Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Putri Cinde Puspita


__ADS_3

Setelah beberapa saat Puguh duduk bersila dan memejamkan matanya, pendaran sinar hijau terang kembali keluar dari tubuhnya disertai dengan asap hitam pekat yang tadi masuk ke tubuh Puguh.


Di udara di sekeliling Puguh, Pendaran sinar hijau terang itu bergerak saling membelit dan saling berusaha menutupi.


Semakin Puguh bisa menguasai dan menetralkan aliran tenaga dalam di tubuhnya, gerakan sinar hijau terang dan asap hitam pekat itu semakin pelan dan akhirnya berhenti. Sehingga terlihat, udara di ruangan pembuatan ramuan obat itu seperti dipenuhi warna hijau bercampur hitam.


Setelah aliran tenaga dalamnya stabil, Puguh menghentikan semedinya dan kemudian berdiri di tengah tengah ruangan itu.


Setelah terdiam sejenak, Puguh pun mencabut pedangnya dan mengacungkannya ke atas sambil mengalirkan tenaga dalamnya.


Saat tenaga dalam Puguh yang mengaliri pedangnya mencapai jumlah yang cukup besar, pedang itupun mengeluarkan sinar hijau terang dan terus bertambah terang.


Beberapa saat setelah pedang Puguh mengeluarkan nyala hijau terang, pendaran sinar hijau yang bercampur asap hitam pekat itu tiba tiba kembali masuk ke dalam tubuh Puguh dengan cepat.


Setelah pendaran sinar hijau yang bercampur dengan asap hitam itu habis, dari tubuh Puguh keluar jubah berwarna hijau kehitaman, yang membuat tubuh Puguh melayang di udara.


"Inikah jubah Pendekar Pengendara Elang yang membuatnya bisa terbang melayang itu ?" gumam Puguh sangat pelan.


Setelah beberapa waktu tubuh Puguh melayang layang di tengah tengah ruangan pembuatan ramuan obat, tubuh Puguh perlahan turun. Dimasukkannya kembali pedangnya pada sarungnya. Bersamaan dengan itu, jubah yang muncul di tubuh Puguh kembali menghilang, masuk ke dalam tubuh Puguh.


Puguh terdiam beberapa saat, merasakan aliran energi di seluruh tubuhnya yang semakin meningkat.


"Aku harus segera menyusul Ki Bhanujiwo dan Den Roro, kembali ke istana Pangeran Pandu !" kata Puguh dalam hati.


Kemudian Puguh mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan menghadap dinding, hendak membuat sebentuk pintu hitam untuk pergi ke istana Pangeran Pandu.


Namun, belum juga pintu itu terbentuk, tiba tiba lebih dahulu muncul sebentuk pintu hitam di depan Puguh.


Seperti ada yang menarik tubuhnya, Puguh melangkah ke arah pintu itu dan memasukinya. Sesaat kemudian, Puguh sudah berada di suatu taman yang sangat indah.


Taman yang penuh dengan bunga beraneka warna. Ada kolam ikan yang cukup besar dengan air mancur kecilnya yang menciptakan suara gemericik tiada hentinya.


Di tepi kolam ikan itu terdapat beberapa kursi yang menghadap kolam.


Di salah satu kursi itu, duduk seorang gadis dengan paras yang sangat cantik. Dandanan pakaian dan rambutnya, menandakan kalau gadis itu adalah seorang putri keraton.

__ADS_1


"Masuklah !"


Terdengar suara perempuan yang halus dan merdu. Puguh pun terkejut dan melihat ke kanan dan ke kiri, mungkin ada orang lain yang tidak dia rasakan getaran tenaga dalamnya.


"Jangan melihat kemana mana ! Masuk dan mendekatlah kesini, duduk di depanku !"


Terdengar lagi suara perempuan itu.


Mendengar suara perempuan itu, Puguh melangkah masuk sambil menoleh ke kanan kiri lagi hingga sampai di depan gadis cantik berpakaian putri keraton yang duduk di kursi di tepi kolam.


"Tuan putri memanggil aku ?" tanya Puguh pada gadis cantik itu.


Gadis cantik itu sedikit mendongakkan kepalanya menatap Puguh. Dua pasang mata saling bertemu.


Seketika, di dalam benak dan pikiran gadis cantik itu, melintas dengan sangat cepat, kisah kisah yang seolah olah telah dia alami. Dan uniknya, gadis cantik itu merasa, kisah kisah yang terlintas itu dia alami bersama dengan anak muda yang berdiri di depannya.


Setelah lintasan kisah itu berhenti, untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Namun kemudian, Puguh menyadari keadaan sehingga kemudian dia duduk bersila di depan putri itu.


"Maaf tuan putri," kata Puguh pelan.


"Duduklah di kursi itu, aku tidak suka orang duduk berlutut di depanku !" kata gadis cantik itu pelan, namun mengandung daya karisma yang kuat.


"Siapa namamu, pendekar ?" tanya gadis cantik putri keraton itu.


"Namaku Puguh, tuan putri," jawab Puguh.


"Namaku Cinde Puspita," jawab putri keraton itu.


"Kenapa saya dibawa masuk ke taman ini, Putri Cinde Puspita ?" tanya Puguh.


"Maafkan aku, Puguh. Bukan aku yang membuatmu datang ke taman ini, karena aku juga tidak bisa berbuat apa apa. Hanya saja mungkin semua ini ada kaitannya dengan semua yang aku alami !" jawab Putri Cinde Puspita.


Kemudian Putri Cinde Puspita bercerita.


Semenjak Prabu Lingga Kawiswara sakit, sikap kakak tirinya, Pangeran Panji berubah seratus delapan puluh derajat.

__ADS_1


Pangeran Panji menjadi sangat ketus padanya bahkan cenderung kejam kepadanya. Dirinya bahkan seperti dikurung di Keputren dan hanya bisa berpindah tempat ke taman.


Bahkan untuk menjenguk ayahnya yang sakit, harus bersama sama dengan Pangeran Panji. Apalagi untuk menjaga dan merawatnya, tidak diperbolehkan oleh Pangeran Panji dengan alasan sudah ada tabib kerajaan.


Karena Prabu Lingga Kawiswara sakit, maka urusan negara langsung diambil alih oleh Pangeran Panji tanpa meminta persetujuan dari saudara saudaranya yang lain dan para punggawa kerajaan. Apalagi pada Pangeran Pandu yang sebenarnya adalah putra mahkota, Pangeran Panji tidak memberitahukannya.


Sebenarnya para punggawa kerajaan tidak setuju dengan semua kebijakan yang diambil oleh Pangeran Panji, karena selalu merugikan dan menyengsarakan rakyat jelata. Namun, para punggawa kerajaan itu tidak bisa berbuat apa apa karena selalu diancam. Bahkan para senopati pun harus berpikir ulang bila harus melawan Pangeran Panji yang dikelilingi oleh banyak tokoh sakti dari dunia persilatan.


Merasakan semua hal itu, membuat Putri Cinde Kawiswara sangat sedih, yang kemudian akhir akhir ini, membuat Putri Cinde Puspita sering mengalami hal hal aneh.


Beberapa kali, setiap dia merasa sangat bersedih dan sedang duduk sendirian, selama sesaat pandangan matanya terlihat gelap. Satu kedipan mata kemudian, Putri Cinde Puspita seperti berada di tempat lain dan di depannya berdiri dua sosok tubuh laki laki dan perempuan.


Setiap kali berjumpa, kepada Putri Cinde Puspita, sosok perempuan itu selalu mengatakan hal yang sama.


"Bersabarlah dengan menunggu di taman ini !"


Sebenarnya Putri Cinde Puspita tidak paham dengan apa yang dikatakan sosok perempuan itu, namun entah kenapa, selalu muncul perasaan, dia harus berada di taman untuk menunggu entah apa yang akan datang.


Mendengar semua penuturan Putri Cinde Puspita, terutama tentang semua yang dilakukan oleh Pangeran Panji, membuat Puguh tertarik.


"Putri Cinde, apakah Putri mengetahui, siapa saja tokoh tokoh persilatan yang berada di dalam istana Pangeran Panji ?" tanya Puguh.


Mendengar pertanyaan Puguh, Putri Cinde Puspita hanya menggeleng pelan.


"Putri Cinde, aku tidak tahu apakah ini ada kaitannya dengan mimpi mimpi yang telah Putri Cinde alami. Namun, tentang Pangeran Panji, kami sedang menyelidiki dan mencari informasi, kenapa Pangeran Panji mengumpulkan banyak tokoh persilatan di dalam istananya. Kami hanya meminta, Putri Cinde tidak melakukan hal hal yang akan membahayakan nyawa Putri Cinde sendiri !" kata Puguh.


"Lakukanlah Puguh ! Semoga aku tidak mengalami mimpi mimpi itu lagi !" jawab Putri Cinde Puspita.


"Baiklah Putri Cinde, aku mohon pamit !" kata Puguh.


Kemudian Puguh bangkit berdiri dan beberapa saat matanya menatap ke sekeliling. Namun sesuatu yang dia tunggu tidak terjadi. Tidak muncul lagi sebentuk pintu berwarna hitam yang harus dia masuki.


Maka, setelah menanyakan arah untuk pergi ke istana Pangeran Pandu, Puguh melesat keluar dari taman keputren, menuju ke istana Pangeran Pandu.


Sementara itu, setelah Puguh pergi meninggalkan taman itu, Putri Cinde Puspita berdiri dan menatap ke arah Puguh pergi.

__ADS_1


"Puguh, kau sangat mirip dengan orang yang selalu muncul dalam mimpi mimpiku !" kata Putri Cinde Puspita sangat pelan.


__________ ◇ __________


__ADS_2