Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Prabu Girindra Nata, Raja Kerajaan Kisma Pura


__ADS_3

Situasi pertempuran berubah dengan cepat. Jumlah pasukan lawan bertambah banyak dengan drastis. Senopati Cakrayuda, dan para Senopati muda seperti Senopati Widura, Senopati Arimbi, Senopati Darutama dan Senopati Roro Nastiti, masing masing menghadapi lawan yang jumlahnya lebih dari satu. Membuat mereka sibuk mempertahankan diri masing masing.


Seperti halnya Senopati Roro Nastiti, selama beberapa saat sempat di atas angin. Lawannya yang juga seorang senopati bersenjatakan sarung lengan dari baja, perlahan lahan terdesak. Bahkan Senopati Roro Nastiti yang setelah dua puluh jurus bertarung, unggul dalam hal kecepatan, dua pedang pendeknya mulai memberikan luka pada lawannya.


Pada suatu kesempatan, pedang di tangan kanan Senopati Roro Nastiti berhasil memberikan sayatan menyilang pada dada lawannya.


Senopati Roro Nastiti baru saja akan bergerak untuk menghabisi lawannya, saat tiba tiba bermunculan empat orang yang langsung mengeroyoknya.


"Tangkap senopati perempuan itu untukku !" kata senopati yang terluka di dadanya.


Mendengar ucapan senopati itu, keempat orang yang baru datang urung mencabut senjata dan kemudian meloncat mendekat ke arah Senopati Roro Nastiti.


Dikeroyok empat orang yang kemampuannya hampir sama dengan senopati yang telah terluka, membuat Senopati Roro Nastiti sebentar saja terdesak. Beberapa kali pukulan lawannya mengenai tubuhnya dan membuatnya terluka.


Pada saat keadaan Senopati Roro Nastiti sudah sangat kepayahan, tiba tiba muncul sesosok bayangan manusia yang menghalau serangan empat orang pengeroyok itu.


Plakkk ! Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !


Tangkisan sosok yang baru muncul itu membuat keempat orang pengeroyok itu terpelanting. Namun keempat orang itu segera bangkit berdiri dan


Sementara itu, Senopati Roro Nastiti, begitu melihat ada yang membantunya, sejenak berhenti bergerak dan hendak menyapa, namun lebih dahulu tubuhnya terjatuh dan tidak sadarkan diri karena begitu kelelahan.


Melihat Senopati Roro Nastiti terjatuh, sosok yang baru datang itu geram.


"Kalian segera tarik mundur pasukan, atau kalian hari ini mati di sini !" kata sosok yang baru datang itu.


Mendengar perkataan orang yang baru datang itu, keempat pengeroyok saling pandang dan kemudian tertawa.


"Haahhh ha ha ha ! Kau sendirian hendak menyuruh kami pergi !" sahut salah seorang dari pengeroyok itu, "Kita bangunkan orang itu dari mimpinya !"


Kemudian seperti diberi aba aba, keempat orang itu menyerang secara bersamaan dari empat sisi yang berbeda.


Diserang empat orang bersamaan, tubuh sosok orang yang baru datang itu bergerak dengan gerakan yang lebih cepat dari empat orang yang mengeroyoknya dan kemudian membagikan pukulan ke tubuh empat pengeroyoknya.


Deesss ! Deesss ! Deesss !

__ADS_1


Plaaakkk !


Tiga orang pengeroyok itu, terpental ke belakang lebih jauh lagi saat sebuah pukulan tiba tiba mengenai perut mereka.


Ketiga pengeroyok itu jatuh terhempas di tanah. Mereka berusaha bangkit lagi, namun mereka merasakan dada mereka sangat sesak, yang membuat mereka harus memuntahkan darah segar !.


Sedangkan yang seorang lagi, tubuhnya juga terlempar ke belakang walaupun bisa menangkis pukulan yang mengarah ke perutnya.


Saat bisa berdiri, sosok yang baru datang itu sudah berada di dekatnya.


"Pasukan dari kerajaan mana kalian ?" tanya sosok yang baru datang itu.


"Huuhhh ! Kalian hanya kerajaan kecil, jangan ... "


Duuggghhh !


Orang terakhir itu tidak.bisa melanjutkan ucapannya, karena dadanya sudah terkena pukulan yang membuatnya jatuh terkapar dan tidak bergerak lagi.


Kemudian dengan cepat orang yang baru datang itu menghampiri Senopati Roro Nastiti yang tidak sadarkan diri.


Sesaat kemudian, banyak berjatuhan korban, karena kemanapun sosok yang baru datang itu bergerak, dengan sekali menggerakkan tangan walaupun dengan gerakan yang sederhana, lawan akan jatuh terkapar dan tidak bisa bangkit lagi walaupun tidak tewas.


Hal itu juga terjadi tidak jauh dari tempat sosok yang baru datang itu, ketika seorang perempuan cantik berpakaian ringkas dan sederhana mengamuk memporak porandakan pasukan lawan.


Keadaan itu memaksa para senopati dari pasukan kerajaan penyerang itu melupakan keunggulan pertarungannya dan meninggalkan lawannya untuk mendekat ke arah dua pertempuran yang membuat pasukannya berantakan.


"Semua prajurit, mundur !" teriak senopati utama pasukan lawan.


Melihat perubahan situasi pertempuran yang berubah cepat, Senopati Cakrayuda mencoba melihat keadaan.


Saat itulah dia melihat Puguh dan seorang perempuan yang berdiri berdekatan, dikelilingi oleh banyak sekali tubuh prajurit lawan yang pingsan.


"Puguh ? Benarkah itu kau ?" tanya Senopati Cakrayuda.


"Benar, Senopati Cakrayuda," jawab Puguh, sosok yang baru datang itu.

__ADS_1


"Puguh, sudah hampir dua pekan kami semua mencarimu ! Ada yang harus kita bicarakan ! Kita kembali ke kerajaan !" kata Senopati Cakrayuda yang sebelumnya telah memerintahkan semua pasukannya untuk mundur dan merawat semua yang terluka.


----- * -----


Pada malam harinya, di pendopo depan istana Kerajaan Banjaran Pura, Senopati Cakrayuda dan Senopati Wiraga, mengundang Puguh dan Rengganis untuk membicarakan suatu hal.


"Puguh, kami atas nama raja dan kerajaan Banjaran Pura, mengucapkan terimakasih atas bantuanmu selama ini," kata Senopati Cakrayuda, "Kali ini, terpaksa kami harus meminta bantuanmu lagi !"


"Katakanlah Senopati, apa yang bisa aku lakukan untuk Kerajaan !" jawab Puguh.


Kemudian Senopati Cakrayuda bercerita.


Pada suatu hari, setelah keadaan Kerajaan Banjaran Pura aman kembali, sang raja Prabu Pandu Kawiswara mendapat tamu seorang Senopati dan beberapa pemimpin prajurit dari Kerajaan Kisma Pura, sebuah kerajaan besar yang letaknya cukup dekat dengan Kerajaan Banjaran Pura dan hanya dipisahkan oleh sebuah hutan lebat yang cukup luas.


Senopati yang bernama Jalu Angin itu diutus oleh raja Kerajaan Kisma Pura, Prabu Girindra Nata, untuk melamar Putri Cinde Puspita, adik kandung dari Prabu Pandu Kawiswara.


Mendengar lamaran itu, tentu saja Putri Cinde Puspita menolak, karena Prabu Girindra Nata sudah tua dan usianya hampir sama dengan Prabu Lingga Kawiswara.


Selain itu, sebenarnya diam diam Putri Cinde Puspita sudah jatuh hati dengan seseorang yang pernah dia jumpai.


Sebenarnya Prabu Girindra Nata tidak terima lamarannya ditolak. Maka, melalui Senopati utusannya, Prabu Girindra Nata menanyakan alasan Putri Cinde Puspita menolak.


Karena didesak terus, akhirnya Putri Cinde Puspita berterus terang menyampaikan kalau dia tidak akan menikah kecuali dengan orang yang dia cintai, yaitu seorang ksatria yang berilmu sangat tinggi.


Mendengar alasan itu, Prabu Girindra Nata semakin murka. Dirinya yang juga sakti dan juga memiliki banyak senopati yang sakti sakti menantang untuk mengadu kesaktian. Dimintanya ksatria calon suami Putri Cinde Puspita untuk datang dan mengadu kesaktian. Untuk menentukan, siapa yang berhak menjadi suami dari Putri Cinde Puspita.


Awalnya tantangan Prabu Girindra Nata tidak ditanggapi oleh Prabu Pandu Kawiswara. Namun Prabu Girindra Nata semakin lama semakin berusaha memperlihatkan kekuatan pasukannya dan kesaktian para senopatinya.


Kemudian, Prabu Girindra Nata juga mengancam, kalau dalam waktu sepuluh hari Kerajaan Banjaran Pura tidak menunjukkan siapa ksatria yang sangat sakti yang dicintai oleh Putri Cinde Puspita, berarti Putri Cinde Puspita berbohong, dan Kerajaan Banjaran Pura akan diserang dan dihancurkan.


Mendengar ancaman dari Prabu Girindra Nata, Prabu Pandu Kawiswara mengumpulkan semua Senopatinya dan juga Putri Cinde Puspita, untuk diajak mencari jalan keluar yang terbaik. Karena, Kerajaan Banjaran Pura hanyalah kerajaan kecil yang jumlah kekuatan angkatan perangnya kalah jauh dari angkatan perang.


Dalam pembicaraan itu, setelah ditanya oleh Prabu Pandu Kawiswara, Putri Cinde Puspita akhirnya mengakui, kalau dia jatuh cinta pada Puguh dan sangat kagum dengan kesaktian Puguh.


Mendengar jawaban adiknya itu, Prabu Pandu Kawiswara meminta pada semua Senopatinya untuk mencari dan memanggil Puguh, karena Prabu Pandu Kawiswara akan menanyakan sesuatu pada Puguh.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2