
Iswara Dhatu menghentikan ceritanya. Matanya menatap tajam pada Puguh cukup lama.
Kemudian setelah menarik nafas panjang dua kali, Iswara Dhatu kembali berbicara.
"Anak muda, ahh namau Puguh ya ? Maaf, aku tahu namamu, karena laporan dari mereka sanak keluargaku," kata Iswara Dhatu pelan, "Benarkah kau murid Pendekar Pengendara Elang atau yang mewarisi ilmu kesaktiannya ?"
"Benar bibi. Aku hanya beruntung, bisa mewarisi ilmunya secara tidak sengaja," jawab Puguh.
"Sebelum aku menyampaikan satu hal lebih lanjut, bersediakah kau memberi bukti, atau paling tidak sesuatu yang bisa membuatku yakin, kalau kau adalah orang yang tepat, orang yang dimaksudkan dalam amanat yang aku terima !" kata Iswara Dhatu.
Puguh yang sebenarnya masih belum bisa menangkap apa yang dimaksudkan oleh Iswara Dhatu, perlahan mencabut senjata pedangnya dan meletakkannya di atas meja.
Kemudian, dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, Puguh menyentuh bilah pedang sambil mengalirkan tenaga dalamnya.
Beberapa saat kemudian, pedang itu mengeluarkan sinar hijau terang yang bahkan membuat ruangan itu berwarna hijau terang seluruhnya.
Melihat hal itu, Iswara Dhatu menunjukkan mimik terkejut bercampur senang dan lega.
Namun tiba tiba keluar luapan tenaga dalam yang sangat besar dari tubuh Iswara Dhatu. Sesaat kemudian, tubuh Iswara Dhatu melayang terangkat dari kursi yang didudukinya.
Kemudian, Iswara Dhatu menatap sebentar ke arah Puguh sambil mengeluarkan suara setengah berbisik.
"Kita ke ruangan samping !" kata Iswara Dhatu pelan. Dengan sangat cepat Iswara Dhatu melesat ke arah pintu di samping kirinya.
Sementara itu, walaupun belum tahu apa yang dimaksudkan oleh Iswara Dhatu, Puguh tetap mengikuti arah pergi Iswara Dhatu.
Baru saja Puguh memasuki pintu samping itu, tiba tiba dari arah depannya melesat getaran tenaga dalam sangat besar ke arahnya. Puguh segera menotolkan ujung kakinya ke lantai sehingga tubuhnya berbelok arah melayang ke atas.
Getaran tenaga dalam yang berasal dari Iswara Dhatu yang menyerangnya itu dengan cepat mengikuti melesat ke atas.
Kemudian, di ruangan yang cukup luas itu terjadi pertarungan yang berjalan dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata.
Dalam beberapa jurus, Puguh masih selalu menghindari serangan Iswara Dhatu. Namun beberapa jurus kemudian, Puguh mulai menangkis dan membalas serangan serangan Iswara Dhatu.
__ADS_1
Di ruangan yang sangat bersih dan tidak terdapat perabotan sedikitpun itu terdengar beberapa kali suara benturan serangan.
Plak ! Plak ! Plak !
Deesss ! Deesss !
Puguh sebenarnya tidak ingin berlama lama dalam bertarung melawan Iswara Dhatu, karena tahu, Iswara Dhatu hanya ingin meyakinkan diri tentang ilmu dari Pendekar Pengendara Elang yang dia warisi.
Merasakan dan melihat kecepatan dan kekuatan Iswara Dhatu yang semakin lama semakin meningkat dengan serangan serangannya yang semakin beruntun, maka Puguh juga segera meningkatkan aliran tenaga dalamnya. Kecepatan dan kekuatan Puguh bertambah dengan drastis. Benturan pukulan dan tendangan antara Puguh dan Iswara Dhatu semakin terdengar keras.
Jdaaarrr ! Jdaaarrr ! Jdaaarrr!
Jdammm ! Jdammm !
Puguh belum menyadari kalau menyaksikan Kartika Dhatu menyaksikan pertarungan itu dengan penuh ketertarikan.
Pada suatu saat, ketika pertarungan berjalan sudah lebih dari lima puluh jurus, Iswara Dhatu mulai mengeluarkan senjatanya berupa dua selendang.
"Pantas saja bibi Iswara Dhatu menjadi satu dari tiga kutub kekuatan yang disegani di Kerajaan Kisma Pura ini. Walau sudah tua, tetapi kekuatan dan kecepatannya tidak menjadi berkurang !" kata Puguh dalam hati, "Beruntung aku bisa menjajal kekuatan Trah Keluarga Asmara Dhatu !"
Sementara itu, Iswara Dhatu mulai memainkan jurus Tarian Dewi Kematian, ilmu kebanggaan Trah Keluarga Asmara Dhatu, dan juga merupakan warisan turun temurun dari Asmara Dhatu.
Gerakan yang dilakukan oleh Iswara Dhatu terkadang pelan bahkan sangat pelan, tetapi membawa kekuatan yang menekan melalui kekuatan senjata selendangnya. Terkadang sangat cepat dengan mengandalkan ketajaman tepi selendangnya yang terbuka mengembang.
Untuk melawan dan mengimbangi itu semua, Puguh bahkan sampai mengeluarkan aliran tenaga dalamnya dalam jumlah yang sangat besar hingga membuat jubah hijaunya muncul dengan sendirinya.
Walaupun jubah sakti itu terkadang melambai lambai, namun tidak mengganggu kecepatan gerak Puguh. Hingga setiap kedua ujung selendang mengenai jubah hijau yang dipakai Puguh, selalu terjadi loncatan api seperti petir yang menyambar.
Ctarrr ! Ctarrr ! Ctarrr ! Ctarrr !
"Anak muda ini memiliki kekuatan dan kecepatan yang mengerikan. Ilmu pedangnya juga memiliki hawa dingin yang mengintimidasi. Anak muda ini sama berbakatnya dengan cucuku, Kartika Dhatu. Sangat membahayakan jika sampai menjadi lawan !" kata Iswara Dhatu dalam hati.
Tanpa terasa, pertarungan Puguh melawan Iswara Dhatu sudah berlangsung seratus jurus lebih. Namun beluam ada tanda tanda akan diakhiri.
__ADS_1
"Nenek, bagaimana kalau ganti aku yang melawannya !" tiba tiba Kartika Dhatu berteriak.
Belum sempat Iswara Dhatu menjawab, tubuh Kartika Dhatu sudah melesat dengan sangat cepatnya menerjang Puguh. Hal itu membuat Iswara Dhatu harus melenting ke atas dan kemudian menjauh dari Puguh.
Sementara Kartika Dhatu sendiri sudah langsung menggunakan kekuatan tenaga dalam dan kecepatan hingga tingkat yang sangat tinggi dan menggunakan jurus jurus yang dimainkan oleh Iswara Dhatu tadi.
Setelah sekitar sepuluh jurus menghadapi Kartika Dhatu, Puguh merasakan Kartika Dhatu ini memiliki kelebihan dalam hal tenaga dalam dibanding Iswara Dhatu, sedangkan untuk kecepatannya relatif sama. Dan yang membuat Kartika Dhatu lebih istimewa lagi adalah dengan tenaga dalamnya, Kartika Dhatu mampu menggunakan empat selendang.
Puguh memutar pedangnya untuk menghalau dan menangkis setiap ujung selendang yang datang hingga menimbulkan suara dentangan seperti dua logam berbenturan.
Tanggg ! Tanggg ! Tanggg ! Tanggg !
"Gadis ini bahkan tenaga dalamnya bisa membuat senjata selendangnya bersifat seperti logam !" kata Puguh dalam hati.
Dalam pertarungan yang berlangsung dengan gerakan yang sangat cepat, tanpa mereka berdua rasakan, pertarungan audah melewati seratus jurus lebih.
Puguh kembali menambah jumalah aliran tenaga dalamnya. Hingga kemudian pada suatu rangkaian serangan, terjadi lagi beberapa kali benturan senjata pedang milik Puguh dengan empat ujung selendang secara berurutan. Benturan yang kali ini berhasil membuat keempat ujung selendang Kartika Dhatu tersibak untuk sesaat.
Namun waktu yang sesaat itu sudah cukup memberi kesempatan pada Puguh untuk mendekat dan melayangkan tendangan kaki kanan. Tendangan yang ditangkis dengan tangan kiri Kartika Dhatu, hingga akhirnya mengenai bahu kiri Kartika Dhatu.
Buuuggghhh !
Dalam benturan tubuh kali ini, Puguh kembali terdorong ke belakang hingga tiga langkah dan kemudian segera memantapkan lagi kuda kudanya.
"Dengan jumlah tenaga dalam yang aku keluarkan, kekuatannya masih bisa membuat tubuhku terpental !" kata Puguh dalam hati.
Sementara itu, terkena tendangan di bahu kirinya, Kartika Dhatu terseret mundur hingga tiga langkah. Walaupun kuda kudanya tidak berubah, namun diam diam Kartika Dhatu merasakan lengan kirinya tergetar hebat dan mukanya menjadi sejenak memucat.
Melihat mereka saling terdorong menjauh, Iswara Dhatu segera menghentikan pertarungan.
"Cukup anak muda. Ada yang akan kami beritahukan padamu ! Kita kembali ke ruang tengah !" kata Iswara Dhatu sambil melangkah ke arah tengah.
__________ ◇ __________
__ADS_1