Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Empat Penyerang saat Berburu di Hutan


__ADS_3

Setelah beberapa waktu berburu, Pangeran Panji sudah mendapatkan seekor kijang dan tiga ekor ayam hutan.


Sambil tersenyum puas, Pangeran Panji berbalik kembali menuju ke tanah lapang yang berada di tengah hutan, namun dengan mengambil jalur lain.


Sementara itu, sampai dengan menjelang siang, Pangeran Pandu belum mendapatkan seekor pun hasil buruan. Bukan karena Pangeran Pandu kurang pandai membidik, namun karena Pangeran Pandu tidak tega membunuh hewan.


Akhirnya, setelah tiba waktunya untuk kembali karena matahari telah melewati titik tengah, Pangeran Pandu terpaksa membidik seekor ayam hutan yang sudah tua.


Dengan membawa satu hasil buruan, Pangeran Pandu kembali menuju ke tanah lapang di tengah hutan dengan melewati jalurnya tadi. Namun semua alat berburunya sudah dia simpan sehingga selama perjalanan kembali ke tanah lapang, Pangeran Pandu sudah tidak berburu lagi.


Selama perjalanan pulang, Pangeran Pandu hanya berjalan kaki. Karena dia ingin menikmati suasana hutan.


Baru benerapa saat berjalan, tiba tiba telinga Pangeran Pandu menangkap gerakan yang sepertinya bukan hewan buruan. Karena gerakan ini membawa getaran tenaga dalam, walaupun hanya dirasakan tipis.


Syaraf syaraf kewaspadaan Pangeran Pandu terbangun semua. Dengan terus melangkah seperti biasa, diam diam Pangeran Pandu memperhatikan sekitarnya dengan lebih seksama.


Tiba tiba terdengar kesiuran angin dari samping kanan dan kirinya. Sesaat kemudian, di depan Pangeran Pandu, berdiri empat orang berpakaian serba hitam dan semuanya memakai penutup kepala.


Sejenak keempat orang saling berpandangan dan saling mengangguk. Kemudian, secara serentak, mereka mencabut senjata mereka, berwujud belati.


Sraaattt !


"Siapa kalian !" tanya Pangeran Pandu sambil memindahkan peralatan berburunya yang tadinya dibawa di punggung dipindah ke samping.


"Tidak perlu kau tahu siapa kami ! Karena sebentar lagi kau akan mati !" jawab salah seorang berpakaian serba hitam itu.


Kemudian, seperti diberi aba aba, keempat orang itu melesat bersamaan ke arah Pangeran Pandu.


Diserang empat orang sekaligus, tidak membuat gugup Pangeran Pandu. Dengan cepat ditariknya salah satu tombak pendek untuk berburu dan kemudian, diputar di depan dadanya untuk.menangkis datangnya tusukan belati.


Tak ! Tak ! Tak ! Tak !


Dalam gebrakan pertama itu, Pangeran Pandu terdorong hingga dua langkah. Kedua tangannya yang memutar gagang tombak pendek terasa bergetar.


"Energi mereka semua, masing masing hampir seimbang denganku !" kata Pangeran Puguh dalam hati.


"Ada masalah apa, tiba tiba kalian menyerangku ?" tanya Pangeran Pandu.


Keempat penyerang itu tidak menggubris pertanyaan Pangeran Pandu. Mereka kembali bergerak menyerang. Senjata belati mereka mengancam bagian bagian tubuh yang mematikan.

__ADS_1


Pangetan Pandu terdesak hebat. Dua luka goresan sudah menghiasi lengan kirinya.


Pada situasi yang berbahaya itu, tiba tiba berkelebat mendekat dua bayangan tubuh yang langsung masuk ke dalam pertarungan, menyapok serangan belati mereka berempat. Dua belati tertangkis oleh senjata tongkat dan dua belati lagi tertangkis oleh sebilah pedang.


Tak ! Tak !


Ting ! Ting !


Keempat belati itu terpental membalik. Keempat penyerang itu merasakan tangan kanan mereka bergetar dan sedikit ngilu.


Melihat datang dua lawan lagi, keempat penyerang itu saling pandang.


"Tetap kita selesaikan tugas kita secepatnya ! Kalau gagal, kepala kita yang jadi taruhannya ! Kalian tahu sendiri, betapa kejamnya Pangeran terhadap para pembantunya !" kata salah seorang penyerang itu.


Kemudian, keempat penyerang itu kembali bersiap untuk menyerang lagi.


"Nduk, kamu lindungi Pangeran !" kata salah seorang yang baru saja ikut bergabung dalam pertarungan, ketika keempat penyerang itu berhenti menyerang.


"Baik kakek !" jawab perempuan muda yang baru datang itu.


Mereka berdua adalah Rengganis dan Ki Dwijo. Mereka menemukan keberadaan Pangeran Pandu tepat saat keselamatan Pangeran Pandu terancam.


Empat orang penyerang itu kembali bergerak. Tubuh mereka melesat lebih cepat dari yang tadi.


Melihat serangan itu, Ki Dwijo yang sejak tadi sudah mengeluarkan senjata tongkatnya, segera mengayunkan tongkatnya untuk menghadang datangnya serangan belati dari empat orang penyerang tadi. Namun, dua orang tetap mengarahkan serangannya ke arah Ki Dwijo, sedangkan dua orang lagi melompat ke samping dan segera mengarahkan serangannya ke arah Rengganis dan Pangeran Pandu. Sesaat kemudian, terdengar berkali kali suara benturan senjata.


Tak ! Tak ! Tak !


Traaakkk ! Traaakkk !


Tak ! Traaakkk !


Dalam pertarungan menggunakan senjata itu, setelah berjalan sekitar sepuluh jurus, terlihat empat penyerang itu kewalahan menghadapi setiap tangkisan Ki Dwijo dan Rengganis juga Pangeran Pandu.


Senjata belati mereka selalu terpental jika berbenturan dengan senjata tongkat Ki Dwijo ataupun senjata pedang Rengganis. Bahkan rasa ngilu di tangan mereka sudah menjalar hingga ke pundak mereka.


Melihat keadaan itu, salah seorang penyerang, yang kemungkinan merupakan pemimpinnya berkata pada tiga orang penyerang yang lain, "Kita gunakan dua taring !"


Mendengar aba aba itu, seketika terdengar suara senjata belati dicabut dari sarungnya.

__ADS_1


Sraaattt !


Hanya dalam sesaat, empat orang penyerang itu masing masing telah memegang dua buah belati.


Kemudian, seperti diberi aba aba, empat orang penyerang itu melesat bersamaan, menyerang lebih ganas lagi dengan kedua senjata belati mereka.


Namun kali ini, mereka berempat berusaha mengarahkan serangan serangan mereka pada Pangeran Pandu. Gerakan empat orang penyerang semakin bertambah cepat. Serangan serangan mereka semakin bertenaga dan mematikan, karena mengarah ke titik titik vital di tubuh lawan.


Melihat hal itu, Ki Dwijo dan Rengganis tidak tinggal diam. Dengan meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Ki Dwijo dan Rengganis tidak hanya menangkis dan bertahan. Mereka berdua juga membalas menyerang hingga akhirnya, setelah berkali kali benturan senjata, empat orang penyerang itu kembali merasakan kedua tangan mereka bergetar dan ngilu.


Namun sepertinya mereka tidak memperdulikan keselamatan mereka. Empat penyerang itu terlihat semakin nekat dalam menyerang. Terlihat mereka terburu buru ingin menyelesaikan pertarungan ini.


Serangan balasan Rengganis dan Ki Dwijo, membuat mereka berempat mulai mendapatkan luka luka.


Pada suatu kesempatan, dua orang penyerang melesat dengan cepat ke arah Pangeran Pandu. Kedua belati tergenggam erat di tangan kanan dan kiri.


Dengan kecepatan dan tenaga yang penuh, mereka berdua berusaha melancarkan beberapa kali tusukan ke arah Pangeran Pandu.


Namun dengan sigap, Rengganis segera menghadang pergerakan maju mereka. Pedangnya diayunkan memutar sedemikian rupa, sehingga empat bilah belati yang mengarah ke tubuh Pangeran Pandu, dua terpental kembali ke belakang dan dua lagi langsung patah saat berbenturan dengan pedang Rengganis.


Tak ! Tak !


Traaannnggg ! Traaannnggg !


Kemudian, dengan memutar tubuhnya satu lingkaran penuh, Rengganis menggerakkan senjata pedangnya. Dan akhirnya tanpa bisa dihindari lagi secara berturut turut, pedang Rengganis berhasil menghujam ke perut kedua lawannya itu.


Jleppp ! Jlepp !


Kedua penyerang yang terluka perutnya itu jatuh terduduk agak membungkuk, sambil tangan kirinya mendekap perut mereka yang terluka.


Sementara itu dalam waktu yang bersamaan dengan pertarungan Rengganis, Ki Dwijo memutar tongkatnya untuk menghalau setiap senjata belati yang datang dari dua penyerang yang lainnya.


Walaupun gerakan dua penyerang itu sudah bertambah cepat dan tenaga dalam mereka sudah mereka keluarkan secara maksimal, namun menghadapi gerakan tongkat Ki Dwijo yang jauh lebih cepat, membuat senjata belati mereka terpental dan terlepas dari genggaman mereka.


Hingga kemudian, dengan dua kali ayunan, ujung tongkat Ki Dwijo mendarat di pelipis dan tengkuk kedua lawan.


Tuuukkk ! Tuuukkk !


Tubuh kedua penyerang itu langsung terjatuh di tanah dan tidak bergerak lagi.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2