Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Bersemedi Di Bawah Air Terjun


__ADS_3

Pagi itu, Ki Bhanujiwo terlihat sibuk. Berkali kali dia bolak balik ke kamar belakang, ke dapur dan ruang tengah tempat Puguh dan Ki Dwijo dibaringkan, untuk mengambil perlengkapan dan meracik bahan bahan obat yang dia perlukan.


Puguh yang kelelahan serta kehabisan tenaga dalam, sudah Ki Bhanujiwo tangani dengan melakukan totokan totokan di beberapa tempat di tubuhnya. Dan juga melumuri seluruh tubuh Puguh dengan racikan beberapa bahan obat yang bisa mempercepat pulihnya tenaga dalam. Selain itu, juga sudah dia beri penyaluran tenaga dalam. Sekarang hanya tinggal menunggu Puguh siuman.


Sedangkan pada Ki Dwijo, untuk luka dalam dan luka di sekujur tubuhnya, Ki Bhanujiwo sudah memberikan pengobatan. Dan untuk tenaga dalamnya, Ki Bhanujiwo sudah menyalurkan juga sedikit tenaga dalamnya, sehingga nantinya jika Ki Dwijo sudah terbangun dari pingsannya, Ki Dwijo bisa bersemedi untuk memulihkan tenaga dalamnya.


Yang membuat Ki Bhanujiwo bingung, kenapa kedua kaki Ki Dwijo bisa lumpuh dan tidak bisa di aliri tenaga dalam sama sekali.


Maka sambil menunggu Ki Dwijo siuman, Ki Bhanujiwo membalurkan racikan yang dia buat.


Ketika waktu hampir tengah hari, Ki Dwijo mulai sadar dari pingsannya. Begitu membuka matanya, Ki Dwijo melihat ada Ki Bhanujiwo, sehingga dia berusaha bangun. Namun hanya duduk yang bisa dilakukan oleh Ki Dwijo, karena kedua kakinya masih lumpuh.


"Ki Dwijo jangan bangun dulu. Sebaiknya duduk bersemedi guna memulihkan tenaga dalam," kata Ki Bhanujiwo.


"Tolonglah anak itu, Ki Bhanujiwo," kata Ki Dwijo sambil menunjuk ke arah Puguh yang belum sadar, "Jaga dia sebentar."


Mendengar perkataan Ki Dwijo, Ki Bhanujiwo tersenyum dan hanya mengangguk.


Kemudian, sambil bersandar ke dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu, Ki Dwijo berusaha duduk setenang mungkin untuk masuk ke dalam semedi. Hingga tanpa terasa, Ki Dwijo tenggelam dalam semedi sampai dengan pagi hari berikutnya.


Sementara itu, saat Ki Dwijo masih semedi, pada sore harinya Puguh terbangun. Dilihatnya, gurunya sedang duduk seperti orang tertidur. Puguh baru saja hendak memanggil gurunya, saat tangannya disentuh oleh Ki Bhanujiwo sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir, menyuruh dia diam.


"Ssttt .... ayo ikut paman guru, ngger," kata Ki Bhanujiwo.


Puguh pun hanya mengangguk dan bangun pelan pelan kemudian mengikuti arah perginya Ki Bhanujiwo.


Ki Bhanujiwo mengajak Puguh ke air terjun kecil yang berada agak jauh di belakang rumah. Puguh pernah ke sini sekali, saat disuruh gurunya mengambil air.


Sesampai di bawah air terjun kecil, Ko Bhanuniwo menyuruh Puguh untuk mandi sekaligus berendam di bawah air terjun.


"Ngger, sekarang kamu mandi dulu. Selesai mandi, jangan beranjak dari air terjun, kamu berendamlah tepat di bawah air terjun itu. Sampai aku mengatakan cukup, jangan keluar dulu dari air," kata Ki Bhanujiwo.

__ADS_1


"Baik paman," jawab Puguh.


Kemudian Puguh melepas semua pakaiannya, hingga hanya memakai ******. Lalu Puguh segera masuk ke dalam sendang tempat jatuhnya air terjun.


Setelah membersihkan badan dari sisa sisa ramuan yang dibalurkan di seluruh tubuhnya, Puguh segera ke arah tengah tengah sendang yang tepat di bawah air terjun dan mencari tempat yang bisa dia pakai untuk duduk bersila.


Selanjutnya, Puguh duduk bersila seperti orang bersemedi di bawah air terjun.


Awalnya Puguh merasakan sakit ketika setiap serpihan air terjun itu mengenai tubuhnya. Serpihan air terjun itu seperti ribuan jarum yang secara serentak menusuk seluruh permukaan kulit. Hal itu membuat simpul simpul syaraf Puguh seperti selalu mendapatkan tusukan jarum yang sangat banyak.


Selain itu, jatuhnya air dalam jumlah yang cukup banyak, membuat tubuh Puguh seperti mendapatkan tekanan ke bawah secara terus menerus yang membuat otot otot tubuh Puguh seperti dipaksa untuk menahan tekanan secara terus menerus.


Namun, semua itu, semakin lama, semakin tidak terasa sakit, hingga akhirnya Puguh terhanyut dalam semedinya.


Pada saat itu, Ki Bhanujiwo selalu bolak balik. Kadang pergi ke tempat tinggalnya untuk melihat keadaan Ki Dwijo, kemudian kembali ke air terjun lagi untuk menunggui Puguh.


Hingga menjelang tengah malam, Ki Bhanujiwo masih tetap membiarkan Puguh dalam semedinya.


Pada saat tengah malam itu, suhu air terjun itu menjadi bertambah dingin. Sehingga dalam semedinya, tubuh Puguh terlihat menggigil. Namun Puguh tetap asyik tenggelam dalam semedinya.


"Kau sudah selesai, Ki Dwijo ?" kata Ki Bhanujiwo dari luar rumah, "Sudah kubuatkan kayu untuk berjalan, cobalah."


Ki Dwijo melihat, di sampingnya memang ada kayu yang dibentuk sedemikian rupa, hingga bisa dipakai sebagai penyangga tubuh selama kakinya belum sembuh.


Kemudian Ki Dwijo mencoba kayu penyangga itu untuk berjalan keluar. Begitu sampai di luar, Ki Bhanujiwo yang berdiri di halaman, sudah menatapnya.


"Bagaimana kayunya Ki Dwijo ? Untuk sementara bisa membantu kan ?" tanya Ki Bhanujiwo.


"Heh he he he .... terimakasih Ki Bhanujiwo, atas semua yang Ki Bhanujiwo lakukan untuk kami," kata Ki Dwijo.


"Sudahlah, jangan dipikirkan," jawab Ki Bhanujiwo, "Ayo kita ke air terjun. Kita tengok muridmu."

__ADS_1


Begitu mendengar perkataan Ki Bhanujiwo, Ki Dwijo kembali bersemangat.


"Ayo Ki Bhanujiwo," kata Ki Dwijo yang kemudian berjalan menggunakan kayu penyangga itu untuk berjalan.


Beberapa saat kemudian, dari kejauhan sudah terdengar suara bergemuruh. Dan akhirnya mereka berdua tiba di air terjun. Mereka melihat, Puguh masih bersemedi di bawah air terjun.


"Kau beruntung Ki Dwijo, mempunyai murid yang kuat diterpa derita," kata Ki Bhanujiwo lirih.


"Kalau Ki Bhanujiwo bersedia, angkat juga Puguh menjadi muridmu," jawab Ki Dwijo.


"He he he heee ... Terimakasih Ki Dwijo. Kita lihat saja, bagaimana nanti kedepannya," kata Ki Bhanuniwo sambil tertawa.


Setelah mereka mendekat ke air terjun, Ki Bhanujiwo memanggil Puguh.


"Cukup ngger. Sekarang bangunlah dari semedi," kata Ki Bhanujiwo pelan.


Dalam kepungan gemuruh suara air terjun, tendengar suara Ki Bhanujiwo yang seperti berbicara tepat di depan telinganya. Puguh pun segera mengakhiri semedinya. Setelah menepi dan berganti pakaian, Puguh segera mendekat ke tempat gurunya dan Ki Bhanujiwo berdiri.


Ki Dwijo mendekati Puguh dan memeriksa ksadaan tubuh Puguh.


"Bagaimana keadaanmu ngger ?" tanya Ki Dwijo. Sebenarnya Ki Dwijo terkejut dengan perkembangan tubuh dan tenaga dalam Puguh. Dia merasakan dari getaran yang dia tangkap, tenaga dalam Puguh sudah mengalami peningkatan.


"Murid sangat sehat guru. Dan rasanya seperti lebih bertenaga," jawab Puguh.


"He he he heee ... kalau Ki Dwijo tahu manfaat yang tersembunyi dari air terjun itu, Ki Dwijo akan betah tinggal di sini," kata Ki Bhanujiwo.


Mendengar kata kata Ki Bhanujiwo, Ki Dwijo tersenyum. Dalam hati dia bersyukur, muridnya bisa memetik manfaat yang tersembunyi dari air terjun itu.


Kemudian, sambil membalikkan badan, Ki Dwijo berkata, "Baiklah Ki Bhanujiwo, terimakasih. Sekarang aku ingin melatih berjalanku. Kalian mau ikut ?"


Suara bicara Ki Dwijo belum selesai, namun tubuh Ki Dwijo sudah terlihat berjalan tertatih tatih dengan kayunya, melesat jauh di depan.

__ADS_1


Terpaksa Puguh dan Ki Bhanujiwo pun berlari mengikutinya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2