Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Rengganis


__ADS_3

Bugh bugh !!!


Dalam keadaan tangan kanan terlilit ujung rantai, kedua kepalan tangan Puguh mendarat telak di dada Ki Jampiraga secara beruntun.


Terkena dua pukulan sekaligus, tubuh Ki Jampiraga tersurut mundur hingga beberapa langkah. Dadanya terasa panas dan nafasnya sesak. Darah yang keluar dari kedua ujung bibirnya semakin banyak.


Namun penderitaan yang dialami Ki Jampiraga tidak lama. Karena, lempengan setengah lingkaran yang berada di ujung rantai yang satunya ikut tersentak hingga melesat memutar ke arah punggung Puguh.


Mendengar ada suara kesiuran senjata dari arah belakangnya, tanpa menoleh ke belakang, Puguh menggeser sedikit tubuhnya. Dan sepersekian detik berikutnya, lempengan setengah lingkaran itu melewati pundak Puguh dan menghujam ke dada Ki Jampiraga.


Sesaat Ki Jampiraga menatap ke arah Puguh, seolah tidak percaya dirinya dikalahkan oleh anak remaja dengan begitu mudahnya.


Kemudian, pegangan pada senjata rantainya mengendur dan tubuhnya merosot jatuh terlentang. Ki Jampiraga tewas oleh senjatanya sendiri.


Melihat tokoh yang selama ini mereka takuti, tewas di tangan Puguh, membuat semangat Ki Demang Pandan Ireng dan yang lainnya semakin membara. Membuat rasa percaya diri mereka semakin tinggi. Sehingga tidak sampai setengah jam kemudian, kesepuluh pendekar dari Perkumpulan Jaladara Langking menyusul tewas di tangan Ki Demang Pandan Ireng dan yang lainnya. Seolah ingin melampiaskan rasa tertekannya selama ini, membuat ke sepuluh pendekar Perkumpulan Jaladara Langking tidak ada yang diampuni.


Untuk beberapa saat mereka terlarut dalam kegembiraan karena bisa terlepas dari bayang bayang ketakutan yang selama ini menekan mereka.


Namun Ki Demang Pandan Ireng segera menghentikan kegembiraan itu, untuk membereskan semua kerusakan serta merawat semua korban, baik korban luka ataupun korban tewas.


Kemudian, Ki Demang Pandan Ireng segera meminta pada para senopati untuk mengatur dan memperketat penjagaan.


Tidak berapa lama, kemenangan Kademangan Pandan Ireng dalam bertempur melawan pasukan pendekar dari Perkumpulan Jaladara Langking yang datang menyerang ke Kademangan Pandan Ireng, terdengar oleh Kademangan Kademangan yang lainnya. Hal itu memicu perlawanan di hampir semua Kademangan yang lain.


Sejak saat itu, Puguh disibukkan dengan membantu perlawanan yang dilakukan oleh Kademangan Kademangan yang lain.

__ADS_1


Bersama dengan pendekar pendekar yang lain, Puguh berpindah pindah dari satu Kademangan ke Kademangan yang lain.


Sedangkan Ki Dwijo gurunya, terkadang datang untuk membantunya. Namun sering pula tidak menemani Puguh, karena gurunya mengatakan, ada yang harus diselidiki tentang Perkumpulan Jaladara Langking.


-----*-----


Sementara itu, bersamaan dengan saat Puguh bersama sama dengan pendekar yang lain berjuang melawan Perkumpulan Jaladara Langking.


Disuatu tempat yang jauh dari tempat Puguh berada. Di dalam sebuah hutan. Seorang anak perempuan berusia sekitar hampir lima belas tahun sedang berlatih ilmu silat.


Seorang anak perempuan yang sangat cantik, berkulit kuning langsat. Rambutnya yang agak berombak, hanya dikuncir satu ke belakang. Bulu mata yang lentik dan hidung yang cukup mancung dengan bibirnya yang merah alami yang selalu sedikit tersenyum. Semua itu menampakkan sebagai seorang perempuan yang ramah dan penuh semangat. Badannya yang padat yang mulai membentuk lekuk lekuk seorang perempuan, dibalut pakaian pendekar perempuan berwarna putih yang sangat sederhana. Semua itu menambah keindahannya saat melakukan gerakan gerakan silat yang sangat sulit dan rumit.


Dia berlatih ilmu silat dengan ditemani oleh seorang kakek tua, berpakaian serba putih. Rambutnya yang sudah memutih tergerai hingga ke bahunya. Dialah Ki Bajraseta, yang sekarang hidup berdua saja dengan cucunya.


Semenjak selesai membantu kakaknya, Ki Bayuseta, bertarung melawan Ki Bhanujiwo dan Ki Dwijo, Ki Bajraseta segera mengajak cucunya pergi jauh dan tidak mau terlibat sedikitpun dengan urusan Perkumpulan Jaladara Langking.


-----\*-----


"Nduk Rengganis, kita cukupkan dulu latihanmu hari ini. Kita beristirahat dulu," kata Ki Bayuseta pada cucunya.


"Baiklah kek. Rengganis pergi ke sungai dulu kek !" teriak Rengganis begitu kakeknya menyuruhnya menghentikan latihannya.


Dengan gesitnya, tubuh Rengganis berlari melompat dari satu pohon ke pohon yang lain bagaikan bidadari terbang.


Memang sudah menjadi kebiasaan Rengganis, setiap selesai berlatih, dia selalu bermain main ke sungai hingga masuk ke tengah hutan. Pulangnya, selalu saja ada yang dia bawa. Kadang membawa buah buahan yang banyak tumbuh di dalam hutan. Kadang membawa kelinci hutan ataupun ayam hutan untuk di bakar dagingnya. Bahkan kadang membawa madu hutan yang dia ambil dari sarang lebah hutan.

__ADS_1


Rengganis selalu bermain main ke tengah hutan, karena sebenarnya latihan teorinya dari ilmu silat yang dimiliki Ki Bajraseta sudah dia kuasai semua. Hal ini karena Rengganis merupakan anak perempuan yang sangat cerdas. Setiap kali ada hal baru yang diajarkan kepadanya, Rengganis selalu bisa memahami dan melakukannya tanpa Ki Bajraseta harus mengulangnya. Sehingga latihannya hanya tinggal untuk menyempurnakan penguasaan tehniknya. Dan juga untuk meningkatkan tenaga dalamnya.


Setelah puas bermain dan sudah mendapat buah buahan yang jumlahnya cukup untuk dirinya dan kakeknya, Rengganis segera kembali melesat di antara cabang cabang pohon. Hingga sesaat kemudian, Rengganis sudah tiba kembali di tempat tinggal mereka yang sangat sederhana.


Setelah beristirahat sejenak, Rengganis dan kakeknya menyantap buah buahan yang tadi dibawa oleh Rengganis.


Pada kesempatan itu, Rengganis kembali menanyakan pada kakeknya, pertanyaan yang selalu saja dia sampaikan ke kakeknya, dan selalu saja kakeknya memberikan jawaban yang sama.


"Kek, kapan kakek akan membawa Rengganis jalan jalan bertualang ?" tanya Rengganis.


Rengganis menatap tajam kakeknya yang tidak seperti biasanya.


Setiap ditanya seperti itu, Ki Bajraseta selalu tertawa dan langsung menjawab, "Kamu tuntaskan dulu latihanmu. Kalau kamu sudah menguasai semua ilmu yang kakek miliki, barulah kakek akan membawamu jalan jalan bertualang sekaligus mencari pengalaman buatmu."


Namun kali ini, Ki Bajraseta terdiam sejenak. Matanya menerawang, dan beberapa kali terlihat menarik nafas panjang.


"Nduk, Rengganis cucuku. Kamu memang sudah cukup besar. Ilmu silat yang kakek ajarkan padamu pun semuanya telah kau kuasai. Menguasai ilmu sebanyak dan setinggi apapun, tanpa adanya praktek adalah hal yang sia sia.Karena intin dari ilmu apapun adalah untuk dipraktekkan, dipergunakan untuk mempermudah hidup manusia. Dan usiamu pun sudah hampir lima belas tahun. Sudah tidak ada alasan bagi kakek untuk menunda keinginanmu. Sudah saatnya kamu terjun ke dalam kehidupan masyarakat.


Baiklah nduk, kau persiapkan semua yang harus kau bawa. Besok pagi kita keluar hutan, mengikuti kemanapun arah langkah kaki menuju," jawab Ki Bajraseta panjang lebar.


"Benar kakek ? Terimakasih kakek," kata Rengganis sambil meloncat dan memeluk kakeknya.


"I ... iya ... ta ... pi, le ..paskan tanganmu nduk, ka ...kek tidak bisa berna ... fas !" jawab Ki Bajraseta tersendat sendat.


Rengganis pun segera melepaskan pelukannya. Dan keduanya pun akhirnya tertawa, walaupun Ki Bajraseta sambil terbatuk batuk.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2