Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertandingan Dimulai


__ADS_3

"Maafkan Puguh yang lancang bertanya, guru," kata Puguh yang sangat menyesal menanyakan hal itu pada gurunya.


"Tidak masalah. Sekarang kita istirahat dulu," jawab Ki Dwijo yang langsung duduk bersila di pangkal cabang yang besar. Sebentar kemudian, dirinya sudah tenggelam dalam semedi.


Tidak menunggu lama, Puguh pun pindah ke cabang yang tidak terlalu besar yang berada di samping gurunya.


Kemudian dengan posisi menggantung pada kakinya yang mengait dahan itu, Puguh pun langsung masuk dalam alam semedi.


Akhirnya mereka berdua larut dalam semedi mereka masing masing hingga pagi hari.


----- o -----


Pagi hari, matahari belum juga memunculkan sinarnya. Namun langit sudah terlihat terang dan cerah. Burung burung pun mulai bangun dari tidurnya.


Puguh yang juga sudah terbangun, melihat gurunya sudah tidak ada di tempatnya semedi semalam. Kemudian Puguh pindah ke dahan yang digunakan gurunya untuk duduk, dahan yang lebih besar untuk berdiri.


Tiba tiba Puguh mendengar suara gurunya,"Kau sudah bangun juga ngger ?"


Belum juga suara itu selesai, Ki Dwijo sudah tiba di depannya dengan membawa seekor ayam hutan dan buah buahan.


"Kamu pergilah ke sana," kata Ki Dwijo sambil menunjuk satu arah, "Di sana ada sungai kecil, kamu bisa membersihkan diri di sana."


"Baik guru," jawab Puguh yang segera melesat ke arah yang ditunjukkan gurunya.


Ketika Puguh kembali dari membersihkan diri, Ki Dwijo sudah selesai membakar ayam hutan yang tadi dibawanya.


Kemudian mereka segera makan. Dalam hati Puguh pun bersukur, selama ikut gurunya, dia tidak merasakan kelaparan lagi. Walaupun apa yang dimasak gurunya tidak seenak makanan yang pernah dia makan di Kademangan Pandan Ireng.


----- o -----


Di depan pendopo Kadipaten Langitan, terdapat tanah lapang yang luas. Di tanah lapang itu berdiri lima panggung besar dengan masing masing sebesar sepuluh kali sepuluh meter.

__ADS_1


Satu panggung yang di tengah di buat lebih tinggi sedikit dari empat panggung yang mengelilingi di keempat sisinya.


Di luar kelima panggung itu, di deretan depan, terdapat kursi kursi bagi para tamu dan penonton.


Kursi kursi itu sebagian besar sudah terisi tamu.


Di deretan kursi yang menghadap ke depan panggung utama itu, memang diperuntukkan untuk tamu tamu dari Kademangan. Sedangkan deretan kursi yang menghadap ke samping panggung utama dan sebagian di belakang panggung, diperuntukkan untuk tamu dari Padepokan Padepokan ataupun perorangan.


Terlihat di deretan tamu dari Padepokan, hadir Padepokan Macan Kumbang, Padepokan Kartika Murda, Padepokan Argo Langking, Padepokan Samodra Prana.


Di bagian belakang panggung, hadir juga peserta perorangan yang tidak berasal dari suatu padepokan ataupun yang dari kademangan. Biasanya dari keluarga ataupun murid pendekar pendekar bebas yang tidak terikat dengan suatu padepokan.


Yang duduk di deretan kursi sebelah belakang panggung utama, juga ada yang datang hanya sebagai penonton. Jumlah mereka bahkan lebih banyak dibanding perorangan atau pendekar bebas yang mengirimkan wakilnya untuk ikut pertandingan beladiri. Termasuk juga Ki Dwijo dan Puguh yang ikut duduk di deretan kursi tamu.


Di salah satu deretan kursi untuk tamu Kademangan, terlihat rombongan dari Kademangan Pandan Ireng dipimpin langsung oleh Ki Ageng Pandan Ireng. Di samping Ki Ageng Pandan Ireng terlihat Den Bagus dan Den Roro. Di belakang mereka berdiri sekitar sepuluh prajurit yang mengawal mereka.


Di samping rombongan mereka, terlihat rombongan Kademangan Pagelangan yang kemaren bertemu dengan Puguh dan Ki Dwijo. Rombongan itu dipimpin oleh Janu. Perwakilan dari Kademangan Pagelangan juga dua orang yaitu kembar Wuri dan Woro.


Kebetulan, Kademangan Pandan Ireng berteman baik dengan Kademangan Pagelangan, sehingga anak anaknya Ki Demang pun saling kenal.


"Di mana saudaramu yang satunya lagi ?" tanya Wuri.


"Hanya kami, wakil dadi Kademangan Pandan Ireng," jawab Den Roro Nastiti.


"Bukannya ada satu lagi, yang berbadan kecil agak kurus ?" kata Woro menyambung, "Kemaren kami bareng datangnya ke sini. Dia bareng dengan kami, naik kereta. Saat si dalam kereta sempat kutanya, katanya dari Kademangan Pandan Ireng."


Saat Den Roro Nastiti masih kebingungan dengan apa yang diceritakan oleh Woro, tiba tiba di panggung utama sudah dimulai acaranya.


Acara dibuka oleh Raden Tumenggung Suryo Langit, adipati di Kadipaten Langitan. Dia berharap, dalam pertandingan beladiri ini muncul bibit bibit pendekar yang bersedia masuk keprajuritan dan kelak bisa menduduki posisi penting di keprajuritan.


Sementara itu, Kadipaten Langitan sendiri juga mengirimkan wakilnya dalam pertandingan beladiri.

__ADS_1


Selesai sambutan dari Adipati Daden Tumenggung Suryo Langit, dilanjutkan dengan pengundian peserta secara acak oleh beberapa senopati prajurit kadipaten dan para bawahan sang adipati yang mempunyai ilmu silat cukup tinggi.


Setelah pengundian peserta, pertandingan beladiri segera dimulai. Segera perhatian berpindah ke keempat panggung yang mengelilingi panggung utama, karena pertandingan beladiri akan segera dimulai.


Peserta pertandingan itu sendiri di bagi menjadi kelompok. Dari jumlah peserta yang ada, di tiap kelompok terdiri dari sepuluh peserta.


Peserta dalam satu kelompok, saling bertemu dan bertanding. Kemudian dibuat urutan peringkat dari peserta yang mempunyai kemenangan bertanding yang paling banyak. Setiap kelompok akan diambil dua peserta dengan jumlah memenangan terbanyak, sehingga dalam pertandingan final akan ada delapan peserta yang akan diundi.


Pertandingan di keempat panggung itu berjalan sampai sore tanpa henti. Hingga kemudian didapatkan delapan peserta yang berhasil menjadi pemenang pertarungan di masing masing kelompok. Diantara delapan orang itu ada Widura dari Padepokan Macan Kumbang, Argani dari Padepokan Tapak Arga, Hestama dari Padepokan Kartika Murda, Mada dari Padepokan Samodra Prana. Dari Kadipaten Langitan ada Prabawati dan Raksanala. Sedangkan yang dari pendekar bebas ada Kawung Jenar dan Jati Kartika.


Yang dari Kademangan tidak ada yang lolos, karena sebenarnya mereka yang mewakili kademangan juga murid dari padepokan padepokan tadi.


Karena sudah diperoleh delapan peserta dan juga hari sudah sore menjelang malam, maka pertandingan beladiri dilanjutkan besok.


Semua penonton dan peserta pertandingan pun membubarkan diri. Termasuk juga Ki Dwijo dan Puguh, mereka berdua juga beranjak dari tempat duduknya.


"Ngger Puguh, jika kau ingin menemui teman dan kenalanmu, pergilah. Ku tunggu di tempat yang kemaren," kata Ki Dwijo.


"Benar guru ?" kata Puguh terkejut kegirangan, "Terimakasih guru."


"Pergilah," kata Ki Dwijo lagi sambil tersenyum melihat Puguh yang sepertinya sangat senang.


Kemudian Puguh membalikkan badan, dan bergegas pergi ke arah deretan kursi peserta dari kademangan.


Sesampai di deretan kursi penonton, Puguh sudah tidak menemukan rombongan dari Kademangan Pandan Ireng ataupun dari Kademangan Pagelangan.


Kemudian Puguh mencoba menyusuri jalan besar, berharap bisa bertemu rombongan yang dikenalnya.


__________ ◇ __________


Para pembaca yang berbahagia

__ADS_1


Mohon maaf kalau dalam beberapa hari ini tidak ada update. Seminggu ini dan seminggu ke depan, banyak sekali kegiatan yang harus author selesaikan. Tetapi author akan selalu berusaha bisa update chapter.


Atas kesabaran dan pengertiannya, authot ucapkan banyak terimakasih. Semoga kita semua selalu mendapatkan keberkahan dari Allah ta'ala. Aamiin.


__ADS_2