Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan Di Hutan Wanapura


__ADS_3

Semua yang dilakukan oleh Ki Bhanujiwo, bukannya tanpa resiko. Walau sudah melakukan penyelidikan dengan sangat hati hati agar tidak ada yang mengetahui, akhirnya tetap saja bisa diketahui oleh orang orang dari Perkumpulan Jaladara Langking. Sehingga oleh Perkumpulan Jaladara Langking, Ki Bhanujiwo dimasukkan dalam kelompok tokoh persilatan yang harus disingkirkan.


Pada suatu hari, Ki Bhanujiwo sampai di hutan Wanapura, sebuah hutan di luar wilayah Kadipaten Langitan, untuk mencari suatu daun yang dia butuhkan untuk membuat racikan obat.


Sejak masih di wilayah Kadipaten Langitan, sebenarnya Ki Bhanujiwo sudah merasa curiga. Dia merasa seperti ada yang mengikutinya.


Namun karena merasa hal itu belum membahayakan, sekaligus untuk melihat mereka itu siapa, maka Ki Bhanujiwo diam saja dan pura pura tidak mengetahui kalau ada yang membuntuti.


Begitu masuk ke hutan Wanapura yang masuk dalam wilayah kekuasaan Kadipaten Somapura, Ki Bhanujiwo terus saja masuk dan diam diam mencoba mencari tempat yang agak lapang untuk berhenti.


Ketika sampai di tanah yang cukup lapang dan teduh karena dikelilingi oleh pepohonan, Ki Bhanujiwo sengaja berhenti untuk beristirahat.


Selama beberapa waktu, tidak terjadi apa apa dan Ki Bhanujiwo tidak merasakan ada pergerakan manusia.


Namun, tiba tiba Ko Bhanujiwo merasakan kehadiran tiga orang dari belakangnya, yang bisa Ki Bhanujiwo rasakan dari getaran tenaga dalamnya.


Getaran tenaga dalam tiga orang ini cukup halus dan samar dia rasakan. Hal ini berbeda dengan getaran tenaga dalam yang Ki Bhanujiwo rasakan saat masih di dalam wilayah Kadipaten Langitan, yang getarannya cukup keras.


Hal itu membuat Ki Bhanujiwo meningkatkan kewaspadaannya. Karena berdasarkan dari yang dia rasakan, berarti, tiga orang yang muncul di belakangnya ini termasuk tinggi ilmu silatnya dan tenaga dalamnya.


Sesaat kemudian, terdengar suara disertai munculnya tiga orang di belakang Ki Bhanujiwo. Mereka bertiga menggunakan pakaian serba hitam dan dengan penutup muka.


"Orang tua ! Serahkan apapun barang berharga yang kamu miliki !" teriak salah seorang dari mereka.


"Heeeh he he he .... kalian hendak merampog di dalam hutan ?" tanya Ki Bhanujiwo, "Tidak usah berpura pura merampog ! Katakan saja terus terang, apa yang kalian inginkan !"


Mereka bertiga saling melihat dan saling mengangguk. Kemudian, mereka bertiga melepaskan penutup muka mereka.


"Jadi kau sudah tahu siapa kami, maka kami hanya ingin nyawamu !" jawab salah satu orang berpakaian serba hitam.


Sreeettt !!!


Serentak tiga orang itu mencabut goloknya masing masing dari sarungnya.


Golok mereka berwarna hitam mengkilap dan mengeluarkan bau yang sangat amis.

__ADS_1


"Heeeh he he he .... Hendak bermain main racun denganku ya ?" tanya Ki Bhanujiwo sambil tertawa.


Ketiga orang berpakaian serba hitam itu tidak memperdulikan kata kata Ki Bhanujiwo.


"Seraaaannnggg !!!" teriak salah seorang dari mereka.


Mereka bertiga segera melompat dan menyerang Ki Bhanujiwo dari tiga arah.


Melihat datangnya tebasan golok, Ki Bhanujiwo meloncat ke samping. Namun, belum sempat Ki Bhanujiwo kembali ke kuda kuda, serangan golok dari arah lainnya datang. Hal seperti itu berulang terus, hingga sampai beberapa jurus, mereka bertiga bisa memaksa Ki Bhanujiwo hanya melompat lompat menghindar.


Hal ini menunjukkan kalau serangan mereka tertata rapi dan gerakan mereka sudah sangat kompak. Ditunjang dengan tenaga dalam mereka bertiga yang sudah tinggi, membuat serangan golok mereka menjadi sangat berbahaya.


Setelah terus menerus menghindar, Ki Bhanujiwo bertanya pada mereka.


"Dari permainan golok kalian, apakah benar kalian ini 'Golok Iblis Selatan' ?" tanya Ki Bhanujiwo.


"Karena kamu akan mati hari ini di tangan kami, kami akan beritahukan kepadamu ! Benar, kami adalah 'Golok Iblis Selatan !" jawab salah satu dari orang berpakaian serba hitam.


Kemudian, tanpa menunggu Ki Bhanujiwo menjawab, mereka bertiga segera bergerak menyerang.


Namun, yang mereka hadapi adalah Ki Bhanujiwo, tokoh tua dunia persilatan yang sudah banyak makan asam garam dunia pertarungan.


Dengan memiringkan tubuhnya agak ke bawah sambil berputar, Ki Bhanujiwo bisa menghindari datangnya serangan ketiga golok, bahkan Ki Bhanujiwo bisa membalas menyerang.


Saat tubuhnya memutar, tangan kanannya membentuk cakar dan menyasar ke perut lawannya.


Breeettt !!!


Cakaran tangan kanan Ki Bhanujiwo berhasil menyobek baju sekaligus memberikan luka di perut pada salah satu lawannya. Luka yang membuat lawannya itu terduduk untuk sementara waktu.


Tidak ingin membuang kesempatan, Ki Bhanujiwo segera melesat ke arah lawannya yang lain.


Namun kedua lawannya itu segera saling menutup dengan serangan goloknya. Tetapi Ki Bhanujiwo tetap bisa membalas serangan, bahkan kembali, cakaran tangan Ki Bhanujiwo membali bisa bersarang di perut salah satu lawannya.


Satu lawannya kembali terjatuh. Namun lawan yang tadi pertama jatuh, sudah ikut bertarung lagi.

__ADS_1


Ki Bhanujiwo tidak ingin berlama lama. Sambil melesat, Ki Bhanujiwo mengeluarkan tehnik 'Harimau Besi' miliknya.


Sesaat kemudian, terdengar suara dentangan seperti suara besi beradu.


Traaannnggg ! Traaannnggg !


Suara itu berasal dari golok golok yang berbenturan dengan kedua lengan Ki Bhanujiwo yang sudah menjadi sekeras baja, berkat tehnik 'Harimau Besi."


Selain menangkis, Ki Bhanujiwo juga mulai melakukan serangan serangan cakaran cepat. Walau gerakan cakarannya ditangkis dengan golok, hal itu tidak membuat Ki Bhanujiwo menghentikan serangannya. Bahkan berkali kali cakar tangan kanan maupun kirinya mendarat di tubuh lawan.


Pada suatu kesempatan, dengan liukan tubuh yang masih sangat lentur, cakar tangan kanan Ki Bhanujiwo berhasil mengenai leher dua orang lawannya.


Craaasss ! Craaasss !


Dua lawan yang terkena cakaran di leher, terjatuh dan tewas seketika dengan luka cakaran menganga di lehernya.


Saat Ki Bhanujiwo hendak melanjutkan serangan pada lawannya yang tersisa, tiba tiba Ki Bhanujiwo merasakan getaran tenaga dalam yang sangat kuat mendekatinya.


Sesaat kemudian, di depannya berdiri seorang yang sudah seusianya. Mengenakan jubah putih dengan kulit keriput yang terlihat putih.


"Ki Bajraseta ? Kenapa dia bisa muncul di sini ? Ada hubungan apakah Ki Bajraseta dengan semua yang diceritakan oleh Ki Dwijo ? Aku harus segera kembali menemui Ki Dwijo !" kata Ki Bhanujiwo dalam hati.


"Hhmmm ... benarkah ini Ki Bhanujiwo, pemilik Cakar Harimau Besi sekaligus sang raja obat ?" tanya orang berjubah putih itu.


"Heeeh he he he ... benar," jawab Ki Bhanujiwo, "Kalau tidak salah, aku sedang berhadapan dengan Ki Bajraseta."


"Hhmmm ... ada urusan apa Ki Bhanujiwo dengan mereka ?" tanya Ki Bajraseta lagi.


"Kalau Ki Bajraseta ingin penjelasan, tanyakan pada dia yang masih hidup. Merekalah yang menyerangku," jawab Ki Bhanujiwo.


Kemudian Ki Bajraseta menatap tajam, penuh pertanyaan anggota Golok Iblis Selatan yang tinggal satu.


Merasa ditatap begitu, anggota Golok Iblis Selatan yang tersisa itu dengan gugup menjawab.


"Kami mendapat tugas dari pimpinan, untuk membunuhnya !"

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2