
Iswara Dhatu yang memanggul tubuh Kartika Dhatu yang masih belum sadar, diikuti oleh Rengganis di belakangnya, terus melesat untuk sesegera mungkin bisa keluar dari goa.
Saat mereka sampai di bawah air terjun, belum sempat mereka menyibak air terjun, tiba tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras, disertai munculnya kilatan cahaya putih yang sangat terang.
Bhhhaaannnggg !
Ledakan yang terjadi itu, menimbulkan luapan getaran kekuatan yang sangat dahsyat. Getaran kekuatan yang bahkan sanggup menghempaskan tubuh Iswara Dhatu, Kartika Dhatu dan Rengganis, hingga menabrak dinding mulut goa.
"Ledakan apakah itu, yang sampai mengeluarkan getaran kekuatan sebesar ini ?" gumam Iswara Dhatu.
Sesaat setelah suara ledakan dan kilatan cahaya putih itu menghilang, Rengganis dan Iswara Dhatu segera menerobos air terjun dan menuju ke tanah di samping air terjun, yang cukup lapang yang menjadi tempat pertarungan Puguh melawan Pangeran Langit Barat.
Betapa terkejutnya Rengganis melihat Puguh tergeletak di tengah tengah tanah yang lapang itu dengan luka menganga di dada dan punggungnya.
"Kakang Puguh !" teriak Rengganis sambil terisak menahan tangis, melihat kondisi tubuh Puguh.
Dengan sedikit panik, Rengganis segera melakukan beberapa totokan di di tubuh Puguh untuk menghentikan keluarnya darah di luka yang diderita Puguh.
Setelah itu, dengan cepat Rengganis berusaha mengalirkan tenaga dalamnya, untuk memberikan tenaga pada Puguh dan menyadarkannya.
"Kakang Puguh ! Bangunlah ! Apa yang terjadi denganmu ? Siapa yang sudah membuatmu begini ?" teriak Rengganis dengan kalap karena rasa khawatirnya dengan keadaan Puguh.
"Nduk Rengganis, sabarlah, jangan kau panik. Ayo kita bawa Puguh ke tempat yang aman, untuk menyadarkan dan menyembuhkannya !" kata Iswara Dhatu sambil berdiri di samping Rengganis yang duduk bersimpuh ditanah memangku kepala Puguh.
Sambil membungkukkan badannya, setelah meletakkan tubuh Kartika Dhatu di tempat yang aman, Iswara Dhatu mencoba memeriksa keadaan Puguh.
"Bibi, .... Aku tidak ingin kakang Puguh mati ! Aku harus mengobati kakang Puguh !" jawab Rengganis dengan suara pelan dan terlihat hampir putus asa.
Kemudian, Iswara Dhatu mengajak Rengganis mencari tempat yang aman, untuk merawat luka Puguh dan Iswara Dhatu.
Dalam keadaan hati dan pikiran yang juga gelisah memikirkan kondisi Kartika Dhatu cucunya, tanpa sengaja Iswara Dhatu mengajak Rengganis menuju ke bangunan makam Asmara Dhatu leluhurnya.
Setibanya di komplek makam Asmara Dhatu, Iswara Dhatu dan Rengganis meletakkan tubuh Puguh dan Kartika Dhatu di bangunan di dekat gerbang masuk ke komplek makam Asmara Dhatu.
__ADS_1
Kemudian keduanya mencoba mengalirkan tenaga dalam mereka untuk menyadarkan Puguh dan Kartika Dhatu, serta berusaha menutup luka luka di tubuh Puguh dan Kartika Dhatu.
Namun, hingga malam menjelang, Rengganis dan Iswara Dhatu belum juga berhasil membuat Puguh dan Kartika Dhatu sadar.
"Nduk Rengganis, tolong kau jaga sebentar mereka berdua. Bibi akan mencoba mencari ramuan obat yang bisa memulihkan mereka !" kata Iswara Dhatu sambil beranjak berdiri.
"Baik bibi !" jawab Rengganis.
Setelah keluar dari bangunan itu, Iswara Dhatu menuju ke tengah tengah komplek makam Asmara Dhatu. Dalam gelapnya malam, Iswara Dhatu duduk bersila di bawah pohon besar di samping makam Asmara Dhatu, dengan menghadap ke arah makam Asmara Dhatu.
Dalam sunyinya malam dan dengan berlinang air mata, tangan kanan Iswara Dhatu merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan setangkai bunga yang kelopak bunganya berwarna keemasan serta daun dan tangkainya berwarna hitam. Itu adalah Bunga Hitam, yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi, bahkan saat tidurpun tidak pernah lepas dadi tubuhnya.
Terlihat, tangan kanannya yang memegang Bunga Hitam, gemetaran. Iswara Dhatu mencoba memejamkan matanya dan menarik nafas dalam dalam untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Namun, saat membuka matanya, Iswara Dhatu melihat semuanya serba putih.
Di hadapan Iswara Dhatu, tiba tiba muncul wujud seorang perempuan yang sangat cantik dan anggun, dalam balutan pakaian sederhana yang serba putih.
"Apa yang kau risaukan, cucuku ?" ucap sosok perempuan cantik itu sambil tersenyum.
"Janganlah bimbang dalam mengambil keputusan ! Gunakan Bunga Hitam itu untuk menyembuhkan anak muda itu. Untuk yang selanjutnya, itulah takdir yang telah digariskan untuk cucumu !" kata Asmara Dhatu pelan.
"Tetapi ..... " kata Iswara Dhatu dengan ragu.
"Lakukanlah ! Dan jangan ragu !" sahut Asmara Dhatu.
Bersamaan dengan itu, wujud sosok Asmara Dhatu perlahan memudar dan akhirnya menghilang. Akhirnya, suasana di komplek makam Asmara Dhatu pun kembali gelap.
Iswara Dhatu beranjak dari duduknya dan segera menuju ke tempat Puguh dan Kartika Dhatu tergeletak.
"Bagaimana bibi, apakah bibi sudah mendapatkan ramuan yang bibi cari ?" tanya Rengganis.
"Nduk Rengganis, ayo kita coba mengobati Puguh !" jawab Iswara Dhatu dengan tersenyum.
__ADS_1
Kemudian, Rengganis dan Iswara Dhatu duduk bersila berdampingan di sisi Puguh yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.
Iswara Dhatu meletakkan setangkai Bunga Hitam yang dibawanya di dada Puguh yang terluka, sambil kemudian mengalirkan tenaga dalamnya ke Bunga Hitam itu dengan kedua telapak tangannya yang terbuka dan ditempelkan di dada Puguh.
Bersamaan dengan itu, Rengganis yang menggenggam telapak tangan kanan Puguh, juga menyalurkan tenaga dalamnya dalam jumlah yang cukup besar ke seluruh tubuh Puguh melalui telapak tangannya.
Sampai beberapa waktu, hingga tubuh Rengganis dan Iswara Dhatu bergetar dan berkeringat, belum terlihat ada reaksi di tubuh Puguh. Hal itu membuat Rengganis mulai sedikit gelisah, hingga penyaluran tenaga dalamnya agak kacau.
"Nduk Rengganis ! Tenangkan hati dsn pikiranmu ! Fokuskan niatmu untuk menyembuhkan Puguh. Jangan sia siakan Bunga Hitam ini, yang hanya muncul setiap seribu tahun sekali !" ucap Iswara Dhatu pelan, mengingatkan Rengganis.
Mendengar ucapan Iswara Dhatu, Rengganis seperti dibangunkan dari tidurnya.
"Aku tidak boleh terlarut dalam rasa sedih dan khawatir. Aku harus berusaha keras menolong kakang Puguh !" kata Rengganis dalam hati.
Kemudian, dengan masih duduk bersila dan tetap menggenggam telapak tangan kanan Puguh, Rengganis menambah tingkat tenaga dalamnya dan mengalirkan ke seluruh tubuh Puguh.
Rengganis berusaha mengendalikan aliran tenaga dalam yang membanjir masuk ke tubuh Puguh, dan berusaha mengarahkan alirannya ke dada Puguh.
Semakin lama, semakin banyak aliran tenaga dalam yang berkumpul di dada Puguh, dan berputar putar mengitari seluruh isi dada Puguh, hingga membuat seluruh tubuh Puguh bergetar.
Getaran tubuh Puguh itu merembet hingga ke Bunga Hitam yang berada di dadanya, serta ke kedua telapak tangan Iswara Dhatu.
Hingga beberapa saat kemudian, Bunga Hitam itu tiba tiba terangkat melayang setinggi satu genggaman tangan di atas dada Puguh.
Bunga Hitam bergetar semakin keras, dan sesaat kemudian, Bunga Hitam itu melesat cepat masuk ke dalam dada Puguh.
Plaaasss !
Melihat hal itu, Iswara Dhatu dan Rengganis menghentikan penyaluran tenaga dalamnya dan menarik kembali tangan mereka dadi tubuh Puguh.
Sesaat setelah Bunga Hitam masuk ke dadanya, tubuh Puguh bergetar semakin kencang. Beberapa waktu kemudian sinar tipis berwarna hijau terang, keluar dari tubuh Puguh. Disusul kemudian dengan munculnya sinar tipis keemasan.
Kedua sinar itu perlahan saling berbelit sambil bergerak mengelilingi dan menyelimuti seluruh tubuh Puguh.
__ADS_1
---------- ◇ ----------