
Saat Puguh baru saja melepaskan pegangannya pada Ki Kebo Ranu, terdengar kesiuran angin yang sangat cepat, saat Pangeran Panji tiba tiba sudah dekat sambil melepaskan sebuah tendangan.
Melihat serangan yang sudah sangat dekat itu, Puguh segera menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis.
Duggg !
Dalam benturan yang menimbulkan suara cukup keras itu, keduanya terdorong mundur hingga beberapa langkah. Pangeran Panji terlihat menyeringai saat merasakan kaki kanannya sedikit ngilu. Sedangkan Puguh sangat terkejut saat merasakan kedua tangannya bergetar.
"Tenaga dalam Pangeran Panji sudah mencapai tingkat sangat tinggi, hanya dalam waktu beberapa bulan. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Kekuatan iblis memang menggiurkan !" kata Puguh dalam hati.
Setelah keduanya terdiam selama beberapa saat, Pangeran Panji kembali lagi mendahului menyerang. Tubuhnya yang melesat dengan sangat cepat, tahu tahu sudah berada di dekat Ki Kebo Ranu dan Puguh untuk mengirimkan serangkaian serangan.
Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !
Buggg ! Buggg ! Buggg !
Dbummm !
Baru dalam beberapa gebrakan, terlihat tubuh Ki Kebo Ranu kembali terlempar ke belakang hingga jatuh terbanting di tanah.
Pada saat yang bersamaan, Puguh juga melihat, Rengganis, Senopati Cakrayuda dan Senopati Roro Nastiti juga terpental cukup jauh, setiap berbenturan serangan dengan Putri Mahatariti.
Namun, kemudian terjadi hal aneh. Pangeran Panji terlihat melesat dan menyambar lengan Putri Mahatariti, dan kemudian, hanya dalam sekejap, tubuh mereka berdua telah lenyap ditelan rimbunnya pepohonan hutan Setra Jenggala. Sekilas, Puguh juga merasakan dan melihat, ada satu bayangan tubuh yang juga ikut menghilang.
Walaupun mereka semua heran, namun Puguh, Ki Kebo Ranu, serta Senopati Cakrayuda, Senopati Roro Nastiti dan Rengganis untuk sesaat merasa lega. Mereka berlima juga terkejut saat melihat, pertempuran yang melibatkan para prajurit telah usai. Rupanya karena hari telah menjelang pagi.
Para prajurit semuanya telah berkemas untuk kembali ke istana. Terlihat wajah wajah kelelahan menghiasi muka mereka, karena semalam suntuk tidak tidur dan terus bertempur.
Walaupun tidak banyak korban jiwa di pihak pasukan Kerajaan Banjaran Pura, hal itu tidak menimbulkan kegembiraan di kalangan prajurit.
Segera setelah seluruh pasukan tiba di istana, diperintahkan oleh Senopati Cakrayuda untuk segera beristirahat.
Sementara itu Senopati Roro Nastiti dan seluruh tim pengobatannya, terlihat sangat sibuk melakukan pertolongan dan memberikan pengobatan pada semua prajurit yang terluka.
Sedangkan Ki Dwijo, Ki Bhanujiwo, Ki Pande dan Ki Tanggul Alas, menghentikan sementara usaha mereka untuk membuat selubung gaib dari gabungan tenaga dalam mereka, begitu pagi tiba.
Mereka berempat terlihat sangat kelelahan, setelah selama semalam penuh mereka mengalirkan tenaga dalam mereka untuk membuat selubung gaib, yang akan melindungi rakyat Kerajaan Banjaran Pura dari serbuan para iblis.
Sebuah tugas yang sangat berat, katena hanya dilakukan oleh mereka berempat. Sedangkan untuk membuat selubung gaib yang kuat, membutuhkan paling tidak lima pendekar yang tingkat tenaga dalamnya sudah sangat tinggi.
__ADS_1
Sementara itu, Prabu Pandu Kawiswara segera mengumpulkan semua yang terlibat dalam peperangan melawan pasukan iblis yang membantu Pangeran Panji, dan meminta masukan dari semuanya untuk membuat setrategi dalam menghadapi pasukan iblis itu.
Puguh yang sudah merasakan kekuatan Pangeran Panji dan melihat kekuatan Putri Mahatariti yang tidak berbeda jauh dari Pangeran Panji, diam diam lebih mengkhawatirkan cara menghadapi mereka berdua.
Akhirnya, untuk memperkuat pertahanan, Prabu Pandu Kawiswara memerintahkan Widura, Darutama dan Arimbi untuk membantu Senopati Cakrayuda memimpin prajurit dalam pertempuran nanti malam.
----- * -----
Waktu berjalan terasa begitu cepat. Sinar matahari terlihat sudah mulai meninggalkan permukaan bumi.
Sudah beberapa saat yang lalu, para prajurit sibuk menyalakan obor di seluruh sudut perbatasan dengan hutan Setra Jenggala.
Begitu langit di atas istana dan hutan Setra Jenggala sudah gelap seluruhnya, kembali terdengar suara gemuruh datangnya pasukan iblis yang menyerbu ke arah pasukan Kerajaan Banjaran Pura yang sudah bersiap sejak tadi.
Pertempuran pun kembali terjadi. Kekuatan pasukan iblis seperti tidak berkurang sedikitpun, walaupun pada pertempuran kemaren, jelas jelas nyata cukup banyak prajurit iblis yang berhasil mereka musnahkan.
Dengan kekuatan pasukan Kerajaan Banjaran Pura yang mengandalkan para pendekar yang masuk menjadi prajurit, pasukan iblis berhasil dihadang, bahkan cukup banyak prajurit iblis yang berhasli mereka musnahkan.
Di tempat yang tidak terlalu jauh dari pertempuran, Puguh melihat sekelebat bayangan yang menggeraka gerakkan kedua tangannya seolah sedang menangkap sesuatu.
Tidak berapa lama, kembali muncul dua getaran kekuatan yang sangat tinggi dari arah pasukan iblis.
"Adik Rengganis, tolong kau hadapi dulu Putri Mahatariti bersama sama dengan Senopati Roro Nastiti !" teriak Puguh sambil melompat ke arah Pangeran Panji. Walaupun Puguh sebenarnya bisa memperkirakan, mereka berdua tidak akan mampu menghadang Putri Mahatariti yang kekuatannya jauh di atas mereka berdua. Karena saat itu, Senopati Cakrayuda sedang mengatur dan mengarahkan para prajuritnya.
"Paman Kebo Ranu, saya mohon paman membantu Senopati Roro Nastiti dan Rengganis menghadapi Putri Mahatariti. Pangeran Panji, biar sementara aku yang menahannya !" kata Puguh.
"Baiklah ngger !" teriak Ki Kebo Ranu yang selalu bersemangat bila menghadapi lawan yang sangat kuat.
Setelah Puguh melihat Putri Mahatariti dihadang Rengganis, Senopati Roro Nastiti dan Ki Kebo Ranu, Puguh pun segera menatap Pangeran Panji.
Seolah tidak ingin memberi peluang mempersiapkan diri, Pangeran Panji langsung melesat ke arah Puguh yang menghadangnya dan memberikan pukulan dan tendangan beruntun.
Puguh yang tidak mau gegabah dan kecolongan lagi, segera menghadapi serangan itu, dengan mengalirkan tenaga dalam dengan jumlah yang besar.
Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !
Blang ! Blang !
Terdengar suara yang cukup keras, setiap pukulan dan tendangan mereka bertemu. Dan dalam setiap rangkaian serangan, tubuh Puguh dan Pangeran Panji sama sama terdorong mundur.
__ADS_1
Berbeda dengan pertarungan Puguh melawan Pangeran Panji, pertarungan Rengganis, Senopati Roro Nastiti dan Ki Kebo Ranu melawan Putri Mahatariti, sedikit mengkhawatirkan.
Tubuh Ki Kebo Ranu, Roro Nastiti dan Rengganis, selalu terpental setiap berbenturan dengan serangan Putri Mahatariti. Hal itu membuat Puguh harus membagi perhatiannya pada Ki Kebo Ranu, Roro Nastiti dan terutama Rengganis.
Karena terpecah konsentrasinya itulah pada suatu serangan, Pangeran Panji berhasil mendaratkan pukulan yang mengenai bahu kiri Puguh.
Plakkk ! Plakkk ! Plakkk ! Buggg !
Serangan Pangeran Panji itu cukup keras mengenai bahu Puguh, membuat tubuh Puguh terpelanting dan terjatuh, walau Puguh masih bisa menggulingkan badannya di tanah untuk meredam meluncurnya tubuh.
Saat Puguh berdiri lagi, tiba tiba terdengar suara teriakan seseorang.
"Puguh ! Jangan kau melawan sendirian ! Sangat berbahaya !" teriak Darutama yang tiba tiba telah melompat mendekat bersama sama dengan Widura dan Arimbi.
Puguh baru saja akan mencegahnya, saat Pangeran Panji yang melihat lawannya datang lebih banyak lagi, segera melesat, menyambut datangnya lawan dengan serangkaian serangan ke arah Darutama, Widura dan Arimbi.
Packkk ! Packkk ! Packkk !
Buggg ! Buggg ! Buggg !
Darutama, Widura dan Arimbi yang mencoba menangkis datangnya serangan Pangeran Panji, segera terpelanting dan terlempar tubuhnya hingga cukup jauh.
Mereka bertiga sangat terkejut dengan kekuatan lawan. Dengan tangan yang masih bergetar, mereka segera bangkit berdiri lagi.
"Kakang dan Mbakyu, tolong kalian bantu mereka menghadapi yang satunya !" kata Puguh pelan sambil mendekat kembali ke arah Pangeran Panji.
"Tidak Puguh ! Kita hadapi saja bersama sama !" sahut Darutama.
Kemudian, mereka bertiga segera melesat mendahului Puguh untuk melakukan serangan ke arah Pangeran Panji.
Plasss ! Plasss ! Plasss !
Buggg ! Buggg ! Buggg !
Bruakkk !
Kembali lagi tubuh ketiganya terdorong mundur dan terpental hingga terjatuh di tanah.
Widura, Darutama dan Arimbi merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Terlihat kedua sudut bibir mereka mengeluarkan darah.
__ADS_1
__________ ◇ __________