
Setelah beberapa saat menunggu di tepi jalan, telinga Puguh menangkap langkah kaki dalam jumlah yang banyak. Jarak sebentar kemudian lewatlah sekelompok orang yang semuanya mengendarai kuda. Yang paling depan membawa panji panji bertuliskan 'Padepokan Kartika Murda'.
Setelah rombongan berkuda itu lewat, Puguh segera memberitahukan pada gurunya bahwa yang baru saja lewat adalah rombongan berkuda dari Padepokan Kartika Murda. Rombongan berkuda itu mengambil jalan yang lurus.
"Bagus ngger. Kelihatannya memang dalam waktu dekat ini akan diadakan pertandingan beladiri di Kadipaten Langitan," kata Ki Dwijo sambil mengelus kepala Puguh.
Kemudian mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki biasa, karena memang tidak tergesa gesa untuk segera sampai di tempat yang mereka tuju.
Dalam perjalanan dengan berjalan kaki itu, ada beberapa rombongan yang mendahului mereka. Bahkan ada rombongan yang menggunakan kereta dan dikawal oleh prajurit yang mengendarai kuda. Rombongan yang menggunakan kereta biasanya berasal dari suatu kademangan. Sedangkan rombongan dari suatu padepokan biasanya mengendarai kuda, atau bahkan ada yang berjalan kaki.
----- * -----
Menjelang sore, Puguh dan gurunya hampir tiba di penghujung jalan yang menghubungkan antar kampung atau wilayah. Ujung jalan itu terlihat menyambung dengan pinggiran hutan.
Puguh sedang sibuk melihat lihat suasana jalan yang mereka lewati, karena dia merasa belum pernah melewati jalan ini. Tiba tiba Ki Dwijo berkata, "Ngger Puguh, melihatannya di depan ada keramaian."
Mendengar ucapan gurunya, Puguh mencoba berkonsentrasi memfokuskan mata dan telinganya. Beberapa saat kemudian, di jarak yang masih cukup jauh, Puguh melihat gerakan gerakan manusia disertai sesuatu yang kadang terlihat berkilat.
Kemudian gurunya mengajak untuk berlari agar segera sampai di tepi hutan.
Benar, sesampainya di tepi hutan, terlihat ada pertarungan antara dua kelompok. Dilihat dari panji panji dan kendaraan yang dipakai, mereka berasal dari Kademangan Pagelangan yang melawan orang orang dari Padepokan Argo Langking.
Dalam pertarungan itu, orang orang dari Kademangan Pagelangan terdesak dan sudah ada beberapa yang mendapatkan luka luka, yang kebanyakan para prajurit.
Pertarungan itu tidak seimbang, karena yang mengawal perwakilan peserta pertandingan beladiri dari Kademangan Pagelangan hanyalah para prajurit rendahan. Sehingga melawan beberapa guru muda yang menyertai murid murid yang mewakili Padepokan Argo Langking, para prajurit itu kalah dalam tingkatan ilmu silat.
Melihat pertarungan yang tidak seimbang, Ki Dwijo mendekat dan mengibaskan kedua telapak tangannya ke depan dua kali.
__ADS_1
Breessss !!!
Bruuuaaakkk !!!
Seketika, beberapa orang orang yang sedang bertarung terpelanting dan jatuh terhempas seperti terkena angin topan.
Melihat hal itu, pemimpin rombongan dari Padepokan Argo Langking segera berteriak tidak terima.
"Siapa kau ! Berani beraninya ikut campur urusan ini !"
"Siapa aku, itu tidak penting. Yang paling penting, hentikan pertikaian ini," jawab Ki Dwijo.
Ki Dwijo yang dulu sangat termasyur namanya dengan julukan Pendekar Tangan Seribu, sudah sekitar dua puluh tahun lebih menghilang dari dunia persilatan, sehingga pemimpin rombongan dari Padepokan Argo Langking yang masih muda tidak mengenalnya.
"Apa kalian semua dalam perjalanan menuju Kota Kadipaten Langitan untuk mengikuti pertandingan bela diri ?" tanya Ki Dwijo.
"Kami hanya membalaskan dendam salah seorang murid kami yang dituduh mencuri dan di penjara oleh prajurit Kademangan Pagelangan," tukas salah seorang guru muda yang mengawal murid muridnya.
"Itu urusan Demang Pagelangan dengan gurumu, Ki Kalung Gunung," jawab Ki Dwijo, "Urusan kalian adalah ikut pertandingan beladiri, mewakili kelompok kalian. Sekarang, kalian bubar, sudahi pertikaian ini !"
Selesai berkata, Ki Dwijo sedikit menggerakkan kedua telapak tangannya. Tiba tiba dari kedua telapak tangannya keluar pusaran angin kecil yang menimbulkan suara berciutan.
Seolah seperti mengetahui siapa yang mereka hadapi, guru muda dan semua murid Padepokan Argo Langking tidak memperpanjang urusan dan segera pergi dari tempat itu.
Setelah rombongan dari Padepokan Argo Langking pergi dan tidak terlihat lagi, salah seorang prajurit Kademangan Pagelangan yang sepertinya menjadi pemimpin rombongan segera mendekat. Selain mengucapkan terimakasih karena sudah ditolong, prajurit pemimpin rombongan dari Kademangan Pagelangan meminta Ki Dwijo dan Puguh untuk bersama rombongan mereka, jika hendak pergi ke pertandingan beladiri di Kadipaten Langitan.
Karena memang tidak ada rencana lain, Ki Dwijo menerima tawaran dari pemimpin rombongan itu.
__ADS_1
Prajurit pemimpin rombongan Kademangan Pagelangan merasa senang sekali. Begitu senangnya, dia bahkan memerintahkan anak buahnya untuk menjamu Ki Dwijo dan Puguh dengan makanan makanan lezat yang biasanya hanya bisa dinikmati di rumah rumah para penggedhe dan pejabat keraton.
Setelah beristirahat dengan bermalam di pinggir hutan, pada pagi harinya, rombongan Kademangan Pagelangan melanjutkan perjalanan menuju Kadipaten Langitan. Puguh dan Ki Dwijo ikut berada di dalam kereta bersama sama dengan kerabat Kademangan Pagelangan yang menjadi perwakilan untuk ikut dalam pertandingan beladiri.
Saat kereta mulai berangkat, ada yang berubah pada diri Puguh. Dalam beberapa saat, tatapan matanya kosong. Raut sedih tergurat di wajahnya. Ingatannya melayang, kembali ke saat dia berada di dalam kereta rombongan Kademangan Pandan Ireng. Saat itulah, di depan matanya, simboknya terbunuh demi melindungi dia dan yang lainnya.
Saat matanya mulai perih dan memerah, cepat cepat Puguh menggelengkan kepalanya dan menekan perasaan sedih di hatinya.
Tanpa Puguh sadari, semua hal tadi tidak luput dari perhatian Ki Dwijo. Ki Dwijo tahu, Puguh pasti teringat akan kejadian mengerikan yang pernah dia alami.
"Anak yang luar biasa. Dalam usianya saat ini, mampu menekan perasaan sedihnya. Semoga hal ini menjadi gemblengan mental yang bagus untuknya," kata Ki Dwijo dalam hati.
Mereka melakukan perjalanan dengan kereta yang dikawal prajurit berkuda selama dua hari. Selama dua hari itu, perjalanan mereka aman dan tidak ada gangguan apapun.
----- o -----
Pada sore hari menjelang malam, setelah melakukan perjalanan selama dua hari, rombongan Kademangan Pagelangan tiba di Kadipaten Langitan.
Prajurit pemimpin rombongan Kademangan Pagelangan mengajak Ki Dwijo dan Puguh untuk mencari penginapan, namun Ki Dwijo menolak dengan alasan mereka berdua masih ada urusan.
Akhirnya mereka berpisah. Ki Dwijo dan Puguh segera turun dari kereta. Kemudian Ki Dwijo mengajak Puguh untuk menyusuri jalan yang mengarah ke luar kotapraja.
Sesampai di pinggir kotapraja, Ki Dwijo segera melesat ke arah hutan kecil di pinggir kota praja dan segera melenting memanjat ke atas setelah menemukan sebuah pohon yang terbesar di hutan kecil itu. Sesampainya di dahan yang cukup landai, Ki Dwijo mengajak Puguh untuk duduk dan beristirahat.
"Kenapa kita di sini, guru ? Kenapa kita tidak menginap di penginapan seperti rombongan Kademangan Pagelangan tadi, guru ?" Puguh memberanikan bertanya pada gurunya.
'He he he he ..... Maafkan gurumu ini ngger Puguh. Ini karena guru tidak punya uang untuk membayar penginapan," kata Ki Dwijo sambil tertawa sedikit malu pada muridnya.
__ADS_1
__________ ◇ __________