Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertemuan Kembali dengan Den Roro dan Ki Bhanujiwo


__ADS_3

Mendengar teriakan itu, Puguh terkejut. Terkejut melihat Den Roro terlihat lebih kurus, sinar matanya sayu dan mukanya tirus tidak terawat. Pakaian putihnya terlihat pudar warnanya dan agak lusuh.


Sementara itu, tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Den Roro setengah berlari ke arah Puguh dan kemudian memeluknya.


"Kau ... kau benar Puguh kan ?" tanya Den Roro dengan suara sedikit terisak.


Puguh tersenyum. Dibalasnya pelukan Den Roro dengan mengusap usap rambut kepala Den Roro sejenak.


"Kasihan Den Roro. Badannya kurus dan hidupnya tidak terawat !" kata Puguh dalam hati.


"Benar, Den Roro. Aku Puguh," jawab Puguh.


Den Roro dengan cepat mengangkat kepalanya yang disandarkan di dada Puguh.


"Sudah aku katakan sejak dulu, jangan panggil aku Den Roro. Namaku Roro Nastiti !" kata Den Roro lagi dan kemudian melepaskan pelukannya, "Ayo ucapkan namaku !"


"Iya Den ... eh ... Roro Nastiti," jawab Puguh.


"Nahhh ... lain kali panggil aku Roro !" kata Den Roro sambil kemudian membalikkan badannya dan kemudian berjalan ke arah meja kecil tadi.


Di samping meja kecil itu telah berdiri Ki Bhanujiwo.


"Maaf guru," kata Den Roro dengan muka sedikit memerah, " Itu ... itu Puguh, guru."


Ki Bhanujiwo yang sejak tadi terkejut dan heran, hanya mengangguk mendengar ucapan Den Roro, namun tatap matanya tidak pernah terlepas memandang Puguh.


Melihat Ki Bhanujiwo, Puguh segera mendekat dan menyapanya.


"Ki Bhanujiwo," kata Puguh sambil membungkukkan badannya.


"Ngger Puguh, bagaimana kau bisa masuk ke ruang pembuatan ramuan obat ini ?" tanya Ki Bhanujiwo sambil tangan kirinya memegang bahu kanan Puguh.


Mendengar pertanyaan Ki Bhanujiwo, Puguh menceritakan sejak dia dikejar oleh empat Iblis hingga selesai bersemedi melihat sebentuk pintu berwarna hitam pekat.


"Luar biasa apa yang kau alami, ngger !" kata Ki Bhanujiwo.

__ADS_1


"Mari kita duduk dan berbincang di sini," kata Ki Bhanujiwo lagi sambil berjalan menuju meja kecil yang satunya yang terdapat empat kursi mengelilinginya.


Setelah mereka bertiga duduk mengelilingi meja kecil itu, Puguh pun menanyakan bagaimana Ki Bhanujiwo dan Den Roro bisa berada di ruang pembuatan obat ini.


Kemudian Ki Bhanujiwo menceritakan. Setelah mereka berdua bisa menyelamatkan nyawa Dewi Kinara, istri dari Pangeran Panji, Ki Bhanujiwo dan Den Roro diminta untuk merawat Dewi Kinara sampai sembuh. Sehingga saat Pangeran Panji kembali ke Istana Kepangeranan, mereka berdua diajak serta ke Istana.


Setelah beberapa hari berada di istana Pangeran Panji, Ki Bhanujiwo dan Den Roro melihat, banyak pendekar yang berdatangan ke istana Pangeran Panji atas undangan Pangeran Panji.


Yang membuat Ki Bhanujiwo bertanya tanya adalah, kenapa yang hadir di istana Pangeran Panji, para pendekar yang sepak terjangnya tidak baik atau dari golongan hitam.


Hingga pada suatu saat, Ki Bhanujiwo yang sedang di teras belakang bersama dengan Den Roro, setelah mereka berdua selesai memberikan ramuan obat pada Dewi Kinara, mereka secara tidak sengaja bertemu dengan Ki Kama Catra yang berjalan bersama dengan Pangeran Panji.


Ki Kama Catra menatap tajam Ki Bhanujiwo dengan penuh kebencian. Sedangkan Ki Bhanujiwo terkejut, Ki Kama Catra juga berada di istana Pangeran Panji ini.


Guru, perkenalkan beliau Ki Bhanujiwo dan Roro muridnya, yang telah berjasa menyelamatkan nyawa istriku !" kata Pangeran Panji, "Ki Bhanujiwo, perkenalkan ini guruku, Ki Kama Catra !"


Mendengar perkataan Pangeran Panji, Ki Bhanujiwo dan Ki Kama Catra sama sama tersenyum kecut.


Kemudian, Ki Bhanujiwo dan Den Roro cepat cepat berpamitan.


Ki Kama Catra sangat tidak suka dengan Ki Bhanujiwo yang ahli tentang obat dan pengobatan. Karena Ki Bhanujiwo sering menolong dan mengobati lawan lawan Ki Kama Catra yang terluka. Hal itu berseberangan dengan Ki Kama Catra yang menggunakan racun dan ramuan ramuan untuk mantra pada ilmu silatnya yang menggunakan tenaga dalam yang dipadukan dengan tehnik manipulasi penglihatan lawannya.


----- * -----


Pada suatu hari, saat Pangeran Panji keluar istana, Ki Kama Catra ditemani oleh Iblis Selatan dan Iblis Utara, sengaja mencari Ki Bhanujiwo. Akhirnya mereka bertemu di kebun belakang istana saat Ki Bhanujiwo dan Den Roro melihat lihat tanaman yang ada di sana yang mungkin bisa mereka manfaatkan.


Di tempat itu, Ki Kama Catra sengaja menantang bertarung Ki Bhanujiwo.


Karena tidak bisa mengelak lagi, maka terpaksa Ki Bhanujiwo meladeni tantangan Ki Kama Catra.


Mereka berdua bertarung hingga puluhan jurus. Ki Bhanujiwo juga dibuat terkejut dengan peningkatan ilmu silat dan tenaga dalam Ki Kama Catra.


Apalagi saat Ki Kama Catra mencoba menggunakan ilmu silat yang baru saja dia ciptakan.


Dengan ilmunya yang baru itu, yang menggunakan ramuan khusus yang diniat menjadi asap, Ki Kama Catra bisa membuat Ki Bhanujiwo melihat, tubuh Ki Kama Catra ada dua.

__ADS_1


Setelah Ki Kama Catra memainkan jurus jurus ilmu barunya, Ki Kama Catra bisa mendesak Ki Bhanujiwo. Namun, saat Ki Bhanujiwo dalam posisi terdesak hebat, tubuh Ki Kama Catra kembali terlihat hanya satu. Hal itu terulang beberapa kali, hingga membuat Ki Bhanujiwo bisa mengetahui, kalau ilmu Ki Kama Catra yang baru itu belum sempurna.


Bersamaan dengan pertarungan itu, melihat Ki Kama Catra bertarung dengan Ki Bhanujiwo, Iblis Selatan juga merasakan kegatalan tangannya ingin bertarung. Maka ditantangnya Den Roro bertarung.


Melawan Iblis Selatan yang ilmu silat dan tenaga dalamnya setingkat dengan Ki Bhanujiwo gurunya, Den Roro hanya mampu bertahan sepuluh jurus. Setelah memasuki belasan jurus, Den Roro terdesak hebat dan pada satu kesempatan, pukulan Iblis Selatan berhasil mendarat di dadanya.


Duuuggghhh !


Seketika tubuh Den Roro terdorong mundur hingga terjatuh dan kemudian memuntahkan darah segar.


Sementara itu, Ki Bhanujiwo yang sedang terdesak oleh Ki Kama Catra, terpecah konsentrasinya saat melihat Den Roro muridnya terjatuh dan mengalami luka dalam.


Kelengahan yang hanya sesaat itu, sangat fatal akibatnya bagi Ki Bhanujiwo. Satu tendangan ke arah perut yang dilanjutkan pukulan ke arah dadanya membuat Ki Bhanujiwo terlempar ke belakang dengan rasa nyeri di dalam dadanya.


Buuuggghhh !


Duuuggghhh !


Saat Ki Bhanujiwo berusaha bangun, tiba tiba Ki Kama Catra menggerakkan tangan kanannya dengan sangat cepat. Dua jarum kecil melesat ke arah Ki Bhanujiwo dan Den Roro. Tanpa bisa dihindari lagi, jarum kecil itu menancap cukup dalam di leher Ki Bhanujiwo dan Den Roro.


Khawatir terkena racun, Ki Bhanujiwo berusaha mencabut jarum kecil yang menancap di lehernya. Dengan bersusah payah pula, Ki Bhanujiwo merangkak mendekati Den Roro yang masih terduduk berlutut, dan kemudian mencabut jarum kecil yang menancap cukup dalam, di leher Den Roro.


Setelah Ki Bhanujiwo dan Den Roro terluka parah, Ki Kama Catra dan Iblis Selatan serta Iblis Utara, segera kembali ke dalam istana.


Sesaat sebelum melesat pergi, Ki Kama Catra berkata pada Ki Bhanujiwo.


"Kalian telah terkena racunku yang baru. Racun itu akan membuat kalian tidak bisa menggunakan tenaga dalam kalian di atas lima puluh persen!" kata Ki Kama Catra.


Kemudian, tanpa menunggu reaksi dari Ki Bhanujiwo lagi, Ki Kama Catra segera melesat pergi ke arah istana Pangeran Panji, diikuti oleh Iblis Selatan dan Iblis Utara.


Sejak hari itu, selama menderita luka parah akibat terkena pukulan dan jarum beracun, Ki Bhanujiwo dan Den Roro sering diminta oleh Pangeran Panji untuk membuat ramuan ramuan obat di ruang pembuatan ramuan obat yang berada di kompleks istana.


Ramuan obat yang dibuat oleh Ki Bhanuniwo itu diam diam digunakan oleh Ki Kama Catra untuk menyempurnakan ilmu silat ciptaannya dan tenaga dalamnya.


Begitu seringnya Ki Bhanujiwo dan Den Roro membuat ramuan obat, membuat mereka berdua sering berada di dalam ruangan pembuatan ramuan obat. Hal itu, berlangsung selama berhari hari hingga membuat tubuh Den Roro semakin bertambah kurus dan akhirnya bisa bertemu dengan Puguh, di dalam ruangan pembuatan ramuan obat.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2