
Dua belas panglima perang yang mengeroyok Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita, merasakan seluruh tubuhnya bergetar dan terpental mundur beberapa langkah, saat tiba tiba ada sesosok bayangan yang masuk ke dalam pertarungan dan menangkis senjata mereka.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Trang ! Trang !
"Puguh ! Hati hati ! Mereka semua memiliki tingkat tenaga dalam yang sangat tinggi !" kata Ki Dwijo, begitu melihat Puguh telah berdiri di dekatnya.
"Terimakasih guru !" jawab Puguh.
Kemudian Puguh menatap ke arah tiga belas panglima perang yang juga melihat ke arahnya dengan tatapan garang.
"Kalian, pasukan asing, salah besar memilih melakukan kekejian dan keonaran di negeri ini !" kata Puguh dengan tanpa melepaskan tatapannya pada mereka semua.
Sementara itu, melihat apa yang dialami oleh kedua belas anak buahnya, Panglima Jaladra melangkah maju beberapa langkah.
"Lanjutkan urus mereka ! Bunuh mereka semua secepatnya ! Biar bocah ini aku yang membereskannya !" kata Panglima Jaladra.
"Anak muda ! Pergilah sangat jauh dari tempat ini, sebelum aku berubah pikiran !" kata Panglima Jaladra pada Puguh.
"Mungkin kalian yang harus pergi dari negeri ini, sebelum kuusir !" jawab Puguh cepat.
"Kurang ajar ! Kau anak kecil yang harus kusumpal mulutmu dengan tombak ini !" sahut Panglima Jaladra sambil tangan kanannya menyiapkan senjata tombaknya.
"Jangan salahkan aku, kalau tombak ini menyakitimu !" kata Panglima Jaladra setengah berteriak.
Kemudian, dengan cepat, kedua tangan Panglima Jaladra memutar senjata tombaknya, yang semakin lama, putaran tombak itu menjadi semakin cepat.
Sesaat kemudian, tubuh Panglima Jaladra melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh. Dengan posisi tubuh agak doyong ke depan, Panglima Jaladra menusukkan senjata tombaknya berkali kali ke arah tubuh Puguh, dalam sekali gebrakan.
Sementara itu, sambil mengalirkan tenaga dalamnya hingga dalam jumlah yang besar, Puguh bergerak maju perlahan. Kemudian, dengan sangat cepat, bergerak maju dengan pedangnya berkelebatan menangkis setiap serangan tombak yang mengarah ke tubuhnya.
Trang ! Trang ! Trang !
Trang ! Trang !
__ADS_1
Dengan cepat dua puluh jurus mereka berdua lalui. Tanpa jeda sedikitpun, Puguh dan Panglima Jaladra saling melepaskan serangan.
Hingga akhirnya, Panglima Jaladra dan Puguh sama sama terdorong ke belakang, setelah berkali kali senjata mereka berbenturan.
"Bocah ini ternyata lebih kuat dari yang aku kira !" kata Panglima Jaladra dalam hati.
"Bocah ! Boleh juga kemampuanmu ! Sekarang, coba kau hadapi ini !" ucap Pqnglima Jaladra dengan setengah berteriak.
Kemudian, Panglima Jaladra memutar pelan senjata tombaknya dengan kedua tangannya. Perlahan, terjadi lonjakan getaran kekuatan di seluruh tubuhnya.
Begitu mendapatkan aliran tenaga dalam yang sangat kuat, tombak yang berputar pelan itu mengeluarkan percikan percikan seperti petir kecil kecil. Putaran tombak itu berhenti, ketika percikan petir kecil kecil itu menyelimuti seluruh badan dan mata tombak, lalu membentuk siluet wujud ular laut petir sebesar pohon kelapa.
Kemudian, dengan siluet ular laut petir di tangan kanan dan telapak tangan kiri yang juga mengeluarkan percikan petir kecil kecil, dihentakkannya kaki kirinya ke tanah. Seketika tubuh Panglima Jaladra sedikit terangkat ke atas, lalu melesat terbang dengan sangat cepat ke arah Puguh. Siluet wujud ular laut petir itu juga meluncur cepat dengan membuka lebar mulutnya, meliuk ke arah Puguh.
Sementara, bersamaan dengan itu, Puguh juga terkejut dengan kemampuan Panglima Jaladra.
"Panglima ini, kesaktian dan tenaga dalamnya tidak lebih rendah dari Pangeran yang datang ke Kerajaan Banjaran Pura waktu itu !" gumam Puguh pelan.
"Panglima perang itu menggunakan kekuatan siluman atau kekuatan sihir ?" kata Puguh dalam hati.
Melihat Panglima Jaladra meningkatkan kekuatannya, Puguh segera meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga dalam jumlah yang cukup besar.
Kemudian, bersamaan dengan melesatnya tubuh Panglima Jaladra ke arahnya, tubuh Puguh berkelebat cepat ke atas menyambut datangnya serangan.
Sesaat kemudian, terjadi ledakan yang sangat kuat saat pedang di tangan kanan Puguh menebas ke arah kepala ular laut petir yang hendak mencaploknya.
Blaaannnggg !
Sesaat setelah suara ledakan itu, tubuh Puguh terdorong hingga harus jungkir balik untuk bisa mendarat di tanah. Pakaian yang dikenakannya terlihat sobek di beberapa tempat.
"Ternyata Panglima ini mengguna kekuatan siluman, yang digabungkan dengan kekuatan sihir !" kata Puguh dalam hati.
Sementara itu, Panglima Jaladra terlempar ke belakang, kemudian mendarat di tanah dengan posisi duduk dengan satu lutut menyentuh tanah. Tangan kanannya memegang tombak yang digunakan sebagai tumpuan. Nafasnya terlihat sesak dan terengah engah. Siluet wujud ular laut petir sudah tidak terlihat lagi .
"Haahhh ! Bocah ini tingkat kekuatannya sulit diukur !" gumam Panglima Jaladra dengan nafas yang masih terengah engah.
__ADS_1
Kemudian, Panglima Jaladra perlahan bangkit berdiri. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, senjata tombaknya kembali diputar perlahan. Bersamaan dengan itu, tubuhnya terangkat melayang ke atas, hingga hampir setinggi pohon kelapa.
Peningkatan aliran tenaga dalam yang besar terlihat dari getaran kekuatan yang keluar dari seluruh tubuhnya. Diiringi dengan semakin melambatnya putaran senjata tombak, hingga akhirnya berhenti berputar.
Sesaat kemudian, disusul dengan munculnya suara ledakan di atasnya.
Blaaammm !
Suara ledakan itu, diikuti dengan munculnya wujud siluet ular laut petir yang lebih besar dari yang pertama muncul tadi.
Setelah wujud siluet ular laut petir sempurna, Panglima Jaladra segera melesat maju ke arah Puguh. Diikuti dengan ular laut petir yang meliuk liuk dengan mulut yang menganga lebar menuju ke arah Puguh.
Bersamaan dengan itu, melihat lawannya melesat ke atas, Puguh pun melayang keatas sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga cukup besar.
Pendaran sinar hijau yang keluar dari pedangnya terlihat sangat terang. Sebagian sinar hijau terang itu bercampur dengan pendaran sinar hijau yang keluar dari tubuhnya dan kemudian membentuk wujud siluet burung elang raksasa.
"Siluman elang ! Hati hati dengan kekuatan sihirnya !" kata Puguh mengingatkan, sambil melesat naik ke punggung burung elang raksasa itu.
Bersamaan dengan melesatnya Panglima Jaladra bersama ular laut petir, Puguh bersama dengan siluman elang, melesat ke arah yang berlawanan.
Sesaat kemudian, di udara, terjadi benturan kekuatan berkali kali yang menimbulkan suara suara ledakan yang sangat keras.
----- * -----
Bersamaan dengan pertarungan Puguh melawan Panglima Jaladra. Di bawah juga terjadi pertarungan yang tidak kalah sengitnya.
Saat hanya berempat, Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Dewi Laksita serta Putri Cinde Laksita terdesak ketika melawan dua belas panglima perang, bawahan Panglima Jaladra.
Namun, dengan masuknya Roro Nastiti ke dalam pertarungan membantu keempat pendekar itu, membuat situasi pertarungan di darat berubah.
Dengan kekuatan dan tenaga dalamnya yang telah meningkat pesat selama bersama Puguh, hingga mencapai tingkat yang sangat tinggi, Roro Nastiti mampu membuat pertarungan menjadi seimbang.
Sepasang pedang pendek Roro Nastiti berkali kali mampu menghalau sabetan pedang panglima perang yang mengarah ke tubuhnya.
Demikian juga dengan Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita. Dengan berkurangnya jumlah lawan karena ada beberapa yang melawan Roro Nastiti.
__ADS_1
Senjata tongkat Ki Dwijo dan Resi Wismaya, perlahan lahan, kembali mampu berbenturan dengan senjata senjata para panglima perang yang menjadi lawannya. Bahkan mulai mampu membuat senjata lawan terpental ke balakang.
---------- ◇ ----------