
Puluhan jurus telah berlalu. Dewi Laksita memperhatikan, Ki Dahana Yaksa seperti tidak terpengaruh oleh serangannya.
Maka, sambil kembali menambah aliran tenaga dalamnya, tubuh Dewi Laksita melenting ke atas dan kemudian meluncur cepat ke arah Ki Dahana Yaksa dan melakukan serangan tusukan ke tubuh Ki Dahana Yaksa.
Melihat serangan yang sangat cepat itu, Ki Dahana Yaksa melintangkan pedangnya di depan dada untuk menangkis datangnya serangan Dewi Laksita.
Klang !!!
Dalam benturan senjata itu, Dewi Laksita membenturkan kedua senjata trisulanya secara berturutan.
Getaran suara dari senjata dwisula Dewi Laksita terdengar beriringan.
Twang twang !
Getaran suara yang beriringan itu, membuat Ki Dahana Yaksa terdorong mundur hingga beberapa langkah. Ki Dahana Yaksa merasakan, telinganya bertambah sakit.
Tidak terima kalau sampai kalah dari Dewi Laksita, Ki Dahana Yaksa segera mengacungkan pedangnya ke atas. Mulutnya bergerak gerak membaca mantera. Sesaat kemudian, muncul selarik sinar hijau yang entah datang dari mana dan langsung masuk ke dalam bilah pedang.
Beberapa saat kemudian, suatu tenaga dalam tingkat yang sangat tinggi membanjiri seluruh tubuh Ki Dahana Yaksa.
Terlihat ada sedikit perubahan dari tubuh Ki Dahana Yaksa. Matanya yang lingkaran hitamnya mengecil menatap tajam dan dingin dan terkesan kejam. Urat urat di kedua tangannya menjadi berwarna hijau tua dan terlihat membesar dan menonjol. Bilah pedangnya diselimuti sinar hijau tipis.
Kemudian, dengan sedikit menyeringai, Ki Dahana menjejakkan kakinya ke tanah, yang membuat tubuhnya melesat sangat cepat ke arah Dewi Laksita.
Sementara itu, melihat perubahan pada diri Ki Dahana Yaksa, Dewi Laksita diam diam terkejut.
"Apakah Ki Dahana Yaksa mengembangkan ilmu iblis ?" tanya Dewi Laksita dalam hati, sambil bersiap kembali menghadapi Ki Dahana Yaksa.
Kemudian, secara perlahan, tenaga dalam Dewi Laksita bertambah hingga dalam jumlah yang sangat besar. Sebegitu besarnya tenaga dalam Dewi Laksita hingga membuat kedua senjata dwisulanya bergetar dan mengeluarkan suara dengungan.
Wuuuiiing ! Wuuuiiing !
Sesaat kemudian, Dewi laksita melesat begitu cepatnya, hingga tubuhnya seolah menghilang.
Dalam waktu singkat, terjadi benturan senjata yang dilapisi tenaga dalam, hingga menimbulkan suara ledakan berkali kali.
Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !
Seperti tidak pernah berkurang sedikitpun tenaga dalamnya, Ki Dahana Yaksa terus merangsek dan menyerang dengan kekuatan penuh. Pedangnya terus mencecar pertahanan Dewi Laksita.
__ADS_1
Namun Dewi Laksita mengimbangi serangan Ki Dahana Yaksa dengan bergerak lebih cepat lagi. Senjata dwisulanya yang teraliri tenaga dalam tingkat yang sangat tinggi, selalu menangkis kemanapun pedang Ki Dahana Yaksa bergerak. Dalam setiap tangkisannya, senjata dwisula itu mengeluarkan suara dentangan yang lebih keras lagi.
Kwanggg ! Kwanggg !
Dentangan senjata dwisula yang mengandung tenaga dalam sangat tinggi itu, membuat jurus jurus yang dimainkan oleh Dewi Laksita terlihat unik namun sangat membahayakan.
Setiap suara dentangan senjata dwisula Dewi Laksita, terasa sangat menyakitkan di telinga Ki Dahana Yaksa. Sehingga memaksa Ki Dahana Yaksa mengeluarkan tenaga dalamnya lebih besar lagi untuk menyerap sinar hijau yang tiba tiba datang lagi dari bawah puncak gunung.
Tanpa Dewi Laksita sadari, suara dentangan senjata trisula itu, justru membuat Ki Dahana Yaksa terpacu untuk terus mengeluarkan tenaga dalamnya. Yang akhirnya, membuat tenaga dalam Ki Dahana Yaksa berhasil menyerap sinar hijau yang muncul dari bawah puncak Gunung Pedang. Hal itulah yang membuat Ki Dahana Yaksa terlihat seperti tidak pernah kehabisan tenaga dalam.
Pada pertarungan itu, begitu cepatnya pergerakan Ki Dahana Yaksa dan Dewi Laksita, sehingga hanya terlihat kelebatan tubuh mereka berdua.
Tenaga dalam dan kecepatan mereka masih terlihat seimbang. Ki Dahana Yaksa dan Dewi Laksita masih saling bergantian memberikan serangan.
Hingga tanpa terasa dua ratus jurus terlewati. Pada saat itulah, Dewi Laksita mulai terlihat mengalami sedikit penurunan kecepatan dan tenaga dalam. Sementara Ki Dahana Yaksa masih terlihat segar bersemangat.
Perlahan lahan, Dewi Laksita mulai keteter. Beberapa luka karena pukulan tangan kiri Ki Dahana Yaksa mulai dia terima. Bahkan sudah dua kali pedang Ki Dahana Yaksa berhasil menyayat bahu kiri Dewi Laksita.
Hingga pada suatu saat, sambil sedikit melompat, Ki Dahana Yaksa menebaskan senjata pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Dewi Laksita.
Melihat datangnya serangan itu, Dewi Laksita menggerakkan kedua senjata dwisulanya untuk menangkis tebasan pedang.
Twang twang !
Pada saat itulah, dengan sangat cepat, Ki Dahana Yaksa menyusuli serangannya dengan tendangan yang sangat keras ke arah perut Dewi Laksita.
Buuggghhh !
Dewi Laksita yang belum begitu siap karena kuda kudanya yang sedikit goyah, tubuhnya terlempar ke belakang hingga beberapa meter dan jatuh terduduk di tanah.
Muka Dewi Laksita terlihat pucat dengan nafas yang agak berat.
Dengan bertumpu pada kedua senjatanya, Dewi Laksita mencoba bangkit lagi. Namun, baru saja hendak mengangkat tubuhnya, Dewi Laksita memuntahkan darah segar.
"Peningkatan kekuatan yang tidak sewajarnya ! Ilmu baru apa lagi yang dipelajari oleh Ki Dahana Yaksa ?" kata Dewi Laksita dalam hati.
Sementara itu, melihat Dewi Laksita terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi, Ki Dahana Yaksa tertawa puas.
"Haahhh ha ha ha .... !"
__ADS_1
Tetapi tawa itu seketika terhenti, ketika Ki Dahana Yaksa merasakan ada sedikit darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
"Wuuhhh ! Tehnik getaran suaranya, masih saja bisa menembus pertahananku ! Dewi Laksita semakin bertambah kuat saja. Beruntung aku sudah bisa menggunakan kekuatan siluman elang itu !" gumam Ki Dahana Yaksa.
"Baiklah ! Mari kita selesaikan pertarungan ini, Dewi Laksita !" kata Ki Dahana Yaksa sambil kembali melesat ke arah Dewi Laksita, dengan senjata pedang yang disiapkan untuk menusuk dada.
----- * -----
Semwntara itu, bersamaan dengan pertarungan Ki Dahana Yaksa melawan Dewi Laksita.
Resi Wismaya masih meladeni setiap serangan Ki Jala Seta.
Sejak pertama masuk ke dunia persilatan, Ki Jala Seta selalu mendengar berita tentang kehebatan dan kesaktian Resi Wismaya.
Maka, Ki Jala Seta selalu mencari kesempatan untuk bisa bertemu dengan Resi Wismaya untuk menjajal ilmu kesaktiannya.
Beberapa kali Ki Jala Seta bisa menjumpai Resi Wismaya dan menantangnya berduel.
Namun karena merasa tidak ada permasalahan apa apa diantara mereka, Resi Wismaya selalu menghindari pertarungan melawan Ki Jala Seta.
Hingga akhirnya pada pertemuan menghadiri undangan Ki Dahana Yaksa sekarang ini, Resi Wismaya sudah tidak bisa menghindari lagi pertarungannya melawan Ki Jala Seta.
Ki Jala.Seta yang merasa, sekarang ini kesempatan yang terbaik untuk mencoba melawan Resi Wismaya, segera mengeluarkan semua kemampuannya.
Senjata dayung besar yang menjadi andalannya, sudah sejak pertama dia keluarkan.
Tubuhnya yang tinggi gemuk, dengan sangat ringannya Ki Jala Seta memutar senjata dayung besar, hingga menimbulkan suara hembusan angin.
Tubuh besar Ki Jala Seta tidak mengurangi sedikitpun kecepatannya.
Tubuh Ki Jala Seta melesat menerjang Resi Wismaya dengan hantaman hantaman senjata dayung besarnya.
Namun, tubuh tua Resi Wismaya dengan sangat ringan menghindari setiap hantaman senjata dayung besar yang mengancam tubuhnya. Sehingga seringkali senjata dayung besar itu menghantam tanah hingga menimbulkan suara ledakan.
Wushhh ! Wushhh !
Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !
__________ ◇ __________
__ADS_1