
Bersamaan dengan suara ledakan pukulan yang mengandung tenaga dalam yang luar biasa besar itu, terdengar suara lengkingan teriakan Ratu Iblis yang sangat memilukan.
Aaarrrggghhh !!!
Ratu Iblis itu menatap tajam ke arah Puguh. Mulutnya menggumamkan suara tidak jelas seperti hendak mengatakan sesuatu. Sesaat kemudian, di seluruh tubuh Ratu Iblis yang sangat besar itu muncul garis retakan yang merata, dan kemudian tubuh api yang sangat besar itu meledak dan hancur berkeping keping. Kepingan kepingan tubuh apinya menyebar ke segala arah, hingga untuk beberapa saat, warna merah membara memenuhi seluruh selubung pelindung yang dibuatnya.
Ledakan tubuh api Ratu Iblis itu melepaskan kekuatan yang sangat besar, sehingga mampu membuat tubuh Puguh terlempar ke belakang hingga hampir menyentuh dinding selubung yang bergetar hebat menahan luapan kekuatan yang menyebar.
Puguh berusaha meredam gerak tubuhnya secepatnya, sehingga akhirnya bisa tetap melayang. Kemudian, Puguh menambah lagi aliran tenaga dalamnya yang masih tersisa, terutama ke bilah pedangnya yang semakin berwarna hijau terang.
Puguh menggerakkan pedang itu dengan jurus jurus akhir ilmu Jata Candrama, yang membuat kepingan tubuh Ratu Iblis yang menyala merah membara itu meluncur mendekat dan meresap ke dalam bilah pedang di tangan kanan Puguh.
Warna merah membara yang memenuhi seluruh selubung itu dengan cepat berkurang dan akhirnya habis, hingga menampakkan satu bola sinar berwarna kuning sebesar ibu jari yang melayang naik.
Dengan cepat, tangan kiri Puguh membuat serangkaian gerakan dan kemudian menarik bola sinar kuning mendekat dan menangkapnya serta menyelubunginya dengan pendaran sinar hijau dari bilah pedangnya.
Setelah semua energi kekuatan yang berada di dalam selubung itu habis, Puguh menarik kembali tenaga dalam yang membentuk selubung. Hingga menampakkan keadaan wilayah itu yang sudah memasuki dini hari.
Beberapa saat menjelang munculnya garis di ufuk timur, Puguh mendengar suara perempuan.
"Anak muda, benarkah kau murid dari kakang Baruna ? Aku minta padamu, segera pertemukan aku dengannya !" kata suara perempuan itu.
"Tanpa kamu minta sekalipun, aku akan membawamu untuk bertemu dengan resi Baruna, Dewi Kilagni !" jawab Puguh.
Kemudian, tepat saat munculnya garis kuning di ufuk timur, Puguh melesat dan kembali menuju pohon besar tempat beradanya jiwa resi Baruna, yang sudah dia lapisi dan lindungi dengan selubung pelindungi, hingga hanya yang tahu dan bisa merasakan keberadaannya serta hanya dia yang bisa membukanya.
Sesampainya di tempat pohon besar itu, Puguh segera masuk ke dalam selubung pelindung itu, dan dibuat terkejut dengan keadaan pohon besar itu.
__ADS_1
Pohon besar itu tidak serindang kemaren, terlihat kurus, daunnya banyak yang menguning berguguran.
Segera saja Puguh mendekat dan memanggil resi Baruna sambil mencoba merasakan getaran tenaga dalamnya.
Puguh melihat, Tubuh dan wajah resi Baruna berada di kulit pohon besar itu, bagian bawah setinggi pinggang Puguh.
"Resi Baruna, apa yang terjadi denganmu ? Aku telah menunaikan apa yang menjadi pesanmu !" kata Puguh.
"Puguh, terimakasih telah memenuhi permintaanku. Saat engkau bertarung dengan Ratu Iblis, siluman kera raksasa itu berhasil menemukanku. Rupanya siluman kera raksasa itu sudah banyak menyerap asap tipis dari jasad manusian dan juga jiwa iblis. Dengan menggunakan teman wanitamu untuk mengancamku, kera raksasa itu meminta kekuatan dan tenaga dalamku. Aku bersedia memberikan kekuatanku, asal kera raksasa itu melepaskan temanmu yang ditahannya. Saat tubuhnya baru saja masuk ke dalam tanah hingga pinggangnya dan telah melepaskan temanmu, tiba tiba kera raksasa itu kembali melesat pergi dengan cepat saat mendengar suara ledakan pertarunganmu. Dia bisa mendengar ledakan dan teriakan Ratu Iblis itu, karena jiwa iblis yang sudah dia serap," kata resi Baruna menjelaskan.
"Apakah setelah ledakan itu, ada kau lihat seberkas bola sinar sebesar ibu jari ?" tanya resi Baruna.
"Aku hanya melihat bola sinar berwarna kuning sebesar ibu jari yang kemudian aku masukkan ke dalam bilah pedang ini," jawab Puguh.
"Yang aku khawatirkan, karena telah terbiasa menghisap jiwa iblis, kera raksasa itu sudah terlebih dahulu bisa merasakan jiwa Ratu Iblis dan bersedia dijadikan rumah baru bagi jiwa Ratu Iblis serta menyerap kekuatannya !" kata resi Baruna lagi.
"Tidak apa apa. Itu semua diluar perkiraan kita. Hanya saja, tugasmu bertambah lagi, untuk memastikan kera raksasa itu tidak menjadi sumber kejahatan. Temanmu aku sembunyikan di dalam rongga batang pohon besar ini !" kata resi Baruna.
Mendengar perkataan resi Baruna, Puguh segera mendekat dan segera bisa merasakan getaran tenaga dalam Rengganis, walaupun sangat lemah. Puguh menemukan Rengganis masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Puguh, sekarang cepatlah kau bunuh aku, biar jiwaku bisa segera bertemu dengan Dewi Kilagni !" jawab resi Baruna.
Awalnya Puguh masih ragu untuk melaksanakan permintaan resi Baruna. Namun setelah resi Baruna mengatakan kalau keadaan akan menjadi lebih sulit bagi Puguh, jika siluman kera raksasa itu datang dalam keadaan resi Baruna masih belum mati, sedangkan Rengganis sendiri masih belum sadarkan diri.
Akhirnya, setelah meletakkan tubuh Rengganis yang masih belum sadar di dekat batang pohon, dengan menggunakan jurus Jata Candrama yang dimainkan dengan senjata pedang, Puguh melaksanakan permintaan resi Baruna dengan mengakhiri hidupnya.
Hanya dalam beberapa saat, pedang Puguh menancap di dada kiri resi Baruna.
__ADS_1
Seketika dari dalam batang pohon besar itu, keluar asap yang menyelimuti bola sinar berwarna kuning. Dan segera saja, Puguh melepaskan kembali jiwa Dewi Kilagni.
Dalam keadaan melayang, kedua bola sinar itu bertemu dan kemudian bersama sama naik keatas.
Sesaat kemudian, dari arah naiknya dua bola sinar kuning, muncul bayangan dua sosok tubuh kakek dan nenek yang telah sangat renta. Wajah mereka terlihat berseri seri. Dua sosok tubuh itu adalah resi Baruna dan Dewi Kilagni.
Dua bayangan tubuh itu melayang naik ke atas sambil melambaikan tangannya.
Saat Puguh membalas melambaikan tangannya, tiba tiba berkesiuran angin yang sangat besar, saat sebuah tangan yang sangat besar menerjang ke arah mereka.
Karena sudah tidak mungkin menghindar, Puguh memapaki datangnya serangan tangan tangan sangat besar dengan mengeluarkan tenaga dalam, dalam jumlah yang sangat besar.
Pertemuan telapak tangan yang sangat besar dan yang membawa tenaga dalam yang sangat tinggi, dengan pukulan Puguh yang mengandung tenaga dalam sangat tinggi itu, menimbulkan ledakan yang sangat kuat dan kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Dbaaannnggg !
Dalam benturan dua tenaga dalam yang sangat tinggi itu, tubuh Puguh terlempar ke belakang dan kemudian jatuh ke tanah. Sementara tubuh kera raksasa yang menyerang Puguh dengan mendadak itu terlempar hingga kembali keluar dari selubung pelindung, kemudian jatuh berdebum di tanah.
Dbummm !
Setelah terjatuh, selama beberapa saat Puguh terdiam. Pandangan matanya masih terlihat putih semuanya, hingga belum bisa melihat.
Tetapi, setelah beberapa waktu, akhirnya Puguh bisa kembali melihat. Puguh pun segera bangun berdiri lagi.
Namun alangkah terkejutnya Puguh, ketika melihat, dirinya sudah berada di tempat yang sama sekali berbeda.
__________ ◇ __________
__ADS_1