
Pangeran Indra Prana, Putri Cinde Puspita, Ki Dwijo, Resi Wismaya dan para pendekar lainnya sedang membahas tentang serangan gelap dari Pangeran Langit Barat dan para pembantunya.
Pangeran Indra Prana memutuskan untuk menambah kekuatan pada prajurit jaga, terutama yang bertugas jaga di malam hari.
Namun, walaupun seluruh sudut markas darurat telah dijaga dengan kekuatan yang melibatkan para pendekar yang memiliki kesaktian dan tenaga dalam yang tingkatnya sudah sangat tinggi, tetap saja masih terjadi serangan gelap di malam hari.
Hingga pada suatu hari, di tengah malam. Ki Dwijo dan Resi Wismaya yang ikut berjaga, berhasil menghadang Pangeran Langit Barat, yang akan menyerang ke arah tempat istirahatan para pendekar.
"Kebetulan ! Sepertinya inti tenaga dalam dua pendekar tua ini sudah lebih dari cukup untuk menyempurnakan ilmu yang dikembangkan oleh guru !" kata Pangeran Langit Barat dalam hati.
"Pangeran Langit Barat ! Kenapa engkau selalu melakukan kejahatan di negeri kami !" kata Resi Wismaya.
"Kembalilah kau ke negerimu, sebelum kami mengusirmu !" sambung Ki Dwijo.
"Haahhh ha ha ha ha ! Aku akan kembali ke negeriku, kalau aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan !" jawab Pangeran Langit Barat.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Pangeran Langit Barat langsung melesat melakukan serangan kilat ke arah Ki Dwijo dan Resi Wismaya.
Dengan sedikit melayang tubuhnya, Pangeran Langit Barat menggerakkan senjata pedang panjangnya untuk menebas secara mendatar.
Karena bilah pedangnya yang begitu panjang, hampir dua kali panjang pedang biasa, sehingga dalam sekali tebasan, langsung menyasar pada dua lawannya.
Mendapatkan tebasan mendatar yang sangat cepat, Ki Dwijo dan Resi Wismaya melenting ke atas untuk menghindar.
Melihat kedua lawannya melayang ke atas, Pangeran Langit Barat langsung melesat melayang ke atas, kemudian kembali menebaskan senjata pedangnya dengan gerakan yang lebih cepat lagi.
Sesaat kemudian, terdengar suara dentangan dua kali diikuti dengan menjauhnya tubuh Ki Dwijo dan Resi Wismaya.
Trang ! Trang !
Ki Dwijo dan Resi Wismaya yang telah mengeluarkan senjata tongkatnya untuk menangkis tebasan senjata pedang Pangeran Langit Barat diam diam terkejut, ketika tubuhnya terdorong mundur dan semakin ke atas.
__ADS_1
"Pangeran ini, tingkat tenaga dalamnya sangat sangat tinggi ! Hingga bisa membuat tubuh kami berdua terlempar ke belakang !" kata Ki Dwijo dalam hati.
Ketika Ki Dwijo dan Resi Wismaya baru saja berhenti bergerak mundur, Pangeran Langit Barat sudah menyusul melesat terbang. Senjata pedang panjangnya berkelebatan melakukan tebasan berkali kali ke arah tubuh Ki Dwijo dan Resi Wismaya.
Walaupun tertinggal dalam tingkat tenaga dalam, namun, dengan segudang pengalamannya dalam mengarungi dunia persilatan, membuat Ki Dwijo dan Resi Wismaya masih bisa bertahan, dengan menangkis ataupun menghindar.
Hingga lima puluh jurus berlalu, Pangeran Langit Barat belum bisa benar benar mendesak Ki Dwijo dan Resi Wismaya.
"Haahhh ha ha ha ha ! Jujur, aku sangat menghormati kalian berdua sebagai tokoh persilatan yang sudah matang dan tingkatan yang kalian capai. Tidak akan banyak tokoh persilatan yang mampu melawan kalian berdua. Namun, aku tidak punya waktu lama dan aku membutuhkan kekuatan kalian itu !" kata Pangeran Langit Barat sambil tertawa.
Kemudian, dengan menyilangkan pedang panjangnya di depan dada, bibir Pangeran Langit Barat bergerak gerak membaca mantera.
Sesaat kemudian, senjata pedangnya bergetar hebat bahkan mengeluarkan suara dengungan. Disusul kemudian terdengar suara ledakan saat senjata pedangnya berubah menjadi wujud naga putih yang sangat besar.
Blaaarrr !
"Siluman naga putih, tugasmu menyerap semua kekuatan mereka berdua !" teriak Pangeran Langit Barat sambil kedua tangan melakukan gerakan seperti mendorong.
Melihat perubahan wujud senjata pedang Pangeran Langit Barat, dengan cepat Ki Dwijo dan Resi Wismaya melesat saling mendekat.
Saat siluman naga putih sudah dekat, mereka berdua segera menggerakkan senjata tongkat mereka untuk menangkis dan balas menyerang.
Kembali terdengar suara mirip ledakan, saat tongkat Ki Dwijo dan Resi Wismaya berbenturan dengan wujud naga putih raksasa.
Jdaaarrr ! Jdaaarrr ! Jdaaarrr !
Pertarungan berlangsung dengan sangat cepat. Sampai dengan tiga puluh jurus, Pangeran Langit Barat hanya bisa sedikit mendesak Ki Dwijo dan Resi Wismaya.
"Kedua tokoh gaek ini, memang pantas menjadi salah satu tokoh yang paling digemari di negeri ini !" kata Pangeran Langit Barat dalam hati.
Kemudian, dengan menambah lagi tenaga dalamnya, serangan Pangeran Langit Barat semakin bertambah cepat dan kuat. Gerakan pedangnya hanya terlihat seperti kilatan petir.
__ADS_1
Serangkaian serangan yang sekarang lebih cepat dan lebih kuat lagi, membuat Ki Dwijo dan Resi Wismaya harus mengeluarkan tenaga dalamnya hingga puncaknya.
Tetapi kali ini, walaupun sudah memaksakan diri mengeluarkan seluruh kemampuan dan tenaga dalamnya, Ki Dwijo dan Resi Wismaya tetap terdesak hebat.
"Hhmmm ! Kekuatan Pangeran ini semakin menjauh dari jangkauan kami !" gumam Resi Wismaya sangat pelan dengan nafas yang mulai memburu.
Hingga pada suatu saat, dengan sedikit melenting ke atas, Pangeran Langit Barat menebaskan senjata pedang panjangnya dari atas ke bawah hendak membelah tubuh Resi Wismaya dari atas ke bawah. Sementara tepat di atas kepala Pangeran Langit Barat, terlihat wujud siluman naga putih yang juga meluncur ke arah Resi Wismaya dengan mulut yang terbuka lebar.
Melihat serangan yang sangat berbahaya itu, Ki Dwijo segera mendekat ke arah Resi Wismaya.
"Resi Wismaya ! Kita gabungkan kekuatan !" teriak Ki Dwijo.
Dengan sangat cepat, Ki Dwijo menempelkan tongkatnya pada tongkat Resi Wismaya yang sudah bergerak menangkis serangan Pangeran Langit Barat. Benturan dua kekuatan yang mengandung tenaga dalam yang sangat besar pun tidak terelakkan lagi.
Sesaat kemudian, terdengar suara ledakan yang sangat keras disertai luapan getaran kekuatan yang menyebar cepat ke segala arah.
Jdaaammm !
Tanah dan udara di sekitar pertarungan mereka, bergetar. Terlihat tubuh Ki Dwijo dan Resi Wismaya melayang ke belakang kemudian jatuh berdebum di tanah. Senjata tongkat mereka berdua terlepas dari pegangan tangan mereka dan terlempar di dekat mereka.
Sementara itu, tubuh Pangeran Langit Barat tersurut beberapa langkah. Tangan kanannya memegang gagang pedang yang bilahnya hanya tinggal sejengkal. Sementara patahan bilahnya terlempar entah kemana. Wujud siluman naga putih raksasa pun musnah.
Tubuh Pangeran Langit Barat terhenti dan kemudian diam saja. Pandangan mata Pangeran Langit Barat terlihat nanar, karena tidak percaya, senjata pedang panjang andalannya bisa patah oleh tangkisan kedua lawannya.
Tubuh Pangeran Langit Barat yang mematung, masih belum bergerak, ketika tiba tiba ada sesosok bayangan berkelebat dan menyambar tubuhnya dan membawanya melesat pergi dari tempat pertarungan.
"Maaf Pangeran ! Demi keselamatan Pangeran, kita pergi dulu dari tempat ini " kata sosok yang menyambar tubuh Pangeran Langit Barat.
Tepat saat bayangan tubuh yang menyambar tubuh Pangeran Langit Barat menghilang dari pandangan, Pangeran Indra Prana tiba di tempat pertarungan, bersama dengan Putri Cinde Puspita dan beberapa pendekar tingkat tinggi yang tadi berhasil mengepung dan mendesak Panglima Perang Jaladra dan dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat.
Melihat keadaan Ki Dwijo dan Resi Wismaya, Pangeran Indra Prana segera memerintahkan beberapa pendekar untuk membawa tubuh Ki Dwijo dan Resi Wismaya ke markas darurat mereka untuk memberikan pengobatan.
__ADS_1
---------- ◇ ----------