
Menyadari kondisi tubuhnya yang semakin lemah, Ki Dwijo memang sengaja terus menerus mengajarkan dahulu ilmu ilmu yang dia miliki, hingga akhirnya semua bisa dikuasai Puguh semua dengan hampir sempurna. Selain itu, tenaga dalam Puguh juga mengalami peningkatan yang luar biasa.
Setelah semua itu, barulah Ki Dwijo memulai membimbing Puguh mempelajari ilmu pedang yang tertulis dalam kitab peninggalan Pendekar Pengendara Elang.
Kitab itu memang hanya berisi dua puluh lima jurus ilmu pedang, dengan di beberapa halaman belakangnya ada tambahan cara menggunakan jubah atau pakaian yang membuat penggunanya bisa melayang seperti terbang. Namun dalam setiap jurusnya, ada pengembangan yang membuat setiap jurusnya bisa dimainkan dengan cara yang berbeda beda, tergantung tempat dan tingkat kekuatan lawan.
Agar cepat dalam menguasainya, Ki Dwijo mengajak Puguh untuk memahami dulu jurus demi jurus hingga selesai sampai dengan dua puluh lima jurus.
Setelah berhasil mendapatkan pemahaman, barulah Ki Dwijo menyuruh Puguh untuk mempraktekkan secara bertahap jurus demi jurus, agar benar benar bisa menguasainya.
-----*-----
Tanpa terasa hari berganti hari dan tahun berganti tahun.Di dalam goa di dasar jurang, Puguh yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak remaja, terlihat berlatih jurus pedang.
Sudah dua puluh jurus ilmu pedang yang Puguh kuasai, hanya tinggal lima jurus yang terakhir.
Namun akhir akhir ini, Puguh selalu prihatin dengan kondisi gurunya. Kesehatannya semakin menurun. Hingga suatu hari, Ki Dwijo meminta Puguh untuk memperlihatkan jurus jurus ilmu pedang yang baru dilatihnya dengan menggunakan pedang yang asli, yang Puguh dapatkan dari dalam cerukan di ujung goa.
Tanpa menunggu lagi, setelah mendudukkan gurunya di tempat yang nyaman, Puguh mulai mengeluarkan pedang hijau, yang selama ini dia simpan.
Memang selama ini, Puguh selalu berlatih jurus jurus pedang dengan kayu kecil seukuran pedang, dan belum pernah mempraktekkan dengan pedang aslinya.
Dengan kedua kaki sedikit terbuka dan pedang dipegang di tangan kanan, Puguh mulai mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya dan juga pedangnya.
Tiba tiba, ruangan goa itu menjadi lebih terang dari biasanya saat pedang di tangan kanan Puguh mulai mengeluarkan pendaran cahaya hijau terang saat teraliri tenaga dalam Puguh.
Kemudian Puguh mulai memainkan dengan lambat jurus demi jurus dari ilmu pedang yang dia latih hingga sampai selesai dua puluh jurus.
__ADS_1
"Coba sekarang kamu mainkan dengan cepat ngger," kata Ki Dwijo.
Mendengar permintaan Ki Dwijo gurunya, segera Puguh menambah aliran tenaga dalamnya dan kembali memainkan jurus pedang itu dengan lebih cepat.
Saat Puguh memainkan jurus pedang itu dengan cepat, pendaran cahaya hijau terang yang keluar dari bilah pedang menjadi semakin terang, bahkan lebih terang dari biasanya saat masih di dalam cerukan. Bahkan pedang itu mulai mengeluarkan bawa dingin saat Puguh menambah aliran tenaga dalam ke senjata pedang.
Sementara itu, tanpa sengaja dan tanpa Puguh sadari, keluarnya pendaran cahaya hijau terang dari pedang yang dibawanya, membuat kondisi fisik Ki Dwijo terasa lebih baik.
Pada saat itulah Ki Dwijo bisa menyimpulkan, bahwa hawa dingin dan pendaran cahaya hijau terang yang keluar dari bilah pedang yang dibawa Puguh, mempunyai khasiat untuk menyembuhkan luka dalam akibat racun juga.
Dengan cepat, dua puluh jurus ilmu pedang selesai Puguh mainkan. Ki dwijo melihat memang penguasaan jurus pedang yang belum sempurna karena memang masih kurang lima jurus.
Selesai melatih ilmu pedang, kemudian Ki Dwijo menyuruh Puguh untuk mendekat sambil membawa pedangnya.
"Ngger Puguh, coba kau letakkan bilah pedang itu ke dada guru sambil kau alirkan tenaga dalammu," kata Ki Dwijo.
Kemudian, perlahan Puguh meletakkan bilah pedang di dada gurunya sambil sedikit demi sedikit menambah aliran tenaga dalam ke pedangnya.
Saat Puguh mengeluarkan tenaga dalamnya sekitar lima puluh persen, bilah pedang itu mulai mengeluarkan cahaya hijau terang.
Hingga beberapa saat tidak terjadi apapun pada tubuh gurunya.
Namun, tiba tiba, bilah pedang itu mulai mengeluarkan getaran pelan yang semakin lama semakin kencang dan bergerak sedikit mendekat ke arah leher. Suhu udara di sekitar pedang itu mendadak menjadi sangat dingin.
Sementara itu, Ki Dwijo awalnya merasakan tidak terjadi apa apa dengan tubuhnya. Namun kemudian, Ki Dwijo mulai merasakan dingin di pangkal lehernya. Rasa dingin itu Ki Dwijo rasakan semakin menjalar. Pundaknya mulai ikut merasakan dingin, diikuti bahu sampai dengan ujung ujung jari dan dada hingga kemudian perutnya.
Setelah hampir setengah hari, pedang itu sampai di telapak kaki Ki Dwijo, hingga kemudian berhenti bergetar.
__ADS_1
"Cukup ngger," kata Ki Dwijo sambil melihat wajah dan seluruh tubuh Puguh yang berkeringat.
Puguh pun menghentikan aliran tenaga dalamnya dan menarik pedangnya untuk diletakkan di sampingnya. Kemudian, Puguh segera duduk bersila. Sejenak kemudian, Puguh sudah tenggelam dalam semedinya yang sekaligus untuk memulihkan tenaga dalamnya.
Bersamaan dengan itu, Ki Dwijo yang masih merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya, mulai mencoba mengeluarkan tenaga dalamnya.
Awalnya Ki Dwijo belum bisa menggerakkan tenaga dalam ke tubuhnya. Namun dengan mencoba berkali kali, akhirnya Ki Dwijo mulai bisa mengalirkan tenaga dalamnya walaupun hanya dalam jumlah yang sedikit. Hal itu karena otot dan syaraf tubuh Ki Dwijo yang sudah bertahun tahun tidak bergerak.
Berulang ulang Ki Dwijo mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya, hingga akhirnya bisa mencapai jumlah tenaga dalam yang mencapai separuh tenaga dalam milik Ki Dwijo. Selain itu, rasa dingin di sekujur tubuhnya sudah mulai hilang berganti menjadi rasa hangat tubuh.
Namun, selain rasa hangat tubuh, Ki Dwijo mulai merasakan nyeri di beberapa titik bagian tubuhnya, terutama di bagian kaki dan punggung.
Ki Dwijo meyakini, titik titik yang terasa nyeri itu tempat yang terkena racun saat dirinya terkena ledakan.
Maka, untuk menjaga kembali menjalarnya racun yang masih ada di tubuhnya, Ki Dwijo membuat totokan totokan di beberapa bagian tubuhnya.
Dengan semangat yang kembali muncul, Ki Dwijo mencoba bangun dari terbaringnya. Walau dengan susah payah, akhirnya Ki Dwijo bisa berdiri kembali tanpa ditopang dengan tongkat.
Karena melihat Puguh masih duduk bersemedi, Ki Dwijo mencoba melatih kembali berjalan dan berlarinya.
Hingga malam hari, terlihat Ki Dwijo masih melatih gerakan gerakan silatnya. Walaupun masih belum bisa mengerahkan tenaga dalam secara penuh, karena terhalang adanya beberapa bagian tubuhnya yang ditotok untuk mengurung racun yang masih mengendap di dalam tubuhnya, Ki Dwijo sudah merasa sangat berterimakasih pada Puguh muridnya yang telah membuatnya bisa bergerak kembali.
Karena hingga tengah malam sampai menjelang pagi, Puguh belum juga terbangun dari semedinya, akhirnya Ki Dwijo menyusul duduk di samping Puguh dan beberapa saat kemudian ikut tenggelam dalam semedi.
__________ ◇ __________
Author mengucapkan banyak terimakasih kepada pada pembaca yang tidak bosan bosannya mengingatkan author tentang kealpaan author. Semoga dengan itu, author bisa menyajikan tulisan yang lebih baik lagi (walaupun bukannyang terbaik).
__ADS_1
Semoga para pembaca dan author selalu semangat, selalu dalam kesehatan selalu dalam keberkahan. Amin.