
Rengganis bersemedi selama beberapa waktu untuk memulihkan tenaga dalamnya. Setelah merasa cukup, Rengganis segera menceritakan pada Ki Dwijo tentang kedua laki laki muda tadi yang mengaku sebagai anggota organisasi yang sama yaitu Perkumpulan Jaladara Langking.
Setelah mendengar apa yang diceritakan Rengganis, Ki Dwijo berdiri dan menatap ke arah laki laki muda yang satunya tadi melarikan diri.
"Mereka sudah mulai menggunakan tenaga tenaga muda. Apa mereka sudah mulai bergerak ?" kata Ki Dwijo dalam hati.
Kemudian Ki Dwijo menanyakan pada Rengganis, ingin ikut tetap bersamanya apa hendak pergi ke arah lain. Selain itu, Ki Dwijo juga menyampaikan, kalau dia hendak menyelidiki hutan ini dulu, siapa tahu ada hal hal yang berkaitan dengan Perkumpulan Jaladara Langking.
Rengganis pun mengatakan, kalau dirinya tetap akan bersama Ki Dwijo. Karena kesempatan untuk bisa menemukan Puguh lebih besar.
Akhirnya mereka berdua melanjutkan menjelajah hutan, setelah sebelumnya memeriksa tubuh laki laki muda yang telah tewas tadi dan kemudian menguburkannya.
----- ☆ -----
Puguh meninggalkan kera raksasa penunggu pohon kayu hitam raksasa. Langkah kakinya terlihat seperti orang berjalan biasa, namun tubuhnya melesat sangat cepat bagaikan terbang. Tanpa menyadarinya, Puguh sudah bisa melakukan tehnik ilmu meringankan tubuh seperti gurunya. Bahkan dengan tehnik yang dia dapatkan dari dalam batang pohon kayu hitam raksasa, membuatnya lebih cepat lagi.
Ketika sampai di bantaran sungai yang cukup lebar, Puguh menghentikan larinya dan sejenak berhenti sambil berdiri menghadap ke arah sungai. Sejenak Puguh berpikir dan mengingat ingat, arah mana yang hendak dia ambil.
Akhirnya Puguh memutuskan untuk menyeberangi sungai. Dengan sekali menotolkan ujung kakinya, tubuh Puguh sudah melewati lebih dari setengah lebar sungai. Setelah sampai di seberang sungai, Puguh kembali melesat menuju ke Kadipaten Langitan.
Puguh berniat untuk membersihkan wilayah wilayah yang dia singgahi dari pengaruh Perkumpulan Jaladara Langking.
Sesampainya di dekat gerbang menuju kota Kadipaten Langitan, karena tidak ingin kehadirannya segera diketahui banyak orang, Puguh mencari pagar gerbang yang sepi dan kemudian melompat.
Untuk mendapatkan informasi, Puguh pergi ke deretan warung warung makan. Di sana, sambil sejenak beristirahat, Puguh mencoba mendengarkan cerita cerita yang beredar di antara para pengunjung warung makan.
Walaupun masih membingungkan, Puguh bisa menyimpulkan jika, keadaan sekarang ini, Kadipaten Langitan sudah dikuasai oleh orang orang dari Perkumpulan Jaladara Langking.
__ADS_1
Akhirnya Puguh memutuskan untuk menyambangi rumah Senopati Nata untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas lagi.
Puguh memilih bertanya pada Senopati Nata, karena Puguh mengetahui, Senopati Nata adalah seorang prajurit yang kesetiaannya pada negerinya sangat teruji dan tidak diragukan lagi.
Setelah malam tiba, Puguh segera menuju ke rumah Senopati Nata. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, tingginya pagar dan penjagaan para prajurit tidak menjadi kendala baginya.
Dengan melompati pagar belakang, Puguh segera masuk ke dalam halaman belakang rumah Senopati Nata.
Seperti yang sudah Puguh perkirakan, Terlihat Senopati Nata duduk sendirian di teras belakang, yang sudah menjadi kebiasaannya sejak dahulu. Dan seperti biasanya, hanya ditemani oleh secangkir teh.
"Apakah ada yang menjadi beban pikiran Senopati Nata ?" tanya Puguh sambil memunculkan diri di depan Senopati Nata.
Senopati Nata yang sangat terkejut dengan kemunculan seseorang di depannya, segera menyahut senjata pedang yang diletakkan didepannya. Diam diam, Senopati Nata terkejut. Ada orang yang memasuki rumahnya, tanpa dia bisa merasakan getaran tenaga dalamnya.
Begitu mengetahui, jika yang datang itu seorang yang masih muda, Senopati Nata semakin waspada.
"Mungkin Senopati Nata sudah melupakan aku," kata Puguh sambil berjalan mendekat ke arah Senopati Nata.
"Benarkah kamu Puguh ?" tanya Senopati Nata.
"Ternyata Senopati Nata belum melupakan aku," jawab Puguh sambil tersenyum.
Mengetahui yang datang adalah Puguh, Senopati Nata segera mendekat dan memeluknya.
"Puguh, kau anak yang selalu beruntung. Selalu kudengar kau mendapatkan musibah. Tetapi selalu saja aku lihat, kau selalu sehat dan selamat," kata Senopati Nata.
Kemudian Senopati Nata mengajak Puguh untuk berbincang di dalam. Dalam.perbincangan itu, Senopati Nata menceritakan jika pergerakan Perkumpulan Jaladara Langking sudah semakin terang terangan.
__ADS_1
Sudah hampir enam bulan ini, Kadipaten Langitan ditekan terus oleh perkumpulan itu. Kadipaten Langitan dipaksa untuk mendukung gerakan Perkumpulan Jaladara Langking. Tetapi karena Raden Tumenggung Suryo Langit tidak mau, akhirnya Raden Tumenggung Suryo Langit diam diam dijebloskan ke dalam tahanan. Sementara para senopatinya dipaksa untuk tetap mengurus Kadipaten Langitan. Karena sebetulnya, mereka juga membutuhkan orang orang untuk mengurus pemerintahan. Tetapi kalau kami tidak mau, kami semuanya termasuk Reden Tumenggung Suryo Langit akan dibunuh beserta seluruh keluarganya.
"Bukannya aku takut mati, Puguh. Tetapi, jika kami semua mati termasuk Raden Tumenggung Suryo Langit dan keluarganya, siapa yang akan membela rakyat. Maka kami korbankan harga diri kami, hanya untuk menunggu bala bantuan," kata Senopati Nata.
"Paman Senopati, kedatanganku memang untuk urusan itu. Sekarang, apa rencana paman Senopati ?" tanya Puguh.
"Yang berada di Kadipaten Langitan ini, ada empat anggota Perkumpulan Jaladara Langking yang menjadi pentolannya. Mereka adalah Ki Naga Wiru, Ki Klawu Carma, Ni Srayu dan Ki Bayuseta. Terkadang mereka bergantian datang ke Kadipaten Langitan, namun terkadang mereka bisa bersama sama," kata Senopati Nata menjelaskan.
"Kamu pergilah ke Padepokan Macan Kumbang. Ada Ki Bajrapadsa yang masih memberikan perlawanan pada Perkumpulan Jaladara Langking. Kita buat rencana penyerangan. Aku, Senopati Wiguna dan Senopati Raksaguna, nantinya akan bergerak dari dalam," lanjut Senopati Nata memberikan petunjuk pada Puguh.
"Baiklah paman. Aku akan secepatnya menemui guru Bajrapadsa," jawab Puguh.
"Kamu hati hatilah Puguh. Hanya kamu yang menjadi harapan kami saat ini !" pesan Senopati Nata.
Kemudian, malam itu juga, Puguh pergi ke Padepokan Macan Kumbang untuk menemui Ki Bajrapadsa. Namun Puguh tidak menemui Ki Bajrapadsa malam itu juga. Puguh menunggu di tepi hutan hingga pagi hari.
Begitu pagi menjelang, barulah Puguh memasuki gerbang menuju ke Padepokan Macan Kumbang.
Sesampai di pintu masuk halaman depan Padepokan, Puguh disambut oleh murid murid Padepokan yang sedang bertugas berjaga.
Betapa senangnya mereka semua bisa bertemu dengan Puguh, yang hanya kabar beritanya saja yang mereka dengar tanpa sekalipun mereka bisa melihat Puguh.
Setelah menemui teman temannya yang sekarang sudah besar besar, Puguh segera menemui Ki Bajrapadsa, yang sekarang menjadi pemimpin di Padepokan Macan Kumbang, menggantikan Ki Bahurekso yang sudah sangat sepuh dan memilih untuk bertapa.
Kepada Ki Bajrapadsa, Puguh menceritakan semua yang dia bicarskan dengan Senopati Nata.
Mendengar itu, Ki Bajrapadsa menyambutnya dengan penuh semangat, karena dia juga sudah terlalu muak dengan sepak terjang Perkumpulan Jaladara Langking.
__ADS_1
Akhirnya, mereka membuat rencana untuk melakukan penyerangan pada orang orang Perkumpulan Jaladara Langking yang berada di Kadipaten Langitan dan juga yang berada di kademangan kademangan yang menjadi wilayah Kadipaten Langitan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_