
Sementara itu, Puguh yang melesat cepat mengejar orang berpakaian serba putih yang membawa tubuh Gogor Gora, mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya agar bisa segera memperpendek jarak. Sebentar kemudian, jarak mereka hanya tinggal sekitar sepuluh meter.
Namun, begitu jarak tinggal sepuluh meter, Puguh belum bisa memperkecil jarak. Hal Ini karena, setiap Puguh mulai akan mendekat lagi, orang berpakaian serba putih itu melemparkan sesuatu ke belakang ke arah Puguh yang mengejar. Setelah Puguh perhatikan dengan lebih cermat, yang dilempar oleh orang berpakaian serba putih itu, adalah senjata rahasia berupa jarum jarum kecil. Namun Puguh belum mengetahui, itu beracun apa tidak.
Dalam penglihatan Puguh, orang berpakaian serba putih yang membawa lari tubuh Gogor Gora itu, masih sangat muda, dan melihat lekuk tubuhnya, sepertinya perempuan.
Tanpa Puguh sadari, orang berpakaian serba putih itu, membawa lari tubuh Gogor Gora ke arah perbatasan Kadipaten Langitan.
Di daerah yang merupakan perbatasan Kadipaten Langitan dengan sebuah hutan belantara itu, ternyata terdapat sebuah rumah yang cukup besar, walaupun dibuat secara sederhana.
Dengan sangat cepat, orang berpakaian serba putih itu membuka dan memasuki pintu depan dan kemudian pintu itu dengan cepat menutup kembali.
Puguh pun segera menghentikan pengejarannya. Beberapa saat, Puguh terdiam seolah sedang berpikir.
Sesaat kemudian, Puguh melesat ke arah sebelah kanan rumah dan menuju ke belakang rumah.
Baru saja sampai di belakang rumah, Puguh disambut oleh sekelebatan bayangan putih yang langsung menyerangnya dengan lemparan jarum dalam jumlah yang cukup banyak.
Dengan memutar buntalan bekalnya, Puguh menyapok semua serangan jarum. Begitu jarum jarum itu jatuh ke tanah dan sebagian menancap pada buntalan yang dibawanya, Puguh sudah harus menghadapi rentetan pukulan dan tendangan yang dilakukan dengan sangat cepat.
Tap ! Tap ! Tap ! Tap ! Tap !
Desss ! Desss ! Desss !
Dengan tetap tenang, Puguh menghindari dan menangkis beberapa serangan yang mengurungnya. Hingga pada suatu saat benturan pukulan telapak bertenaga dalam mereka terjadi dengan kerasnya, yang membuat mereka sama sama terdorong kembali ke belakang.
Plaaakkk !!!
Puguh mendarat dengan kuda kuda yang tetap kokoh, sedangkan orang berpakaian serba putih itu melakukan salto dan kemudian mendarat dengan kuda kudanya.
Keduanya sesaat terdiam, saling menatap dan mengawasi.
__ADS_1
"Benar dugaanku. Dia seorang perempuan, paling banter seusiaku. Perempuan yang hebat, seusianya sudah memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi," kata Puguh dalam hati.
Sementara, perempuan berbaju putih itu juga menatap Puguh dengan tajam.
"Baru kali ini, kutemui lawan yang tidak kerepotan menghadapi jarum jarumku," kata perempuan berbaju putih dalam hati.
"Senang bertemu denganmu. Tetapi maaf, ada yang harus aku lakukan, lain kali kita bertemu lagi," kata perempuan berbaju serba putih itu, yang kemudian segera berbalik dan melesat pergi.
"Heiii ! Tunggu ! Di mana kau tinggalkan Gogor Gora !" teriak Puguh sambil kembali mengejarnya. Namun perempuan berbaju serba putih itu sudah lenyap di telan gelapnya hutan.
Sejenak Puguh terdiam sambil mencoba merasakan ke arah mana adanya getaran tenaga dalam. Namun, tidak ada apapun yang bisa Puguh rasakan.
Maka, begitu Puguh teringat akan masih adanya pertempuran di Kademangan Waringin Putih, Puguh pun segera melesat kembali ke tempat Den Roro berada. Tetapi, sesampainya Puguh di Kademangan Waringin Putih, pertempuran sudah berakhir dengan hasil delapan anak buah Gogor Gora tewas semuanya.
Situasi di Kademangan Waringin Putih dan Kademangan Watu Wot, untuk sementara terasa agak tenang dengan perginya orang orang dari Perkumpulan Jaladara Langking.
Sehari kemudian, pada malam hari, Puguh baru berjalan jalan di sekeliling rumah Kademangan.
"Guru" kata Puguh menyapa gurunya.
"Ngger Puguh. Guru akan menuju Kadipaten Langitan. Kamu bisa menyusul guru kapanpun," kata Ki Dwijo.
"Baik guru," jawab Puguh. Pada kesempatan itu, Puguh menceritakan tentang kejadian yang dia alami hingga Pertarungannya melawan perempuan berbaju serba putih.
Mendengar cerita Puguh, Ki Dwijo segera berkata pada Puguh, "Mungkin itu ada kaitannya dengan yang sedang guru selidiki."
Setelah guru dan murid itu saling bercerita banyak hal, Ki Dwijo pun mengatakan kalau dia akan pergi malam ini juga. Dan berharap Puguh bisa segera menyusul ke Kadipaten Langitan.
Beberapa saat setelah gurunya melesat pergi, Puguh pun segera kembali ke Kademangan Waringin Putih.
Pada pagi harinya, kebetulan Raden Raksanala mengutarakan kalau dia akan kembali ke Kadipaten Langitan, karena dia anggap, untuk sementara waktu, keadaan Kademangan Watu Wot dan Kademangan Waringin Putih cukup aman.
__ADS_1
Puguh pun juga menyampaikan, kalau dirinya juga akan menuju Kadipaten Langitan untuk suatu keperluan. Pada kesempatan itu, Den Roro menyatakan akan ikut ke Kadipaten. Walaupun sudah Puguh cegah agar tidak ikut pergi ke Kadipaten, Den Roro tetap bersikeras. Akhirnya Puguh pun membiarkan Den Roro ikut ke Kadipaten Langitan.
Pada pagi hari itu juga, mereka meninggalkan Kademangan Waringin Putih menuju ke Kadipaten Langitan.
Sesampai di Kadipaten Langitan, Puguh berpamitan pada Den Roro dan Den Bagus untuk menemui gurunya.
Kemudian dengan cepat Puguh melesat di jalan ke arah menuju perbatasan Kadipaten Langitan dengan hutan belantara.
Sebenarnya Puguh tidak hendak menemui gurunya. Namun penasaran, siapakah dan ada kepentingan apakah perempuan berbaju putih yang kemaren dia kejar, berada di perbatasan Kadipaten Langitan.
Sesampainya di hutan yang berbatasan dengan Kadipaten Langitan, Puguh mendapati, rumah sederhana di tepi hutan kemaren dalam keadaan kosong. Maka Puguh pun mencoba untuk memasuki hutan lebih dalam lagi.
Hutan itu sama seperti hutan pada umumnya. Hanya saja, hutan itu seperti masih jarang dirambah manusia. Mungkin karena letaknya yang sangat jauh dari permukiman warga.
Setelah cukup lama Puguh melangkah memasuki hutan itu, tiba tiba terdengar suara orang bertarung.
Karena penasaran, di dalam hutan lebat ada orang bertarung, Puguh segera melesat ke arah sumber suara pertarungan dan mencoba melihat pertarungan itu walaupun dari jarak yang cukup jauh, agar getaran tenaga dalamnya tidak mudah untuk ditemukan oleh orang lain.
Terlihat oleh Puguh, pertarungan yang tidak seimbang. Seorang gadis berpakaian berpakaian serba putih, dikeroyok sepasang muda mudi yang melakukan serangan dengan sangat ganas dan telengas.
Untuk beberapa saat, Puguh tertegun melihat ke arah pertarungan. Puguh merasa seperti pernah bertemu dengan gadis seusianya yang sedang mengeroyok. Gadis itu juga mengenakan pakaian yang serba putih.
Namun sejenak kemudian, Puguh segera melesat mendekati pertarungan saat melihat gadis berpakaian putih yang dikeroyok, tampak agak limbung, namun berusaha untuk tetap berdiri dan bertahan dari serangan senjata rahasia yang dilemparkan oleh gadis yang mengeroyok.
"Dia gadis yang kemaren aku kejar. Serangannya sangat keji dan berbahaya !" kata Puguh dalam hati sambil bergerak cepat membantu menangkis jarum jarum yang melesat ke arah gadis berpakaian putih yang sudah limbung itu.
Trik ! Trik ! Trik ! Trik ! Trik !
"Heeiii ! Kamu jangan ikut campur urusan ini, kalau kau tidak ingin terluka !" bentak gadis pengeroyok itu. Namun tiba tiba gadis itu berhenti berteriak.
"Kkk Kau .... ! Bagaimana kau bisa sampai di sini !" tanya gadis pengeroyok yang kemudian menghentikan serangannya.
__ADS_1
__________ ◇ _________