Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pengeroyokan Pada Pangeran Indra Prana


__ADS_3

Puguh segera mengalirkan kekuatan tenaga dalamnya ke tengkuk Putri Cinde Puspita dan Roro Nastiti, untuk membantu melepaskan jeratan tali kecil di leher mereka berdua.


Setelah terkena aliran tenaga dalam Puguh hingga dalam jumlah yang cukup besar, tali kecil yang menjerat leher Putri Cinde Puspita mengendur dan berubah menjadi asap hitam yang kemudian menghilang tersapu hembusan angin.


"Siapa laki laki tua itu ? Kesaktiannya sangat tinggi, hingga mampu menggabungkan kekuatan tenaga dalamnya dengan udara menjadi sebuah tali ?" kata Puguh dalam hati.


Namun Puguh harus menahan rasa penasarannya, saat mendengar suara suara teriakan para pendekar.


Puguh melihat, Pangeran Indra Prana dikepung dan dikeroyok oleh banyak pendekar yang dipimpin oleh Pangeran Kanaya Wijaya.


Beberapa saat sebelumnya, saat Puguh sedang membantu menyembuhkan Putri Cinde Puspita dan Roro Nastiti, begitu mendengar Pangeran Indra Prana memanggil dengan kata Guru pada laki laki tua bertubuh tinggi kurus yang sempat bertarung melawan Puguh, para pendekar yang berada di tempat itu, segera melihat ke arah Pangeran Indra Prana dengan tatapan penasaran dan curiga.


"Pangeran Indra Prana ! Apa maksudmu memanggil orang yang menolong Ki Naga Kecil dengan sebutan Guru ! Apakah laki laki tua itu gurumu !" teriak seorang pendekar yang berbadan tinggi besar.


"Ternyata Pangeran Indra Prana seorang mata mata !" teriak pendekar yang lainnya.


Mendengar teriakan teriakan itu, Pangeran Kanaya Wijaya dan para pendekar yang lainnya menatap tajam ke arah Pangeran Indra Prana.


"Pangeran Indra Prana ! Ternyata kau bagian dari orang orang asing yang ingin merusak negeri negeri di Jawadwipa ini !" kata Pangeran Kanaya Wijaya sambil maju mendekat ke arah Pangeran Indra Prana diikuti para pendekar yang lainnya dan kemudian mengepungnya.


"Pangeran Kanaya Wijaya dan teman teman yang lain ! Jangan curiga dulu padaku ! Aku bisa menjelaskannya !" jawab Pangeran Indra Prana dengan gugup.


"Bukankah semuanya sudah jelas, Pangeran Indra Prana ? Sepertinya semua teman sudah mengetahui yang sebenarnya ! Ternyata kau murid dari laki laki tua itu ! Ternyata kalian sudah menyusup ke dalam Istana Kerajaan Kisma Pura ! Ternyata, selama ini kau mengelabui kami dan hanya memanfaatkan kami !" sahut Pangeran Kanaya Wijaya.


"Dia penyusup !"


"Dia pengkhianat !"


"Tangkap Pangeran pengkhianat !"


"Jangan ditangkap ! Langsung kita bunuh saja !"


Mendengar suara suara bernada kemarahan bersahut sahutan, Pangeran Indra Prana semakin gugup.


"Teman teman ! Aku bukan pengkhianat ! Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya !" teriak Pangeran Indra Prana sambil mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


Tetapi, semua pendekar yang mengepung Pangeran Indra Prana sudah terbakar kemarahan, marah karena merasa tertipu dan diperalat oleh Pangeran Indra Prana, apalagi mereka sudah mendengar sendiri, kalau ternyata Pangeran Indra Prana murid dari orang yang ada hubungannya dengan Pangeran Langit Barat dan Ki Naga Kecil.


"Teman teman pendekar ! Tolong beri kesempatan padaku untuk .e jelaskan keadaanku !" kata Pangeran Indra Prana lagi.


Namun, karena mereka semua sudah tersulut emosi, dan sudsh tidak percaya pada Pangeran Indra Prana, para pendekar itu tidak menghiraukan ucapan Pangeran Indra Prana.


"Kami bukan temanmu ! Dan kami tidak sudi menjadi teman seorang yang telah mengkhianati negerinya !" sahut pendekar berbadan tinggi besar sambil mengeluarkan senjatanya, sebuah golok besar.


Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, pendekar berbadan tinggi besar itu melesat maju ke arah Pangeran Indra Prana dan menebaskan senjata goloknya ke arah leher Pangeran Indra Prana.


Sementara itu, karena tidak ingin berseteru dengan para pendekar yang selama ini telah menjadi temannya dan banyak membantunya, Pangeran Indra Prana tidak mau berseteru dengan para pendekar yang mengepungnya dan memilih menghindari serangannya dengan melenting ke belakang.


Bersamaan dengan itu, melihat pendekar berbadan tinggi besar itu menyerang Pangeran Indra Prana, para pendekar lainnya segera ikut menyerang mengeroyoknya.


"Hentikan serangan kalian ! Kejadian ini, aku bisa menjelaskannya !" teriak Pangeran Indra Prana sambil meloncat menghindari beberapa serangan senjata para pendekar.


Namun, nampaknya teriakan dan permintaan Pangeran Indra Prana sudah tidak mereka hiraukan.


"Pangeran Kanaya Wijaya ! Tolong redakan mereka semua ! Aku tidak ingin bertarung melawan mereka !" teriak Pangeran Indra Prana.


Para pendekar itu menyerang dengan sepenuh kekuatan. Beberapa kali Pangeran Indra Prana bisa menghindari serangan serangan para pendekar. Namun, karena kesaktian dan kekuatan tenaga dalam para pendekar yang menyerangnya sudah berada pada tingkat sangat tinggi, membuat Pangeran Indra Prana sangat kerepotan walau hanya untuk menghindar.


"Hhuuuhhh ! Ayo Pangeran pengkhianat ! Balaslah menyerang ! Jangan hanya menghindar seperti seorang pengecut !" kata salah seorang pendekar yang ikut mengeroyok.


Mendengar ucapan itu, Pangeran Indra Prana hanya terdiam tidak menjawab. Pikirannya sudah bingung, memikirkan bagaimana cara meredakan kemarahan para pendekar itu.


Akhirnya, setelah selama sekitar dua puluh jurus menghindar terus, tubuh Pangeran Indra mulai terluka terkena beberapa serangan. Namun, Pangeran Indra Prana terus bergerak menghindar dan sekalipun tidak pernah membalas serangan.


"Baiklah ! Kalau memang aku harus mati di sini, di tangan teman teman pendekar semua, aku rela asal mereka tetap mempunyai semangat membela negeri ini !" kata Pangeran Indra Prana dalam hati.


Dengan tubuh yang sudah penuh dengan luka luka, Pangeran Indra Prana berusaha memantapkan hati bila harus mati dikeroyok oleh teman teman pendekar sekarang ini.


Tubuh Pangeran Indra Prana mulai oleng dan membuat pertahanannya semakin rapuh, dan hanya tunggu waktu untuk jatuh dan tidak berdaya.


Tetapi, saat keadaan Pangeran Indra Prana kritis, tiba tiba berkelebat satu bayangan tubuh yang menghalau serangan para pendekar, sehingga Pangeran Indra Prana bisa terselamatkan.

__ADS_1


"Pangeran Indra Prana ! Apa yang terjadi dengan kalian ?" tanya sosok bayangan tubuh itu.


"Pendekar Puguh ! Sukurlah kau segera tiba ! Mereka, para pendekar itu salah paham dan hendak membunuh !" jawab Pangeran Indra Prana dengan suara bernada lega.


"Pendekar Puguh ! Jangan kau tertipu oleh Pangeran Pengkhianat itu ! Dia sudah menipu dan memperalat kita semua !" sahut salah seorang pendekar yang berdiri paling depan.


"Hentikan dulu pertarungan kalian ! Semua bisa kita bicarakan !" kata Puguh sambil berdiri di depan Pangeran Indra Prana untuk melindunginya dari serangan para pendekar.


"Pendekar Puguh ! Kau jangan membela Pangeran pengkhianat itu !" kata pendekar berbadan tinggi besar.


"Pangeran itu ternyata murid dari laki laki tua tinggi kurus yang menyerang dirimu tadi, Pendekar Puguh !" kata pendekar yang lainnya lagi.


Walaupun tadi sempat mendengar teriakan Pangeran Indra Prana memanggil Guru, namun Puguh tetap terkejut, mendengar penuturan para pendekar itu.


"Pangeran Indra Prana ! Benarkahnyang dikatakan para pendekar itu ?" tanya Puguh sambil menoleh ke arah Pangeran Indra Prana yang terduduk dengan tubuh penuh luka.


"Apa yang mereka katakan benar, Pendekar Puguh ! Tetapi, aku sendiri juga tidak tahu menahu, siapakah Guru sebenarnya! Apa mungkin dia penyusup yang menyamar, aku juga belum tahu !" jawab Pangeran Indra Prana pelan.


"Benar kan, Pendekar Puguh ? Sekarang, apakah kau masih mau membelanya ?" tanya salah seorang pendekar.


Baru saja Puguh hendak berkata lagi, tiba tiba melesat turun dua bayangan tubuh.


"Kakang Puguh ! Apa yang terjadi disini ?" tanya salah satu bayangan tubuh yang melesat turun itu.


"Adik Rengganis ! Adik Kartika Dhatu ! Para pendekar itu menyerang Pangeran Indra Prana !" jawab Puguh.


Kedatangan Rengganis dan Kartika Dhatu, membuat Puguh berpikir dan segera mengambil tindakan cepat.


"Para pendekar semuanya ! Tentang Pangeran Indra Prana, aku akan menanyainya lagi dan menyelidiki apa uang sebenarnya terjadi. Serahkan pada kami dan kuharap kalian bersabar ! Pangeran Indra Prana akan kami bawa !" kata Puguh dengan suara yang agak keras dan tegas.


"Adik Rengganis, adik Kartika Dhatu ! Kita tinggalkan tempat ini !" sambung Puguh sambil menyambar tubuh Pangeran Indra Prana dan kemudian melesat pergi.


Melihat hal itu, Rengganis dan Kartika Dhatu tanpa berkata kata lagi, segera melesat pergi menyusul Puguh.


---------- ◇ ----------

__ADS_1


__ADS_2