Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Bertemu Kembali Dengan Rengganis


__ADS_3

Begitu diperbolehkan oleh kakeknya, Rengganis segera pergi ke arah yang tadi diambil oleh Puguh. Rengganis belum tahu jika arah yang dia ambil adalah arah menuju Kadipaten Langitan.


Begitu gembiranya Rengganis bisa melakukan pengembaraan dengan bebas, hingga dia terus saja berlari, walaupun tidak berlari cepat. Hingga akhirnya, pada sore hari,Rengganis sampai di gerbang menuju ke kota Kadipaten Langitan.


Di pos penjagaan pintu gerbang masuk itu, Rengganis tidak diperbolehkan masuk, karena tidak mau memberikan informasi tentang data dirinya secara jelas. Karena memang dia dipesan oleh kakeknya untuk tidak sekali kali memberitahukan orang lain, kalau dia murid dan sekaligus cucu dari Ki Bajraseta. Akhirnya terjadi keributan di pos penjagaan gerbang masuk ke kota Kadipaten Langitan.


Dalam keributan itu, dengan mudah, Rengganis menjatuhkan semua penjaga. Kemudian, dengan santainya Rengganis melenggang melangkah ke arah kota Kadipaten.


Namun, beberapa saat kemudian, Rengganis dikejutkan oleh suara yang menyuruhnya berhenti.


"Penyusup ! Berhenti ! Menyerahlah daripada engkau ditangkap hidup hidup !" teriak laki laki berpakaian prajurit yang sepertinya merupakan salah seorang pimpinan prajurit.


Ternyata, dalam keributan tadi ada seorang prajurit yang melapor ke pos penjagaan dalam, hingga kemudian segera mengirimkan bala bantuan.


Bukannya menuruti untuk menyerah, namun Rengganis justru merasa tersinggung dituduh sebagai penyusup.


Akhirnya kembali terjadi keributan antara Rengganis dengan sekelompok penjaga yang mengepungnya.


Namun, bagi Rengganis, menghadapi para prajurit itu bukanlah bukanlah pekerjaan yang susah. Sebentar saja, semua prajurit itu berjatuhan di tanah dengan luka luka benjol di kepala dan beberapa tubuhnya.


Rengganis kembali melangkah ke arah kota Kadipaten. Namun, baru beberapa langkah kembali terdengar suara yang menyuruhnya berhenti. Kali ini yang terdengar adalah suara perempuan.


"Berhenti ! Kalau kau bukan penyusup, menyerahlah untuk kami periksa !" kata seorang perempuan yang ternyata adalah Den Roro yang datang bersama dengan Senopati Nata.


Rengganis sedikit terkejut, saat mengetahui, yang berbicara tadi adalah gadis muda seperti dirinya, dan cantik parasnya.


"Senopati Nata, melihat pakaian serba putihnya, sepertinya dia perempuan yang datang hendak menyatroni gedung Kadipaten kemaren !" ucap Den Roro sambil bersiap dengan kuda kudanya.


"Sepertinya betul Den Roro. Ayo kita tangkap dan kita serahkan pada kanjeng Raden Tumenggung Suryo Langit !" jawab Senopati Nata.


"Kau pasti penyusup ! Menyerahlah, atau kau akan terluka !" kata Senopati Nata sambil mulai menyerang.


Melihat dirinya diserang, Rengganis pun tidak mau kalah dan balas menyerang. Akhirnya kembali terjadi pertarungan.


Walaupun dikeroyok dua, namun dengan tingkat ilmu silat dan tenaga dalamnya yang hampir menyamai kakeknya sekaligus gurunya, Rengganis tidak kesulitan menghadapi keduanya.

__ADS_1


Setelah pertarungan berjalan sekitar sepuluh jurus, Rengganis berhasil mendesak keduanya.


"Kalian menghambat perjalananku saja !" kata Rengganis sambil melayangkan pukulan ke arah Senopati Nata dan Den Roro yang tubuhnya mulai sempoyongan.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Rengganis terkejut saat tangkisan lawannya berhasil membuat dirinya tersurut mundur hingga tiga langkah.


Dan rasa terkejutnya itu bertambah tatkala Rengganis mengetahui siapa yang menangkis serangannya.


"Kakang Puguh ?" kata Rengganis setengah berteriak.


Yàng menangkis pukulan Rengganis adalah Puguh yang datang ke tempat pertarungan setelah mendapatkan berita dari prajurit akan datangnya penyusup yang berilmu tinggi. Karena penasaran dengan kabar tentang penyusup yang berilmu tinggi.


Puguh pun tidak kalah terkejut setelah mengetahui siapa yang datang.


"Adik Rengganis ?" ucap Puguh sambil mendekat, "Ada urusan apa adik Rengganis di tempat ini ?"


"Aku ingin seperti kakang Puguh. Mengembara mencari pengalaman," jawab Rengganis.


"Puguh, siapa perempuan ini ?" tanya Den Roro.


"E ... ehh dia temanku, Den Roro," jawab Puguh, "Dia bukan penyusup dan dia bukan anggota Perkumpulan Jaladara Langking. Karena dia pernah bertarung dengan salah seorang anggota Perkumpulan Jaladara Langking."


Kemudian Puguh menceritakan dengan singkat siapa dan bagaimana dia bisa kenal dengan Rengganis.


"Ayo kita masuk ke gedung Kadipaten, adik Rengganis," ajak Puguh sambil berjalan yang kemudian diikuti oleh Rengganis.


Dalam berjalan menuju ke gedung Kadipaten, Puguh menanyakan tujuan Rengganis datang ke kota Kadipaten. Oleh Rengganis dijawab jika dia ingin seperti Puguh, bisa mengembara ke berbagai tempat sekaligus mencari pengalaman.


Melihat dirinya ditinggal begitu saja, Den Roro hanya bisa menghentak hentakkan kakinya ke tanah untuk melampiaskan kejengkelannya.


Sesampainya di pendopo Kadipaten, kedatangan Rengganis sempat membuat suasana agak tegang, karena mereka mengira, Rengganis adalah salah satu anggota Perkumpulan Jaladara Langking yang beberapa hari lalu datang dan berusaha mengganggu ketenteraman kadipaten Langitan. Terlebih yang datang pada beberapa hari lalu juga anggota Perkumpulan Jaladara Langking yang masih muda muda. Namun setelah Puguh menjelaskan, hilanglah kecurigaan mereka terhadap Rengganis.


Puguh dan Rengganis pun menghabiskan malam dengan mengobrol banyak sekali sebelum akhirnya mereka beristirahat.

__ADS_1


----- * -----


Setelah beberapa hari Puguh berada di Kadipaten Langitan dan selama ini tidak pernah terjadi apa apa, Puguh merasa sudah waktunya dia pergi dari Kadipaten Langitan.


Puguh menemui Den Roro, Den Bagus serta Raden Raksanala bermaksud hendak berpamitan meninggalkan Kadipaten Langitan.


Dari semua orang, Den Roro lah orang yang paling terkejut dan paling tidak rela Puguh pergi meninggalkan Kadipaten Langitan. Sehingga Den Roro sempat berusaha mencegah Puguh pergi.


Namun Puguh memberikan alasannya. Dirinya tidak mungkin selalu berada di Kadipaten Langitan. Karena tugas dia adalah membantu gurunya untuk menyelidiki dan menemukan keberadaan Perkumpulan Jaladara Langking.


Karena selama beberapa hari ini Kadipaten Langitan cukup aman, maka Puguh berniat melanjutkan tugas yang diberikan oleh gurunya.


"Puguh, aku akan ikut denganmu, kemanapun kau pergi, aku akan menemanimu !" kata Den Roro.


"Itu tidak mungkin Den Roro. Karena Den Roro terikat oleh kedudukan Den Roro sebagai putri dari Ki Demang Pandan Ireng. Jadi Den Roro harus tetap di sini, menjaga Kademangan Pandan Ireng dan juga Kadipaten Langitan," jawab Puguh.


"Apakah kau akan segera kembali ke sini, Puguh ?" tanya Den Roro yang tetap tidak rela Puguh meninggalkannya.


"Saya tidak tahu Den Roro. Namun yang pasti, Puguh akan selalu berusaha mengikuti kabar tentang Kademangan Pandan Ireng dan Kadipaten Langitan," jawab Puguh lagi.


"Tapi kau bisa kan, pergi sendiri, tanpa mengajak perempuan ini ?" kata Den Roro sambil matanya melirik cepat ke arah Rengganis.


"Heeiii ! Engkau apanya kakang Puguh, Tuan Putri yang cantik ? Sehingga seolah berhak mengatur atur kakang Puguh ?" sahut Rengganis yang merasa tidak senang dengan sikap Den Roro.


"Aku ... aku adalah teman baiknya !" kata Den Roro dengan suara bergetar.


"Aku juga teman baiknya kakang Puguh !" sahut Rengganis tidak mau kalah.


Memang selama beberapa hari berada di gedung Kadipaten Langitan, Den Roro tidak pernah mengajaknya berbicara. Bahkan seperti sengaja membuat Puguh jauh darinya, dengan cara mengajak dan menyuruh Puguh untuk mengerjakan ini itu.


Sebaliknya, jika Puguh sedang bersama sama dengan Rengganis, Den Roro terang terangan menunjukkan rasa ketidak sukaannya.


Maka, saat Puguh menceritakan niatnya untuk pergi dari Kadipaten Langitan, serta merta Rengganis mendukungnya dan mengatakan kalau dia akan ikut Puguh mengembara.


Akhirnya, karena memang sudah tidak bisa dicegah lagi, Puguh dan Rengganis pergi dari Kadipaten Langitan, yang tanpa disadari Puguh, dia telah meninggalkan Den Roro dengan berbagai perasaan berkecamuk di hati dan pikirannya.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2