Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kisah Penyerangan ke Gunung Pedang


__ADS_3

Sekitar sepuluh hari sebelumnya. Iswara Dhatu yang tinggal dan mengurus Padepokan Wukir Candrasa di Gunung Pedang, pada pagi pagi sekali kedatangan serombongan pendekar berjumlah sekitar seratus orang yang dipimpin oleh lima anak muda yang menjadi tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Para pendekar itu mendapatkan tugas dari Pangeran Langit Barat untuk pergi ke Gunung Pedang guna mengambil sebuah pedang pusaka yang tersimpan di Padepokan Wukir Candrasa.


Dengan kecerdikannya, Pangeran Langit Barat bisa mendapatkan informasi adanya sebuah senjata pusaka berwujud pedang yang tersimpan di Gunung Pedang.


Sementara itu, Iswara Dhatu yang sebelumnya sempat memeriksa seluruh sudut Padepokan Wukir Candrasa, akhirnya di puncak Gunung Pedang, Iswara Dhatu menemukan kitab ilmu silat serta sebatang pedang yang bilahnya mengeluarkan pendaran sinar putih pekat. Tetapi saat itu, Iswara Dhatu hanya mengambil kitab ilmu silatnya. Sedangkan pedang pusaka itu tetap dibiarkan berada ditempatnya tersimpan. Karena Iswara Dhatu hanya ingin mempelajari ilmu silat itu kemudian mengembalikannya lagi pada tempatnya.


Selama berhari hari diurus oleh Iswara Dhatu, akhirnya kehidupan dan seluruh kegiatan di Padepokan Wukir Candrasa pulih kembali.


Tetapi, pada pagi hari itu, kedatangan lima orang muda tangan kanan Pangeran Langit Barat beserta sekitar seratus orang pendekar, merubah segalanya.


Melihat ada banyak sekali pendekar yang menaiki Gunung Pedang dan mendatangi Padepokan Wukir Candrasa, segera saja Iswara Dhatu dan seluruh anak murid Padepokan Wukir Candrasa menghadang di gerbang masuk ke Padepokan Wukir Candrasa.


"Berhenti ! Siapa kalian dan apa maksud kalian datang ke sini !" kata Iswara Dhatu ketika para pendekar yang tidak mereka kenal itu sudah mendekati gerbang masuk.


"Nenek tua ! Serahkan pedang pusaka yang tersimpan di sini !" jawab salah seorang gadis muda yang menjadi tangan kanan Pangeran Langit Barat, "Kalau tidak kalian serahkan dengan baik baik, kami akan menghancurkan kalian semua !"


"Huuhhh ! Siapa kalian dan apa maksud kalian mengatakan hal itu ? Pergilah, di sini tidak ada pedang pusaka !" kata Iswara Dhatu lagi.


"Kami adalah utusan Pangeran Langit Barat. Kami ditugaskan untuk mengambil pedang pusaka yang tersimpan di tempat ini !" jawab salah seorang gadis muda yang berdiri di depan.


"Di sini tidak ada pedang pusaka ! Dari mana Pangeran yang mengutusmu itu tahu ada pedang pusaka di tempat ini ? Kenapa bukan Pangeran Langit Barat sendiri yang datang kesini ?" kata Iswara Dhatu.


Jawaban Iswara Dhatu itu membuat para kaki tangan Pangeran Langit Barat itu memaksa masuk dan terus memaksa ingin meminta pedang pusaka yang tersimpan di Padepokan Wukir Candrasa.

__ADS_1


"Kalian semua jangan kurang ajar di sini !" sambung Iswara Dhatu.


Karena Iswara Dhatu dan sisa sisa anak murid Padepokan Wukir Candrasa tetap mengatakan tidak tahu, maka para pendekar kaki tangan Pangeran Langit Barat ingin menggeledah dan mencari sendiri.


"^Atas perintah Pangeran Langit Barat, kalau kalian semua tidak mau menyerahkan pedang pusaka itu, kami akan mencari sendiri dan mengobrak abrik tempat ini !" sahut gadis muda yang satunya lagi.


Kemudian, para pendekar yang dikirim oleh Pangeran Langit Barat itu merangsek maju.


Akhirnya pertempuran pun tidak bisa dihindari. Walaupun sisa sisa anak murid Padepokan Wukir Candrasa berjumlah lebih banyak dari para pendekar kaki tangan Pangeran Langit Barat, tetapi karena di pihak kaki tangan Pangeran Langit Barat banyak pendekar yang memiliki kesaktian dan tenaga dalam tingkat sangat tinggi, perlahan lahan sisa sisa anak murid Padepokan Wukir Candrasa mulai terdesak. Apalagi tiga laki laki muda kaki tangan Pangeran Langit Barat, ikut bertarung melawan para anak murid Padepokan Wukir Candrasa. Hal membuat para anak murid Padepokan Wukir Candrasa semakin terdesak.


Sementara itu, Iswara Dhatu yang juga ikut bertarung, dikeroyok dua orang gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Melawan dua gadis muda yang tingkat kesaktiannya sudah sangat tinggi, Iswara Dhatu langsung mengeluarkan ilmu andalannya, Tarian Dewi Kematian. Kedua selendangnya berkelebat sangat cepat membuat gerakan gerakan mematuk. Namun, saat serangan patukan selendangnya ditangkis oleh kedua lawannya dengan senjata pedangnya, arah gerakan kedua ujung selendangnya langsung berubah menjadi tebasan yang membuat selendangnya menjadi sekuat dan setajam senjata pedang.


Hal itu membuat Iswara Dhatu berpikir untuk menyelamatkan pedang pusaka sekaligus nyawanya dulu. Karena, melihat situasinya, tidak mungkin dia dan sisa sisa anak murid Padepokan Wukir Candrasa bisa bertahan lama.


Akhirnya, kesempatan itu didapatkannya. Saat dua ujung selendangnya berbenturan dengan senjata pedang kedua lawannya.


Jdaaammm ! Jdaaammm !


Benturan itu membuat tubuh kedua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat, terlempar cukup jauh. Sementara itu, Iswara Dhatu terjatuh dan terlempar ke belakang hingga beberapa langkah.


Segera saja Iswara Dhatu melompat berdiri dan sekilas melihat ke arah para anak murid Padepokan Wukir Kencana.


"Kalian semua, pergilah dan selamatkan diri kalian. Aku tidak ingin kalian semua tewas !" teriak Iswara Dhatu pada para anak murid Padepokan Wukir Candrasa.

__ADS_1


Mendengar teriakan Iswara Dhatu, sisa sisa anak murid Padepokan Wukir Candrasa berusaha melepaskan diri dari lawan lawannya.


Sebagian ada yang berhasil menyelamatkan diri, tetapi, sebagian besar terpaksa harus melawan para pendekar yang dikirim oleh Pangeran Langit Barat.


Sementara itu, setelah memberi perintah pada anak murid Padepokan Wukir Candrasa, Iswara Dhatu segera kembali menyiapkan senjata selendangnya. Kemudian dengan dada yang terasa sedikit sesak dan dengan beberapa luka sayatan terkena tebasan senjata pedang lawannya, Iswara Dhatu segera melakukan serangan dengan kekuatan penuh ke arah para pendekar yang menyerang para anak murid Padepokan Wukir Candrasa untuk memberi kesempatan pada para anak murid Padepokan Wukir Candrasa untuk melarikan diri.


Setelah beberapa jurus melakukan serangan yang membuka jalan dan kesempatan bagi anak murid Padepokan Wukir Candrasa untuk melarikan diri, pada satu kesempatan, Iswara Dhatu segera membalikkan badan, kemjdian melesat meninggalkan pertarungan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Iswara Dhatu sengaja mengambil jalan memutar untuk menuju ke puncak Gunung Pedang, untuk mengelabui apabila ada yang mengejarnya.


Sesampainya di puncak Gunung Pedang, Iswara Dhatu segera mengambil pedang pusaka ditempatnya tersimpan. Kemudian secepatnya turun gunung dengan kembali mengambil jalan memutar.


Namun, baru saja Iswara Dhatu sampai di kaki gunung, terlihat lima orang muda turun mengejarnya. Lima orang yang terdiri dari dua gadis muda dan tiga laki laki muda itu merupakan orang orang tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Dikejar oleh lima orang muda yang masing masing memiliki ilmu silat dan tenaga dalam tingkat sangat tinggi, Iswara Dhatu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berlari, berusaha menghindari dan menjauhi para pengejarnya.


Namun, diluar pengetahuan Iswara Dhatu, kelima anak muda tangan kanan Pangeran Langit Barat itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi. Sehingga, walaupun sempat berkali kali kehilangan jarak dengan Iswara Dhatu karena kalah jauh tentang memahaman arah jalan, tetapi selalu dapat menemukan kembali arah lqri Iswara Dhatu.


Hingga akhirnya, saat Iswara Dhatu melewati pinggir Danau Tujuh Warna dan bertemu dengan Aswa Muka dan Aswa Kudana.


Tepat di pinggir Danau Tujuh Warna tempat Aswa Muka dan Aswa Kudana menunggu dan menjaga Rengganis, lima orang muda tangan kanan Pangeran Langit Barat berhasil menyusul Iswara Dhatu.


Terjadilah pertarungan di tepi danau itu, yang akhirnya melibatkan Aswa Muka dan Aswa Kudana, yang ikut masuk ke pertarungan membantu Iswara Dhatu.


---------- ◇ ----------

__ADS_1


__ADS_2