
"Rengganis, apakah kamu mau mengikat siluman dengan darahmu, sehingga bisa meningkatkan lagi kekuatanmu ?" tanya Resi Wismaya.
"Rengganis sebenarnya hanya ingin binatang raksasa yang sangat kuat yang bisa untuk tunggangan Rengganis," jawab Rengganis dengan tersipu.
"Heehhh he he he he ! Kalau kau mengikat siluman dengan darahmu, itu akan lebih dari sekedar binatang tunggangan. Kekuatan siluman itu bisa menambah kekuatanmu, bisa ikut bertarung, bisa kau jadikan tunggangan laiknya terbang. Ingat, semua siluman mempunyai kemampuan untuk melayang, dan juga bisa untuk jembatan masuk ke duni lain !" Resi Wismaya menjelaskan.
"Apakah aku mampu, Guru ?" tanya Rengganis.
"Sekarang, siluman serigala mata biru berada dimana ?" Resi Wismaya balik bertanya.
""Sepertinya berada di selendang yang aku bawa, Guru !" jawab Rengganis.
"Heehhh he he he he ! Itu artinya kamu mampu untuk mengikat siluman serigala mata biru !" sahut Resi Wismaya sambil sekilas menatap ke selendang Rengganis.
"Anak gadis ini masih saja memiliki kejutan kejutan, seperti halnya Puguh. Gadis ini memiliki selendang yang tidak biasa !" kata Resi Wismaya dalam hati.
Sementara itu, Dewi Laksita diam diam terkejut hingga matanya melotot, saat melihat selendang yang melingkar di pinggang Rengganis.
"Selendang itu memiliki getaran kekuatan yang sangat kuat dan unik. Getaran yang sama dengan selendang milikku ! Gadis ini memiliki sekaligus empat selendang. Sedangkan aku berhasil memiliki satu saja dengan sangat susah payah !" kata Dewi Laksita dalam hati.
"Rengganis, kamu tentunya sudah hafal mantera mantera yang kemaren aku ajarkan. Sekarang tinggal, melakukan ikatan dengan darahmu !" kata Resi Wismaya.
Kemudian, dengan dibimbing oleh Resi Wismaya dan didampingi oleh Ki Dwijo dan Dewi Laksita, Rengganis melakukan ikatan darah dengan siluman serigala mata biru, setelah sebelumnya, serigala mata biru itu ditanya kesediaannya membuat ikatan dengan manusia.
Siluman serigala mata biru bersedia diikat dengan penyatuan darah oleh Rengganis, karena dia merasakan, kekuatan dan kemampuan Rengganis yang sangat tinggi, hampir setinggi kekuatan Puguh.
Rengganis meneteskan sedikit darahnya pada selendang tempat Siluman serigala mata biru berada.
Kemudian, dengan kekuatan tenaga dalamnya, Rengganis mengalirkan darah itu, hingga mencapai jantung siluman serigala mata biru.
Begitu darah Rengganis mencapai jantung dan menyebar di tubuh Siluman serigala mata biru, siluman serigala mata biru itu seolah menjadi bayangannya dan bisa ditarik ke bagian tubuh Rengganis yang manapun, bahkan bisa berada cukup jauh dari Rengganis dan tetap dalam pengendalian Rengganis.
----- * -----
Sementara itu dalam waktu yang bersamaan, di tempat yang sangat berbeda. Puguh berada di suatu tempat yang sangat luas yang seperti tidak ada batasnya. Tempat terbuka yang seluruhnya hanya menampakkan pendaran warna hijau terang.
Cukup jauh dari tempat Puguh berdiri, ada satu titik berwarna hijau yang jika diperhatikan dengan seksama, terlihat semakin besar.
"Sepertinya ada sesuatu yang bergerak dari jauh menuju ke sini !" gumam Puguh.
Baru saja mulut Puguh berhenti bergerak, tiba tiba sesuatu yang sangat besar sudah berada sangat dekat dengan tempat Puguh berdiri.
"Siluman elang ! Ternyata tubuhnya sangat besar dengan getaran kekuatan yang sangat tinggi !" kata Puguh dalam hati.
"Siluman elang ! Kenapa kau membawaku ke sini ? Dan tempat apa ini ?" tanya Puguh pada siluman elang yang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Kkrrraaakkk ! Anak manusia ! Justru kau yang membawaku kesini ! Siapa kau dan kenapa kau memiliki getaran kekuatan yang sudah sangat lama tidak aku temui !" kata siluman elang kemudian ganti bertanya.
"Namaku Puguh, aku ingin, kau kembali menyatu dengan senjata ini !" jawab Puguh sambil mencabut pedangnya.
Melihat pedang itu, tubuh siluman elang itu bergetar dengan keras, karena dia tahu persis, pedang itu adalah bagian dari tubuhnya tempat dia menitipkan jiwanya sampai dengan dia berubah menjadi siluman.
"Anak manusia ! Sebesar apa kekuatanmu ! Apakah kau mampu menahannya ? Karena aku tidak sekedar menyatu dengan senjata itu, tetapi aku juga menyatu dengan darahmu !" tanya siluman elang itu.
"Aku berharap, aku mampu menahannya !" jawab Puguh lagi.
"Sekarang, letakkan pedang itu !" sahut siluman elang.
Puguh sebenarnya masih ragu dengan perkataan siluman elang itu. Tetapi setelah siluman elang itu mengulanginya, dengan perlahan, Puguh meletakkan senjata pedang itu di depan kakinya.
Baru saja Puguh meletakkan senjata pedang, sebuah kekuatan yang sangat besar menerjang tubuhnya.
Blaaammm !
Tubuh Puguh terlempar dan jatuh bergulingan dan kemudian berhenti dalam posisi terduduk. Anehnya, Puguh tidak merasakan apa apa pada tubuhnya.
Segera Puguh bangkit berdiri sambil mengalirkan tenaga dalam hingga jumlah yang sangat besar ke dalam tubuhnya, karena Puguh tahu, siluman elang itu sedang mengujinya.
Baru saja Puguh menegakkan tubuhnya, datang lagi kekuatan yang bersifat sangat menekan itu menghantam tubuhnya.
Sambil mengangkat kedua lengannya, Puguh berusaha menahan hantaman yang mengarah ke tubuhnya.
Dalam benturan kali ini, tubuh Puguh tidak terjatuh, namun terdorong ke belakang dua langkah, dengan posisi kaki yang tidak berubah.
Melihat anak manusia di depannya itu terdorong mundur dua langkah, siluman elang itu, terbang sedikit ke belakang. Kemudian, dengan mengeluarkan pekikan sangat keras, siluman elang itu melesat ke arah Puguh dengan kekuatan penuh.
Kkrrraaakkk !
Sesaat kemudian, kekuatan yang sangat besar menghantam ke arah Puguh.
Puguh yang tidak ingin lagi terdorong mundur, mengalirkan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk melawan kekuatan yang datang menerjangnya.
Hingga sesaat kemudian terjadi lagi benturan kekuatan yang sangat dahsyat.
Dbaaannnggg !
Sesaat setelah benturan kekuatan itu, wujud siluman elang hancur menjadi titik titik sinar hijau yang jumlahnya ribuan mungkin jutaan butir.
Titik titik sinar hijau itu, bergulung gulung bergerak memutari tubuh Puguh, seperti diaduk dan dicampur sengan sesuatu yang membuat titik titik sinar hijau itu tidak bisa lepas lagi.
Sementara itu, setelah benturan hebat terjadi, tubuh Puguh langsung jatuh terduduk bersimpuh.
__ADS_1
Sesaat kemudian, titik titik sinar hijau yang bergulung gulung mengitari tubuh Puguh, kembali menjauh menyebar ke segala arah dan kemudian masuk ke seluruh bagian tubuh Puguh.
Begitu banyaknya jumlah titik titik sinar hijau, hingga memakan waktu cukup lama hingga semuanya masuk ke dalam tubuh Puguh.
Tidak selesai sampai disitu, setelah titik titik sinar hijau itu seluruhnya masuk ke tubuh Puguh, pendaran warna hijau terang yang memenuhi tempat yang seperti tidak ada batasnya itu, juga meresap masuk ke dalam tubuh Puguh.
Entah sudah berapa lama waktu berjalan hingga pendaran sinar hijau terang itu masuk ke dalam tubuh Puguh seluruhnya.
Saat semuanya selesai, tubuh Puguh masih duduk bersimpuh terdiam di tempat yang sekarang berwarna putih seluruhnya. Hanya gerakan dada Puguh yang naik dan turun beraturan, yang menandakan Puguh masih hidup.
Tiba tiba terdengar suara perempuan yang sangat dikenalnya.
"Puguh,"
Masih dalam posisi duduk bersimpuh, Puguh mengangkat kepalanya yang tertunduk.
Tepat di depannya, Puguh melihat seorang perempuan muda yang sangat cantik dengan kulit yang putih bersih. Perempuan itu terlihat sangat anggun dengan pakaian putri kerajaan lengkap dengan mahkota penghias kepalanya.
"Putri Cinde Puspita ?" ucap Puguh pelan.
Perempuan cantik itu tersenyum ramah dan tiba tiba sudah berdiri sangat dekat dengan Puguh.
Puguh yang merasakan seluruh tubuhnya sangat lemah, berusaha menggapai tubuh Putri Cinde Puspita.
"Tolong bantu aku berdiri !" ucap Puguh lemah sambil tangan kanannya mencoba meraih tangan Putri Cinde Puspita.
Tetapi, begitu tangan mereka bersentuhan, tubuh Putri Cinde Puspita hancur berkeping keping menjadi butiran butiran sinar putih yang masuk ke dalam dada Puguh.
Begitu butiran sinar putih itu habis seluruhnya, kepala Puguh kembali tertunduk dan terdiam sampai beberapa waktu.
Hingga kemudian terdengar lagi suara perempuan yang memanggil namanya.
"Pu ... Guh ?"
Mendengar suara yang memanggil namanya, Puguh kembali mengangkat kepalanya.
Nampak depan Puguh, berdiri perempuan cantik dengan tatapan mata yang tegas. Dalam balutan pakaian khas prajurit kerajaan, membuat perempuan itu terlihat sangat berwibawa.
"Roro ?" tanya Puguh.
"Ternyata kau tidak lupa padaku, Puguh !" jawab perempuan yang ternyata Senopati Roro Nastiti.
Namun, sama seperti saat kedatangan Putri Cinde Puspita tadi. Saat Puguh meminta pertolongan agar bisa berdiri, tubuh Senopati Roro Nastiti juga berubah menjadi butiran sinar kuning yang kemudian masuk ke dalam dada Puguh.
Akhirnya, kepala Puguh kembali tertunduk setelah butiran sinar kuning itu tidak tersisa lagi.
__ADS_1
__________ ◇ __________