Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Gugurnya Dewi Laksita


__ADS_3

Putri Cinde Puspita segera melesat pergi ke arah Hutan Perbatasan, diikuti oleh sekitar tiga ratus prajurit yang berhasil selamat.


Sebenarnya Putri Cinde Puspita merasa sangat sedih harus meninggalkan kakaknya, negerinya dan semuanya saat semuanya sedang diancam bahaya. Namun karena dipesan dan dipaksa oleh kakaknya yaitu Prabu Pandu Kawiswara, harus ada yang selamat untuk kembali menggalang kekuatan untuk balik menyerang, terpaksa Putri Cinde Puspita bersedia pergi dan akhirnya bertemu dengan pasukan dari Kerajaan Kisma Pura.


Sementara itu, sepeninggal Putri Cinde Puspita, pertempuran terus berlangsung.


Setelah Panglima Perang Jaladra dibantu oleh satu wakil panglima perang, sedikit demi sedikit mereka berdua berhasil mendesak Prabu Pandu Kawiswara dan Dewi Laksita.


Pada pertarungan itu, demi untuk mempertahankan istana dan Kerajaan Banjaran Pura, Prabu Pandu Kawiswara bertarung dengan seluruh kekuatannya. Beberapa luka goresan dan tusukan tombak telah dideritanya.


Namun, walaupun telah dibantu oleh Dewi Laksita yang ilmu silat dan tenaga dalamnya masih diatas tingkatannya, akhirnya setelah menerima beberapa tusukan, satu tendangan terbang Panglima Perang Jaladra berhasil mengenai dadanya.


Duaaakkk !


Tubuh Prabu Pandu Kawiswara terlempar hingga beberapa depa dan jatuh bergulingan. Prabu Pandu Kawiswara berusaha bangkit lagi. Namun, baru berhasil merangkak, Prabu Pandu Kawiswara memuntahkan darah segar dan kemudian jatuh tertelungkup tidak sadarkan diri.


Melihat Prabu Pandu Kawiswara terjatuh dan tidak bangkit lagi, Dewi Laksita terkejut sekaligus bangkit kemarahannya.


Seketika, ledakan getaran kekuatan yang sangat besar, keluar dari tubuhnya, hingga mampu menggerakkan udara di sekitarnya. Ujung ujung rambut dan pakaiannya sedikit berkibar. Kedua senjata dwisulanya mengeluarkan suara mendengung seperti suara lebah, saat mendapatkan aliran tenaga dalam yang sangat besar.


"Kalian semua memang manusia manusia serakah !" teriak Dewi Laksita sambil melentingkan tubuhnya ke arah wakil panglima perang yang mencoba menyerangnya.


Kedua senjata dwisulanya mengeluarkan suara yang semakin keras, saat di gerakkan, berkelebat sangat cepat, menangkis senjata lawan sekaligus membalas mencecar dengan serangan serangan yang mematikan.


Trang ! Trang !


Twang ! Twang !


Dengan kekuatan dan kecepatan yang hampir mencapai puncak kemampuannya, dengan cepat Dewi Laksita bisa mendesak lawannya.


Suara dengungan kedua senjata dwisula yang menyerang pendengaran sehingga merusak konsentrasi lawannya, ditambah dengan tebasan ataupun tusukan senjata dwisula yang beberapa kali mulai mengenai tubuh lawannya, membuat hanya dengan beberapa jurus, jatuh terkapar dengan tubuh penuh luka tusukan dan bersimbah darah. Wakil panglima perang itu tewas seketika.


Melihat rekannya terjatuh, datang membantu satu wakil panglima perang lagi.


Namun, seperti kesetanan, Dewi Laksita segera melesat menghadang lawannya yang baru datang itu dengan serangkaian serangan yang sangat cepat dan kuat.

__ADS_1


Sama seperti wakil panglima perang yang pertama, wakil panglima perang yang datang membantu ini juga segera pontang panting kewalahan menerima serangan dari Dewi Laksita.


Dan setelah serangan beruntun yang tanpa jeda selama hampir sepuluh jurus, wakil panglima perang itu harus kehilangan nyawanya setelah tubuhnya menerima banyak luka tusukan ataupun pukulan dari senjata dwisula.


Melihat dua bawahannya gugur hanya dalam waktu yang tidak lama, Panglima Perang Jaladra segera menghadang pergerakan Dewi Laksita.


Senjata tombak yang dipegang dengan tangan kirinya, diputar dengan sangat kencang di atas kepalanya, hingga menimbulkan suara menderu yang mampu mengimbangi suara dengungan dari dua senjata dwisula milik Dewi Laksita.


Kemudian, dengan sedikit menotolkan ujung kaki kirinya, Panglima Perang Jaladra melenting dan melesat ke arah Dewi Laksita.


Sesaat kemudian, terdengar suara suara dentangan bertemunya senjata tombak dengan dua senjata dwisula.


Klang ! Klang ! Klang ! Klang !


Twang ! Twang ! Twang ! Twang !


Di sela sela berbenturannya senjata, Panglima Perang Jaladra menggunakan ujung lengan baju kanannya yang telah dialiri tenaga dalam tingkat sangat tinggi, hingga berkelebatan dengan sangat cepat untuk melakukan totokan totokan ataupun belitan.


Serangan ujung lengan baju ini ternyata cukup merepotkan Dewi Laksita, karena selalu mengarah ke pergelangan tangan Dewi Laksita yang memegang senjata dwisula.


Tanpa terasa, sudah lebih dari lima puluh jurus pertarungan mereka berlangsung. Tetapi, Panglima Perang Jaladra belum juga bisa menjatuhkan Dewi Laksita, walaupun sudah bisa mendesaknya dengan hebat.


Memasuki jurus ke enam puluh, tiba tiba gerakan Panglima Perang Jaladra melambat. Dewi Laksita yang melihat celah itu, segera memanfaatkannya dengan melakukan cecaran serangan.


Kedua senjata dwisula Dewi Laksita, bertubi tubi melakukan patukan ke beberapa bagian tubuh Panglima Perang Jaladra.


Namun, dengan pengalaman bertarungnya yang sudah banyak, Panglima Perang Jaladra tidak hanya menghindar dan berusaha membalas serangan.


Pada satu kesempatan, ujung tombak Panglima Perang Jaladra meluncur dengan cepat ke arah perut Dewi Laksita.


Dengan posisi tubuh yang sudah tidak bisa menghindar lagi, Dewi Laksita mencoba mengibaskan senjata dwisula di tangan kirinya untuk menangkis serangan senjata tombak. Terlihat, senjata tombak Panglima Perang Jaladra dengan mudahnya terlepas dari genggaman tangan kirinya.


Twang !


Sedangkan senjata dwisula di tangan kanannya meluncur deras ke arah dada Panglima Perang Jaladra yang terbuka.

__ADS_1


Dengan sangat cepat, senjata dwisula di tangan kanan Dewi Laksita menembus pakaian yang dikenakan Panglima Perang Jaladra.


Claaappp !


"Kena kau !" teriak Dewi Laksita dalam hati.


Hanya berselisih waktu satu kedipan mata, Dewi Laksita merasakan perih di dada kanannya ketika tiba tiba, tangan kiri Panglima Perang Jaladra yang sudah tidak memegang senjata tombak, melakukan totokan dengan seluruh jari dikerucutkan membentuk seperti paruh, dan mengenai dada kanannya.


Tuuukkk !


Disusul kemudian dengan sebuah tendangan kaki kanan Panglima Perang Jaladra yang mengandung tenaga dalam yang sangat besar dan tepat mengenai perutnya.


Buuuaaakkk !


Tubuh Dewi Laksita terlempar ke belakang, melayang kemudian jatuh bergulingan hingga cukup jauh dan berhenti dalam posisi tertelungkup.


Sesaat kemudian, Dewi Laksita berusaha bangkit lagi. Tetapi belum juga duduk, tiba tiba Dewi Laksita merasakan nafasnya sangat berat dan dadanya sangat sesak, lalu memuntahkan darah segar beberapa kali dan kemudian tubuhnya kembali jatuh tertelungkup.


Saat Panglima Perang menoleh sejenak ke sekeliling pertarungan, tiba tiba muncul sekelebat bayangan yang langsung menyambar tubuh Dewi Laksita dan dengan sangat cepat membawanya pergi menghilang dari tempat pertarungan itu.


Sementara di lain tempat, bersamaan dengan pertempuran yang lainnya, pertarungan Ki Bhanujiwo melawan Panglima Perang Hapsari berlangsung dengan sengit.


Ki Bhanujiwo yang tubuhnya terlihat lemah, ternyata mempunyai gerakan yang sangat cepat dan memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.


Patukan dan putaran senjata tongkatnya berkali kali mampu membuat ujung senjata cambuk Panglima Perang Hapsari terpental kembali ke belakang.


Dalam situasi darurat itu, Ki Bhanujiwo mengeluarkan ilmu yang sangat jarang dia gunakan untuk bertarung.


Sebuah ilmu silat yang dia ciptakan dengan berdasarkan gerakan seorang tabib yang sedang memanen dedaunan dan bunga, serta gerakan meracik obat.


Walaupun gerakannya terlihat sederhana, ternyata setiap gerakan jurusnya mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat besar.


Selain itu, rangkaian jurus jurusnya menggabungkan serangan jarak pendek dan jarak jauh.


Kombinasi serangan jarak jauh dan serangan jarak pendek itu berhasil menyulitkan Panglima Perang Hapsari yang hanya mengandalkan serangan jarak jauh.

__ADS_1


---------- ◇ ----------


__ADS_2