Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menghajar Kelompok Penjahat Kampung


__ADS_3

Den Roro terus saja berlari. Karena sebelumnya tidak pernah pergi jauh sendirian, membuat dia bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya setelah setengah hari berlarian terus, Den Roro sampai di suatu pedesaan. Karena pakaian yang dia kenakan terlalu bagus dalam pandangan orang orang desa, setiap orang yang ditemuinya, menjauh seperti ketakutan.


Sebenarnya Den Roro sudah merasakan sangat lapar. Namun karena kebingungan sehingga tidak tahu harus melakukan apa. Sementara di desa itu, orang orangnya, ketakutan setiap bertemu dengan Den Roro yang berpakaian anak bangsawan.


Akhirnya, karena sudah tidak tahan, Den Roro berteriak memanggil saat bertemu dengan salah seorang penduduk. Namun, bukannya mendekat, orang itu justru lari menghindarinya.


Hal itu terjadi beberapa kali. Sampai kemudian ada seorang laki laki tua, bertubuh kecil dengan kulit keriput yang kecoklatan. Laki laki tua itu berlari tergopoh gopoh menuju ke arah Den Roro.


"Ndoro putri, mohon maafkan sikap penduduk kampung ini. Mereka orang orang lugu yang takut menghadapi bangsawan seperti ndoro putri. Tetapi mereka semua sebenarnya baik," kata laki laki tua itu.


"Ah ... paman, terimakasih. Bisakah paman membawaku kepada kepala kampung ini ?" tanya Den Roro.


"Nggih ndoro putri. Maaf, sayalah kepala kampung sini. Ndoro putri menghendaki apa, akan kami usahakan sediakan," jawab laki laki tua yang ternyata adalah kepala kampung ini.


"Paman, aku lapar. Bolehkah aku meminta sesuap makanan ?" kata Den Roro.


Kepala kampung itu sejenak terdiam dengan permintaan Den Roro.


"Ini ... ah maaf. Mari ndoro putri ke gubug kami saja. Akan kami sediakan makanan semampu kami," jawab kepala kampung sambil mempersilahkan Den Roro berjalan.


"Terimakasih paman. Paman berjalan di depan, biar aku mengikuti paman dari belakang !" sahut Den Roro cepat.


Kemudian tanpa menunggu lagi, kepala kampung itu berjalan hingga setengah berlari menuju ke rumahnya.


Sesampai di rumahnya yang bersih dan cukup besar bagi ukuran orang kampung, namun sangat sederhana bagi ukuran rumah seorang kepala kampung, laki laki tua itu memanggil istrinya.


"Ni ... cepat siapkan makanan. Apapun yang ada dan yang bisa dimakan. Kita ada tamu pembesar !" kata kepala kampung setengah berteriak.


Segera saja dari dalam rumah keluar seorang perempuan tua namun masih terlihat sehat dan lincah.


"Owhhh ! Baik Ki," jawab istri kepala kampung.


Berikutnya, setelah menunggu selama beberapa saat, di depan Den Roro telah tersedia berbagai macam makanan khas kampung. Dan tanpa malu malu, Den Roro segera menyantap apa yang telah disediakan oleh istri kepala kampung.

__ADS_1


Akhirnya, setelah beberapa waktu berada di kampung itu, karena masih bingung hendak kemana, Den Roro bermalam di rumah kepala kampung.


Ternyata, berdasarkan cerita dari kepala kampung saat mereka berbincang, Den Roro sudah berada jauh dari Kadipaten Langitan.


----- o -----


Pada pagi hari berikutnya, Den Roro terbangun saat matahari baru saja menyebarkan sinarnya di muka bumi.


Begitu keluar kamar, istri kepala kampung sudah menunggunya di luar kamar dan segera menyuruhnya untuk membersihkan diri di belakang.


Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, makanan sudah tersedia di meja, sehingga Den Roro pun segera sarapan.


Ketika baru saja selesai sarapan, tiba tiba terdengar suara tertawa jelek sekelompok orang yang tiba tiba masuk ke ruangan dimana Den Roro sedang sarapan.


"Heehhh he he he .... benar juga kabar yang dibawa pasukan pengintai. Di rumah kepala kampung ini ada perempuan cantik !" kata seorang laki laki tinggi besar berambut gondrong disambut suara tertawa yang lainnya.


"Teman teman, bawa perempuan itu ke markas kita !" perintah laki laki gondrong.


Ternyata, sebelum mereka berjalan maju, tangan kanan Den Roro sudah bergerak terlebih dahulu melemparkan potongan kecil kecil tangkai sayur dan mengenai leher mereka.


"Hehhh ... ! Ada apa dengan kalian ! Ayo lekas bawa perempuan itu !" teriak laki laki gondrong itu.


Namun, lagi lagi saat para anak buah itu baru saja berdiri, tiba tiba mereka terjatuh lagi, saat lutut mereka terkena lemparan potongan kecil tangkai sayur.


Kali ini mereka tidak bisa langsung bangun berdiri lagi, karena kaki mereka terasa lemas.


"Kurang ajar ! Akan aku seret kau !" teriak laki laki gondrong itu, sambil mendekati Den Roro.


Tangan kanannya yang besar dan berotot melayang menyambar tangan Den Roro, namun hanya mengenai tempat kosong saat Den Roro menarik tangannya dan menghindar.


Laki laki gondrong itu melakukannya beberapa kali, namun semuanya bisa dihindari oleh Den Roro.


Melihat ternyata perempuan cantik yang akan mereka bawa ke markas itu bisa ilmu silat, laki laki gondrong itu mencabut goloknya.

__ADS_1


Sriiinnnggg !


"Kalau kamu melawan, terpaksa aku akan melukai kulitmu yang lembut itu !" teriak laki laki gondrong itu.


"Coba saja kalau kalian bisa !" sahut Den Roro sambil melesat ke luar rumah dan menunggu di halaman rumah.


Tanpa berpikir panjang lagi, laki laki gondrong itu menyusul keluar dan langsung menyerang Den Roro.


Den Roro menangkis ayunan golok laki laki gondrong itu beberapa kali dengan senjata pedang yang sudah dia lolos dari sarungnya.


Trang trang ! Trang trang !


Kemudian, dengan tiba tiba Den Roro merubah gerakannya menjadi agak memutar. Gerakan pedang yang memutar itu membuat golok laki laki gondrong itu terpelintir hingga akhirnya golok itu terlepas dari genggaman.


Laki laki gondrong itu belum sempat memahami kenapa goloknya bisa terlepas dari tangannya, ketika tahu tahu mukanya mendapatkan tamparan berkali kali.


Plak plak ! Plak plak ! Plak plak !


Laki laki gondrong itu jatuh berlutut saat merasakan kepalanya pusing dan pandang matanya berkunang kunang. Mulutnya pecah hingga kedua sudut bibirnya penuh dengan darah.


"Kalian semua pergi dari sini, atau kalau tidak, akan aku patahkan semua tangan dan kaki kalian !" bentak Den Roro, "Dan jangan sekali kali kalian berani lagi mengganggu orang lain !"


Dengan masih sedikit sempoyongan, laki laki gondring itu berdiri dan segera meninggalkan tempat itu sambil tangannya menunjuk nunjuk ke arah Den Roro. Namun tidak ada sedikit pun suara yang keluar, karena mulutnya penuh dengan darah.


Keadaan kembali sepi, hanya ada Den Roro dan istri kepala kampung. Dinpikiran Den Roro segera terlintas, jika dia tetap berada di kampung ini, hanya akan membahayakan penduduk kampung.


Maka, setelah melihat ke sekeliling tempat pertarungan tadi dan menyaksikan kerusakannya, Den Roro segera berpamitan pada istri kepala kampung. Tidak lupa, dia tinggalkan satu kampil uang benggol bekalnya kepada istri kepala kampung untuk biaya memperbaiki rumah dan kerusakan yang lainnya.


Tanpa bisa menjawab, istri kepala kampung hanya mengangguk angguk sambil terus menunduk karena masih ketakutan. Sehingga dia tidak tahu sehak kapan Den Roro sudah tidak berada di depannya lagi.


Den Roro segera melesat ke arah laki laki gondrong serta anak buahnya pergi. Dalam pikirannya, akan dia basmi saja orang orang itu, daripada menyengsarakan warga kampung.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2