Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menghadapi Palvagasura


__ADS_3

Setelah merasa pulih kekuatannya, muncul kembali perasaan angkuh pada diri Palvagasura. Dia melihat, hanya ada Daksawangsa, Pemimpin Tertinggi bangsa manusia, dan melihatannya sedang dalam keadaan terluka. Maka tidak ada yang harus dia takuti. Karena dahulu saja, dia bisa kalah karena dikeroyok oleh Daksawangsa dan Indravanara.


Beberapa saat kemudian, Puguh merasakan adanya lonjakan kekuatan yang sangat luar biasa pada tubuh Palvagasura, saat Palvagasura mulai mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya. Kekuatan yang dulu pernah membuatnya merasa bisa mengalahkan para Dewa. Kekuatan yang sudah sangat lama tidak dia pergunakan.


Dengan penuh kepercayaan diri, Palvagasura menggeram dan kemudian tubuhnya yang sangat tinggi besar melesat dengan sangat cepat, menerjang ke arah Puguh.


Ggrrrhhh !


Merasakan itu semua, secara reflek Puguh pun perlahan meningkatkan aliran tenaga dalamnya yang sudah pulih sepenuhnya.


Angin tipis berhembus pelan di sekitar tempat Puguh berdiri. Perlahan tubuhnya pun terangkat dan melayang.


Kemudian, melihat Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa yang sudah melesat ke arahnya, tubuh Puguh pun melesat dengan sangat cepat menyambut serangan Palvagasura.


Suara ledakan terdengar berkali kali seperti mengiringi gerakan mereka.


Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !


Setiap tangan dan kakinya berbenturan dengan tangan dan kaki bangsa manusia yang masih muda yang menjadi lawannya itu, Palvagasura terkejut.


"Anak manusia ini ternyata memiliki kemampuan melebihi Daksawangsa !" kata Palvagasura dalam hati.


Kemudian, merasa belum bisa mendesak lawannya, Palvagasura menambah terus aliran tenaga dalamnya dan kembali mengurung dan memberondong Puguh dengan rangkaian serangan pukulan dan tendangan.


Sementara itu, Puguh yang sudah pernah mendengar tentang kisah Palvagasura, sangat berhati hati dan menangkis ataupun menghindari serangan dengan penuh perhitungan.


Puguh terus meningkatkan aliran tenaga dalamnya sehingga dalam setiap benturan serangan kali ini pun, diam diam Palvagasura merasakan kedua tangannya bergetar bahkan terkadang dadanya seperti mendapat tekanan.


Belum juga bisa memberikan tekanan pada lawannya, Palvagasura merubah jurus yang digunakannya.


Sambil menggerakkan kedua tangannya dengan pola gerakan tertentu, Palvagasura mengalirkan lebih banyak lagi tenaga dalam ke kedua tangannya.


Beberapa saat kemudian, kedua telapak tangannya melakukan gerakan seperti menarik. Tiba tiba, rantai besar yang tergeletak dekat dinding lubang penjara, yang tadinya dipergunakan untuk mengikatnya, bergerak melayang ke arah kedua tangan Palvagasura, dengan sangat cepat seperti ditarik.


Setelah kedua tangannya menangkap ujung rantai, dengan cepat Palvagasura membuat kedua rantai itu mengitari tubuhnya.


Kemudian, dengan sangat mudahnya, Palvagasura mengendalikan kedua rantai itu, untuk senjata penyerang.


Ujung yang satunya dari kedua rantai itu, dengan sangat cepat meliuk liuk mengarah ke tubuh Puguh.

__ADS_1


Begitu cepatnya gerakan kedua rantai itu, membuat tubuh Puguh dan Palvagasura seperti diselimuti rantai.


Melihat lawannya mulai menggunakan senjata, Puguh pun segera menghunus pedangnya.


Pedang di tangan Puguh segera mengeluarkan sinar hijau terang, begitu teraliri tenaga dalam tingkat sangat tinggi dalam jumlah yang cukup besar.


Sinar hijau terang dari bilah pedang di tangan Puguh, cukup membuat terang tempat pertarungan.


Sesaat kemudian, terdengar dentangan logam beradu, ketika dua ujung rantai yang meluncur deras ke arah tubuh Puguh, tertangkis oleh pedang Puguh.


Tanggg Tanggg ! Tanggg Tanggg !


Setiap berbenturan dengan pedang Puguh, ujung rantai itu bergetar hebat dan terpental kembali. Bahkan diam diam, Palvagasura merasakan kedua tangannya yang mengendalikan rantai itu, kebas kebas.


Maka, dengan menambah lagi aliran tenaga dalamnya, Palvagasura membuat tubuhnya melayang ke atas. Kemudian kedua tangannya memutar kedua rantai itu dengan sangat kencangnya, hingga mengeluarkan suara yang menderu.


Dalam putaran rantai yang sangat kencang itu, tiba tiba dua ujung rantai melesat dengan sangat cepatnya mengarah ke tubuh Puguh.


Melihat serangan yang berbahaya, yang dilakukan dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi, Puguh pun menghindarinya dengan melesat ke samping, kemudian tubuhnya melayang.


Terdengar suara ledakan yang sangat keras, saat kedua ujung rantai itu menghantam tanah.


Blaaanggg ! Blaaanggg !


Dengan tingkat kekuatan dan tenaga dalamnya yang sudah sangat tinggi, Palvagasura memainkan rantai itu seperti cambuk. Dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata, kedua ujung rantai itu mematuk matuk bagaikan seekor ular yang mengejar mangsanya.


Namun, setiap ujung rantai itu mendekat, pedang Puguh selalu menghadangnya.


Pertarungan yang terjadi antara Puguh melawan Palvagasura pun berpindah ke angkasa. Ledakan ledakan yang ditimbulkan akibat benturan serangan pun semakin hebat.


Jdammm ! Jdammm !


Deradammm !


Selain itu, suhu udara langit di sekitar pertarungan mereka menjadi turun dengan drastis. Palvagasura terkejut dengan hawa dingin yang menerpa tubuhnya.


----- * -----


Sementara itu di darat. Siluman kera raksasa yang melihat Puguh bertarung melawan Palvagasura, segera melenting ke atas hendak bergabung membantu ayahnya.

__ADS_1


Rengganis yang selalu mengawasi pergerakan siluman kera besar itu, segera melesat terbang, menghadang.


Siluman kera raksasa yang baru sampai setengah jarak, terkejut saat tiba tiba, di depannya, melayang seorang perempuan muda yabg sangat di kenalnya.


"Ggrrrhhh ! Anak perempuan ini, peningkatan kemampuan dan tenaga dalamnya sangat pesat !" kata siluman kera raksasa dalam hati.


"Kera tua ! Tidak usah turut campur pertarungan mereka yang diatas !" kata Rengganis sambil menatap tajam siluman kera raksasa.


"Ggrrhhh ! Perempuan muda ! Berani menghadangku, aku hancurkan tubuhmu !" gertak siluman kera raksasa.


"Kita coba saja. Apakah kau mampu menghancurkan aku !" sahut Rengganis yang tangannya sudah gatal gatal ingin menghajar siluman kera raksasa.


"Ggrrrhhh ! Rasakan ini !" teriak siluman kera raksasa sambil tubuhnya melesat dengan sangat cepat ke arah Rengganis, dan kemudian melayangkan beberapa pukulan dan tendangan.


Menghadapi serangan siluman kera raksasa itu, dengan tenangnya Rengganis menggeser sedikit tubuhnya yang melayang sambil meliukkan tubuhnya.


Gerakan Rengganis yang seperti dahan pohon terkena angin itu, membuat pukulan tangan besar siluman kera raksasa yang sepertinya akan mengenai tubuhnya, tiba tiba hanya mengenai angin kosong.


Whuuusss !!!


Merasa pukulannya hampir mengenai lawannya, siluman kera raksasa itu kembali melakukan serangan pukulan yang terkadang diselingi dengan serangan tendangan.


Namun, hingga berkali kali siluman kera raksasa itu melakukan serangan, tetapi tetap tidak ada satupun pukulan ataupun tendangan siluman kera raksasa yang mampu mengenai tubuh Rengganis.


Whuuusss ! Whuuusss ! Whuuusss !


Plaaasss ! Plaasss !


Pukulan dan tendangan siluman kera raksasa yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi, selalu nyaris mengenai tubuh Rengganis. Walaupun siluman kera raksasa itu terus menambah kecepatannya.


Seolah sudah mencapai puncak kesabarannya, siluman kera raksasa itu meloncat ringgi dan kemudian meluncur terus. Tubuh besar siluman kera raksasa itu meluncur dengan sangat cepat.


Wheeesss !


Saat tangan siluman kera itu sudah sangat dekat, Rengganis memindah tubuhnya dengan melayang ke samping.


Kemudian kaki kanannya mencuat cepat dan dengan telak mengenai punggung siluman kera raksasa.


Dhuaaakkk !

__ADS_1


Walaupun melakukan gerakannya seperti dengan santai, namun itu sudah membuat tubuh siluman kera raksasa, terdorong hingga beberapa meter.


__________ ◇ __________


__ADS_2