? Dari getaran kekuatannya pun, kesaktian mereka sepertinya berimbang. Aku harus mencegahnya, agar panglima perang ini tidak menyerang yang lainnya !" kata Puguh dalam hati.


"Sepertinya kau punya hubungan saudara dengan panglima perang yang bernama Jaladra !" kata Puguh sambil menatap tajam Panglima perang Jaladri.


"Owhh ! Kau sudah bertemu dengan saudara kembarku !" sahut Panglima Perang Jaladri sambil tersenyum. Namun, dalam hati, sebenarnya Panglima Perang Jaladri terkejut.


"Anak muda ini sudah bertemu dengan Kakang Jaladra sebagai lawan dan masih hidup ! Berarti dia memiliki kesaktian yang tidak boleh diremehkan !" kata Panglima Perang Jaladri dalam hati.


"Kau sudah bertarung dengannya ?" tanya Panglima Perang Jaladri.


"Aku sudah sempat bergebrak dengannya, sayangnya tidak sampai tuntas ! Saudara kembarmu itu keburu pergi meninggalkan pertarungan !" jawab Puguh.


"Bagaimana kalau aku yang menyelesaikan pertarungannya !" kata Panglima Perang Jaladri sambil kedua tangannya meloloskan senjatanya, berupa rantai besar yang di ujungnya terdapat bola besi berduri berwarna hitam.


"Dengan senang hati akan aku ladeni !" jawab Puguh lagi sambil mencabut senjata pedangnya dari sarungnya.


Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, Panglima Perang Jaladri memutar senjata rantai besarnya di atas kepala hingga menimbulkan suara gemuruh.


Lalu, dengan menotolkan ujung kakinya, Panglima Perang Jaladri melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh, sambil mengayunkan bola besi berduri ke arah tubuh Puguh.


---------- ◇ ----------

__ADS_1


__ADS_2