Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Serbuan ke Kerajaan Banjaran Pura


__ADS_3

Setelah pertempuran berjalan beberapa waktu dan semua Senopati dan Panglima Perang, ataupun para pemimpin pasukan saling mengamati dan mengintai kekuatan lawan, para pemimpin pasukan itu mulai mencari dan menemukan lawan yang sepadan.


Putri Cinde Puspita yang sejak awal selalu mengawasi dan mengincarnya, segera menghadang gerak Panglima Perang Hapsari.


Sepertinya mereka berdua sudah saling mengintai kekuatan, Putri Cinde Puspita dan Panglima Perang Hapsari langsung saling terjang dengan menggunakan tenaga dalam yang cukup besar.


Begitu cepatnya gerakan mereka berdua, membuat tubuh mereka hanya nampak seperti kelebatan berwarna putih dan keemasan yang saling membentur, bergumul dan terkadang saling menjauh. Hanya suara suara benturan pukulan dan tendangan yang mengiringi pertarungan mereka.


Tidak begitu jauh dari pertarungan Panglima Perang Hapsari melawan Putri Cinde Puspita, Panglima Perang Jaladra langsung melesat ke arah Prabu Pandu Kawiswara.


Senjata tombak yang dimainkan dengan tangan kirinya, berkali kali mematuk ke arah bagian bagian yang berbahaya tubuh Prabu Pandu Kawiswara.


Terkadang, senjata tombak itu diputar dengan begitu cepatnya hingga menimbulkan suara menderu, menghantam dari arah kanan ataupun kiri tubuh Prabu Pandu Kawiswara.


Belum lagi, lengan baju kanan Panglima Perang Jaladra, yang dialiri tenaga dalam, hingga mampu melakukan serangan pukulan saat bertarung jarak pendek.


Serangan Panglima Perang Jaladra yang beruntun dan menggunakan tenaga dalam yang cukup besar, membuat Prabu Pandu Kawiswara sangat keteteran.


"Aku harus menangkap raja ini,agar pertempuran segera berakhir dan mendapatkan apa yang diinginkan oleh Pangeran Langit Barat !" kata Panglima Perang Jaladra dalam hati.


Kemudian Panglima Perang Jaladra kembali meningkatkan aliran tenaga dalamnya, yang membuat Prabu Pandu Kawiswara semakin terdesak.


Melihat keadaan Prabu Pandu Kawiswara yang mengkhawatirkan, Dewi Laksita yang sejak tadi masih belum ikut bertarung, segera melesat membantu Prabu Pandu Kawiswara.


"Baginda Prabu, jangan khawatir ! Kita bisa mengusir mereka !" kata Dewi Laksita sambil menangkis serangan tombak Panglima Perang Jaladra yang hampir saja mengenai bahu Prabu Pandu Kawiswara, dengan kedua senjata dwisulanya.


Trang ! Trang !


Melihat serangannya yang hampir membuahkan hasil, digagalkan oleh tangkisan lawan yang baru saja masuk ke dalam medan pertarungan, Panglima Perang Jaladra melotot dengan geram.

__ADS_1


"Bangsat ! Aku bunuh kau !" teriak Panglima Perang Jaladra.


Kemudian, sambil melenting tinggi, Panglima Perang Jaladra bersiap kembali melakukan serangan ke arah Dewi Laksita.


Sementara itu, sesaat setelah benturan senjata, Dewi Laksita merasakan kedua senjata dwisulanya bergetar hingga ke pangkal bahunya.


"Pantas saja Prabu Pandu Kawiswara bisa terdesak dengan cepat ! Panglima Perang bertangan satu ini mempunyai tenaga dalam dan kecepatan yang tingkatannya sudah sangat tinggi ! Aku harus hati hati !" ucap Dewi Laksita dalam hati.


Sambil menanti datangnya sersngan lawan yang sudah melenting dan melesat ke arahnya, Dewi Laksita menambah aliran tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya dan ke kedua senjata dwisulanya.


Terdengar suara dengungan pelan dari kedua bilah senjata dwisulanya.


Sesaat kemudian, terdengar suara benturan senjata berkali kali, saat serangan beruntun Panglima Perang Jaladra, dihadang Dewi Laksita dengan tangkisan senjata dwisulanya yang disilangkan.


Trang ! Trang ! Trang ! Trang !


Dalam setiap hendak menangkis, Dewi Laksita selalu membenturkan kedua senjata dwisulanya, hingga menimbulkan suara mendengung dan bergetar yang lebih keras lagi.


Suara dengungan dari senjata dwisula Dewi Laksita, selama sesaat, mengganggu konsentrasi Panglima Perang Jaladra.


Namun, waktu yang hanya sesaat itu, sudah cukup bagi suara dentangan itu untuk memecah tenaga dalam Panglima Perang Jaladra, sehingga kekuatan benturan senjata tombak Panglima Jaladra menjadi berkurang.


Sehingga walaupun kalah oleh Panglima Perang Jaladra dalam tingkat tenaga dalam, Dewi Laksita tetap berani dan mampu menangkis setiap serangan Panglima Perang Jaladra.


Bukan itu saja, yang membuat Panglima Perang Jaladra semakin geram dan gusar menghadapi pertarungannya, karena setiap serangannya diarahkan ke Prabu Pandu Kawiswara, Dewi Laksita selalu saling membenturkan kedua senjata dwisulanya yang menimbulkan suara berdentang. Suara dentangan itu dirasakan Panglima Perang Jaladra menusuk nusuk kedua telinganya, yang sedikit mengganggu gerakannya. Sehingga kekuatan dan kecepatan serangannya sedikit berkurang. Hal itu cukup membuat Prabu Pandu Kawiswara untuk bisa menghindar ataupun menangkis serangan Panglima Perang Jaladra.


Sementara itu pada pertarungan yang lain, Senopati Wiraga dan Senopati Cakrayuda, harus menghadapi dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat. Sedangkan Senopati Widura, Senopati Darutama dan senopati Arimbi menghadapi masing masing seorang wakil panglima perang.


Pertarungan yang mereka hadapi cukup membuat repot mereka semua, sehingga mereka berlima harus selalu waspada dan berkonsentrasi menghadapi pertarungan mereka.

__ADS_1


Setelah pertempuran berjalan sekitar lima puluh jurus, dari lima senopati Kerajaan Banjaran Pura, yang terlihat mulai kewalahan adalah Senopati Widura, Senopati Darutama dan Senopati Arimbi. Selain karena mereka masih muda dan masih sedikit pengalaman bertempurnya, mereka bertiga juga kalah setingkat dalam hal tenaga dalam. Sehingga perlahan lahan, ketiga senopati muda itu mulai terdesak.


Demikian juga dengan Senopati Wiraga dan Senopati Cakrayuda, mereka berdua perlahan lahan juga mulai terdesak oleh dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Sementara itu, Dewi Laksita yang sejak tadi berusaha menggantikan posisi Putri Cinde Puspita sebagai pemimpin pasukan, begitu mulai terlihat pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura kalah jumlah dari pasukan perang Kerajaan Menara Langit, dan beberapa senopatinya mulai terdesak, segera memberitahukan pada Prabu Pandu Kawiswara.


"Baginda Prabu, coba kau lihat paaukan perangmu !" teriak Dewi Laksita.


Mendengar teriakan Dewi Laksita, Prabu Pandu Kawiswara segera menebarkan pandangannya ke pasukan perangnya. Dan segera terlihat betapa pasukan perangnya terdesak.


"Apa yang harus kita lakukan, bibi ?" tanya Prabu Pandu Kawiswara sambil terus menghadapi serangan Panglima Perang Jaladra.


Namun, Dewi Laksita belum sempat menjawab, ketika tiba tiba Panglima Perang Jaladra melengking sangat nyaring. Sesaat setelah suara lengkingan itu menghilang, tiba tiba datang satu wakil panglima perang yang sejak tadi mengelilingi pasukannya, masuk ke dalam pertarungan, membantu Panglima Perang Jaladra melawan Prabu Pandu Kawiswara dan Dewi Laksita.


Masuknya satu bala bantuan setingkat wakil panglima perang, yang membantu Panglima Perang Jaladra, seketika mengubah keadaan. Prabu Pandu Kawiswara dan Dewi Laksita lambat laun mulai terdesak lagi.


Merasakan hal itu, Dewi Laksita kembali memberi saran pada Prabu Pandu Kawiswara.


"Baginda Prabu ! Suruh Putri Cinde Puspita meninggalkan pertarungan dan pergi jauh dari sini !" kata Dewi Laksita lagi.


Tanpa menunggu lagi, Prabu Pandu Kawiswara segera berteriak, "Adikku ! Pergilah dari sini, selamatkan dirimu !"


Bersamaan dengan itu, Ki Bhanujiwo yang selama pertempuran, berada di tengah tengah para prajurit pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura, segera melesat ke arah pertarungan Putri Cinde Puspita yang melawan Panglima Perang Hapsari.


Dengan senjata tongkatnya, Ki Bhanujiwo mencoba mencecarkan serangannya ke Panglima Perang Hapsari.


"Putri Cinde Puspita, cepat pergilah ! Biar aku yang menghadapi lawanmu !" kata Ki Bhanujiwo sambil terus menghadang pergerakan dan serangan Panglima Perang Hapsari.


Mendengar perintah Prabu Pandu Kawiswara, Putri Cinde Puspita tidak berani menolak dan segera saja melenting mundur sambil mengeluarkan teriakan aneh.

__ADS_1


"Terimakasih Ki Bhanujiwo ! Maaf, aku tinggal dulu !" kata Putri Cinde Puspita sebelum tubuhnya melesat pergi. Kepergian Putri Cinde Puspita, beberapa saat kemudian, diikuti oleh beberapa ratus prajurit yang menjadi pengawal dirinya dan pengawal keputren.


----------- ◇ ----------


__ADS_2