
Puguh membalikkan badannya.
"Terimakasih Den Roro. Tapi sebenarnya tidak harus begitu. Puguh tidak layak untuk tetap tinggal di rumah Kademangan ini," jawab Puguh.
"Entah kapan, suatu saat kuharap kamu bersedia menempatinya, Puguh," kata Den Roro lagi.
Untuk menutupi perasaan kangen pada simboknya, Puguh agak bergeser, berjalan menjauhi kamar di deretan dapur itu. Akhirnya, tanpa mereka sadari, mereka berdua berjalan bersama mengelilingi rumah Kademangan dan sekitarnya.
Hingga pada waktu menjelang siang, Puguh dipanggil untuk menghadap Ki Demang Pandan Ireng. Ki Pandan Ireng juga memberitahukan pada Puguh, bahwa saat akan diambil untuk dirawat sebagaimana mestinya, jasad atau tubuh Ki Kapiraga tidak diketemukan. Maka Ki Demang Pandan Ireng tidak bisa memastikan, Ki Kapiraga sudah tewas atau masih hidup.
Ki Demang Pandan Ireng juga menyatakan, kalau dirinya dan keluarganya sudah siap untuk menghadapi resiko apapun dengan adanya kejadian kemaren.
Pada kesempatan menghadap Ki Demang Pandan Ireng itu, Puguh pun menyatakan kesanggupannya untuk menunggu dan menghadapi orang dari Perkumpulan Jaladara Langking. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, Puguh akan menyelesaikan urusan dengan Perkumpulan Jaladara Langking, khususnya yang berhubungan dengan keadaan di lingkungan Kademangan Pandan Ireng.
-----*-----
Sudah dua hari Puguh tinggal di dalam rumah Kademangan. Tetapi belum ada satupun kejadian ataupun datangnya anggota Perkumpulan Jaladara Langking.
Selama dua hari itu, Den Roro selalu menemani Puguh. Sementara Den Bagus hanya sesekali menghampiri Puguh.
Den Bagus yang sudah terlihat dewasa, walaupun usianya baru sekitar hampir delapan belas tahun, lebih memilih menghabiskan waktunya bersama para prajurit Kademangan.
Pada siang harinya, mereka kedatangan sepuluh orang pendekar yang berpakaian serba hitam dengan lambang gambar awan di dada kirinya. Mereka adalah para pendekar dari Perkumpulan Jaladara Langking.
Di belakang mereka, berjalan dengan santai seorang kakek tua berpakaian serba hitam juga. Dialah Ki Jampiraga, kakak seperguruan dari Ki Kapiraga.
Segera saja kedatangan mereka disambut oleh para prajurit yang dipimpin oleh para senopati dan ditemani oleh Den Bagus dan Ki Demang Pandan Ireng sendiri.
"Ki Demang ! Karena Kademangan ini sudah berani melawan Perkumpulan, maka bersiaplah untuk menerima hukuman !" kata salah seorang pendekar yang menjadi pimpinannya.
"Aku Demang di sini ! Aku sudah siap dengan semua resiko yang akan aku terima !" jawab Ki Demang Pandan Ireng.
"Bagus, aku juga tidak terlalu bisa berbasa basi !" sahut pemimpin pendekar itu.
Kemudian pemimpin pendekar itu menoleh ke sembilan temannya.
"Teman teman, hancurkan Kademangan ini !" teriak pemimpin prajurit itu.
Akhirnya, tanpa bisa dicegah lagi, pertempuran pun terjadi.
__ADS_1
Ki Demang Pandan Ireng yang dibantu oleh Den Bagus, Den Roro dan dua orang senopati, serta dengan menangnya jumlah prajurit, mampu mengimbangi kemampuan ke sepuluh pendekar Perkumpulan Jaladara Langking.
Pertempuran sudah berlangsung hampir satu jam. Kedua belah pihak yang bertempur, beberapa sudah mulai mendapatkan luka. Namun pertempuran belum memperlihatkan pihak mana yang unggul.
Puguh yang juga sudah berada di tempat pertempuran, masih mengamati keadaan sekitarnya. Dikhawatirkannya bila ada tokoh lain yang masih belum menampakkan diri, selain tokoh yang berdiri di seberang tempat Puguh berdiri.
Tiba tiba terdengar teriakan dari Den Roro.
"Puguh ! Apa yang kau tunggu ? Kapan kau akan ikut bertempur ?!" teriak Den Roro.
Puguh sedikit tersenyum, mendengar teriakàn Den Roro. Karena pandangannya dia fokuskan melihat setiap gerakan Ki Jampiraga.
Sementara itu, Ki Jampiraga sedikit heran dengan semua yang terjadi. Terlihat keadaannya tidak sama dengan laporan yang dia terima. Dalam laporan itu, dikatakan ada pendekar muda yang sangat tinggi ilmunya. Namun, Ki Jampiraga melihat, di pihak lawan, yang ikut bertempur, kemampuannya hanya setingkat dengan para pendekar yang dikirim oleh Perkumpulan Jaladara Langking.
Melihat pertempuran sudah berlangsung lebih dari satu jam, namun para pendekar belum bisa menguasai keadaan, KiJampiraga merasa tidak sabar dan mulai meloloskan senjatanya, yaitu seutas rantai sebesar lengan yang panjangnya sekitar lima meter dengan ujung berbandul lempengan setengah lingkaran dengan sisi lengkung yang sangat tajam.
"Heh he he he ...... Kalian membuatku tidak sabar. Biar aku percepat jalannya pertempuran ini !" teriak Ki Jampiraga diiringi suara tawanya yang cempreng.
Dengan tangan kiri memegang ujung rantai yang satunya, tangan kanan Ki Jampiraga mulai memutar mutar rantainya hingga menimbulkan suara yang menderu.
Walaupun itu bukan serangan yang menggunakan jurus, namun Ki Jampiraga berencana, dengan sekali sapokan rantainya, akan membuat semua lawannya terluka parah bahkan tewas terkena sabetan bandul di ujung rantai yang setajam golok. Atau paling tidak mereka akan tumbang berjatuhan sehingga nantinya para pendekar dari Perkumpulan Jaladara Langking akan mudah menyelesaikan lawannya.
Setelah putaran rantai sudah sangat kencang dan suara menderu yang ditimbulkan sudah memekakkan telinga, dengan terkekeh Ki Jampiraga melepaskan serangan ke arah otang orang dari Kademangan Pandan Ireng.
Dalam keadaan berputar kencang, rantai itu melesat dengan sangat cepat ke arah orang orang Kademangan Pandan Ireng.
Wuuussshhh !!!
Namun, rantai yang melesat itu baru sampai setengah jarak, Puguh yang memperhatikan semua gerak gerik Ki Jampiraga segera menghadang laju rantai yang berputar itu.
"Kakek tua ! Biar kucoba kerasnya rantaiamu !" sahut Puguh yang melesat ke arah datangnya luncuran rantai.
Dengan menggunakan ilmu pukulan tangan kosong 'Bantala Wreksa', yang diajarkan oleh Ki Dwijo gurunya, Puguh bisa mengimbangi kecepatan gerakan berputar rantai Ki Jampiraga.
Hingga kemudian, dengan kecepatan pukulannya, kepalan tangan kanan Puguh menghantam lempengan setengah lingkaran di ujung rantai.
Praaakkk !!!
Ujung rantai yang berputar itu langsung berbalik arah kembali meluncur ke arah Ki Jampiraga dengan kecepatan luncuran yang lebih cepat.
__ADS_1
Melihat ujung rantai melesat ke arahnya sendiri, Ki Jampiraga segera meloncat untuk menghindari serbuan ujung rantainya.
Begitu kedua kakinya mendarat lagi di tanah, rantainya ditarik lagi sehingga kembali meluncur ke depan. Namun kali ini, ujung rantai itu melesat ke arah Puguh.
Sambil menghindari datangnya ujung rantai yang melesat ke arahnya, Puguh kembali mengamati arah gerak lempengan di ujung rantai.
Dan kembali dengan ilmu tangan kosong 'Bantala Wreksa' kepalan tangan Puguh menghantam lempengan setengah lingkaran yang mengarah ke lehernya.
Praaakkk !!!
Kali ini pukulan Puguh membuat lempengan di ujung rantai itu terhujam ke tanah.
Jleeebbb !
"Kurang ajar ! Rasakaan ini !" teriak Ki Jampiraga.
Kemudian, dengan gerakan yang lebih cepat lagi, Ki Jampiraga mencoba mengurung Puguh dengan serangan senjata rantai.
Di tangan Ki Jampiraga, rantai besar yang sangat berat itu seperti bernyawa, kedua ujungnya bisa bergerak serentak, meliuk liuk mengarah ke bagian bagian tubuh Puguh, ke manapun Puguh bergerak.
"Pantas saja, Kademangan Pandan Ireng tidak berani melawan. Tokoh dengan tingkat setinggi ini bisa menghancurkan satu Kademangan sendirian" kata Puguh dalam hati.
Kemudian, melihat serangan yang sangat hebat dan berbahaya itu, Puguh meningkatkan aliran tenaga dalamnya dan juga kecepatannya.
Pada suatu kesempatan, kepalan tangan kanan Puguh kembali menghantam bandul lempengan di ujung rantai.
Braaakkk !!!
Namun tiba tiba, ujung rantai yang satunya lagi berhasil membelit pergelangan tangan kanannya.
Sreeettt !!!
Sesaat kemudian, disusul lagi, lempengan di ujung rantai yang satunya.
Karena posisi berdiri mereka yang cukup dekat, dengan kecepatan pukulan tangan yang melampaui gurunya, Puguh mendahului menyarangkan serangan dengan kedua tangannya ke arah dada Ki Jampiraga.
__________ ◇ __________
Para pembaca yang berbahagia, karena banyaknya kegiatan menyambut peringatan kemerdekaan di kampung dan juga di organisasi pada bulan Agustus ini, maka membuat waktu update chapter menjadi tidak menentu.
__ADS_1
Namun author tetap berusaha untuk tetap bisa update chapter.
Author ucapkan banyak terimakasih atas kesabaran pembaca semuanya, menunggu lanjutan cerita ini.