Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Mendatangi Tempat Tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu


__ADS_3

Setelah Ki Prana Jiwa selesai bercerita, giliran Puguh yang menceritakan tentang adanya pasukan yang sangat besar yang berjumlah ribuan yang baru saja mendarat di pesisir dan sepertinya hendak melakukan penyerangan.


Mendengar hal itu, Ki Prana Jiwa menganggguk angguk.


"Cerita yang sama dengan berita yang dibawa oleh Ketua Cabang Pesisir, Ki Karanggalih !" gumam Ki Prana Jiwa.


"Terimakasih atas berita yang kau bawa, Puguh. Kami juga baru saja.mendapatkan kabar yang sama, dari Ketua Cabang kami. Mungkin kami boleh tahu, apa pendapatmu untuk menyikapi hal ini ?" kata Ki Prana Jiwa.


"Pasukan perang sebesar itu, mendarat di Tanah Jawadwipa, tentunya bertujuan untuk melakukan penyerangan. Jangan biarkan mereka menguasai negeri manapun yang ada di Tanah Jawadwipa. Karena, begitu mereka mendapatkan satu negeri, mereka akan menyerang negeri yang lainnya. Dalam keadaan seperti ini, sudah saatnya para pendekar ikut memikirkan keselamatan negerinya !" jawab Puguh.


"Kita kumpulkan sebanyak mungkin pendekar, untuk membantu kerajaan, mengusir pasukan asing itu !" lanjut Puguh.


"Pemikiran kita, sama, Puguh ! Akan sangat baik kalau kita bisa saling membantu dan bekerja sama !" jawab Ki Prana Jiwa.


"Untuk urusan mengumpulkan pendekar di negeri ini, biar kami yang melakukannya !" sambung Ki Prana Jiwa.


"Terimakasih, paman !" jawab Puguh.


Akhirnya, Puguh dan Roro Nastiti berpamitan pergi meninggalkan Ki Prana Jiwa. Sedangkan Ki Prana Jiwa bersama dengan beberapa pengikutnya yang hanya terluka ringan, mengurus teman teman mereka yang tewas dan yang terluka.


Puguh dan Roro Nastiti kembali melanjutkan perjalanan mereka. Karena mereka masih berada di wilayah Kerajaan Kisma Pura, Puguh sekalian hendak ke bukit tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu, untuk menemui Iswara Dhatu sekaligus untuk meminta bantuannya.


Selama dua hari, Puguh dan Roro Nastiti melakukan perjalanan ke bukit tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Roro Nastiti yang selama dalam perjalanan banyak mendapatkan bimbingan dari Puguh, membuat penguasaannya pada ilmu silat yang diajarkan oleh Ki Bhanujiwo, semakin sempurna. Tenaga dalamnya juga mengalami peningkatan pesat.


Bahkan, dengan tehnik berlatih yang diajarkan Puguh, membuat Ilmu Pedang Cakar Jatayu, ilmu silat yang menggunakan senjata dua pedang pendek, ilmu silat yang diciptakan oleh Ki Bhanujiwo khusus untuk Roro Nastiti, semakin berlipat lipat keampuhannya.


Sehingga dengan tingkat tenaga dalamnya yang sekarang, Roro Nastiti sudah mampu terbang jauh lebih lama dibanding saat pertama kali melakukan perjalanan bersama Puguh.


Akhirnya, pada siang hari, Puguh dan Roro Nastiti sampai di bukit kecil yang menjadi tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Namun, saat baru sampai di gerbang masuk yang berada di kaki bukit, Puguh merasakan situasi yang aneh di bukit itu.


Biasanya, setiap saat, gerbang yang terletak di kaki itu tidak pernah sepi dari penjagaan. Namun, kali ini tidak tidak ada penjaganya sama sekali.

__ADS_1


"Roro, hati hati ! Keadaan di bukit kecil ini sangat mencurigakan !" kata Puguh.


Roro Nastiti yang belum paham sedikitpun tentang bukit ini, hanya mengangguk.


Kemudian dengan perlahan, Puguh dan Roro Nastiti menyusuri jalan setapak yang menuju ke deretan bangunan yang membentuk perkampungan, tempat tinggal anggota Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Sesampai di gerbang kedua untuk masuk ke perkampungan itu, Puguh semakin heran dengan keadaan bukit kecil ini. Karena, sedikitpun Puguh tidak mendengar suara manusia.


Puguh dan Rengganis terus berjalan hingga sampai ke tengah tengah perkampungan.


Tiba tiba, Puguh merasakan munculnya banyak getaran energi siluman dari setiap bangunan yang berada di sekeliling mereka.


"Getaran energi siluman ? Kenapa di tempat ini ada silumannya ?" gumam Puguh.


"Roro, hati hati ! Tetap berada di dekatku ! Banyak siluman yang mengepung kita !" bisik Puguh pada Roro Nastiti.


Roro sedikit mengerti tentang siluman, dan pernah melihat saat Puguh bertarung dengan Ki Dahana Yaksa. Sehingga Roro Nastiti tidak terlalu terkejut melihat siluman.


"Ggrrrwww ! Dua anak manusia yang sangat bodoh !" kata salah satu siluman manusia.


"Ggrrrwww ! Kala Soca ! Sudah lama kita tidak memakan jiwa manusia !" kata Kala Dupa.


"Ggrrrwww ! Haahhh ha ha ha ha ! Kala Dupa ! Ini hari keberuntungan kita ! Ayo kita tangkap dua anak manusia itu !" kata Kala Soca sambil tubuhnya melayang cepat kemudian tangan kanannya menyambar ke arah Puguh dan Roro Nastiti.


Melihat serangan itu, Puguh segera mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya hingga jumlah yang cukup besar. Kemudian, dengan jurus Bantala Yaksa, tangan kanan Puguh membuat gerakan untuk menangkis serangan Kala Soca.


Sesaat kemudian, terjadi benturan telapak tangan Puguh dengan tangan kanan Kala Soca. Benturan dua telapak tangan yang penuh dengan tenaga dalam itu, menimbulkan suara ledakan yang Sangat keras.


Blaaang !


Sesaat setelah suara ledakan itu, Puguh terdorong mundur selangkah, sedangkan Kala Soca terlempar ke arah teman temannya yang ikut mengepung, kemudian jatuh menimpa beberapa temannya.


Kala Soca yang terkejut dengan kemampuan anak manusia yang menjadi lawannya, berusaha segera bangkit lagi. Namun, saat pada posisi duduk, Kala Soca merasakan dadanya sesak dan nafasnya sedikit berat.


Sementara itu, Puguh memang sengaja langsung mengeluarkan tenaga dalam hingga jumlah yang cukup besar. Karena Puguh ingin segera mendapatkan kepastian tentang keadaan Trah Keluarga Asmara Dhatu.

__ADS_1


Selain itu, Puguh ingin memiliki gambaran tentang kekuatan para siluman manusia.


"Kemungkinan Roro Nastiti cukup mampu untuk menghadapi siluman manusia ini, satu lawan satu !" kata Puguh dalam hati.


"Roro, jangan lengah dan selalu waspada !" kata Puguh pada Roro Nastiti.


Kemudian, sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Puguh melesat ke arah Kala Dupa untuk melakukan serangan. Masih dengan jurus Bantala Wreksa, telapak tangan kanannya dengan sangat cepat mengarah ke dada Kala Dupa.


Sementara itu, mendapat serangan yang sangat cepat dan tiba tiba, Kala Dupa segera melayangkan kepalan tangan kanannya dengan sepenuh tenaga, untuk mengadu pukulan sekaligus untuk meremukkan tubuh anak manusia yang menyerangnya.


Seketika, kembali terdengar suara ledakan yang lebih keras lagi, disertai luapan hembusan angin yang cukup kencang di sekelilingnya, saat telapak tangan kanan Puguh berbenturan dengan pukulan tangan kanan Kala Dupa.


Dbaaannnggg !


Ditengah tengah kepungan debu yang berterbangan dihembus angin, kedua kaki Puguh terlihat sedikit terdorong ke belakang.


Sementara itu, tubuh Kala Dupa melayang ke belakang, terlempar cukup jauh hingga kemudian jatuh terhempas di tanah.


Buuukkk !


"Ggrrrwww ! A ... nak manusia i ... ni tidak ... bisa di remehkan !" gumam Kala Dupa sambil berusaha bangun lagi.


Bersamaan dengan itu, melihat dua rekannya terjatuh, para siluman manusia yang sejak tadi mengepung, segera berhamburan mendekat ke arah Puguh dan Roro Nastiti untuk melakukan serangan.


Diantara hiruk pikuk teriakan para siluman manusia, dan suara suara dengungan senjata gada yang melesat menghantam, tubuh Puguh dan Roro Nastiti berkelebatan menghindar. Kadangkala kedua pedang pendek Roro Nastiti, berkelebat menebas ke arah tubuh raksasa siluman manusia.


Demikian juga dengan Puguh yang sudah melolos senjata pedangnya. Seketika pendaran sinar hijau terang memenuhi tempat pertarungan.


Sesaat kemudian terdengar suara dentangan berkali kali, saat senjata pedang Puguh berkali kali menghalau gempuran banyak senjata gada, yang mengarah pada mereka berdua.


Twaaang ! Twaaang ! Twaaang !


Traaang ! Traaang ! Taaannnggg !


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2