
Rengganis dan Puguh yang memanggul Ki Bajraseta dan segera sampai di tempat tinggal Ki Bajraseta. Segera saja Ki Bajraseta dibaringkan di tempat tidurnya.
Puguh memberikan totokan di beberapa tempat di tubuh Ki Bajraseta untuk membuat Ki Bajraseta kembali siuman.
Kemudian Puguh menyaksikan, Rengganis sangat sibuk dan bercampur dengan gugup, menyiapkan segala keperluan untuk mengobati kakeknya.
Rengganis hanya mengikuti apa yang dulu pernah diajarkan oleh Ki Bajraseta, kakeknya sekaligus gurunya. Jika mendapatkan luka dalam akibat terkena pukulan di dada, bahan apa saja yang harus dia siapkan.
Melihat semua yang dilakukan oleh Rengganis, Puguh menjadi tidak tega. Kemudian dia mendekati ke meja tempat Rengganis mempersiapkan ramuan obatnya.
"Ini kurang satu adik. Bisakah adik Rengganis mencarikan Daun Gajah ? Semua ini biar kakang yang menggerus dan mencampurkan !" kata Puguh.
"Daun Gajah ? Apa ramuan untuk luka dalam, memakai Daun Gajah ?" tanya Rengganis bingung sambil menatap kakeknya yang sudah siuman.
Ki Bajraseta yang sejak tadi sudah siuman, mengangguk sambil memaksakan untuk tersenyum, walaupun terlihat getir.
Ki Bajraseta bisa membaca apa yang dikehendaki oleh Puguh. Pemuda teman cucunya ini ingin Rengganis pergi dari sini dengan cara disuruh mencari Daun Gajah. Tanaman yang tidak tumbuh di hutan ini. Sehingga Ki Bajraseta segera mengangguk, agar Rengganis cucunya bisa segera meninggalkan mereka berdua.
Melihat kakeknya mengiyakan, tanpa bertanya lagi, Rengganis segera melesat ke arah bagian hutan yang banyak ditumbuhi tanaman obat.
Setelah Rengganis pergi dan benar benar telah jauh, Ki Bajraseta melambaikan tangannya meminta Puguh untuk mendekat. Puguh pun melangkah mendekat dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.
"Anak muda, kau boleh membunuhku, sebagai hukuman atas dosa dosaku padamu dan gurumu. Tetapi sebelum aku mati, aku ada dua hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Bersediakah kau mendengarkan dan memenuhi permintaan terakhirku ?" kata Ki Bajraseta.
"Katakanlah !" jawab Puguh dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Terimakasih anak muda," kata Ki Bajraseta sambil sedikit memiringkan tubuhnya yang terbaring di tempat tidur.
"Bunuhlah aku, tapi jangan sampai Rengganis tahu kalau engkaulah yang membunuhku. Karena hal itu akan menyakitkan hatinya. Kemudian, perlu kau ketahui, gurumu yang ahli obat, belum mati, atau kemungkinan besar masih hidup," sambung Ki Bajraseta.
__ADS_1
Kemudian Ki Bajraseta menceritakan, bahwa pada saat Ki Bhanujiwo terluka, sengaja yang membawanya dan memasukkan ke jurang adalah Ki Bajraseta. Tetapi, saat itu, diam diam Ki Bajraseta mengalirkan energinya ke tubuh Ki Bhanujiwo untuk menyembuhkannya dan di kantong pakaiannya dimasuki obat penawar luka lukanya. Kemudian, Ki Bajraseta melemparkan tubuh Ki Bhanujiwo ke dahan pohon yang rimbun agar tidak terjatuh ke dasar jurang. Namun arahnya agak berbeda dengan arah jatuhnya Puguh dan Ki Dwijo. Makanya, saat di dasar jurang, Puguh dan Ki Dwijo tidak menemukan jasad Ki Bhanujiwo atau bertemu jikalau masih hidup. Dalam ceritanya, Ki Bajraseta yakin, Ki Bhanujiwo selamat dan masih hidup.
Mendengar cerita Ki Bajraseta, Puguh termangu. Sejenak dia kembali teringat kenangan saat hidup di dasar jurang bersama dengan gurunya.
Sementara, selesai bercerita, Ki Bajraseta berusaha bangun dari terbaringnya untuk duduk di tempat tidurnya. Kemudian sambil duduk bersila, Ki Bajraseta berkata pelan pada Puguh.
"Anak muda, aku sudah siap, lakukanlah sebelum cucuku Rengganis kembali ke sini. Aku titipkan Rengganis padamu," kata Ki Bajraseta sambil memejamkan matanya dan bersiap menerima kematian.
Bebarapa saat setelah Ki Bajraseta memejamkan matanya, tiba tiba terdengar suara Puguh.
"Maafkan aku Ki," kata Puguh pelan sambil mengulurkan telapak tangan kanannya.
Tiba tiba telapak tangan kanan Puguh menempel di punggung Ki Bajraseta. Kemudian, tenaga dalam yang besar mengalir keluar dari telapak tangan kanan Puguh dan masuk ke tubuh Ki Bajraseta.
Sesaat Puguh menghentikan sejenak aliran tenaga dalamnya, untuk melakukan beberapa totokan pada bagian bagian tertentu pada tubuh Ki Bajraseta, seperti di dada, perut serta punggung Ki Bajraseta.
Saat Ki Bajraseta hampir tidak tahan lagi dengan hawa panas yang memasuki dadanya, tiba tiba Ki Bajraseta beberapa kali memuntahkan darah yang warnanya merah keunguan.
Setelah darah yang dimuntahkan oleh Ki Bajraseta berubah warna menjadi merah segar, Ki Bajraseta kembali kehilangan kesadaran.
Dalam keadaan Ki Bajraseta tidak sadarkan diri, Puguh kembali membuka totokan totokan di tubuh Ki Bajraseta, hingga Ki Bajraseta menjadi tertidur.
Saat Ki Bajraseta tertidur, Rengganis tiba kembali ke tempat tinggal Ki Bajraseta.
"Kakang Puguh, aku tidak berhasil mendapatkan Daun Gajah," kata Rengganis.
"Tidak apa apa adik. Bahan yang ada saja kita ramu. Ayo kakang bantu meraciknya," jawab Puguh sambil tersenyum tipis memandang Rengganis.
"Bagaimana keadaan kakek, kakang," tanya Rengganis sambil melihat ke arah kakeknya yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Kakekmu tidak apa apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tinggal meminumkan ramuan yang kita buat, kakekmu akan sembuh dengan cepat," jawab Puguh.
Kemudian, Rengganis dan Puguh segera membuat racikan obat dari bahan bahan yang sudah disediakan oleh Rengganis. Mereka berdua terlihat gembira bekerja sama, dan terkadang diselingi pembicaraan yang membuat mereka berdua bisa tertawa.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Ki Bajraseta sudah terbangun dan mendengar semua pembicaraan Rengganis dengan Puguh. Namun sengaja kedua matanya masih ditutup, untuk menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya. Air mata kegembiraan sekaligus kesedihan.
Ki Bajraseta gembira, karena Rengganis bisa menemukan kebahagiaan dalam berteman dengan Puguh. Sedih karena tidak bisa lebih lama lagi menemani Rengganis cucunya.
Tidak berapa lama, Ki Bajraseta mendengar suara langkah kaki mendekat. Cepat cepat ditatanya pernafasannya sehingga mirip dengan orang yang masih tertidur.
Sesaat kemudian, Rengganis dan Puguh tiba di tempat Ki Bajraseta terbaring.
"Kakek, bangun dulu. Minum obat racikan dulu, agar luka kakek.bisa segera sembuh," kata Rengganis membangunkan kakeknya.
Ki Bajraseta pura pura terbangun dan kemudian duduk bersandar dinding rumah.
Diam diam Ki Bajraseta terkejut. Dadanya sudah tidak terasa sakit. Nafasnya terasa ringan. Tubuhnya terasa sangat sehat, sesehat orang yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Bahkan tenaga dalamnya terasa penuh.
Sejenak Ki Bajraseta menatap Puguh dengan tatapan terimakasih, yang dibalas Puguh dengan sedikit senyuman.
Kemudian, dengan cekatan, Rengganis meminumkan obat racikan pada Ki Bajraseta, dilanjutkan dengan membersihkan ruangan tempat Ki Bajraseta tadi berbaring. Lalu dilanjutkan lagi dengan perbincangan.
"Kakek, kenalkan, ini kakang Puguh, teman seperjalanan Rengganis," kata Rengganis memperkenalkan Puguh.
Ki Bajraseta menatap Puguh sambil tersenyum.
"Selamat datang di gubug kakek, anak muda. Panggil saja aku, kakek," kata KI bajraseta.
__________ ◇ __________
__ADS_1