
Dua ratus orang pasukan perang Kerajaan Menara Langit itu sebenarnya memiliki peralatan yang lengkap. Tetapi, karena bertarung di tempat yang sempit membuat kekuatan pasukan perang Kerajaan Menara Langit tidak keluar secara maksimal.
Apalagi setelah jalan masuk ke tepi sungai itu tertutup dengan kehadiran puluhan pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang rata rata kemampuan ilmu silatnya sudah pada tingkat tinggi. Hal itu membuat pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang berada di tengah tidak bisa ikut bertarung.
Beberapa waktu kemudian, di jalan masuk menuju ke tepi sungai itu, terjadi hal yang lebih tepat disebut pembantaian daripada pertarungan. Karena, para pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha itu, bukan lawan yang sepadan bagi para prajurit pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang rata rata ilmu silatnya berapa pada tingkat menengah.
Sementara itu, di tengah tengah tempat pertarungan itu, dua senopati Kerajaan Kaling Pura dibantu oleh beberapa pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha, menghadapi delapan panglima perang yang rata rata memiliki kekuatan dan ilmu silat pada tingkat tinggi.
Karena kalah dalam tingkat ilmu silat dan tenaga dalam, membuat belum sampai lima puluh jurus, delapan panglima perang itu terdesak.
Pada pertarungan yang lain, Roro Nastiti yang dibantu oleh Pangeran Kanaya Wijaya, bertarung sengit menghadapi seorang panglima perang Kerajaan Menara Langit yang memiliki ilmu silat dan tenaga dalam yang tingkatannya sudah sangat tinggi.
Setiap benturan senjata mereka, selalu menimbulkan suara dentangan logam.
Setelah pertarungan berjalan sekitar lima puluh jurus, diam diam Roro Nastiti merasakan, kedua tangannya sedikit bergetar setiap kedua pedangnya berbenturan dengan senjata pedang lawannya.
Namun, ketertinggalannya dalam tingkat tenaga dalam itu, bisa dia tutup dengan kecepatannya, yang membuat sedikit demi sedikit, kedua pedang Roro Nastiti mulai mampu memberikan luka sayatan di beberapa bagian tubuh lawannya.
Ditambah lagi dengan serangan serangan Pangeran Kanaya Wijaya yang selalu menghadang arah gerak panglima perang yang menjadi lawannya.
Sementara itu, di tempat paling ujung di dekat sungai, terjadi pertarungan satu melawan satu antara Puguh yang menghadapi satu panglima perang.
Walau mereka berdua melakukan pertarungan dengan tangan kosong, tetapi serangan serangan mereka berdua, tidak kalah mematikannya dari pertarungan bersenjata.
Jurus jurus ilmu silat tangan kosong Bantala Wreksa, terlihat semakin cepat dan lebih bertenaga ketika dimainkan oleh Puguh.
Dengan kecepatan yang sudah tidak bisa lagi diikuti oleh mata, pukulan dan tendangan Puguh, setiap saat berbenturan dengan pukulan dan tendangan panglima perang Kerajaan Menara Langit, yang memainkan menggunakan jurus jurus khas prajurit pasukan perang yang lugas dan sangat bertenaga.
Benturan pukulan dan tendangan mereka yang mengandung penuh tenaga dalam, selalu menimbulkan suara yang cukup keras.
__ADS_1
Plak ! Plak ! Plak !
Dbaaammm ! Dbaaammm !
Pertarungan belum sampai lima puluh jurus, namun Puguh sudah bisa mengukur tingkat kesaktian dan tenaga dalam panglima perang yang menjadi lawannya.
"Panglima perang ini bukan termasuk panglima perang yang mengenakan baju panglima berwarna keemasan. Pastinya kesaktiannya masih di bawah Panglima Perang Jaladra ! Aku harus secepatnya menghabisinya !" kata Puguh dalam hati.
Sementara itu, panglima perang yang menjadi lawan Puguh, diam diam sangat terkejut dengan pertarungan yang dihadapinya.
"Kenapa tidak ada yang memberitahukan kepadaku kalau dipihak para pengacau ini ada yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi. Kedua kaki dan tanganku selalu bergetar keras setiap membentur tangan dan kakinya. Kekuatan dan kesaktiannya, paling tidak berada pada tingkat yang sama dengan Panglima Jaladri ! Aku harus mundur dulu !" kata panglima perang itu dalam hati.
Puguh yang melihat ada sedikit kepanikan pada panglima perang yang menjadi lawannya, segera meningkatkan kecepatan dan aliran tenaga dalamnya.
Hingga akhirnya, pada satu kesempatan, pukulan mereka yang mengandung getaran kekuatannyang sangat besar, kembali berbenturan dan kembali menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.
Tanpa diduga oleh panglima perang itu, benturan pukulan yang baru saja terjadi itu membuat tubuhnya terlempar ke belakang hingga tuhuhnya membentur dinding dan kemudian tubuhnya jatuh ke tanah dengan posisi terduduk.
Panglima perang itu merasakan dadanya sesak dan nafasnya sangat berat. Saat akan berusaha bangkit lagi, panglima perang itu kembali jatuh dan memuntahkan darah segar.
Kemudian, dengan muka yang pucat, panglima perang itu mengusap sisa sisa darah di mulutnya dengan lengan baju kirinya. Dilanjutkan dengan cepat, tangan kirinya merogoh ke dalam baju.
Sementara itu, Puguh yang tidak terpengaruh dalam benturan pukulan tadi, segera melesat kembali ke arah panglima perang itu dan melakukan serangan pukulan lagi, saat melihat lawannya itu melakukan gerakan mencurigakan.
Namun Puguh terlambat sesaat. Ketika pukulan tangan kanan Puguh mengenai mengenai kepala panglima perang itu, lawannya itu sudah menarik tangan kirinya, dan meluncurkan sejenis bola api tanda minta bantuan.
Plaaasss !
Praaakkk !
__ADS_1
Sesaat kemudian, bola api itu menyala di angkasa. Bersamaan dengan itu, kepala panglima perang itu pecah terkena pukulan tangan kanan Puguh, yang membuatnya tewas seketika.
Bersamaan dengan itu, setelah menerima banyak luka sayatan yang cukup banyak mengeluarkan darah, hingga melemahkan tenaganya dan mengurangi kecepatan geraknya, pada satu kesempatan melakukan serangan, pedang pendek Roro Nastiti berhasil menembus dada panglima perang yang menjadi lawannya.
Sesaat kemudian, panglima perang itu jatuh tersungkur ke tanah dan tewas, menyusul panglima perang yang melawan Puguh, yang sudah tewas terlebih dahulu.
Di barisan depan para prajurit pasukan perang Kerajaan Kanaya Wijaya, delapan orang panglima perang yang berhadapan dengan dua senopati Kerajaan Kaling Pura dan beberapa pendekar berbaju pengemis, akhirnya menyusul tewas.
Sementara itu, setelah melihat dan mendengar pemimpinnya tewas, para prajurit itu semakin panik dan kebingungan.
Banyak dari prajurit Kerajaan Menara Langit yang memilih meninggalkan pertarungan dengan menceburkan diri ke sungai.
Tetapi, bukan keberuntungan yang didapatkan olah para prajurit yang menceburkan dirinya ke sungai. Dari dalam sungai, keluar para pendekar berbaju pengemis yang sejak tadi bersembunyi di dalam air.
Dengan sekali mengayunkan tongkatnya, banyak prajurit yang terkena pukulan tongkat para pendekar berbaju pengemis, dan tewas seketika.
Akhirnya menjelang sore, pertarungan di jalan di dekat sungai itu, berakhir dan tidak menyisakan satu pun prajurit lawan yang hidup.
Dalam pertarungan dan peperangan kali ini, tidak banyak prajurit dan pendekar yang menjadi korban.
Namun, hal itu tidak membuat Puguh dan Roro Nastiti bersantai. Mereka berdua segera menemui Pangeran Kanaya Wijaya dan dua senopatinya, serta pendekar pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha.
"Pangeran Kanaya Brastha, sebelum tewas, panglima perang yang melawanku berhasil meluncurkan bola api. Maka, tidak lama lagi, akan datang pasukan perang yang jauh lebih besar dari pasukan perang yang kita hadapi tadi !" kata Puguh.
"Pangeran Kanaya Wijaya, kalau bisa, segera kumpulkan semua kekuatan yang ada, baik itu sisa sisa prajurit ataupun para pendekar yang membantu kita ! Agar kita bisa segera menyusun kekuatan dan strategi !" kata Roro Nastiti.
"Segera, Pendekar Puguh dan Pendekar Roro Nastiti ! Aku sudah menyuruh beberapa prajurit mata mata dan meminta tolong teman teman pendekar, terutama pendekar pendekar yang tergabung dalam Padepokan Kuwanda Brastha, untuk mengirim sebanyak mungkin kekuatan yang kita himpun !" jawab Pangeran Kanaya Wijaya.
---------- ◇ ----------
__ADS_1