Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Memulai Rencana Penyerangan


__ADS_3

Di dalam bangunan yang cukup tersembunyi itu, Pangeran Kanaya Wijaya menyampaikan pada Puguh, kalau kekuatan dari sisa sisa pasukan Kerajaan Kaling Pura tinggal dirinya, ditemani oleh dua orang senopatinya dan akan dibantu oleh beberapa tokoh persilatan dari Padepokan Kuwanda Brastha. Sedangkan pasukan perangnya baru terkumpul lagi sebanyak lima ratus prajurit.


Setelah mendengar penuturan dari Pangeran Kanaya Wijaya itu, Roro Nastiti memberikan pendapatnya .


"Pangeran, dengan jumlah pasukan perang kita yang ada sekarang ini, sebaiknya kita tidak mengadakan perang secara terbuka dulu. Akan lebih baik jika kita berusaha mengurangi jumlah pasukan musuh dahulu. Setelah kita perkirakan kekuatan kita bisa mengimbangi, barulah kita menyerang secara terbuka !" kata Roro Nastiti.


Mendengar pendapat Roro Nastiti, Pangeran Kanaya Wijaya terlihat mengangguk anggukkan kepalanya.


"Saya kira memang itu cara yang harus kita lakukan, Pangeran !" kata Puguh.


"Untuk sementara, kekuatan para prajurit, kita sembunyikan dahulu. Kita pilih beberapa pendekar untuk memancing keluar pasukan perang lawan, untuk kemudian kita habisi sebanyak mungkin !" sambung Puguh.


Akhirnya, semua sepakat untuk membentuk kelompok kecil yang terdiri dari para pendekar. Kelompok kecil itu akan mulai bergerak mulai nanti malam juga. Ikut serta juga Pangeran Kanaya Wijaya dan dua orang senopatinya.


----- * -----


Begitu memasuki petang hari, Pangeran Kanaya Wijaya dan dua senopatinya terlihat berjalan pelan menuju pintu gerbang Istana Kerajaan Kaling Pura.


Mereka bertiga memang sengaja menampakkan diri dengan memakai pakaian yang menunjukkan kalau dirinya adalah seorang Pangeran dan Senopati Kerajaan Kaling Pura.


Melihat mereka bertiga, para prajurit jaga pasukan perang Kerajaan Menara Langit segera mengepung mereka bertiga.


"Mereka anggota Kerajaan Kaling Pura yang melarikan diri ! Tangkap mereka !" teriak komandan prajurit jaga sambil berlari kemudian menghadang jalan Pangeran Kanaya Wijaya dan dua orang senopatinya.


Melihat komandan prajurit jaga itu mendekat, Pangeran Kanaya Wijaya lari ke arah keluar pintu gerbang, yang segera dikejar oleh komandan prajurit dan beberapa prajurit jaga.


"Jangan lari kalian !" teriak komandan prajurit jaga sambil terus berlari mengejar Pangeran Kanaya Wijaya.

__ADS_1


Pangeran Kanaya Wijaya sengaja lari semakin menjauh dari kejaran para pasukan prajurit jaga, agar dikejar dikejar hingga agak jauh dari pintu gerbang Istana Kerajaan Kaling Pura.


Tanpa disadari oleh komandan prajurit dan juga para prajurit jaga yang ikut mengejar, di belakang mereka, ikut berlari dua orang pendekar berpakaian pengemis.


Saat tiba di tempat yang cukup jauh dari pintu gerbang istana, Pangeran Kanaya Wijaya dan dua orang senopatinya tiba tiba berhenti berlari dan membalikkan badannya.


Kemudian, tanpa memberikan penjelasan, Pangeran Kanaya Wijaya diikuti oleh dua orang senopati, langsung menyerang komandan prajurit dan prajurit jaga yang mengejarnya.


Tidak memerlukan waktu yang lama, setelah bertarung sekitar dua puluh lima jurus, komandan prajurit yang kesaktiannya berada pada tingkat tinggi, dan para prajurit yang mengikutinya, berhasil ditewaskan.


Setelah semua yang mengejarnya tewas, dua orang panglima perang yang tadi mengikuti Pangeran Kanaya Wijaya, diikuti oleh dua orang pendekar berpakaian pengemis, segera kembali ke pos jaga di samping pintu gerbang istana, kemudian membantai para prajurit jaga dan hanya menyisakan satu prajurit yang memang dibiarkan lari ke arah istana, agar memberikan laporan adanya penyerangan.


Penyerangan pos jaga pintu gerbang Istana Kerajaan Kaling Pura dan pembunuhan para prajurit jaga itu terjadi selama tiga hari berturut turut.


Hingga akhirnya, pada hari keempat, sejak pagi hari, pemimpin tertinggi pasukan perang yang menduduki Istana Kerajaan Kaling Pura, Panglima Perang Jaladri, memerintahkan dua panglima perang bawahannya yang ilmu silatnya sudah mencapai tingkat sangat tinggi serta sepuluh orang komandan prajurit yang ilmu silatnya sudah berada pada tingkat tinggi, untuk menyiapkan sekitar dua ratus orang prajurit di dekat pintu gerbang istana.


Hingga pada pagi hari menjelang siang, di bangunan yang cukup tersembunyi, tempat mereka semua biasa melakukan pertemuan, Puguh, Pangeran Kanaya Wijaya dan yang lainnya segera membahas hal tersebut.


"Pangeran Kanaya Wijaya, ini waktunya untuk melakukan serangan seperti kemaren kemaren. Namun kita lakukan pada siang hari dan dengan menambah jumlah pasukan penyerang. Kita pilih pendekar pendekar yang memiliki ilmu berlari cepat tingkat tinggi. Kita pancing keluar pasukan perang itu, kita jebak di jalan yang menuju ke arah sungai. Tempat itu sudah aku pelajari bersama dengan temanku Roro Nastiti dan tempat itu sangat bagus digunakan untuk menjebak pasukan perang dengan jumlah sekitar dua hingga lima ratus orang prajurit !" kata Puguh memberikan saran.


"Baiklah Pendekar Puguh ! Aku sendiri dan dua orang panglima perangku serta beberapa orang pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha, yang akan melakukan penyerangan. Sedangkan persiapan di tempat untuk menjebak, aku serahkan kepadamu !" jawab Pangeran Kanaya Wijaya.


"Aku harap Pangeran dan semuanya sangat berhati hati. Hindari meladeni pertarungan dengan mereka. Segera saja berlari ke arah sungai, begitu mereka melihat pergerakan Pangeran dan yang lainnya !" kata Puguh lagi.


Kemudian, setelah memilih beberapa pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha, Pangeran Kanaya Wijaya dan sekelompok kecil pendekar pendekar yang dipilih, segera melesat meninggalkan bangunan tempat mereka biasa melakukan pertemuan. Sedangkan Puguh, Roro Nastiti dan cukup banyak pendekar berpakaian pengemis, segera pergi menuju ke tepi sungai, tempat yang mereka rencanakan untuk melakukan jebakan dan penyergapan.


Di tempat yang cukup dekat dengan aliran sungai yang cukup lebar, Roro Nastiti mengatur segala persiapan untuk melakukan penyergapan.

__ADS_1


Walaupun baru sebentar menjadi senopati Kerajaan Banjaran Pura, tetapi cukup banyak strategi peperangan dan penyerangan serta pertahanan yang Roro Nastiti pelajari.


----- * -----


Bersamaan dengan itu, pada siang harinya, sekelompok kecil pendekar yang dipimpin langsung oleh Pangeran Kanaya Wijaya, segera tiba di depan pintu gerbang Istana Kerajaan Kaling Pura.


Di depan pintu gerbang Istana Kerajaan Kaling Pura, Pangeran Kanaya Wijaya dan kelompoknya sengaja membuat kerusuhan.


Apa yang dilakukan oleh Pangeran Kanaya Wijaya dan kelompoknya segera saja menarik perhatian baik pasukan penjaga pintu gerbang ataupun pasukan perang yang sudah disiapkan sejak tadi pagi.


Dari arah pasukan perang yang memang sudah disiapkan sejak tadi pagi, tiba tiba melesat dengan sangat cepat, seorang panglima perang yang dari tubuhnya keluar getaran kekuatan yang sangat tinggi, diikuti oleh dua orang panglima perang yang ilmu silatnya sudah pada tingkat tinggi.


"Pengacau pengacau sialan ! Menyerahlah untuk kami tangkap ! Atau kubunuh kalian semua kalau melawan !" teriak panglima perang itu.


Melihat dan merasakan getaran kekuatan panglima perang yang baru datang, Panglima Kanaya Wijaya dan kelompoknya segera membentuk formasi bertahan yang disiapkan untuk melarikan diri.


"Lindungi Pangeran ! Bersiap untuk mundur !" teriak salah satu Senopati yang selalu mendampingi Pangeran Kanaya Wijaya.


Sementara itu, melihat orang orang yang dianggapnya sebagai pengacau terlihat hendak lari, segera melesat mendekat dan melepaskan serangan.


"Jangan pernah berpikir bisa lari dariku !" teriak panglima perang itu sambil mengarahkan serangannya pada Pangeran Kanaya Wijaya.


"Senopati ! Cepat bawa pergi Pangeran ! Kami akan menghadang mereka semampu kami !" teriak salah seorang pendekar berpakaian pengemis, sambil melenting mendekat dan menangkis serangan panglima perang itu.


Plak ! Plak ! Plak !


Jdammm ! Jdammm !

__ADS_1


---------- ◇ ----------


__ADS_2