
Setelah berbelok berkali kali dan berganti arah beberapa kali, serta melewati gang gang dan jalanan sempit, memasuki perkampungan kumuh, akhirnya Puguh dan Rengganis selalu mengikutinya dalam jarak yang tidak terlalu jauh, melihat pengemis itu mengambil jalan yang menuju ke luar kota.
Namun, baru saja akan mempercepat langkah, tiba tiba pengemis itu melenting ke atas untuk menghindar saat ada bayangan hitam yang menerjang tubuhnya.
Terdengar suara dentuman ketika bayangan hitam itu menghantam tanah dan menimbulkan kepulan debu.
Dbuuummm ! Dbuuummm !
Terlihat dua buntalan besar berwarna hitam teronggok di tempat pengemis tadi berada.
Baru saja suara dentuman itu berhenti, terdengar suara perempuan berteriak.
"Pengemis sialan ! Hendak kau bawa kemana dua orang itu !"
Sesaat setelah suara teriakan itu, muncul lima bayangan tubuh menghadang jalan pengemis serta Puguh dan Rengganis. Dari lima orang yang baru saja datang itu, terlihat dua laki laki bertubuh kekar segera menggerakkan tangan kirinya ke arah buntalan besar berwarna hitam. Sesaat kemudian, buntalan besar itu melayang cepat dan mendarat di punggung mereka.
Biyung Kencana, perempuan yang tadi berteriak, melangkah maju ke arah Puguh dan Rengganis, dengan sikap yang sangat serius, berbeda dengan saat bertemu di puncak Bukit Gumuk Pasir Wedhi.
"Anak muda, serahkan pedang itu padaku dan aku akan membiarkanmu hidup !" kata Biyung Kencana.
"Pedang apa yang kau maksud ?" tanya Puguh.
"Tidak usah berpura pura ! Aku tahu, kamu yang menemukan senjata pedang dan siluman elang peninggalan Pendekar Pengendara Elang !" bentak Biyung Kencana.
Inilah sifat asli Biyung Kencana. Sedikit pendiam, namun sangat tegas dan kejam.
"Tidak akan ada satupun barang milikku yang akan aku serahkan pada kalian !" jawab Puguh lagi.
"Baiklah ! Kalau begitu, akan aku ambil sendiri ! Anak anak, kalian urus mereka. Biar aku yang mengambilnya sendiri !" kata Biyung Kencana sambil memberi perintah pada keempat laki laki kekar yang berdiri di belakangnya.
"Baik Nyonya Juragan !" jawab keempat laki laki berbadan kekar serentak.
Kemudian, dengan cepat Biyung Kencana mengibaskan kedua tangannya ke arah depan.
__ADS_1
Sraaattt Sraaattt !
Tiba tiba di kedua tangannya sudah tergenggam dua buah belati panjang berwarna emas yang bentuknya sangat indah.
Lalu dengan menotolkan ujung jari kaki kirinya, tubuh Biyung Kencana melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh. Kedua tangannya bergerak dengan sangat cepat, sehingga dalam satu kali serangan, kedua belati panjangnya langsung mengarah ke banyak bagian tubuh Puguh.
Sementara itu, Puguh yang sudah mempunyai gambaran tentang kekuatan perempuan paruh baya di depannya itu, segera mengeluarkan senjata pedangnya sambil mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya hingga separuh lebih. Pendaran sinar hijau terang segera memenuhi tempat itu. Hawa dingin pun segera meliputi sekitar tempat pertarungan di hari menjelang sore itu.
Kemudian dengan cepat Puguh melesat ke depan memapaki datangnya serangan Biyung Kencana. Hingga akhirnya dalam satu kali gebrakan saja, terjadi berkali kali benturan senjata.
Trang trang ! Trang trang !
Ttang ! Trang ! Trang !
Semakin lama, serangan Biyung Kencana semakin bertambah cepat dan bertambah kuat tenaga dalam yang dikeluarkan. Sehingga membuat serangannya semakin berbahaya. Apalagi ujung ujung belatinya selalu mengarah ke bagian bagian tubuh yang mematikan, membuat serangan serangannya sangat berbahaya.
Cara bertarungnya yang keji, sangat berbeda dengan tampilannya sehari hari yang penuh senyuman. Dengan pakaiannya yang terbuat dari kain sutera yang sangat mahal, ditambah dengan begitu banyaknya perhiasan yang dipakai, orang lain ataupun lawannya tidak akan mengira kalau Biyung Kencana bisa membunuh bahkan dengan tanpa berkedip.
Bersamaan dengan itu, begitu mendapat perintah dari Biyung Kencana, dua laki laki kekar segera menggerakkan kedua tangannya ke arah Rengganis. Tiba tiba dua buntalan besar berwarna hitam melesat dari punggung mereka ke arah Rengganis. Kemudian disusul tubuh kekar mereka melenting ke atas dan bersiap melakukan serangan kaki.
Swing ! Swing !
Melihat datangnya hantaman benda besar, Rengganis segera menghindar dengan melenting ke atas dengan cepat. Membuat dua buntalan besar berwarna hitam jatuh menghujam ke tanah menimbulkan suara berdebum dan debu yang berterbangan.
Dbuuummm ! Dbuuummm !
Hampir bersamaan dengan suara debuman di tanah, diudara juga terjadi benturan tendangan yang sangat keras.
Jdaaammm ! Jdaaammm !
Sesaat setelah suara benturan tendangan, tiga tubuh mendarat di tanah untuk kemudian kembali melesat untuk melakukan serangan.
Dua laki laki kekar yang menjadi lawan Rengganis itu, walau bertubuh besar dan membawa beban yang berat di punggungnya, tetapi tetap bisa bergerak dengan cepat dan sangat lincah. Ditambah dengan tenaga dalamnya yang sangat besar, membuat serangan serangannya sangat berbahaya.
__ADS_1
Karena itu, sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Rengganis mengeluarkan senjata pedangnya.
Sesaat kemudian terjadi pertarungan dengan gaya serangan yang sangat berbeda.
Tidak jauh dari dua pertarungan itu dan terjadi dalam waktu yang bersamaan, dua laki laki berbadan kekar yang lainnya, segera melesat ke arah pengemis. Tubuhnya yang tinggi besar bergerak lincah menghujani pengemis itu dengan tendangan tendangan cangkul dan sesekali dengan hempasan buntalan besar berwarna hitam.
Mendapatkan serangan bertubi tubi dari dua laki laki berbadan kekar dan bertenaga dalam tingkat tinggi, membuat pengemis itu harus terus berlompatan untuk menghindar. Benturan tendangan juga tejadi berkali kali, yang membuat tubuh mereka terlempar ke belakang.
Sementara itu, sambil bertarung, Puguh dan Rengganis sempat memperhatikan gerakan pengemis itu. Walau sudah menduga kalau pengemis itu memiliki kemampuan dan kekuatan yang tinggi dari getaran kekuatan yang mereka berdua tangkap, namun kesanggupan pengemis itu menghadapi dua laki laki kekar sekaligus, membuat mereka terkejut.
"Ternyata pengemis itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Pantas saja saat di depan rumah makan, menerima beberapa kali tendangan tidak mengalami luka sedikitpun !" kata Puguh dalam hati.
Dengan cepat, lebih dari lima puluh jurus mereka lalui. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi, beberapa kali pedang Rengganis mulai memberikan luka pada kedua lawannya.
Kedua laki laki berbadan kekar itu tidak menyangka, kalau perempuan muda yang menjadi lawan mereka, mempunyai kekuatan yang sangat tinggi, bahkan kecepatannya di atas mereka.
Hingga kemudian, memasuki jurus ke seratus, Rengganis mulai bisa mendesak kedua lawannya.
Luka luka karena tebasan pedang ataupun tendangan yang mereka terima, membuat gerakan mereka menjadi sedikit melambat.
Keadaan itu dimanfaatkan Rengganis dengan kembali menambah aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya.
Lalu, dengan kecepatan yang lebih lagi, yang tidak diduga oleh kedua laki laki berbadan kekar yang menjadi lawannya, Rengganis melenting ke atas ke arah mereka.
Sesaat kemudian, tendangan kaki kiri Rengganis, mendarat di kepala salah satu lawannya, yang membuat tubuh lawannya terlempar ke belakang dan kemudian terjatuh ke tanah dengan keadaan kepala pecah. Sepersekian detik kemudian, pedang di tangan kanan Rengganis berhasil menghujam ke dada lawan yang satunya.
Praaakkk !
Jleeebbb !
Akhirnya, kedua laki laki berbadan kekar itu tewas bahkan saat Rengganis belum mendarat kembali di tanah.
...__________ ◇ __________...
__ADS_1