Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Senopati Wiraga


__ADS_3

Begitu mereka berdua sudah kembali berdiri dengan kokoh dan menatap lawannya, Puguh terkejut melihat pakaian yang dikenakan sosok yang berdiri di depannya itu.


"Senopati kerajaan ? Luar biasa !" kata Puguh dalam hati.


"Maaf paman Senopati, kenapa paman menyerangku ?" tanya Puguh dengan tubuh bersikap hormat pada sosok di depannya itu.


"Hehhh ! Aku Senopati Wiraga ! Sudah menjadi kewajibanku untuk menghadang penyusup yang hendak masuk ke istana kerajaan !" jawab sosok itu.


Kemudian tanpa berkata kata lagi, Senopati Wiraga kembali melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh.


Puguh yang tidak ingin bentrok dengan pihak istana, berusaha terus menghindar. Jurus jurus Senopati Wiraga yang sangat lugas, khas seorang prajurit, namun mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi, membuat Puguh tidak bisa terus menerus bertahan. Hingga suatu saat, mereka harus beradu pukulan yang mengandung tenaga dalam yang tinggi lagi.


Blaaammm ! Blaaammm !


Atap tempat mereka bertarung beradu pukulan, bergetar. Tubuh mereka sama sama terpental ke belakang. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang Puguh dapatkan saat terjebak di dalam ruangan batang pohon kayu hitam raksasa, Puguh kembali mendarat di ujung atap. Sedangkan Senopati Wiraga bersalto dan kemudian menapak lagi di atas genting dengan kuda kuda yang mantap, satu gerakan khas prajurit.


"Memang sulit, masuk istana tanpa ketahuan. Kecuali aku ikut rombongan Pangeran Pandu atau menjadi pengawal Putri Cinde Puspita !" kata Puguh dalam hati.


Sementara itu, Senopati Wiraga terkejut melihat hasil adu tenaga tadi.


"Anak muda ini, mampu mengimbangi tenaga dalamku ! Dari mana dia datang !" kata Senopati Wiraga dalam hati.


Kemudian, setelah meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Puguh segera melesat mendahului menyerang.


Dengan posisi berdiri di atas genting, tidak banyak pilihan bagi Senopati Wiraga yang juga telah meningkatkan tdnaga dalamnya, selain menangkis serangan Puguh, atau memapaki pukulan Puguh dengan dengan pukulan juga.


Setelah menangkis beberapa kali, kembali terjadi benturan pukulan telapak mereka, yang menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.


Plak ! Plak ! Plak ! Plak !

__ADS_1


Blaaammm !!!


Dalam benturan pukulan itu, tubuh Senopati Wiraga terdorong mundur cukup jauh hingga tubuhnya jungkir balik dan akhirnya kedua kakinya mendarat di tanah. Seluruh tubuhnya terasa kebas dan bergetar hebat.


"Anak muda dengan kemampuan yang luar biasa !" gumam Senopati Wiraga sambil dengan cepat mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya, untuk menetralkan getaran di seluruh tubuhnya.


Sementara itu, sesaat setelah terdengar suara ledakan akibat benturan pukulan, tubuh Puguh terlempar ke belakang, melayang cukup jauh dan mendarat di dekat tembok benteng.


Setelah kedua kakinya menapak tanah, Puguh segera melenting ke atas dan sesaat kemudian kembali mendarat di atas tembok benteng.


"Maaf paman Senopati, kita akhiri dulu pertarungan ini. Sampai jumpa lagi !" kata Puguh yang kemudian membalikkan badan, dan tubuhnya seperti hilang, karena begitu cepatnya tubuhnya melesat.


Senopati Wiraga hanya terdiam saat tubuh Puguh melesat dan hilang dari pandangan. Sesaat kemudian, tubuhnya tubuhnya terasa lemas dan kemudian jatuh berlutut dan dadanya terasa sesak.


"Untung saja anak itu tidak berniat membunuhku. Karena untuk beberapa saat tenagaku seperti menghilang !" kata Senopati Wiraga pelan.


----- * -----


Pagi hari berikutnya, setelah bangun dari semedinya, Puguh sudah menunggu di pinggir kolam taman keputren.


Beberapa saat kemudian, Puguh mendengar suara langkah kaki yang sangat halus dari arah gedung keputren. Tidak berapa lama, Putri Cinde Puspita tiba di taman dan menuju ke tepi kolam.


Begitu di tepi kolam melihat Puguh sudah berdiri menunggu, terlihat gurat senyum di bibir Putri Cinde Puspita.


"Pendekar Puguh, kuharap bersedia mengenakan pakaian prajurit, agar bisa ikut masuk ke dalam istana," kata Putri Cinde Puspita.


"Putri Cinde tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya," jawab Puguh.


Kemudian, setelah semuanya siap, Putri Cinde Puspita dan rombongannya berangkat menuju istana Kerajaan.

__ADS_1


Di Istana Kerajaan, telah berdiri Pangeran Pandu, kakak kandung Putri Cinde Puspita yang menunggu. Kemudian Pangeran Pandu dan Putri Cinde Puspita melangkah menuju ke ruangan khusus yang dipergunakan untuk merawat Prabu Lingga Kawiswara.


Di dalam ruangan khusus, terlihat Prabu Lingga duduk di tempat tidurnya. Di samping kanannya, duduk di kursi, Ratu Permaisuri Mayang Ishwari. Sedangkan di samping kirinya, duduk Ratu Selir Dhatu Mustika dan Pangeran Panji. Di depan Prabu Lingga Kawiswara, duduk berjajar para punggawa kerajaan yang terdiri dari para senopati, penasehat, dan para menteri kerajaan.


Begitu masuk ruangan, Pangeran Pandu dan Putri Cinde Puspita duduk di sebelah Ratu Permaisuri Mayang Ishwari.


Setelah mereka beramah tamah sejenak, Prabu Lingga Kawiswara mulai memberikan sabdanya.


"Semua yang berada di ruangan ini, dengarkan ! Karena aku mengalami sakit sakitan, maka tampuk kekuasaan dan segala yang berhubungan dengan pemerintahan, aku serahkan kepada Pangeran Pandu !" kata Prabu Lingga Kawiswara.


"Tetapi Kanjeng Prabu, bukankah anak laki laki yang tertua dari Kanjeng Prabu itu adalah anak kita Pangeran Panji ?" tanya Ratu Dhatu Mustika.


"Benar ! Namun, kekuasaan dan kedudukan sebagai raja, jatuh pada putra mahkota, anak laki laki tertua dari yayi ratu permaisuri, yaitu Pangeran Pandu !" jawab Prabu Lingga Kawiswara.


"Para Menteri dan Senopati ! Umumkan sekarang juga ke seluruh wilayah kerajaan ! Mulai hari ini, Raja Kerajaan Banjaran Pura adalah Pangeran Pandu, dengan gelar Prabu Pandu Kawiswara !" perintah Prabu Lingga Kawiswara.


Pendengar titah Prabu Lingga Kawiswara, semua menteri dan senopati segera mengundurkan diri dari pertemuan.


Begitu semua punggawa kerajaan sudah keluar dan pergi, Ratu Selir Dhatu Mustika berdiri dengan wajah menahan amarah. Kemudian mendekat ke tempat Prabu Lingga Kawiswara, berpamitan untuk mengundurkan diri dari pertemuan yang sudah menghasilkan keputusan.


"Kanjeng Prabu ! Selamanya, aku tidak akan bisa menerima keputusan ini ! Suatu saat aku akan meminta hak dari anak kita Pangeran Panji !" kata Ratu Selir Dhatu Mustika pelan di dekat telinga Prabu Lingga Kawiswara.


Mendengar ucapan selirnya, Prabu Lingga Kawiswara sangat terkejut dan langsung kambuh penyakitnya. Dengan tubuh yang terasa lemas dan gemetar, Prabu Lingga Kawiswara terbatuk batuk sambil melihat ke arah selirnya yang sudah beranjak keluar dari ruangan khusus diikuti oleh Pangeran Panji anaknya.


Pada hari berikutnya, sakit yang diderita oleh Prabu Lingga Kawiswara semakin parah hingga pingsan dan akhirnya mengalami koma, saat mendengar Ratu Selir dan Pangeran Panji meninggalkan istana dan pergi ke istana Setra Jenggala, yaitu istana untuk beristirahat dan berlibur sekaligus tempat untuk berlindung keluarga kerajaan yang letaknya di tengah hutan yang tidak terlalu jauh dari ibukota kerajaan. Mereka semua tidak menghadiri acara pelantikan Pangeran Pandu menjadi raja yang baru Kerajaan Banjaran Pura.


Di istana Setra Jenggala, Pangeran Panji dengan terang terangan menyusun kekuatan perang dengan merekrut sebanyak banyaknya pendekar untuk dijadikan prajurit. Pangeran Panji berniat melakukan perang untuk merebut kekuasaan dari adik tirinya.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2