
Bersamaan dengan itu, di Istana Kerajaan Banjaran Pura. Putri Cinde Puspita, Pangeran Indra Prana, Roro Nastiti, Pangeran Kanaya Wijaya juga mendengar suara ledakan yang berasal dari Hutan Perbatasan.
Setelah mendengar kalau Puguh dan Rengganis pergi ke arah sumber ledakan, mereka berempat segera menyusul, menuju ke Hutan Perbatasan.
Sementara itu di salah satu sudut istana Kerajaan Banjaran Pura, di tempat yang tidak terlalu mencolok, tempat Kartika Dhatu merawat Iswara Dhatu neneknya.
Kartika Dhatu yang baru saja beristirahat setelah selesai menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh neneknya, segera bangkit dan berkelebat dengan sangat cepat ke arah Hutan Perbatasan, ke arah sumber suara ledakan yang sempat dia dengar saat masih mengobati neneknya.
"Nenek, maaf aku tinggal sebentar !" kata Kartika Dhatu pelan di telinga Iswara Dhatu saat hendak pergi.
----- * -----
Sesampai di pinggir Hutan Perbatasan, Kartika Dhatu mendengar dan merasakan adanya pertarungan dari arah tengah hutan. Segera saja Kartika Dhatu melesat ke arah tengah hutan.
Beberapa saat kemudian, Kartika Dhatu tiba di tempat terjadinya pertarungan. Kartika Dhatu melihat, banyak sekali pepohonan yang tumbang berserakan, hingga membuat tempat pertarungan itu, seperti tempat terbuka yang sangat luas, di tengah tengah hutan.
Di atas pepohonan yang tumbang itu, Kartika Dhatu melihat seorang perempuan muda bergerak berkelebatan, menghadapi banyak sekali sosok tubuh Ki Naga Kecil.
"Rengganis ? Dan, ... bagaimana tubub Ki Naga Kecil bisa menjadi sebanyak ini ?" kata Kartika Dhatu pelan.
Kartika Dhatu melihat, begitu banyaknya wujud kembaran tubuh Ki Naga Kecil, membuat Rengganis harus bergerak terus dan tidak ada kesempatan untuk sedikit mengambil nafas panjang. Hal itu membuat Rengganis terlihat seperti sedikit terdesak.
Saat melihat agak jauh ke depan, Kartika Dhatu melihat, sosok Ki Naga Kecil yang berdiri sambil menggerak gerakkan kedua tangannya, seperti menggerakkan atau mengendalikan sesuatu.
"Jadi dia mengendalikan siluman siluman yang berwujud mirip dengan dirinya !" kata Kartika Dhatu dalam hati.
Kemudian, sambil sedikit melayang, Kartika Dhatu melesat ke arah Ki Naga Kecil berdiri.
Sementara itu, melihat ada yang mendekat ke arahnya, Ki Naga Kecil mendengus pelan sambil tertawa mengejek.
"Heehhh he he he he ! Tidak ada yang bisa mendekatiku !" ucap Ki Naga Kecil dengan sinis.
Lalu, Ki Naga Kecil menggerakkan sedikit kedua tangannya. Sesaat kemudian, puluhan wujud kembaran tubuh Ki Naga Kecil sudah menghadang gerakan Kartika Dhatu dan langsung menyerang dengan senjata tombak bermata duanya.
__ADS_1
Melihat serangan itu, Kartika Dhatu yang sedang melayang melesat ke arah Ki Naga Kecil, segera memutar tubuhnya. Kemudian, sambil memutar tubuhya, Kartika Dhatu memainkan ilmu Tarian Dewi Kematian. Seketika, keempat ujung selendangnya membuat gerakan menusuk, menebas dan membelit ke arah wujud bayangan tubuh Ki Naga Kecil.
Dengan tingkat kesaktian dan kekuatan tenaga dalam yang sudah pada tingkat sangat tinggi, keempat ujung senjata selendang Kartika Dhatu, berhasil mengenai beberapa wujud bayangan tubuh Ki Naga Kecil.
Namun, setiap kali wujud bayangan tubuh Ki Naga Kecil itu terbelah atau meledak, selalu saja ada wujud bayangan tubuh Ki Naga Kecil yang mendekat menggantikannya. Bahkan, Kartika Dhatu merasakan, jumlah wujud bayangan tubuh Ki Naga Kecil tidak berkurang, namun justru semakin bertambah.
Akhirnya, Kartika Dhatu harus menghadapi seperti yang dialami oleh Rengganis.
Melihat dua orang gadis muda terlihat sangat sibuk menghadapi serangan banyak wujud bayangan tubuhnya, Ki Naga Kecil merasa puas dan tertawa terkekeh. Apalagi melihat kedua lawannya tidak pernah bisa mendekati dirinya, Ki Naga Kecil semakin merasa mudah untuk menang.
"Heehhh heh heh heh heh ! Ilmu yang sangat sempurna !" ucap Ki Naga Kecil.
Tetapi, karena hingga sekian lama belum juga bisa menjatuhkan kedua lawannya, Ki Naga Kecil berniat meningkatkan kekuatan serangannya.
"Bocah perempuan ! Bagaimana kalau kalian menghadapi ini !" teriak Ki Naga Kecil sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangan Ki Naga Kecil, keluar empat wujud bayangan tubuhnya. Keempat bayangan tubuh itu, dengan cepat membesar dan menjadi wujud raksasa dengan kedua bola mata yang berwarna merah menyala.
Saat empat sosok raksasa kembaran Ki Naga Kecil itu bertambah besar, sedikit kesempatan itu dimanfaatkan Rengganis dan Kartika Dhatu untuk menata pernafasan.
Sesaat, Rengganis dan Kartika Dhatu yang berdiri agak berjauhan, saling menatap dan kemudian saling mengangguk.
Namun, belum sempat mereka berdua saling berkata, empat sosok raksasa kembaran Ki Naga Kecil sudah mendekat dan menyerang mereka berdua.
Walau bertubuh Raksasa, empat sosok raksasa itu bisa bergerak dengan sangat cepatnya.
Hanya dalam sekejap, dua sosok raksasa sudah melakukan serangan tusukan senjata tombak bermata dua ke arah Kartika Dhatu. Sementara, dua sosok raksasa yang lainnya, langsung melesat ke arah Rengganis.
Mendapatkan serangan yang sangat cepat dari masing masing dua wujud raksasa, Rengganis dan Kartika Dhatu, melenting ke samping, dan kemudian mencari kesempatan untuk balas menyerang.
Namun, sosok raksasa itu seperti tidak memberi kesempatan pada Rengganis dan Kartika Dhatu untuk menghela nafas. Sabetan dan tusukan senjata tombak mereka, terus menerus mengurung dan mencecar Kartika Dhatu serta Ragganis.
Mendapatkan serangan itu, Rengganis dan Kartika Dhatu berusaha menghadapinya dengan menangkis dan berusaha membalas serangan.
__ADS_1
Namun, begitu kuatnya sabetan senjata tombak milik keempat sosok raksasa itu, hingga menimbulkan suara dentuman dan membuat tubuh Rengganis dan Kartika Dhatu terhempas, saat mereka berdua mencoba menangkis.
Jdaaammm ! Jdaaammm !
Dalam benturan serangan itu, tubuh Rengganis dan Kartika Dhatu terhempas ke tanah cukup keras.
Sesaat kemudian, Rengganis dan Kartika Dhatu bangkit lagi.
Perlahan tubuh Rengganis melayang ke atas dan diselimuti gerakan angin yang menyelimutinya.
Terlihat asap tipis keluar dari seluruh tubuh Rengganis.
Sesaat setelah tubuh Rengganis berhenti melayang ke atas, asap tipis yang keluar dari tubuhnya, bergerak menyatu mengelilingi pinggangnya.
Sesaat kemudian, asap tipis itu berubah menjadi empat buah selandang yang terbuat dari kulit Pohon Kehidupan yang melilit di pinggang Rengganis.
Sementara itu, Kartika Dhatu yang juga terhempas, segera bangkit lagi dan melayang ke atas. Terlihat, empat selendangnya melayang di sampingnya dan siap digunakan untuk menyerang.
Tidak berselang lama, empat sosok raksasa kembaran Ki Naga Kecil sudah mendekat dan menyerang lagi.
Segera saja, Kartika Dhatu melesat diantara sosok sosok raksasa itu. Sambil menghindari serangan tombak sosok raksasa itu, tubuh Kartika Dhatu berputar dengan empat ujung selendang yang mengembang di samping pinggangnya.
Keempat ujung selendangnya itu, bagaikan tangan tangan tambahan, yang bergerak dengan arah serangan yang berbeda beda, namun semuanya sangat berbahaya dan mematikan.
Saar itu, Kartika Dhatu sedang memainkan rangkaian jurus jurus terakhir dari ilmu Tarian Dewi Kematian. Serangkaian jurus jurus yang hanya dia yang mampu menguasainya, bahkan Iswara Dhatu neneknya pun belum mampu menguasainya.
Bersamaan dengan itu, saat melihat gerakan gerakan Kartika Dhatu, terlihat selama sesaat, Rengganis menatap tajam semua yang dilakukan oleh Kartika Dhatu. Sekilas kedua mata Rengganis mengeluarkan kilatan putih.
Bibir Rengganis pun bergerak mengeluarkan suara yang sangat pelan. Suara yang seakan berasal dari tempat yang sangat jauh.
"Gadis itu menjadi titisan Dewi Kematian ?"
---------- ◇ ----------
__ADS_1