Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Bangunan di Halaman Belakang Padepokan Wukir Candrasa


__ADS_3

Suara benturan senjata pedang dengan tongkat butut terdengar berkali kali. Diselingi dengan suara bertemunya pukulan dengan pukulan.


Tang ! Tang ! Traaannnggg !


Bammm ! Bammm !


Jdammm !


Begitu cepatnya gerakan Ki Dahana Yaksa dan Resi Wismaya, membuat pertarungan mereka hanya terlihat dua kelebatan tubuh di sela sela kilatan senjata pedang dan tongkat butut.


Ki Dahana Yaksa sudah mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya. Namun nampaknya Resi Wismaya masih mampu mengimbanginya.


"Dari tiga tahun yang lalu terakhir bertemu, peningkatan kekuatan Resi Wimaya memang sangat luar biasa !" gumam Ki Dahana Yaksa.


Sudah lebih dari seratus jurus pertarungan berlangsung. Benturan senjata yang terjadi sudah tidak terhitung lagi. Pukulan ataupun tendangan yang mengenai sasaran pun sudah sering kali terjadi.


Namun, Ki Dahana Yaksa belum juga mengungguli dan mendesak Resi Wismaya.


Hingga suatu saat, dalam benturan senjata yang berikutnya, Ki Dahana Yaksa mengerahkan tenaga dalam hingga jumlah yang sangat besar, dengan maksud membuat Resi Wismaya terdorong mundur.


Blaaarrr !


Dalam benturan senjatanyang sangat keras itu, Resi Wismaya terdorong mundur hingga tiga langkah. Sedangkan Ki Dahana Yaksa melemparkan tubuhnya ke belakang hingga beberapa meter.


Kemudian dengan cepat, Ki Dahana Yaksa melakukan penyerapan kekuatan yang lebih besar lagi. Pedangnya diacungkan ke atas dengan tangan kiri berada di depan dada. Teriakannya yang sangat keras, bagaikan menjadi pertanda, kalau ada sebuah kekuatan yang sangat besar masuk ke dalam tubuhnya.


Hembusan angin tiba tiba bertambah agak kencang dan seperti mengelilingi tubuh Ki Dahana Yaksa. Samar samar terlihat, seberkas sinar bewarna hijau ikut mengitari tubuh Ki Dahana Yaksa dan kemudian masuk ke tubuh Ki Dahana Yaksa.


Setelah putaran angin itu berhenti dan menghilang, Ki Dahana Yaksa menarik turun pedangnya dan kemudian menggerakkan leher, tangan dan bahu, seperti orang yang merasa pegal.


"Haahhh ha ha ha ha ! Resi wismaya, ayo kita mulai lagi !" kata Ki Dahana Yaksa sambil kemudian melesat ke arah Resi Wismaya.


Sementara bersamaan dengan itu. Resi Wismaya melihat, terjadi perubahan pada tubuh Ki Dahana Yaksa.


Badannya menjadi bertambah tinggi dengan pupil mata yang tambah mengecil. Suaranya menjadi berat. Gerakannya menjadi agak kaku.


Ketika melihat Ki Dahana Yaksa melesat ke arahnya, Resi Wismaya segera meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga dalam jumlah yang sangat besar.

__ADS_1


Dengan tongkat di tangan kanannya, Resi Wismaya segera melesat dengan sangat cepat, menghadang arah datangnya Ki Dahana Yaksa.


Sesaat kemudian, kembali terjadi adu pukulan dan tendangan yang menimbulkan suara yang cukup keras.


Dbammm ! Dbammm ! Dbammm !


Benturan senjata yang dilapisi tenaga dalam tingkat yang sangat tinggi pun juga terjadi berkali kali, dengan suara yang ditimbulkan semakin keras.


Klanggg ! Klanggg ! Klanggg !


Sampai sekitar dua puluh, Resi Wismaya masih bisa mengimbangi kekuatan Ki Dahana Yaksa.


Namun kali ini, keadaan Ki Dahana Yaksa berbeda. Semakin lama, bukan semakin menurun kekuatannya, justru semakin meningkat kekuatannya.


Seiring dengan semakin bertambah kuat, tubuh Ki Dahana Yaksa juga semakin berubah. Permukaan kulitnya yang berwarna hijau, semakin bertambah luas.


Akhirnya, sedikit demi sedikit, Resi Wismaya mulai terdesak. Bahkan, tubuhnya mulai terdorong ke belakang, setiap terjadi benturan pukulan.


Hingga kemudian, pada suatu saat, dengan posisi tubuh yang setengah melayang terbang, Ki Dahana Yaksa melancarkan sebuah serangan yang menggunakan tenaga dalam tingkat sangat tinggi.


Begitu cepatnya serangan itu, sehingga membuat Resi Wismaya mau tidak mau harus menangkis datangnya serangan pedang.


Klanggg !


Dalam tiga kali benturan senjata itu, Resi Wismaya tersurut hingga tiga langkah, hingga tubuhnya melengkung.


Belum sempat Resi Wismaya memantapkan berdirinya, tiba tiba sebuah tendangan yang sangat keras dan mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi menghampirinya. Resi Wismaya menggerakkan kedua tangannya sambil secepatnya mengalirkan tenaga dalamnya lebih banyak lagi ke kedua tangannya, untuk menepis tendangan itu.


Bertemunya dua tenaga dalam yang sangat tinggi itu menimbulkan ledakan yang sangat kuat, bahkan menggetarkan dan meretakkan dinding sekat ruangan bangunan berbentuk lingkaran itu.


Dbbuuummm !


Luapan kekuatan dari benturan tenaga dalam itu membuat sekat sekat tipis ruangan berbentuk lingkaran itu hancur. Hal itu membuat ruangan berbentuk lingkaran yang terbuat dari gabungan tenaga dalam dari enam tokoh persilatan itu hancur, sehingga mereka kembali berpijak di puncak Gunung Pedang.


Kekuatan tenaga dalam Ki Dahana Yaksa yang diambil dari kekuatan siluman dan digabungkan dengan seluruh tenaga dalamnya itu, kali ini tidak bisa ditahan oleh kekuatan Resi Wismaya. Walaupun sudah berusaha ditepis, tetap saja tendangan itu masih sedikit mengenai dadanya.


Walau tidak terkena tendangan dengan telak, tetap saja tubuh Resi Wismaya terlempar ke belakang hingga beberapa langkah dan kemudian jatuh terduduk. Terlihat sedikit darah di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


Masih dalam posisi terduduk, Resi Wismaya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Ke .... kuatannya, meningkat sangat pesat ! Tetapi, melihat fisiknya yang berubah, sepertinya ada yang salah dalam tehniknya !" kata Resi Wismaya dalam hati


"Haahhh ha ha ha ha ! Kekuatan siluman elang itu memang luar biasa. Aku penasaran ingin mencobanya sekali lagi !" kata Ki Dahana Yaksa sambil tertawa sambil memasukkan pedang ke dalam sarungnya.


Kemudian, tanpa menghiraukan keadaan Resi Wismaya yang belum siap, Ki Dahana Yaksa melenting cukup tinggi, lalu meluncur dengan sangat cepat ke arah Resi Wismaya dan mengarahkan pukulan tangan kanannya ke dada Resi Wismaya.


----- * -----


Bantala Yaksa, anak Ki Dahana Yaksa yang sekaligus sebagai Ketua Muda Padepokan Wukir Candrasa, memperkenalkan tempat tempat dari Padepokan Wukir Candrasa hingga sampai ke halaman belakang.


Di halaman belakang itu, mereka semua melihat ada sebuah bangunan yang cukup besar, tetapi terpisah dari bangunan bangunan Padepokan Wukir Candrasa.


Dari bangunan yang menyendiri itu, Puguh, Rengganis dan yang lainnya melihat adanya sinar hijau terang yang keluar dari dalam rumah yang menyendiri.


Walau masih dari kejauhan, Puguh dan Rengganis serta tamu tamu yang lainnya bisa merasakan adanya getaran kekuatan yang sangat besar, berasal dari banguna itu.


"Itu rumah apa ?" tanya Rengganis.


"Aahhh itu bukan apa apa !" jawab Bantala Yaksa.


Sesaat kemudian, Bantala Yaksa kembali mengajak anak anak muda yang menjadi tamunya untuk kembali ke atas, ke puncak Gunung Pedang.


Saat mereka hendak beranjak pergi, tiba tiba mereka mendengar suara pekikan binatang yang disertai dengan adanya sinar hijau yang melesat cepat ke arah puncak Gunung Pedang.


Kkaaakkk !!!


"Itu rumah apa ? Dan kenapa mengeluarkan getaran kekuatan sebesar ini ?" tanya Puguh.


"Ohh itu,.... Tempat untuk berlatih ayahku, tempat pribadi. Tidak ada yang boleh masuk ke tempat itu !" jawab Bantala Yaksa sambil berbalik dan berjalan ke arah puncak Gunung Pedang.


"Ayo kita kembali ke puncak !" sambung Bantala Yaksa.


Kemudian, dengan membawa rasa penasaran, Puguh, Rengganis dan yang lainnya segera mengikuti Bantala Yaksa menuju ke arah puncak.


Namun, selama dalam perjalanan, Puguh menjadi curiga, karena tanpa dikeluarkan dari sarungnya, pedangnya mengeluarkan getaran.

__ADS_1


Puguh belum dapat menghubungkan dan mengkaitkan hal hal yang telah dilihatnya, tatkala sesaat kemudian terdengar suara ledakan yang sangat keras dari arah puncak Gunung Pedang.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2