Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Senjata Peledak


__ADS_3

Karena merasa terdesak dan merasa kalau pertarungan dilanjutkan mereka akan kalah, Ki Naga Gringsing akhirnya terpaksa menggunakan senjata pamungkasnya, yaitu peledak yang di dalamnya terkandung banyak sekali jarum yang telah diberi racun. Bila jarum itu mengenai tubuh, tubuh itu akan mengalami kelumpuhan.


Maka dari itu, setelah melemparkan senjata peledak itu, bersamaan dengan suara ledakan, Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru telah melesat cepat pergi dari tempat itu. Meninggalkan Ki Dwijo yang terkepung oleh asap tebal hasil dari ledakan senjata itu. Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru melarikan diri dari tempat pertarungan, karena mereka tahu persis betapa berbahayanya senjata peledak mereka bagi siapa saja yang berada di dekat ledakan.


Sementara itu, asap tebal yang tercipta dari ledakan itu butuh waktu beberapa saat untuk bisa hilang. Setelah asap itu benar benar hilang, terlihat tubuh Ki Dwijo yang terduduk.


Walaupun selamat dari ledakan, namun Ki Dwijo mengalami kelumpuhan pada bagian bawah tubuhnya mulai pinggang ke bawah.


Hal ini bisa terjadi karena, saat Ki Dwijo melompat ke atas untuk menghindari senjata yang dilemparkan kepadanya, senjata itu jatuh dan meledak tepat di bawahnya.


Walaupun sudah berusaha menghindar dan melapisi seluruh tubunya dengan tenaga dalam, namun Ki Dwijo tetap terkena jarum beracun yang menyebar ke segala arah, di beberapa bagian tubuh bagian bawahnya.


Maka, begitu tubuhnya terjatuh ke tanah, Ki Dwijo berusaha tetap dalam posisi duduk. Kemudian dengan sisa sisa tenaga dalamnya, Ki Dwijo segera menotok beberapa bagian tubuhnya, terutama di sekitar bagian bawah pinggangnya, agar racun tidak menyebar ke atas.


Setelah totokan totokannya berhasil menahan racun dari jarum jarum yang mengenai kakinya, Ki Dwijo segera mencabut jarum jarum yang menancap di kakinya.


Kemudian, Ki Dwijo melihat ke sekelilingnya yang sudah gelap karena malam tiba. Dia sudah tidak melihat Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru dan tidak merasakan getaran keberadaan orang lain.


Setelah merasa yakin kalau dirinya sendirian, masih tetap dalam posisi duduk berlutut, Ki Dwijo segera bersemedi untuk memulihkan tenaganya dan juga untuk berusaha menyembuhkan luka lukanya.


Hingga tanpa terasa, sudah sekitar tiga jam, Ki Dwijo tenggelam dalam semedinya.


Kemudian, perlahan Ki Dwijo terbangun dari semedinya. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengecek tenaga dalamnya dan pernafasannya. Kemudian memeriksa seluruh tubuhnya.


Saat Ki Dwijo sedang mengecek tubuh bagian atasnya, tiba tiba berkelebat dua bayangan yang bergerak tidak terlalu cepat.


Dua bayangan itu adalah Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru yang kembali lagi ke dasar jurang, karena ingin memastikan tewasnya Ki Dwijo yang menjadi lawan mereka.

__ADS_1


Dalam jaraknyang tidak terlalu jauh, Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru bisa melihat, jikalau Ki Dwijo hasih hidup dan sedang dalam posisi duduk.


Maka sambil terus berlari, Ki Naga Gringsing berkata pada kakak seperguruannya, Ki Naga Wiru.


"Kakang, sepertinya Pendekar Tangan Seribu masih hidup. Ayo kita habisi saja selagi dia masih lemah !" kata Ki Naga Gringsing.


"Ayo adi," jawab Ki Naga Wiru yang memang tidak terlalu banyak bicara.


Kemudian mereka berdua terus berlari ke arah Ki Dwijo. Mereka berencana akan melakukan serangan jarak dekat, untuk memastikan kematian Ki Dwijo.


Saat jarak mereka tinggal lima meter, Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru segera melenting ke atas dan melesat untuk melakukan serangan pamungkas.


Namun, saat mereka melakukan pukulan serentak, tiba tiba tubuh Ki Dwijo sudah berpindah cepat, saat sebuah tubuh kecil menyahut dan menggendong tubuh Ki Dwijo di belakang sambil melesat sejauh mungkin untuk menghindari serangan Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru.


Blaaammm ! Blaaammm !


Sementara itu, Ki Dwijo yang tidak menyangka, tubuhnya bakalan digendong anak kecil, terkejut, begitu melihat, anak kecil yang menggendongnya adalah Puguh muridnya.


"Ngger, Puguh ... " kata Ki Dwijo.


"Maaf guru. Puguh baru datang sekarang," jawab Puguh dengan perasaan menyesal, kenapa tadi pagi dia meninggalkan gurunya.


Pada saat yang bersamaan, Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru terkejut sekaligus merasa geram. Pukulan mereka tidak mengenai sasaran, bahkan lawannya ditolong oleh seorang anak kecil.


Karena itu, kedua orang itu segera melesat mengejar Ki Dwijo yang digendong oleh seorang anak kecil.


Namun, walaupun masih kecil, Puguh sudah menguasai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi dengan hampir sempurna.

__ADS_1


Dengan kemampuannya itu, Puguh bisa menghindari kejaran dari Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru. Apalagi sekarang ini, tenaga dalam mereka berdua baru saja terkuras saat melakukan pertarungan selama sehari penuh melawan Ki Dwijo.


Semisal dalam keadaan normal pun, ilmu meringankan tubuh Puguh mampu mengimbangi Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru.


Sementara itu Ki Dwijo yang masih berada di atas punggung Puguh, seperti mendapatkan ide.


"Ngger Puguh, kamu tidak keberatan kalau guru naik ke pundakmu ?" tanya Ki Dwijo.


"Tidak guru. Puguh siap melakukan apapun untuk menolong guru," jawab Puguh.


Begitu mendengar jawaban Puguh, Ki Dwijo dengan cepat pindah ke pundak Puguh.


Setelah duduk di pundak Puguh, Ki Dwijo segera mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Tangan kiri atau tangan kanannya terkadang menyentuh kepala, bahu ataupun tengkuk Puguh untuk menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Puguh. Sehingga, dalam berlari dengan menggendong tuhuh gurunya, Puguh merasa ringan dan tidak pernah merasa lelah ataupun merasa kehabisan tenaga dalam.


Sesaat setelah Ki Dwijo pindah ke pundak Puguh, serangan dari Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru kembali tiba. Awalnya, setiap ada serangan, Puguh cepat cepat berusaha menghindar. Namun, melihat situasinya, akhirnya Ki Dwijo mengajak Puguh untuk menghadapi serangan mereka berdua. Karena Ki Dwijo pikir, dia bisa menangkis ataupun balas menyerang. Puguh hanya perlu memikirkan gerak larinya.


Pada awalnya, kerjasama Puguh dan gurunya masih terlihat kaku dan canggung. Namun setelah berjalan sekitar sepuluh jurus, mereka berdua sudah mulai terlihat kompak.


Hal itu membuat Ki Dwijo mulai bisa melakukan serangan balasan. Dengan tenaga dalam milik Ki Dwijo dipadukan dengan ilmu meringankan tubuh milik Puguh membuat serangan serangan Ki Dwijo juga berbahaya.


Setelah bertarung selama dua puluh jurus, Ki Dwijo dan Puguh mulai bisa mendesak Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru.


Merasa kembali terdesak, Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru segera mengambil langkah melarikan diri.


Melihat gelagat lawannya hendak melarikan diri, Ki Dwijo terus menerus merangsek menyerang kedua lawannya.


Hal ini Ki Dwijo lakukan, agar Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru terus menerus sibuk menghindar, sehingga mereka berdua tidak bisa mengeluarkan serangan senjata peledak.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2