
Tiba tiba simboknya bertanya, "Kenapa lenganmu ini ngger, Puguh ?"
Puguh mendongak menatap simboknya. Puguh belum sempat untuk menjawab pertanyaan simboknya saat simboknya meraih tangan kecil kurus yang terdapat luka lecet dan sedikit mengeluarkan darah.
Puguh merasakan ada yang hangat di punggung tangan kirinya. Dilihatnya, simboknya sedang mengoleskan cairan yang diambil dari langit langit mulut dengan menggunakan ibu jarinya, sambil bibirnya bibirnya bergerak gerak membaca doa.
Seketika, Puguh tidak merasakan lagi, perih pada luka di punggung lengan kirinya.
"Simbok tahu, luka yang kau dapatkan ini, karena kau ingin melindungi Den Roro, putri Ndoro kita. Dan simbok juga tahu, kau tidak tega untuk membalasnya. Tetapi, mengalah itu ada batasnya. Kalau mereka melakukan ini terus menerus, ada saatnya juga kau harus membalas untuk menghentikan perlakuan mereka. Kau tidak bisa menyiksa diri sendiri dengan terus membiarkan mereka melukaimu !" kata simboknya, memberi nasehat seperti biasanya.
"Nggih mbok," jawab Puguh kecil.
"Sudah. Sekarang saatnya kau pulang," kata simboknya sambil perlahan melepaskan genggaman pada jari jari mungilnya.
"Tapi mbok, Puguh ingin .... " jawab Puguh kecil. Namun kalimat yang diucapkan Puguh tidak selesai, saat Puguh merasakan perih di semua permukaan kulitnya.
Puguh yang tangan kanannya masih menggenggam gagang pedang melihat, kedua lengannya penuh luka, bahkan di sela sela bajunya yang robek di beberapa tempat, Puguh merasakan perih di perutnya, dada, bahu bahkan di punggungnya.
Terlihat noda darah memenuhi tubuhnya yang sekarang tinggi gagah walau sedikit kurus.
"Mbok ...," ucapan Puguh terhenti lagi. Lehernya tercekat hingga tidak bisa mengeluarkan suara.
Dalam hati, sebenarnya Puguh ingin memberitahukan pada simboknya, jikalau dirinya sudah besar. Dirinya ingin selalu bersama dengan simboknya. Sekarang dia yang akan menjaga simboknya, melindung simboknya. Dia yang akan mengurusi segala keperluan simboknya. Dia ingin membalas semua kebaikan simboknya. Dia ingin membahagiakan simboknya.
Namun semua itu tidak bisa diucapkannya. Semua yang ingin dia lakukan semua untuk simboknya, tidak pernah tersampaikan.
"Ngger Puguh. Simbok tahu, kau sudah besar. Tetapi kau tetaplah 'thole' kecil bagi simbok. Dan itu sudah membuat simbok bahagia," ucap simboknya sambil tersenyum.
"Tapi...." jawab Puguh.
__ADS_1
"Kembalilah, sudah saatnya kau kembali !" sahut simboknya.
"Tapi Puguh tidak membutuhkan semua ini mbok," jawab Puguh sambil mengangsurkan pedangnya dengan kedua tangannya pada simboknya.
"Ngger Puguh. Simbok tahu, kau tidak membutuhkan senjata itu. Kau tidak membutuhkan ilmu itu. Kau tidak membutuhkan semuanya. Bahkan simbok tahu, kau rela menerima luka luka itu, seperti halnya saat kau kecil dulu. Tetapi, segala sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya, ada penyebabnya. Memang kau tidak membutuhkan senjata dan ilmu itu. Tetapi mereka yang ada disekelilingmu, membutuhkan, kau memiliki semua itu untuk melindungi mereka. Jadi bukan demi dirimu, tapi demi mereka semua !" kata simboknya.
"Tetapi Puguh lelah mbok. Semakin banyak Puguh melukai mereka, bahkan membunuh mereka, hati Puguh semakin lelah. Lelah menahan rasa tidak tega, lelah memikirkan mereka yang harus menderita luka atau bahkan kehilangan nyawa di tangan Puguh," ucap Puguh.
"Le ngger Puguh, simbok tahu hatimu lembut dan tidak tega menyusahkan orang lain. Kita juga tahu, tidak semua orang itu jahat. Tapi coba bayangkan. Kalau sampai senjata, ilmu dan kekuatan itu jatuh di tangan orang yang jahat, kamu akan lebih lelah lagi dalam melindungi mereka yang menjadi korban kejahatan mereka yang memiliki senjata dan ilmu serta kekuatan itu. Kamu juga akan semakin kelelahan dalam mencegah dan memberantas mereka !" jawab simboknya.
Mendengar semua nasehat simboknya, Puguh seperti tersadarkan. Perlahan semangatnya timbul lagi, memenuhi setiap aliran darahnya dan menghentakkan detak jantungnya.
Genggaman pada gagang pedangnya semakin erat, tangan kirinya mengepal kencang.
Kemudian perlahan diangkat mukanya untuk menatap wajah simboknya.
"Kembalilah ngger Puguh. Selesaikan tugas yang sudah menjadi takdir hidupmu. Jangan kecewakan mereka semua sudah mempercayakan harapannya di pundakmu. Simbok sangat bangga denganmu ! Kembalilah anakku !" ucap simboknya yang dirasakan Puguh mendengung di kepalanya.
Namun, baru saja Puguh menutup kelopak matanya, tiba tiba terdengar suara yang seperti suara ledakan.
Blaaappp !
Puguh membuka matanya lagi. Simboknya sudah tidak ada di depannya. Berganti wujud siluman elang yang sangat besar, hingga hanya kepalanya yang bisa terlihat jelas oleh Puguh.
Melihat wujud siluman elang itu, sikap Puguh menjadi sangat serius.
"Kemana saja kau selama ini ! Kenapa kau membiarkanku bertarung sendirian !" teriak Puguh dengan nada tinggi.
"Kraaakkk ! Kau yang tidak mengajakku. Kau membiarkanku memunggu. Hingga aku sampai berpikir, aku salah, hingga memilih tubuh manusia lemah !" jawab siluman elang itu.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah menyatu dengan diriku, dengan kekuatanku ?" tanya Puguh masih dengan nada marah, sambil matanya menatap tajam kepala siluman elang.
"Benar ! Tapi tidak dengan hatimu, tidak dengan pikiranmu ! Hati dan pikiranmu terlalu lemah untuk seorang manusia pendekar !" sahut siluman elang itu.
"Bagaimana kau bisa mengatakan aku lemah, siluman jelek ?" tanya Puguh dengan jengkel.
"Sebagai manusia yang mengaku pendekar, kau bahkan sangat lemah ! Tubuhmu menggerakkan pedang itu dengan jurus jurusnya. Tapi hati dan pikiranmu kemana mana ! Hati dan pikiranmu tidak menyatu dengan tubuhmu ! Jiwa pendekar tidak bisa dibentuk pada tubuh saja. Hati dan pikiranmu harus selaras dengan tubuhmu. Kalau harus melukai atau bahkan membunuh, demi membela yang lemah, demi membela kebenaran atau demi mencegah kehancuran karena kejahatan, lakukan. Bahkan kalau harus terluka atau bahkan kehilangan nyawa demi semua yang dibela tadi, relakan. Itu yang namanya jiwa pendekar !" jawab siluman elang dengan menjelaskan panjang lebar.
Puguh tercenung mendengar semua penjelasan dari siluman elang.
"Apakah kau akan tetap disini, hingga tubuhmu tercerai berai terkena senjata lawanmu ?" tanya siluman elang.
Puguh masih tidak menjawab. Tatapannya tajam ke arah siluman elang itu.
"Bulatkan tekatmu ! Satukan jiwa, hati dan pikiranmu dengan tubuhmu ! Saat kau bisa, kau hanya cukup memikirkannya, aku akan keluar membantumu !" kata siluman elang lagi.
Puguh terdiam. Namun segala kejadian hingga semua pertarungannya, semuanya terlintas dalam ingatannya. Teringat semua orang orang yang dekat dengannya. Kedua tangannya mengepal erat, hingga genggamannya pada gagang pedangnya sangat kencang.
Tiba tiba terdengar suara benturan senjata kemudian disusul dengan suara ledakan yang sangat keras.
Trang ! Trang !
Blaaannnggg !
Sesaat setelah suara ledakan itu, terlihat dua golok patah bilahnya terkena sabetan pedang di tangan Puguh. Sementara empat lawan yang menyerangnya menggunakan golok, terpental ke belakang cukup jauh, hingga kemudian jatuh ke tanah. Sedangkan senjata tongkat kecil yang mengarah ke pinggang kirinya terpental balik, diikuti tubuh Nyi Riwut Parijatha yang terdorong kembali ke belakang.
Sementara bersamaan dengan itu, tubuh Puguh terlempar dalam posisi melayang. Terlihat jubah hijau tua melambai lambai di belakangnya.
Sesaat sebelum dua senjata golok mengenai punggungnya dan ujung tongkat kecil milik Nyi Riwut Parijatha mengenai pinggangnya, muncul sebuah jubah berwarna hijau tua yang langsung melindungi tubuh Puguh dari serangan senjata tadi.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_