
Pada pagi hari berikutnya, Pangeran Panji menyaksikan pasukan perangnya berangkat ke medan pertempuran. Berdiri di sampingnya Ki Kama Catra, guru dari Pangeran Panji.
"Pangeran, kenapa belum ada kabar tentang Senopati Arya Kastara ?" tanya Ki Kama Catra.
"Aku akan menyuruh pasukan telik sandi untuk mencari kabar tentang Senopati Arya Kastara, guru !" jawab Pangeran Panji.
Kemudian, disertai dengan suara sorak sorai, pasukan perang Pangeran Panji berangkat menuju medan perang.
Beberapa pendekar menemani Senopati Lembu Caraka. Iblis Barat, Iblis Selatan, Iblis Utara dan Iblis Timur yang ikut berperang lagi, serta Iblis Bermata Satu.
Sementara Nyi Manis yang menderita luka luka saat melawan Ki Pande, tinggal di markas bersama dengan Ki Kama Catra serta Dharma Shankara dan Muka Pucat istrinya dan juga Putri Mahatariti anaknya.
Sementara itu, di istana Kerajaan Banjaran Pura. Walaupun sedang dalam suasana kesedihan karena kehilangan teman seperjuangan, Senopati Karuna yang telah gugur, Senopati Wiraga harus kembali memimpin pasukan perangnya. Senopati Cakrayuda yang terluka parah terpaksa tidak bisa ikut berangkat perang.
Melihat keadaan itu, Ki Dwijo mengajak kembali Ki Pande, Ki Kebo Ranu, Ki Tanggul Alas dan Ki Bhanujiwo.
Sebenarnya Ki Bhanujiwo diminta untuk tetap berada di istana untuk merawat Prabu Lingga Kawiswara. Namun, Ki Dwijo tetap memaksa untuk ikut, karena lama tidak bertarung dan ingin menggerakkan otot ototnya. Apalagi setelah menerima penyaluran tenaga dalam dari Puguh, Ki Bhanujiwo merasakan tenaga dalamnya meningkat dan penasaran ingin mengukur tingkat tenaga dalamnya.
Saat waktu menjelang siang, kedua pasukan kembali berhadapan di padang rumput dekat dengan hutan.
"Senopati Lembu Caraka, apakah tidak lebih baik kita hentikan pertempuran yang sangat sia sia ini ?" kata Senopati Wiraga.
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Senopati Wiraga, ayo kita lanjutkan pertarungan kemaren. Siapa yang lebih hebat diantara kita !" jawab Senopati Lembu Caraka dengan berteriak.
Mendengar jawaban Senopati Lembu Caraka, Senopati Wiraga hanya menggeleng gelengkan kepala.
Bersamaan dengan itu, Senopati Lembu Caraka sudah mengacungkan tangan kanannya sambil berteriak.
"Pasukan ! Seraaaaang !"
Dengan serentak, pasukan perang Pangeran Panji yang dipimpin oleh Senopati Lembu Caraka bergerak maju menyerang. Senopati Lembu Caraka yang berada paling depan pun segera melesat ke arah Senopati Wiraga.
Bersamaan dengan itu, melihat pasukan lawan sudah bergerak maju, Senopati Wiraga memberi aba aba pada pasukannya untuk maju menyerang. Disusul kemudian, tubuhnya melesat, memapaki datangnya serangan Senopati Lembu Caraka. Sesaat kemudian, kedua senopati itu kembali beradu kekuatan dan beradu tajamnya pedang.
Di antara kedua pasukan yang bertempur itu, Iblis Bermata Satu bertemu dengan Ki Dwijo. Keduanya pernah berhadapan sebelumnya, walaupun hanya sebentar.
__ADS_1
Kali ini, melawan Iblis Bermata Satu, Ki Dwijo langsung menggunakan ilmu tangan kosong 'Bantala Wreksa' yang dia gabung dengan ilmu meringankan tubuh 'Sindhung Arina'. Kedua ilmu yang melambungkan nama Ki Dwijo hingga mendapatkan julukan Pendekar Tangan Seribu.
Iblis Bermata Satu yang memiliki gerakan yang sangat cepat, seperti menemukan lawan yang sepadan. Hal itu membuatnya semakin bersemangat untuk bertarung.
Sudah puluhan bahkan mungkin ratusan kali pukulan dan tendangan mereka berdua saling beradu bahkan mengenai tubuh lawan.
Plak ! Plak ! Plak ! Plak !
Bugh ! Bugh ! Dbaaammm !
Sementara itu, Ki Pande tanpa disengaja bertemu dan berhadapan dengan Iblis Barat.
Iblis Barat yang biasanya menyiksa lawan lawannya sebelum dibunuh, kali ini senjata pedangnya selalu terbentur dengan kedua palu di kedua tangan Ki Pande.
Klang ! Klang ! Klang ! Klang !
Kedua senjata yang berbeda jauh sifat serangannya itu membuat pertarungan mereka menjadi menarik. Dengan palu besi yang sangat besar di kedua tangannya, bukan berarti Ki Pande tidak punya kecepatan. Justru seperti menambah tenaganya sehingga menambah daya dobrak serangannya.
Ke arah manapun pedang Iblis Barat bergerak menyerang, palu Ki Pande selalu menghadangnya. Semakin sering pedang Iblis Barat berbenturan dengan palu di kedua tangan Ki Pande, semakin tangannya terasa bergetar. Bahkan genggaman tangannya pada gagang pedang semakin berkurang kencangnya.
Klaaannnggg !
Disusul kemudian dengan terayunnya palu di tangan kiri Ki Pande yang membuat Iblis Barat terpaksa harus menghindar dengan melompat ke belakang.
Tidak jauh dari tempat pertarungan Ki Pande melawan Iblis Barat, pada waktu yang bersamaan. Ki Tanggul Alas kembali bertemu dengan Iblis Timur.
Tanpa segan segan lagi, Ki Tanggul Alas langsung menyerang Iblis Timur. Ki Tanggul Alas tahu, yang menewaskan Senopati Karuna adalah Iblis Timur, maka Ki Tanggul Alas berniat membalaskannya.
Serangan tongkat Ki Tanggul Alas bertubi tubi mencecar Iblis Timur. Iblis Timur pun sedemikian rupa memutar goloknya untuk menangkis luncuran tongkat.
Setelah bertarungan berjalan lima puluh jurus, Iblis Timur mulai terdesak dan hanya bisa bertahan. Tangannya mulai bergetar hebat setiap goloknya berbenturan dengan tongkat Ki Tanggul Alas.
Hingga pada suatu saat, tongkat yang meluncur dari atas, beberapa kali tidak berani ditangkisnya, karena arah serangannya akan membuat bilah goloknya patah dan tongkatnya mengenai tubuhnya. Iblis Timur pun berkali kali meloncat untuk menghindar, sehingga tongkat itu berkali kali menghantam tanah.
Dbuuummm ! Dbuuummm ! Dbuuummm ! Dbuuummm !
__ADS_1
Tanpa terasa, Iblis Barat dan Iblis Timur berdiri berdekatan saling membelakangi, ketika mereka berlompatan menghindari serangan.
"Iblis Timur ! Kita lakukan sekarang !" bisik Iblis Barat pada Iblis Timur yang berdiri membelakanginya.
"Sekarang !" jawab Iblis Timur singkat.
Kemudian, telapak tangan kanan Iblis Barat dan Iblis Timur yang sama sama mengandung tenaga dalam bertemu dan membuat tubuh mereka saling berputar, kemudian tubuh mereka secara bersamaan terlempar ke arah yang saling menjauh. Tubuh mereka menghilang saat mengenai para prajurit yang sedang bertempur.
Melihat hal itu, Ki Pande dan Ki Tanggul Alas sedikit terkejut. Namun kemudian Ki Pande segera melesat mendekati Ki Tanggul Alas.
"Hati hati Ki Tanggul Alas ! Mereka ternyata menguasai ilmu Sirna Raga !" kata Ki Pande.
"Kita saling memunggungi, Ki Pande !" jawab Ki Tanggul Alas.
Di tengah tengah hiruk pikuk pertempuran, Ki Pande dan Ki Tanggul Alas memasang kewaspadaan tinggi. Semua indranya mereka pergunakan untuk merasakan getaran tenaga dalam tingkat tinggi yang bergerak di tengah tengah para prajurit.
Tiba tiba dari samping kanan Ki Tanggul Alas, melesat cepat sebuah bayangan tubuh disertai munculnya kilatan senjata yang menyasar ke arahnya.
Dengan tetap tenang, Ki Tanggul Alas mengarahkan tongkatnya untuk menangkis datangnya serangan.
Taaannnggg !
Di saat yang bersamaan, Ki Pande juga mengayunkan palunya untuk menangkis saat merasakan ada getaran tenaga dalam yang melesat ke arahnya dan disusul dengan kelebatan senjata.
Klaaannnggg !
Hal itu terjadi berkali kali. Iblis Barat dan Iblis Timur melakukan serangan itu, tidak hanya bergantian, namun terkadang juga secara bersamaan.
Sampai dengan sepuluh jurus tehnik itu mereka gunakan, namun mereka belum mendapatkan keunggulan, walaupun kedua lawan mereka juga tidak dapat menyerang mereka dan hanya bertahan.
Maka, Iblis Barat dan Iblis Timur mencoba untuk memfokuskan serangan pada salah satu lawan mereka.
Sesaat kemudian, Iblis Barat dan Iblis Timur mencecarkan serangan pada Ki Tanggul Alas. Namun hanya beberapa saat mereka bisa membuat Ki Tanggul Alas kewalahan menangkis serangan mereka. Karena, begitu Ki Pande dan Ki Tanggul Alas merubah cara bertahan mereka, serangan Iblis Barat dan Iblis Timur kembali membentur pertahanan Ki Tanggul Alas dan Ki Pande yang sangat kuat dan rapat.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1