
Setelah Nyi Riwut Parijatha pergi, Puguh segera mengajak Roro Nastiti untuk memeriksa bangunan bangunan di perkampungan Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Namun, mereka berdua tidak menemukan seorangpun manusia anggota Trah Keluarga Asmara Dhatu.
"Semua tempat sudah kita periksa, tetapi keberadaan penghuni perkampungan ini belum kita ketahui keberadaannya. Bahkan kita belum sempat menanyakan pada para siluman manusia itu, dimana anggota Trah Keluarga Asmara Dhatu !" kata Puguh.
Saat hendak kembali ke halaman depan perkampungan, Puguh merasa seperti ada satu tempat yang belum mereka periksa.
Segera saja Puguh melesat ke atas bukit, diikuti oleh Roro Nastiti. Di puncak bukit yang cukup luas dan sejuk, yang ditumbuhi beberapa pepohonan yang sangat besar besar itu, terdapat dinding bangunan tanpa atap yang cukup besar.
Seperti ada yang menariknya, Puguh segera melangkah memasuki pintu bangunan itu. Sesampainya di dalam, Puguh dan Roro Nastiti melihat, ada satu makam yang cukup besar dan dikelilingi oleh beberapa makam yang lainnya. Di dalam ruangan yang dikelilingi tembok itu, tidak ada benda ataupun bangunan yang lain.
"Siapa yang dikubur di sini ?" tanya Puguh dalam hati.
Tiba tiba Puguh mendengar suara perempuan memanggil.
"Kakang !"
Karena khawatir terjadi apa apa pada Roro Nastiti, Puguh segera menoleh ke belakang.
Tetapi, dari samping Puguh agak ke belakang dan hanya berjarak sekitar dua depa, tiba tiba ada perempuan muda yang sangat cantik.
Saat melewati Puguh, perempuan muda cantik itu melirik ke arah Puguh sambil tersenyum, kemudian menatap ke depan lagi.
Puguh pun ikut melihat ke arah depan. Tetapi, Puguh kembali terkejut, ketika tiba tiba ada laki laki muda tampan berdiri agak jauh di depannya. Suasana di sekitar Puguh berdiri juga berubah, semuanya- menjadi berwarna putih.
Puguh melihat, perempuan muda yang sangat cantik itu kemudian melesat ke arah laki laki muda tampan itu.
Tiba tiba, dari pinggangnya melesat lima selendang dan dengan cepat menyerang laki laki muda tampan yang tidak menghindar, sehingga kelima ujung selendang itu tepat mengenai tubuh laki laki muda tampan itu.
Tak ! Tak ! Tak ! Tak ! Tak !
Terkena tusukan lima ujung selendang, laki laki muda tampan itu jatuh tersungkur, kemudian memuntahkan darah segar.
Bukannya membalas serangan, dalam keadaan duduk laki laki muda tampan itu justru tersenyum.
"Adik Asmara Dhatu, seranglah kakang sepuas hatimu," kata laki laki muda tampan sambil mengusap sisa darah di kedua ujung bibirnya dengan lengan baju kirinya.
Sementara itu, melihat hal itu, Puguh batu saja hendak melangkah mendekati untuk menolong laki laki muda tampan itu, ketika tiba tiba terdengar lagi suara perempuan di belakangnya.
__ADS_1
"Anak muda !"
Mendengar suara itu, dengan cepat Puguh menoleh ke belakang. Dilihatnya, Iswara Dhatu bersama Kartika Dhatu berdiri dalam jarak dua depa di depannya.
Kemudian, Puguh melihat lagi ke depan, untuk memastikan keadaan laki laki muda tampan yang terluka.
Namun, semua yang Puguh saksikan tadi, laki laki muda yang terluka, perempuan muda yang sangat cantik dan suasana sekitarnya yang serba putih, semuanya sudah tidak ada lagi. Yang Puguh lihat kembali adalah, beberapa makam di sekelilingnya, dengan satu makam besar di tengah tengahnya.
"Puguh, terimakasih telah bersedia mengunjungi makam leluhur kami, pendiri Trah Keluarga Asmara Dhatu !" kata Iswara Dhatu yang sudah melangkah ke arah Puguh.
"Sama sama, bibi !" jawab Puguh.
"Bibi, kalau aku boleh tahu, tadi siapakah pendekar laki laki yang terkena tusukan lima ujung selendang ?" tanya Puguh.
"Owwhhh ! Jadi kau sudah langsung 'ditemui' oleh mereka berdua ?" tanya Iswara Dhatu.
Kemudian, Iswara Dhatu bercerita. Mereka berdua, orang yang 'dilihat' oleh Puguh, adalah Asmara Dhatu yang begitu kecewa dengan Pendekar Penunggang Elang, yang ternyata harus menikah dengan Kahiyang Kawiswara, putri Kerajaan Banjaran Pura.
"Aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada leluhurmu, bibi !" kata Puguh menimpali cerita Iswara Dhatu.
"Puguh, bolehkah aku menanyakan suatu hal ?" tanya Iswara Dhatu dengan suara yang agak dipelankan.
"Kalau benar engkau 'ditemui' oleh leluhur Asmara Dhatu, apa yang beliau katakan padamu ?" tanya Iswara Dhatu.
Mendengar pertanyaan Iswara Dhatu itu, Puguh menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Beliau cuma tersenyum padaku, " jawab Puguh.
Mendengat jawaban Puguh itu, Iswara Dhatu menatap tajam Puguh.
"Puguh, aku berharap, kau berjodoh dengan cucuku, Kartika Dhatu !" kata Iswara Dhatu sangat pelan, namun cukup terdengar oleh Puguh.
Mendengar perkataan Iswara Dhatu itu, Puguh agak terkejut dan gugup, sehingga secara reflek, melihat ke arah Kartika Dhatu.
Saat menatap wajah Kartika Dhatu, barulah Puguh menyadarinya, kalau paras Kartika Dhatu sangat mirip dengan perempuan cantik yang 'menemuinya' tadi.
Melihat kegugupan Puguh, Iswara Dhatu segera menyambung ucapannya, "Ahh, benar juga, itu bisa kita bicarakan lain waktu !"
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Sampai dengan kemudian Kartika Dhatu melangkah maju mendekati Iswara Dhatu neneknya.
__ADS_1
"Puguh, kami mengucapkan terimakasih, karena kau telah membebaskan perkampungan Trah Keluarga Asmara Dhatu ini dari para siluman manusia itu !" kata Kartika Dhatu sambil menjura ke arah Puguh.
Kemudian, mereka berbincang dan saling menceritakan apa yang telah mereka alami di tempat itu.
Kartika Dhatu mengisahkan saat mereka mendapatkan serbuan dari para siluman manusia, hingga mereka harus lari menyelamatkan diri ke Gunung Pedang.
Sementara itu, Puguh menceritakan saat dia bersama dengan Roro Nastiti mendatangi perkampungan Trah Keluarga Asmara Dhatu dan mendapati banyak siluman manusia, bertempur hingga bertemu dengan Nyi Riwut Parijatha.
Puguh juga meminta dengan sangat, agar Iswara Dhatu dan Trah Keluarga Asmara Dhatu tidak mendendam pada Nyi Riwut Parijatha ataupun pada para siluman penghuni Rawa Jingga.
"Aku tahu, anak muda. Selama ini, Nyi Riwut Parijatha memiliki beban berat, menjaga dan mengendalikan para siluman penghuni Rawa Jingga !" jawab Nyi Riwut Parijatha.
Pada kesempatan itu, Puguh menceritakan tentang datangnya pasukan perang dari negeri seberang di pesisir, yang berjumlah sangat banyak.
Puguh juga menyampaikan permintaan bantuannya pada Iswara Dhatu, untuk membantu apabila pasukan perang itu benar benar menyerang, entah menyerang negeri manapun di Tanah Jawadwipa ini.
Iswara Dhatu menanggapi permintaan Puguh dengan mengatakan, akan menyiapkan dan mengirimkan kekuatan Trah Keluarga Asmara Dhatu dan akan dia pimpin sendiri beserta cucunya Kartika Dhatu.
Akhirnya, pada pagi berikutnya, Puguh dan Roro Nastiti berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka berdua meninggalkan rangkaian bukit bukit kecil yang menjadi wilayah kekuasaan Trah Keluarga Asmara Dhatu.
----- * -----
Disuatu perkampungan, di daerah yang sudah dekat dengan pesisir, terlihat empat orang berdiri tertegun di jalan masuk perkampungan.
Keempat orang itu, Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita, melihat, perkampungan yang mereka lewati itu, musnah hancur berantakan. Hampir seluruh bangunan di kampung itu roboh. Terlihat, banyak mayat bergelimpangan di berbagai tempat.
"Ulah siapa ini, yang begitu kejinya membantai dan menghancurkan sebuah kampung ?" gumam Resi Wismaya.
"Melihat dari tanda tanda yang ditinggalkan, sepertinya pelaku pengrusakan adalah rombongan orang atau pasukan yang sudah terlatih !" kata Ki Dwijo.
Dari tanda tanda pada korban tewas, terlihat kalau kejadian pembantaian di kampung itu belum lama. Kemungkinan baru setengah hari.
Oleh karena itu, Resi Wismaya dan Ki Dwijo mencoba melesat ke atas, terbang, untuk melihat ke daerah sekitar perkampungan itu.
Saat di angkasa, Ki Dwijo dan Resi Wismaya melihat, pergerakan kelompok pasukan yang cukup besar, berjalan menuju kotaraja Kerajaan Kisma Pura.
---------- ◇ ----------
__ADS_1