
Siluman elang dengan Puguh berada di punggungnya, bahkan harus berjumpalitan sambil mengepakkan sayapnya, hingga akhirnya bisa berhenti dengan Puguh mendarat di tanah, sedangkan siluman elang melayang di atasnya. Terlihat sedikit noda darah terdapat pada salah satu sisi bilah pedangnya.
"Pantas saja orang itu berhasil menduduki jabatan panglima perang ! Tingkat kesaktiannya sulit diukur !" kata Puguh pelan dengan nafas sedikit memburu.
Kemudian, Puguh mencoba melihat ke arah depan, ke arah terlemparnya Panglima Jaladra. Namun, Puguh tidak menemukan adanya sosok Panglima Jaladra, sehingga Puguh belum bisa memastikan, apakah lawannya itu masih hidup atau berhasil dia tewaskan.
Namun kemudian, terlihat Puguh sedikit menggeleng gelengkan kepalanya, setelah telinganya sesaat menangkap sebuah suara.
Sementara itu, di tempat yang cukup jauh, yang berseberangan dengan posisi Puguh berdiri. Panglima Jaladra, sambil terduduk, segera melakukan beberapa totokan pada tangan kanannya yang putus sebatas siku setelah terkena tebasan pedang Puguh. Terlihat pula noda darah di kedua sudut bibirnya.
Kemudian, sambil menahan rasa sakit, Panglima Jaladra memaksakan diri bangkit, kemudian melesat pergi setelah sebelumnya menyambar potongan tangan kanannya berikut senjata tombaknya yang masih tergenggam oleh potongan tangan kanannya. Di belakangnya terlihat menyusul melesat, dua sosok panglima perang bawahannya.
"Aku akui, aku kalah, bocah ! Tapi tunggulah pembalasanku !" kata Panglima Jaladra yang walaupun pelan, namun diucapkan dengan menggunakan tenaga dalam.
Semua hal itu dilakukannya dengan cepat, setelah sebelumnya, sesaat setelah terjadinya ledakan itu, tubuhnya terlempar cukup jauh kemudian jatuh terhempas di tanah.
Kemudian, selama beberapa waktu, semuanya terdiam. Seakan alam pikiran mereka masih terbawa suasana pertarungan.
Namun, kemudian Puguh mendekat ke arah Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Dewi Laksita yang sudah berkumpul lagi. Terlihat, dari pakaian yang mereka bertiga kenakan, mereka mendapatkan beberapa luka luka di tubuhnya.
Untungnya, setelah Puguh mendekat dan memeriksa keadaan tubuh tiga tokoh senior dunia persilatan itu, mereka bertiga hanya menderita luka luar.
Sementara itu, Roro Nastiti dan Putri Cinde Puspita yang berdiri agak jauh, terlihat enggan untuk mendekat ke arah tokoh tokoh senior itu.
"Puguh, hendak sampai kapan, kau titipkan inti jiwa siluman serigala mata biru pada kami ?" tanya Dewi Laksita, setelah mereka semua saling menanyakan kabar.
__ADS_1
"Maaf bibi ! Kalau bibi berkenan, aku titipkan sampai dengan adik Rengganis bisa aku temukan !" jawab Puguh.
Setelah mendengar jawaban Puguh, Dewi Laksita memanggil Putri Cinde Puspita agar mendekat. Sementara, Puguh juga melambaikan tangannya memanggil Roro Nastiti agar mendekat ke arah mereka semua.
Pada kesempatan itu, kepada Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita, Puguh menceritakan tentang datangnya pasukan perang yang sangat besar, yang sebagian sudah melakukan perjalanan ke arah Kerajaan Kisma Pura.
"Berapa kira kira jumlah pasukan yang datang itu ?" tanya Ki Dwijo.
"Murid bersama Roro Nastiti, pada beberapa hari yang lalu pernah melakukan pengintaian. Pasukan yang mendarat di pesisir itu berjumlah sekitar sepuluh ribu orang !" jawab Puguh.
Kemudian, Puguh juga menyampaikan, kalau Kerajaan Kisma Pura yang sangat besar sekalipun, kalau hanya mengandalkan kekuatan para prajuritnya, akan kesulitan menghadapi pasukan perang dari tanah seberang itu. Karena, pasukan perang itu, selain jumlah prajuritnya yang sangat besar, juga memiliki banyak panglima perang yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi.
Puguh juga menceritakan tentang Pangeran Langit Barat, yang tiba tiba datang ke tanah Jawadwipa dan bermaksud mencari dirinya untuk ditantang adu kesaktian.
"Sebentar ngger, Puguh ! Kau tadi menyebut nama Pangeran Langit Barat ! Sementara, panglima perang yang kau kalahkan tadi, yang mengaku bernama Panglima Jaladra, mengatakan, mereka pasukan dari Kerajaan Kaling Pura ! Ada yang tidak masuk akal dan terlihat sangat aneh di sini !" kata Resi Wismaya.
"Yang pertama, Kerajaan Kaling Pura memang kerajaan pesisir, tetapi bukan kerajaan besar seperti Kerajaan Kisma Pura. Jadi tidak mungkin mereka mempunyai prajurit atau pasukan perang sebanyak sekitar sepuluh ribu orang !" jawab Resi Wismaya.
"Yang kedua, anak anak raja Kerajaan Kaling Pura, tidak ada yang bernama Pangeran Langit Barat !" sambung Resi Wismaya.
"Terus, pasukan dengan jumlah sebanyak itu dan memiliki banyak panglima perang yang memiliki kesaktian pada tingkatan yang sangat tinggi, kalau bukan dari Kerajaan Kaling Pura, berasal dari manakah mereka ?" tanya Dewi Laksita.
"Para guru yang terhormat, mohon perkenannya untuk ikut campur dalam pembicaraan ini !" kata Roro Nastiti sambil menjura ke arah tiga tokoh senior dunia persilatan itu.
Mendengar perkataan Roro Nastiti, ketiga tokoh tua itu mengangguk sambil menatap tajam Roro Nastiti, menunggu apa yang hendak disampaikannya.
__ADS_1
"Puguh, saat itu, kami para senopati kerajaan Banjaran Pura, sempat bertarung mengeroyok seseorang yang mengaku bernama Pangeran Langit Barat. Kau sudah tahu, saat itu kami semua kalah melawannya. Saat itu, Pangeran Langit Barat mengatakan kalau dirinya berasal dari Kerajaan Menara Langit. Jadi kemungkinan besar, kalau memang pasukan yang sangat besar itu ada hubungannya dengan Pangeran Langit Barat, kemungkinan pasukan itu juga berasal dari Kerajaan Menara Langit !" kata Roro Nastiti sambil melirik tajam ke arah Putri Cinde Puspita.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Roro Nastiti, sejenak semuanya terdiam. Ketiga tokoh tua itu terlihat mengangguk angguk.
"Setahuku, beberapa waktu yang dulu saat aku melakukan perjalanan hingga ke Kaling Pura, tidak ada pangeran Kerajaan Kaling Pura yang bernama Pangeran Langit Barat. Saat itu, raja Kaling Pura memiliki dua anak yang masih kecil, kalau tidak salah bernama Pangeran Kanaya Wijaya dan Putri Citraloka !" kata Resi Wismaya.
"Yang akhirnya menjadi pertanyaan adalah, apa yang terjadi dengan Kerajaan Kaling Pura ?" kata Ki Dwijo pelan.
"Juga, kalau memang pasukan perang asing yang mendarat, berjumlah sekitar sepuluh ribu, kemana perginya, pasukan yang yang lainnya, ketika yang berjalan menuju kotaraja hanya berjumlah sekitar tiga ribu prajurit ?" kata Resi Wismaya.
Semuanya terdiam lagi, mendengar pertanyaan Resi Wismaya. Namun, beberapa saat kemudian, suasana diam itu terpecahkan oleh suara Ki Dwijo.
"Melihat semua hal yang memunculkan pertanyaan pertanyaan itu, sebaiknya kita berbagi tugas !" kata Ki Dwijo.
"Puguh, kamu dengan ditemani oleh Roro Nastiti, pergilah ke pesisir, masuklah ke kotaraja Kerajaan Kaling Pura. Carilah berita sebanyak banyaknya tentang keadaan yang sebenarnya sedang terjadi !" sambung Ki Dwijo.
"Baik guru !" jawab Puguh.
"Dewi Laksita, sebaiknya kau temani Putri Cinde Puspita pulang ke Kerajaan Banjaran Pura, dan ikut menjaga keadaan di sana ! Sedangkan aku bersama Resi Wismaya, akan berusaha mendahului pasukan perang yang menuju ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura, untuk kemudian kami akan membantu pasukan Kerajaan Kisma Pura, bilamana pasukan perang asing itu menyerang kerajaan !" lanjut Ki Dwijo.
"Harap guru semua berhati hati, karena di dalam pasukan perang asing itu banyak terdapat panglima perang dengan tingkat kekuatan yang sangat tinggi. Dan juga, sebisa mungkin dan sebanyak mungkin, kita mengajak para pendekar, untuk ikut membantu kerajaan manapun yang diserang oleh pasukan asing itu !" kata Puguh.
"Satu lagi guru, dimanakah tempat yang akan kita jadikan tempat berkumpul, seandainya kita ingin bertemu dan ada yang hendak kita sampaikan ?" tanya Puguh.
"Untuk sementara, yang menjadi tempat berkumpul kita adalah kotaraja Kerajaan Kisma Pura !" jawab Resi Wismaya.
__ADS_1
Akhirnya, setelah mereka semua mengobati luka luka yang mereka dapatkan dan sudah pulih sebagian besar tenaga dalam mereka, mereka berenam berpisah, menuju ke tiga arah.
---------- ◇ ----------